–, Bathrobe

Wonwoo keluar dari kamar mandi, sambil mengikat tali bathrobe yang membalut tubuhnya. Surai rambutnya yang hitam sedikit basah dengan tetesan air yang menetes di atas lantai, beberapa mengalir di sepanjang sisi wajahnya.

Wonwoo mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Helaan napas keluar dari bibirnya. Tangannya dengan lincah mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas ranjang. Sibuk membuka pesan yang masuk di notifikasinya.

Bunyi pintu yang terbuka lebar, membuatnya terlonjak. Seperti tahu, siapa yang datang dengan brutalnya saat ini.

“Wonwoo...” rengek orang itu.

Dengan wajah yang memerah dan mata sayu, Soonyoung berjalan ke arah Wonwoo yang menatapnya jengah.

“Kenapa lagi?”

Soonyoung cemberut. Bibirnya mengerucut lucu. Pipinya memerah tipis menghiasi wajahnya. Imut sekali.

“Kalah lagi.”

Soonyoung merengek layaknya anak kecil. Dengan santainya dia duduk di atas pangkuan Wonwoo, dengan kedua lengan yang melingkari leher putih Wonwoo.

Wonwoo mendekap pinggang Soonyoung agar tidak jatuh. Menatap diam lelaki imut yang ada di pangkuannya saat ini.

“Makanya, gak usah ikutan main kartu. Sok-sokan kuat minum. Udah tau Minghao sama Mingyu itu jago minum.”

Wonwoo memberi petuah. Seperti biasa, dia akan selalu mengomeli kekasih mungil nya ini jika sudah merengek kalah, dan menyalahkan Minghao serta Mingyu yang membuatnya mabuk tak berdaya. Untung saja Soonyoung masih setengah sadar sekarang.

“Kan pengen main. Lagipula, aku kan jago minum. Cuman Minghao aja yang keterlaluan.”

Soonyoung menjatuhkan kepalanya di atas bahu Wonwoo yang agak basah. Aroma citrus menguar dari ceruk lehernya. Membuat Soonyoung menyembunyikan wajahnya, di ceruk leher kekasihnya.

“Kalo sekali payah ya payah. Gak usah ngelak.”

Soonyoung bergumam saja. Lebih memilih menikmati aroma badan Wonwoo yang membuatnya ketagihan. Membuatnya menghirup napas dalam-dalam.

“Won. Kok badanmu enak baunya.”

Wonwoo terkekeh. “Baru sadar?”

Soonyoung menggesekkan hidungnya di sepanjang leher Wonwoo, membuat sang empu mendongak.

“Emh.. Baunya gak biasa. Sabun baru ya?”

Wonwoo mendesis tertahan. Tangannya menjalar ke seluruh tubuh Soonyoung. Telapak tangannya yang lebar menangkup dua buah bongkahan kenyal milik Soonyoung. Meremasnya pelan.

“Ahhhh..”

Soonyoung menjauhkan wajahnya dari leher Wonwoo. Menatap lelaki di depannya dalam diam.

Tangan Wonwoo menangkup dagu Soonyoung. Turun ke lehernya yang jenjang. Mengusap kulit putih Soonyoung sensual. Membuat sang empu mendongak. Memberikan akses Wonwoo untuk menyentuh kerongkongannya.

Wonwoo menjilat bibirnya pelan. Menatap lapar kekasihnya.

Wonwoo mendekati leher jenjang milik Soonyoung. Menjulurkan lidahnya ke tulang selangka Soonyoung. Menjilat naik hingga bawah dagunya.

“Anghhh... mhhhh..”

Soonyoung mendongak nikmat. Matanya terpejam erat. Kedua tangannya mencengkram erat pundak milik Wonwoo. Menyalurkan rasa nikmatnya.

Kedua tangan Wonwoo mencengkram pantat Soonyoung. Meremas dan memainkannya lembut.

“Ahhh...”

Mulut Wonwoo tak berhenti. Menjilat, mengecap dan menghisap leher Soonyoung. Meninggalkan beberapa tanda kemerahan disana.

Lidahnya naik menjilati tengkuk leher Soonyoung hingga telinganya. Menjilat telinga mungil Soonyoung yang kemerahan. Mengulum layaknya permen. Sesekali menggigitnya gemas.

“Enghhh.. Hahh..”

Wonwoo melepaskan kulumannya. Memilih untuk menyambar bibir ranum milik Soonyoung. Melumat dan menghisap lembut bibir kekasihnya. Bunyi kecipak menyeruak. Diselingi suara erangan tertahan.

