–, Attention

Jun itu bodoh. Itulah yang sering diucapkan oleh teman-teman mereka. Bagaimana bisa dia tidak sadar, bahwa kedua sahabatnya suka padanya? Membuat semua kawan mereka geleng-geleng kepala dengan hubungan Mingyu, Wonwoo dan Jun.

Jun, Mingyu dan Wonwoo adalah sahabat. Mereka bertiga sudah kenal sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Bersahabat sudah lebih dari 10 tahun. Membuat ketiganya kenal dan tahu pribadi masing-masing.

Kecuali Jun. Dia tak tahu persaingan kedua sahabatnya dalam memperebutkan hatinya. Dia tak tahu perkara bahwa Mingyu dan Wonwoo bersaing untuk menjadikan Jun pacar mereka. Jun tak tahu bahwa keduanya sudah bersaing sejak mereka duduk di bangku smp.

Jun itu polos bahkan terlampau gak peka. Dia bahkan gak sadar kalau di sukai oleh dua orang sekaligus. Entah bodoh atau polos.

Seperti saat ini. Mingyu dan Wonwoo ada di kedua sisinya. Rebutan disuapin bakso oleh Jun.

“Gua aja, Jun. Suapin gua.” ujar Mingyu sambil merangkul pinggang Jun.

“Gak usah dengerin Mingyu. Aku aja aja, Jun.” ujar Wonwoo tak ingin kalah. Tangannya menangkup dagu Jun untuk menatapnya.

Minghao menatap ketiganya bosan. Prihatin melihat Jun yang kebingungan.

“Jun. Daripada pusing, mending suapin gua aja.”

Jun menatap Minghao kaget. Lalu tertawa. Tangannya mengarah ke mulut Minghao.

“Yaudah, buat Minghao aja.”

Minghao menyeringai. Mulutnya melahap bakso yang ada di sendok Jun. Membuat Mingyu dan Wonwoo menatap Minghao kesal.

Minghao terkekeh. “Buruan suapin dua pawang lu, Jun. Gantian noh. Ribet amat.”

Jun baru paham. Ia menganggukkan kepalanya.

“Bener juga. Gantian aja ya.”

Jun mengarahkan sendok nya ke arah Mingyu, lalu gantian ke Wonwoo.

Membuat Jun tersenyum senang melihat kedua sahabatnya rukun.

“Enak kan?”

Mingyu ngangguk, di setujui oleh Wonwoo.

“Sekarang gantian kalian suapin aku. Ayo.”

Jun membuka mulutnya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo makin gemas. Dengan lembut dia menyuapkan nasi pecel ke mulut Jun. Yang dibalas senyum riang oleh sang empu.

“Enak.”

Jun mengunyah lembut. Lalu berganti menatap Mingyu. Ia membuka mulutnya. Menanti Mingyu untuk menyuapinya juga.

Mingyu tersenyum kecil. Mengarahkan sendoknya untuk menyuapi Jun nasi soto miliknya.

Jun senang. Berhasil menyenangkan kedua sahabatnya.

“Enak juga.”

Minghao memutar matanya malas. Gemas ingin mengatakan pada Jun bahwa kedua sahabatnya itu suka padanya.

“Jun.”

Minghao memanggil. Membuat Jun menatap Minghao tak mengerti.

“Kalo ada orang yang suka ke lu gimana? Tapi lebih dari satu orang, dan mereka berdua saingan buat dapetin lu. Gimana?”

Mingyu serta Wonwoo tersedak. Melayangkan tatapan tajam kearah Minghao.

Jun menerawang. Berpikir sejenak.

“Ya gak papa. Kan hak semua orang. Artinya mereka beneran sayang sama aku.”

Mingyu serta Wonwoo menatap Jun tertegun.

“Tapi lu gak bisa milih keduanya, kan?” tanya Minghao penasaran.

Jun ngangguk setuju. “Iya lah gak bisa. Maruk dong aku.”

Minghao terkekeh. “Tapi lu suka dua orang, itu termasuk maruk gak?”

Jun tersedak. Wajahnya memerah. Menatap Minghao gugup.

“A-apasih. Gak usah dibahas.”

Minghao terkekeh. “Gak salah kok suka orang lebih dari satu.”

Mingyu serta Wonwoo menatap tak mengerti.

“Heh, maksudnya apaan? Jun lu suka 2 orang?!” Mingyu heboh.

“Jun, kok gak cerita ke aku?”

Wonwoo serta Mingyu heboh. Sibuk bertanya siapa orang yang Jun sukai. Membuat Jun menghela napasnya pelan.

“Minghao asal ngomong itu. Jangan dipercaya ya.”

Mingyu menatap Jun serta Minghao bergantian. Begitu pula Wonwoo. Seperti meminta penjelasan.

“Lu bertiga itu sama-sama goblok. Satunya gak peka, yang dua tambah gak peka. Dah ya, gua duluan.”

