•10 hal tentang Junhui yang ku benci •

Jihoon duduk dengan buku tulis yang selalu ia bawa kemana-mana, terbuka lebar di atas meja. Saat ini Jihoon sedang di perpustakaan, menghindari Jun yang membuatnya kesal pagi tadi.

Bagaimana ia tidak kesal. Jun terus saja mengoceh saat Jihoon fokus mencari ide untuk tugas musiknya minggu depan. Jihoon menegurnya. Bukannya diam, malah makin keras. Jun menggodanya. Semakin mengoceh tak jelas.

Jihoon mencengkram pulpen yang ia pegang. Kesal dengan kelakuan dan tingkah Jun.

Dengan emosi yang meletup-letup, Jihoon menulis di buku tulis kesayangannya.

'10 hal tentang Junhui yang ku benci'

  1. Suaranya Suara Jun membuatnya sakit kepala. Memang suara Jun itu lembut,serak dan dalam. Tetap saja, Jihoon benci saat Jun mengoceh segala hal di telinga Jihoon setiap saat. Membuatnya jengkel.

  2. Tingkahnya Jihoon memutar matanya malas jika mengingat tingkah Jun. Seperti anak kecil. Jihoon seperti mengurus keponakannya yang berumur 5 tahun, jika bersama Jun. Jun susah diatur. Tidak bisa tenang. Heboh. Persis seperti bocah berumur 5 tahun. Dia bisa sakit kepala jika melihat Jun yang sudah bertingkah barbar layaknya anak kecil.

  3. Tangannya Jihoon benci dengan tangan Jun. Dia benci karena tangan Jun bisa menggenggam tangannya yang mungil dalam sekali genggam. Dia benci merasakan kehangatan tangan Jun, saat dia menggenggam tangan Jihoon lembut. Sungguh ia benci.

  4. Senyumannya Oh. Jihoon benci dengan senyum Jun. Senyumnya menjengkelkan. Membuatnya tak tenang. Membuatnya susah bernapas. Membuatnya ingin menonjok Jun saat itu juga.

  5. Tawanya Jihoon benar-benar benci jika Jun sudah tertawa. Tawanya renyah dan lembut, membuat perut Jihoon tak enak. Seperti ada yang menari-nari. Dan Jihoon benci itu.

  6. Lesung pipi Ini sudah berapa kali Jihoon mengumpat. Dia sangat sangat benci jika melihat lesung pipi Jun terlihat, saat dia tersenyum. Oh tolonglah. Jihoon gatal ingin menonjok wajah Jun jika melihat lesung pipinya.

  7. Rahangnya Jihoon sangat tidak suka dengan bentuk rahang Jun. Terlihat tegas dan kokoh. Sangat jantan. Dan Jihoon membencinya! Apalagi jika dilihat dari samping. Ingin Jihoon menamparnya.

  8. Hidungnya Sudah berapa kali dia menulis kata tonjok di bukunya? Lagi-lagi ia benci dengan hidung bangir Jun. Terlihat tajam dan kokoh. Apalagi jika Jihoon melihatnya dari samping. Ingin rasanya ia patahkan hidung Jun saat itu juga.

  9. Badannya Jihoon mengutuk Jun yang memiliki badan yang bagus. Bentuk yang proposional. Pundak yang lebar. Kaki yang jenjang. Jihoon kan terlihat kecil! Jika Jun dan Jihoon berjalan berdampingan, Jihoon seperti adiknya Jun. Dan itu membuat Jun tertawa melihat Jihoon. Sialan kau Jun!

  10. Bibirnya Jihoon benci bibir Jun. Sangat sangat sangat benci. Bibirnya merah. Terlihat lembut. Seperti meminta untuk dikecup. Jihoon gemas ingin mencubitnya jika melihat bibir Jun.

Jihoon menarik napasnya pelan lalu menghembuskannya. Lega setelah menulis semua ini.