Wonwoo sengaja mengigit bibir bawah Soonyoung, membuat sang empu tersentak. Lidahnya yang panjang, buru-buru ia masukkan kedalam rongga mulut Soonyoung. Mengeksplorasi seluruh bagian mulut Soonyoung yang menggoda. Tak luput, lidahnya mengabsen seluruh gigi-gigi Soonyoung. Bersilat lidah saling membelit. Dengan nakal, lidah Wonwoo membelai langit-langit Soonyoung. Menggesek dan menekannya berulang kali.

“Anghhhh... Mhhhhh...”

Tangan Wonwoo naik perlahan. Menyusuri tulang punggung Soonyoung, sensual. Membuat punggung Soonyoung bereaksi. Membusung kegelian.

Jari-jemari Wonwoo menangkup leher Soonyoung. Sedangkan tangannya yang satu meremas rambut Soonyoung. Mengelus kulit kepala Soonyoung lembut. Membuat Soonyoung meremang.

Dengan keras, Wonwoo menjambak rambut Soonyoung kebawah. Membuat ciumannya terlepas. Kepala Soonyoung mendongak.

“Ahhhh..”

Bibir Wonwoo turun mengecupi seluruh inci leher Soonyoung. Dengan gemas menggigiti seluruh bagian lehernya. Bermain di jakun milik Soonyoung. Mengulum dan menghisapnya keras.

“Aahhhh.. Wonwoo... Ahhh..”

Lidah Wonwoo menjilat berulang kali, layaknya kucing. Tangannya bergerak mengangkat baju Soonyoung keatas. Melepasnya dari tubuh Soonyoung. Mengekspos tubuh Soonyoung yang putih pucat.

“Kayaknya setiap kamu mabuk dari kalah main, selalu gini.”

Jari Wonwoo naik mengusap tubuh Soonyoung. Berhenti di kedua puting Soonyoung yang mencuat tegak.

Kedua ibu jari Wonwoo menekan dan mengusap lembut puting milik Soonyoung.

“Ahhhh.. Mmhhh..”

Jari-jari Wonwoo memelintir dan bermain disana. Sesekali meremasnya gemas.

“Ahhhh... Hahhh..”

Tangan Soonyoung meremas bathrobe Wonwoo makin keras. Membuat ikatan bathrobenya sedikit terbuka. Menampilkan dada serta perut Wonwoo yang terekspos di depan mata Soonyoung. Tetesan air masih ada di tubuhnya, membuat Soonyoung ingin menjilatnya.

Wonwoo seperti tahu apa yang Soonyoung pikirkan, dengan sengaja ia membiarkan tubuhnya terekspos. Soonyoung menelan ludahnya.

“W-won... Ahhhh..”

Tangan Soonyoung bergerak mengekplorasi dada dan perut Wonwoo. Menyentuhnya perlahan. Intens dan sensual.

“Hm?”

Remasan di kedua puting Soonyoung berhenti. Berganti dengan usapan-usapan lembut di sisi pinggangnya.

“Hahh... Curang..”

Wonwoo menaikkan alisnya bingung. “Curang?”

Soonyoung mengangguk, dengan wajah yang memerah, dan mata sayu berlinang air mata.

“Kamu tadi vlive pake ini. Pasti banyak yang pengen liat badanmu.”

Jari-jemari Soonyoung mengusap lembut dada dan perut Wonwoo yang memiliki abs tipis.

“Cemburu?”

Soonyoung mendengus. Memilih menyembunyikan wajahnya di leher Wonwoo.

“Gak ada yang boleh lihat badan kamu, selain aku.”

Wonwoo terkekeh. Tangannya bergerak cepat membuka kancing celana Soonyoung serta resletingnya.

“Posesif.”

Soonyoung memilih diam. Lebih memilih mengecap leher jenjang Wonwoo. Menjilat, menghisap dan menggigitnya pelan. Menikmati tetesan air yang masih ada di tubuh kekasihnya.

“Mhhh.. Badanmu seger, Won.”

Wonwoo terkekeh. “Yeah?”

Mulut Soonyoung turun ke dada Wonwoo. Menjilat dan mengecap air yang masih ada di dada Wonwoo.

“Shhh... Kamu haus apa gimana?”

Soonyoung melepas kulumannya. “Kamu bikin haus.”

Wonwoo menyeringai. Dengan secepat dia mengangkat tubuh Soonyoung, membantingnya keatas kasur.

Soonyoung tersentak kaget. Menatap Wonwoo tak percaya.

“Wonwoo!”