Minghao bangkit. Mengabaikan teriakan Mingyu serta Wonwoo padanya.

Jun memijat dahinya pelan. Tak habis pikir dengan mulut Minghao.

Mingyu serta Wonwoo bertukar tatap. Seperti paham dengan telepati keduanya.

“Jun, ayo balik.”

Mingyu bangkit, menarik Jun untuk bangkit juga. Wonwoo ikut bangkit. Wajahnya masih tak bisa di deskripsi kan.

Jun menelan ludahnya kasar. Merasakan hawa-hawa tak mengenakkan dari kedua sahabatnya.

“Mingyu.. Wonwoo..”

Ketiganya berjalan bersama diselimuti keheningan. Jun mengigit bibirnya takut. Menatap wajah kedua sahabatnya yang ada di sisinya ragu-ragu. Wajah keduanya keras. Tak ada senyum di bibir keduanya.

Jun pasrah. Pasrah dengan semuanya.

*****

“Apa maksud lu Jun suka dua orang?”

Mingyu mendorong Minghao di tembok. Mencengkram kemeja Minghao. Membuat sang empu meringis.

Wonwoo berdiri di samping Mingyu, sambil bersedekap menatap Minghao tajam.

Minghao terkekeh. “Liat. Lu berdua malah ngajak ribut ke gua. Harusnya ke cowok kesayangan lu. Ngapa ke gua.”

Mingyu menggeram. Tangannya semakin mendorong Minghao ke dinding.

“Gak usah banyak bacot. Siapa yang lu maksud?”

Minghao tertawa mengejek. “Kan keliatan bener gobloknya. Daripada ngurusin gua, kenapa lu berdua gak rebut perhatian Jun? Bikin dia gak suka sama tuh orang. Ngapain lu berdua buang-buang waktu rebutan Jun. Jun aja bisa suka dua orang, kenapa dia gak bisa suka lu berdua juga?”

Mingyu menatap Minghao dalam diam. Tangannya ia lepaskan dari kemeja Minghao.

Minghao buru-buru merapihkan bajunya. Menatap Mingyu serta Wonwoo heran.

“Heran dah gua. Ngapain buang waktu buat ngeroyok gua. Mending lu pergi, taklukin hati si Jun. Buruan tembak. Ke duluan orang yang di suka sama Jun, mampus lu.”

Minghao berbalik meninggalkan keduanya. Membuat Mingyu serta Wonwoo saling tatap.

“Siapapun orang yang di suka Jun, gak bakal gua biarin. Sementara kita harus kerjasama. Lu gak mau kan Jun di rebut orang lain?”

Wonwoo mendengus. “Lu pikir gua mau? Mending gua berbagi sama lu daripada relain Jun sama orang lain.”

Mingyu mendengus. “Gua bakal nyari orangnya, sambil kita berdua jalanin rencana.”

Wonwoo diam. Tangannya menyisir rambutnya ke belakang. “Gak bakal gua biarin Jun di ambil orang lain.”

*******

Jun menatap punggung kedua sahabatnya cemas. Keduanya sudah mendiaminya dari istirahat pertama hingga jam terakhir. Ia mengutuk ucapan Minghao yang kelampau bebas itu.

Jun pasrah. Menyiapkan mentalnya sekuat mungkin. Ia meletakkan kepalanya di atas meja. Menatap langit yang cerah dari tempatnya berada. Menyalahkan perasaannya yang menyukai Mingyu serta Wonwoo secara bersamaan.

Jun menyukai kedua sahabatnya. Dia terlalu takut untuk mengungkapkannya. Memilih diam dan mengubur perasaan tabunya dalam-dalam. Dia yakin, jika Mingyu serta Wonwoo tahu akan kebenarannya, keduanya pasti jijik padanya.

Dada Jun sesak. Ia menahan air matanya keluar.

Sebuah elusan lembut di rambutnya, membuat Jun terlonjak. Mengangkat kepalanya. Melihat Mingyu tersenyum lembut padanya.

“Kenapa?”

Jun menggeleng. Matanya mencari keberadaan Wonwoo.

“Mana Wonwoo?”

“Di atap. Mau ke atap?”

Jun mengangguk. Dia berdiri, mengikuti Mingyu dalam diam.

Menatap punggung Mingyu lekat-lekat. Hatinya berharap dia bisa menggapai sahabatnya yang satu ini.

Saat dirinya tiba di atap, terlihat Wonwoo sedang berdiri, menatap langit dalam diam.

Jun menghampirinya. Berdiri di samping Wonwoo, diikuti oleh Mingyu yang berdiri mengapit Jun diantaranya dan Wonwoo.

Ketiganya diam. Menatap langit lekat-lekat.

“Kita gak marah kamu suka sama siapapun kok, Jun.” ujar Wonwoo tiba-tiba, membuat Jun tersentak. Namun, memilih diam.

“Cuman lu harusnya sadar. Di samping lu ada yang sayang sama lu dari lama. Kenapa lu milih suka sama orang lain?” kini giliran Mingyu yang berucap.

