AWALAN

“AGHHHHHHHH “

Myeongho terbangun tiba-tiba. Napasnya tersengal seperti dikejar hantu. Keringat basah membasahi dahi dan tubuhnya. Ia segera memeriksa badannya dari atas hingga bawah.

“Hidup? Gua hidup?”

Jemari-jemarinya memastikan inci demi inci seluruh organ tubuh Myeongho masih utuh seperti sedia kala.

Matanya masih terbelalak. Tangannya merasakan detak jantungnya berdebar begitu cepat, siap keluar kapan saja.

“Apa mimpi?”

Otaknya masih memproses segalanya. Rasanya begitu nyata.

Myeongho menengok kanan kiri seperti sadar akan sesuatu.

“Gua dimana?”

Netranya menelusuri setiap sudut ruangan luas yang terkesan mewah, yang Myeongho asumsikan sebagai kamar.

“Sejak kapan gua kaya raya?”

Tangannya meremas selimut yang ia pakai. Otak andalan Myeongho berpikir keras dengan bola mata yang bergerak liar kesana kemari.

“Sialan.”

Kematiannya masih ia ingat betul. Pertikaian sengit antara dirinya dan beberapa kumpulan preman yang menyerang Myeongho.

Myeongho agak menyesali aksi heroiknya yang sok ingin menolong orang.

Masih sangat jelas ingatannya melekat. Wajah pasrah dengan senyum menyebalkan, serta mata bening yang begitu cerah.


2021, hujan deras sedang mengguyur kotanya. Myeongho laki-laki berumur 25 tahun yang sialnya baru saja dipecat, menghisap sebatang rokok dengan tangan yang lain menenteng plastik belanjaan yang baru saja ia beli. Agak nekat, kakinya bergerak cepat karna derasnya rintik hujan.

Pikirannya saat ini hanya kasur empuk serta Emo si kucing kesayangan Myeongho yang sedang menunggunya.

Dari jauh terdengar suara erangan dan tawaan angkuh yang Myeongho sangat paham. Jauh di dalam dirinya, berusaha menahan aksi sok heroiknya agar tak ikut campur masalah orang lain. Cukup sudah kesialan Myeongho dari kebaikan berujung kesialan. Ingin bersikap acuh, Myeongho melewati gang sempit dengan langkah kaki yang ia percepat.

Lengkingan isak tangis membuat nya terhenti.

Tak bisa. Ia tak bisa.

Myeongho berbalik menatap sekumpulan lelaki besar yang sedang menghajar lelaki kurus di atas tanah becek bercampur tanah.

“Hei. Stop.”

Kelimanya menengok. Menatap Myeongho sinis.

“Lu siapa? Gak usah ikut campur.”

Myeongho terkekeh geli. “Mending gua saranin lu semua potong kontol lu pada dah. Gak malu lu berlima lawan satu orang doang?”

Kelima preman dihadapan Myeongho saling tatap. Suara tawa kelimanya menggelegar.

“Oh. Lu pacar homonya ya? Pantes sih. Sampah sama sampah.”

Lagi-lagi tak ada rasa takut. Dengan santainya bibir ranum milik Myeongho menghisap rokok yang masih mengapit di bibirnya. Jemarinya mengarahkan putung rokok ke hadapan mereka.

“Sampah ngomong sampah.”

Kelima preman yang ada di hadapan Myeongho mendidih.

“BANGSAT.”

Satu persatu semuanya menerjang Myeongho.

Dengan lihai dan ahli ia menghindar dan membalas lima orang yang ia lawan.

Bersyukur ia pernah menjadi mantan brandalan dan teknik karate yang pernah ia pelajari, berguna saat ini.

Di bawah rintik hujan, dengan tenaga yang ia keluarkan untuk melawan dan menepis kelima orang yang berbadan gempal, Myeongho akui cukup membuat napasnya memberat.

Matanya sesekali melirik lelaki ringkih yang tergeletak tak berdaya diatas tanah.

“Ck. Merepotkan.”

Tangannya dengan cepat memukul dan menepis segala serangan yang Myeongho terima. Kedua kakinya menendang dan mendorong badan lawan dengan cepat.

Mata bening dan cerah yang terlihat redup menatap Myeongho dari kejauhan.

Fokusnya terbagi. Ia segera berbalik saat merasakan hawa ancaman yang begitu kuat.

Benar saja, hampir Myeongho di tusuk sebilah pisau begitu saja.

Sibuk menangkis dan melawan, ia tak waspada dengan bagian punggungnya yang lain.

“AWAAAAS”

Teriakan asing menerpa gendang telinganya. Myeongho berbalik.

