–, 3 am
Minghao mengerjapkan matanya. Menatap langit-langit kamarnya, dalam diam. Ia tak bisa terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, dan dia masih belum bisa masuk ke alam mimpi.
Minghao menghela napasnya. Ia bangkit dari tidurnya, memilih menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Tangannya meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Sibuk dengan pikirannya, apakah ia harus menelpon salah satu temannya atau tidak. Minghao benar-benar butuh tidur.
Ia menelusuri daftar kontaknya. Mengira-ngira siapa yang mau ia ganggu waktu tidurnya.
Jarinya menekan salah satu kontak. Memutuskan untuk menelpon Seokmin.
Ia dekatkan ponselnya di telinganya. Menunggu sang lawan bicara mengangkat teleponnya.
'Halo.'
Suara Seokmin serak. Khas orang bangun tidur.
“Seokmin.”
Seokmin menjawab dengan gumaman. Minghao tebak, Seokmin sedang setengah sadar sekarang.
“Gak bisa tidur.”
Minghao merengek seperti anak kecil. Terdengar kekehan dari sebrang telepon.
'Terus? Gak ada hubungannya sama aku, Hao.'
Minghao mendengus. Tangannya memeluk guling. Mendekapnya erat di dada.
“Buat aku ngantuk. Udah mau pagi aku belum tidur juga.”
Seokmin tertawa. 'Kamu ganggu orang lain tidur, telepon jam 3 pagi, cuman nyuruh aku buat bikin kamu ngantuk?'
“Jahat bener kamu jadi temen, Seok.”
'Emang aku temenmu?'
“Sialan.”
Seokmin terkekeh. Minghao tersenyum dalam diam. Memang pilihan tepat untuk menelpon Seokmin saat ini.
'Kenapa dari sekian banyak orang, kamu nelpon aku?'
Minghao tampak berpikir. “Gak tau. Pengen gangguin aja.”
'Sialan. Serius aku, Hao.'
Minghao tertawa. “Emm, apa ya. Mungkin karena aku pengen denger suaramu?” suara Minghao bernada, seperti menggoda.
Seokmin tertawa keras. 'Lagi ngegombal, Hao?'
“Udah syukur ku puji. Gak tau diri.”
Seokmin terkekeh. Suaranya merdu. Membuat Minghao perlahan-lahan mulai mengantuk.
'Berarti aku macam lullaby ya. Biar kamu tidur.'
“Hm. Ngedongeng dong, Seok. Pengen denger suaramu.”
Seokmin tertawa pelan. Ada jeda sebelum dia berucap. 'Dongeng apa aja?'
Mata Minghao sudah memberat. Dia menyamankan posisinya. Berbaring di atas kasur.
“Iya, dongeng apa aja.”
Seokmin tampak berdengung. 'Aku ceritain kisah ku aja.'
Minghao hanya bergumam. Meletakkan ponsel di atas pipinya. Lengannya memeluk guling.
'Ada cowok namanya Seokmin. Punya temen banyak. Punya kenalan juga. Banyak yang suka dia.'
Minghao terkekeh. Lucu mendengar bahwa Seokmin menceritakan dirinya sendiri.
'Tapi hati Seokmin, hanya tertuju pada satu orang saja. Sayangnya, orang yang di sayang oleh Seokmin tidak pernah menganggapnya lebih dari teman.'
Minghao diam. Tampak berpikir. Siapa orang itu?
'Orang itu membuat hari-hari Seokmin menjadi lebih ceria. Tak peduli bahwa Seokmin akan tersakiti, dia merasa bahagia. Sudah cukup orang itu menemani hari-harinya sebagai teman.'
Minghao memilih diam. Mendengarkan cerita Seokmin dengan seksama.
'Setiap hari Seokmin menjaganya. Melindunginya. Menemaninya. Orang itu selalu merepotkan Seokmin. Mengganggunya. Namun, Seokmin tak peduli. Dia senang melakukannya. Senang menghabiskan waktu dengannya.'
Minghao masih tak bersuara. Mengeratkan genggamannya pada guling yang ada di pelukannya.
'Dan orang itupun sedang menghubungi Seokmin sekarang.'
Keduanya hening. Tak ada yang bersuara. Minghao masih mencerna ucapan Seokmin.
“Jadi, itu aku?”
Seokmin diam. Ada suara helaan napas dari arah sebrang. 'Iya.'
“Sejak kapan?”
'Gak tau. Maaf. Jangan ngerasa terbebani. Aku tahu kamu gak suka aku.'
Senyap. Keduanya hanya diam.
“Aku suka kamu.”
Minghao memberi jeda. “Lebih dari teman.”
Seokmin terkekeh. 'Gak usah bohong. Aku tahu kamu cuman gak enak sama aku. Udah sana tidur.'
“Enggak! Aku gak bohong. Aku beneran suka kamu.”
Seokmin diam. Terlihat ragu. 'Beneran?'
“Hm. Ngapain aku bohong.”
'Jadi, kamu nelpon aku karna kamu kepikiran aku?'
Wajah Minghao memerah. Ia sembunyikan di balik gulingnya.
“Berisik.”
Seokmin tertawa. 'Pasti lagi malu.'
Minghao memilih diam. Gak tau harus ngomong apa.
'Gak tidur, Hao?'
Minghao mendengus. “Gimana mau tidur, goblok. Baru ngomongin perasaan.”
Seokmin tertawa keras. 'Salting ya?'
“Anying. Jangan di bahas.”
Seokmin tertawa keras. Semangat untuk menggoda Minghao.
'Jadi kita apa nih? Pacaran atau apa?'
Wajah Minghao memerah. Bersyukur bahwa mereka mengobrol via telepon.
“Gak tau.” gumamnya.
'Hah? Apa?'
“Pikir aja sendiri.” tukas Minghao sebal.
Seokmin terkekeh. 'Yaudah kuanggap kita pacar deh.'
“B-berisik. Dah aku mau tidur.”
'Eih, gak usah alasan pake tidur. Jangan tidur kamu.'
Entah kenapa Minghao berdebar. Jantungnya berisik di balik dadanya.
“Emang kenapa?”
Seokmin diam. Lalu tertawa kecil. 'Pengen ngobrol sama kamu.'
Minghao memerah. Tak tahu harus menjawab apa. “Ini udah subuh, Seok.”
'Siapa yang nelpon duluan ya?'
Minghao terbatuk. Salah tingkah dengan ucapan Seokmin.
Seokmin terkekeh. 'Sana tidur. Besok kita ketemu juga kan.'
Minghao ngangguk pelan. “Iya.”
'Yaudah sana tidur.'
Minghao bergumam. Masih betah mendengar suara Seokmin.
“Good night.”
'Good morning, Hao.'
Minghao tertawa. 'Good morning, Seok.'
'Mimpiin aku ya, pacar.'
Minghao memerah. Bisa-bisanya Seokmin seperti ini.
“K-kamu juga.”
Seokmin terkekeh. 'Aku selalu mimpiin kamu kok, pacar.'
Minghao berdeham. Menghilangkan rasa saltingnya.
'Dah sana tidur.'
Minghao bergumam. Mengucapkan selamat tinggal, lalu mematikan teleponnya.
Wajahnya terlukis senyum lebar. Hatinya terasa ringan.
Matanya ia pejamkan, berharap hari esok segera tiba.
Beberapa menit kemudian, Minghao jatuh dalam kegelapan. Dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, dan suara Seokmin yang terngiang-ngiang di telinganya.