“Padahal yang kamu tulis itu yang kamu suka dari aku.” ucap seseorang dari belakang Jihoon.

Jihoon tersentak. Menengok kebelakang. Terlihat Jun yang berdiri dengan senyumnya yang menjengkelkan.

“J-jun?”

“Iya ini aku, pacarmu. Siapa lagi.” ujar Jun sambil mengecup pipi gembul Jihoon, lalu duduk di hadapan Jihoon.

“S-sejak kapan? Kamu disitu?”

Jun meletakkan dagunya di atas telapak tangannya. Menatap Jihoon dengan lekat.

“Hmm. Semenjak kamu nulis judul '10 hal tentang Junhui yang ku benci' itu.”

Jihoon bersemu merah. “Sialan. Kenapa gak bilang.”

Jun terkekeh. “Kan aku penasaran. Apa yang kamu 'benci' dari aku.”

Jihoon mendengus. Tak sadar bahwa wajahnya hingga lehernya memerah.

“Emang itu kok yang kubenci dari kamu.”

Jun menaikkan alisnya heran. “Ah. Yakin benci?”

Jihoon menatap Jun balik. “Iya benci.”

“Benci sama senyumku? Suaraku? Tingkahku? Tanganku? Badanku? Ketawaku? Rahangku? Hidungku? Lesung pipiku? Bibirku?”

Jihoon terdiam. Matanya ingin menghindari tatapan Jun yang mematikan. Namun, tak bisa. Ia tidak bisa lepas dari tatapan Jun.

Jantungnya berdetak tak karuan. Dilihatnya Jun berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Jihoon. Menangkap dagu Jihoon dan mengarahkannya agar bertatapan dengan Jun.

“Coba bilang. Kamu benci sama semua itu? Atau kamu suka?” bisik Jun di depan wajah Jihoon. Hingga Jihoon bisa merasakan hembusan napas Jun menerpa wajahnya.

“Benci.” bisik Jihoon. Menatap lekat Jun.

“Benci, hm?”

Tubuh Jihoon meremang. Tangan Jun menari menyentuh wajah Jihoon. Mengusap pelan pipi, hidung, rahang serta bibirnya.

“Kamu benci bibirku?”

Jihoon memerah. Tatapan Jun membuatnya tak bisa berpikir. Tubuhnya seperti di kendalikan oleh Jun.

“Bilang sekali lagi, sayang. Kamu benci bibirku?” bisik Jun yang memperpendek jarak nya dengan Jihoon hingga tersisa beberapa senti lagi.

“Iya. Aku benci.” bisik Jihoon.

Setelahnya, Jun menubrukkan bibirnya dengan bibir Jihoon yang mungil. Mengecapnya lembut. Menjilat dan melumatnya. Menggoda pelan bibir Jihoon dengan lidah Jun. Menggigit nya pelan. Gemas dengan ucapan Jihoon yang berbalik dari hatinya. Terakhir kalinya, Jun mengecup singkat bibir Jihoon, dan menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Jihoon.

“Jadi, kamu benci? Atau suka?”

Jihoon memerah. Masih menetralkan napasnya yang tidak teratur.

“Suka.” gumannya pelan.

Jun tersenyum. Terkekeh dengan tingkah Jihoon yang menggemaskan.

“Gitu dong, ngaku. Ayo keluar. Ku beliin susu buat kamu. Biar tinggi.”

Jihoon memukul tangan Jun. “Gak usah mulai.”

Jun terkekeh. “Iya, baby. Ayo.”

Jun menarik Jihoon berdiri. Jihoon menutup bukunya, dan mendekapnya erat di dada.

Membiarkan tangannya di genggam dan ditarik oleh Jun.

Sepertinya Jihoon harus mencoret judul tulisannya tadi. Bukan 10 yang dia benci dari Jun. Tapi 12. Mata serta ciuman Jun, yang membuatnya makin benci dengan Jun.