Jun bingung. Namun masih bungkam.

“Jun. Kalo kita berdua suka sama kamu gimana?” tanya Wonwoo yang kini menatap Jun lekat-lekat.

Jun bingung. “Maksudnya?”

“Kalo gua sama Wonu suka sama lu gimana?”

Jun menatap Mingyu tak mengerti.

“Kalo aku sama Mingyu saingan buat dapetin kamu, kamu percaya gak?”

Jun kini menatap Wonwoo lagi. Otaknya berjalan lambat.

“Kalo gua sama Wonu saingan dari smp, lu percaya gak? Buat dapetin lu.”

Jun berdebar. Otaknya bingung. Terlalu banyak menerima informasi dalam sekali waktu.

“Kita berdua saingan, sampe gak tau kalo kamu suka orang lain.”

Jun diam. Bibirnya ia gigit pelan. Matanya berlinang air mata.

“Kita gak masalah lu suka siapa aja. Cuman, apa lu gak lihat perhatian kita ke lu? Gak sadar? Kita berdua suka sama lu, Jun. Tapi, lu nya polos. Gak peka. Gak nyangka lu ada suka orang. Dua orang lagi.”

Mingyu tertawa miris. Membuat Jun makin bersalah.

“Apapun yang terjadi, kita tetep sahabat kamu kok, Jun.”

Senyum Wonwoo lemah. Membuat Jun makin menangis.

Jun meraih kedua tangan sahabatnya. Menggenggam tangan keduanya. Meletakkannya di dadanya.

“Mingyu... Wonwoo..”

Suaranya agak serak.

“Maaf.. Aku gak tahu. Maaf aku gak peka. Maaf aku gak sadar selama ini.”

Mingyu menatap Jun dalam diam. Begitupula dengan Wonwoo.

“Aku juga suka kalian. Maaf aku suka kalian dari lama. Tapi, aku gak berani bilang. Takut kalian berdua jijik sama aku. Takut kalian kecewa sama aku. Maaf aku suka dua orang. Maaf aku suka kalian berdua.”

Mingyu serta Wonwoo tersentak. Menatap Jun kaget.

“Apa? Kamu suka kita berdua, Jun?”

“Jadi, yang dibilang Minghao itu kita berdua?”

Jun ngangguk. Menatap Wonwoo serta Mingyu bergantian.

“Maaf.”

Tawa keras keluar dari mulut Mingyu. “Jadi yang lu suka itu kita? Astaga. Pantesan Minghao hina gua goblok.”

Wonwoo terkekeh. “Aku gak nyangka.”

Jun memerah. Kedua tangan sahabatnya ia genggam erat. “Maaf. Aku juga gak nyangka kalian saingan.”

Wonwoo tersenyum lembut. Tangannya mengusap rambut Jun lembut.

“Gak papa. Kita udah biasa sama sifatmu yang polos kok.”

Jun memerah. Tangan Mingyu beralih untuk meraih pinggang Jun mendekatinya.

“Sifat lu yang goblok justru bikin gua suka.”

Jun makin memerah. Menimbulkan kekehan ringan dari keduanya.

“Jadi, kita pacaran?” tanya Wonwoo memastikan.

Tangannya melingkar di leher Jun. Wajah Jun merona.

“G-gak tau.”

Mingyu tertawa. “Yaudah kita pacaran.”

Ia kecup pucuk kepala Jun. Membuat Jun makin malu.

Wonwoo terkekeh. Tangannya mengapit dagu Jun. Membuat Jun menoleh.

Wonwoo mendaratkan kecupan lembut di bibir Jun. Membuat sang empu makin memerah.

Mingyu menggeram kesal.

“Bisa-bisanya lu nyium Jun.”

Wonwoo menyeringai. “Siapa cepat dia dapat.”

Mingyu berdecak. Membuat Jun terkekeh. “Mingyu boleh nyium juga kok.”

Membuat Mingyu tersentak. Senyum lebar terlintas di bibirnya.

Mingyu menangkup rahang Jun. Dia daratkan bibirnya di bibir Jun yang memerah.

Membuat Jun tersenyum malu.

“Impas kan?” ujarnya setelah kecupan keduanya terlepas.

Membuat Wonwoo serta Mingyu tersenyum.

“Ayo pelukan.”

Jun menarik kedua tubuh kekasihnya kedalam pelukannya. Membuat Mingyu serta Wonwoo mendekapnya erat.

“Kita gobloknya keterlaluan. Saling suka tapi gak sadar.” ujar Mingyu sambil terkekeh.

“Lu kan emang goblok.” Wonwoo membalas.

Jun terkekeh. Tangannya menepuk-nepuk punggung Wonwoo serta Mingyu.

“Gak ada yang goblok. Kita semua emang kelampau polos.”

Kekehan terdengar dari mulut ketiganya. Menikmati pelukan hangat di bawa langit biru yang cerah.