DOOORR

Terlambat. Myeongho tersentak menatap lelaki asing yang ia tolong melindunginya dari serangan tiba-tiba.

“HEEEI!”

Myeongho panik. Tangannya menangkap tubuh ringkih yang terluka tertembus peluru tajam.

Matanya melotot menatap salah satu preman yang ia lawan menggenggam senjata api ilegal.

“BRENGSEK.”

JLEB

Belum sempat ia bernapas, Myeongho lagi-lagi tersentak. Matanya terbelalak menatap arah punggungnya patah-patah.

Ia tak waspada. Punggungnya tertusuk pisau menembus dadanya.

Sakit. Benar-benar sakit. Napasnya tersengal-sengal bercampur menggigil. Rasa perih dan sakit yang menusuk bercampur derasnya air hujan berhasil melumpuhkan Myeongho.

Tubuh kurus yang ia tangkap terjatuh di atas pangkuan nya. Menatap wajah Myeongho dengan senyum tipis di bibirnya.

Tangan Myeongho gemetaran.

“H-hei.. lu jangan mati.”

Lelaki asing yang ada dipangkuannya terkekeh pelan.

“Makasih. Makasih udah nolongin aku, padahal kita gak saling kenal.”

Myeongho terdiam.

“Apa kamu menyesal?”

Netra keduanya saling menatap. Seolah tahu kapan ajal keduanya datang.

“Agak nyesel dikit. Gua belum nikah.”

Lagi-lagi lelaki kurus yang ada di bawahnya tertawa.

“Aku nyesel. Nyesel aku gak cukup kuat. Nyesel aku lemah. Nyesel aku gak waras kayak orang-orang.”

Myeongho agak bingung. Seperti mendengarkan orang curhat sebelum ajal menjemput.

Senyum tipis yang diarahkan ke arah Myeongho tak memudar.

“Aku harap aku bisa nolong kamu dan hidup lebih lama dari sekarang. Maaf kayaknya harapanku gak bisa terkabul.”

Netranya melirik darah yang mulai menembus baju yang ia kenakan.

“Yeah.. its a shame gua habis ini juga mati.” Myeongho sedikit menyayangkan ucapannya.

Keduanya terdiam cukup lama. Terasa sunyi dan tak terdengar apa-apa.

“Kalau diberi kesempatan buat mutar waktu apa kamu mau kembali hidup?”

Pertanyaan aneh dari orang yang sedang sekarat cukup membuat Myeongho pening.

“Ya jelas maulah.”

Lagi-lagi wajah asing yang mulai pucat pasi tersenyum menatap Myeongho.

“Walaupun menjadi orang lain?”

Myeongho terdiam.

“Ya gak masalah. Hidup gua flat, guanya gak banyak duit. Kalo gua hidup bergelimang harta kayaknya seru.”

Tangan kurus penuh darah meraih wajah Myeongho. Mengusap pipi basahnya dengan lembut.

“I hope your wish come true.”


Myeongho menghela napas dengan tangan yang sibuk memijat pelipis.

“Yakali doa itu anak ke kabul.”

Myeongho bangkit dari kasurnya, menyusuri kamar minimalis yang terkesan hampa bagi Myeongho.

Sepertinya ucapan yang baru saja ia ucapkan harus ia telan mentah-mentah.

“Fuck. Gua beneran jadi tuh anak.”

Matanya melotot tak percaya menatap tubuh kurus nan mungil di depan cermin. Jemarinya mengusap wajah familiar yang terlihat lebih muda dari terakhir kali ia lihat.

“Kok kayak bocah?”

Myeongho segera mencari informasi yang ada. Tangannya meraih ponsel canggih yang ada di atas nakas meja. Melihat tanggal hari ini.

“ANJINGG??”

Myeongho ingin berteriak saat ini. Otaknya tak siap menangkap segala kehebohan hari ini.

“2017???”

NGIINGG

Myeongho terjatuh tiba-tiba. Tangannya meremas kuat kepalanya. Suara dengungan dan mengalir nya memori-memori asing membuat Myeongho sakit kepala.

“A-aghh...”

Terputar nya ingatan pemilik asli secara mendadak, membuat Myeongho sedikit tersengal. Rasa emosi, kesedihan, kegelisahan, ketakutan, dapat Myeongho rasakan saat ini.

“Shit.”

Matanya menatap ke depan. Napasnya masih memburu. Tapi satu yang ia yakini, saat ini dirinya menjadi orang lain.

Matanya sedikit berair. Agak tak tega dengan kehidupan mengenaskan sosok yang pernah ia tolong.

“Hidup lu drama banget...”

”.... Minghao.”