Wonwoo terkekeh. “Kenapa?”

Wonwoo melepas ikatan bathrobe-nya. Membukanya pelan, dan meletakkannya dia tas lantai. Menampilkan tubuhnya yang telanjang bulat.

“Kaget?”

Tangan Wonwoo menarik celana Soonyoung dari kakinya. Mengekspos penis Soonyoung yang tegak memerah.

“Oh?”

Wonwoo tampak terkejut. “Gak make daleman?”

Soonyoung memerah. Memilih mengalihkan wajahnya. “D-diem.”

Wonwoo tertawa pelan. “Mesumnya. Jadi dari tadi gak make apapun?”

Wonwoo menggeleng pelan. Tangannya membuka lebar kaki Soonyoung. Membuatnya mengangkang menampilkan lubangnya yang berkedut kemerahan.

“Nakalnya.”

Tangan Wonwoo mencengkram penis Soonyoung. Membuat sang empu mengerang keras.

“Ahnghhhhh... Hahhh..”

Wonwoo menunduk. Mendekati penis Soonyoung yang berdiri tegak. Mengecup ujungnya lembut. Sesekali meniupkan napasnya disana.

“Ahhhh... Hahhh..”

Lidah Wonwoo terjulur. Menjilat ujung penis Soonyoung yang kecil. Tangannya masih meremas penisnya lembut.

“Ngahhhh... Mmhhhh..”

Kaki Soonyoung bergetar. Tangannya mencengkram sprei yang ada di bawahnya. Wajah Soonyoung memerah.

Wonwoo mengulum penis Soonyoung lembut. Menghisap dan menjilatinya layaknya lolipop. Lidahnya mengeksplorasi seluruh bagian penis Soonyoung. Kepalanya naik turun secara konstan.

“Ahhhhh... Wonwoo.. Anghhh..”

Tangan Wonwoo bermain di skrotum Soonyoung. Meremas dan memainkannya lembut.

“Nahhh..... Ahhhh..”

Dada Soonyoung membusung indah. Punggungnya melingkar.

Penis Soonyoung menyentuh tenggorokan Wonwoo. Membuat pandangan Soonyoung memutih. Betapa nikmatnya mulut Wonwoo memanja penisnya.

Wonwoo melepas kulumannya. Bibirnya turun ke lubang Soonyoung. Lidahnya menjilat lubang Soonyoung yang kemerahan.

“Ngahhh.. Hahh...”

Kedua tangannya melebarkan kaki Soonyoung berlawan arah. Membuatnya lebih leluasa.

Lidah Wonwoo bermain di lubang Soonyoung. Mulutnya sibuk mengecap lubang kekasihnya. Menghisap dan menggigit gemas lubang Soonyoung.

“Ahhhh... Wonwoohh.. Ahhhh...”

Kedua ibu jari Wonwoo melebarkan lubang Soonyoung. Membuat lidahnya masuk dengan mudah.

“Ngahhh.... Hahhh... Ahhhh...”

Soonyoung menggila. Erangannya semakin keras. Desahan kenikmatan menguar di udara. Kecipak basah menemani aktivitas keduanya.

Lidah Wonwoo mengekplorasi lubang Soonyoung. Mengobrak-abrik lubang kekasihnya. Menyentuh dinding-dinding Soonyoung yang berkedut lucu. Bereaksi dengan segala sentuhan.

Lubang Soonyoung di santap habis oleh Wonwoo. Seluruh mulutnya mengulum penuh lubang milik Soonyoung.

“Ahhhh... Hahhh.. Ahhh.. Wonwoo... Ahhh..”

Wonwoo menjauhkan wajahnya. Melepas kulumannya. Kedua jarinya siap memasuki lubang Soonyoung yang sudah basah oleh saliva-nya.

Dalam sekali masuk, kedua jari Wonwoo di telan habis oleh dinding-dinding Soonyoung.

“Ahhhhhh... Wonwoo....”

Wonwoo menikmati ekspresi Soonyoung yang tersiksa penuh kenikmatan. Wajahnya memerah. Mulutnya terbuka lebar. Bibirnya basah oleh saliva. Matanya sayu. Suara erangan serta desahan keluar dari mulutnya.

Jari Wonwoo masuk semakin dalam. Menekan seluruh inci lubang Soonyoung. Menggerakkan kedua jarinya layaknya gunting. Berusaha melebarkan lubangnya.

“Anghhhh.. Hahhh... Ahhh....”

Wonwoo tak sengaja menyentuh prostat Soonyoung. Membuat tubuh Soonyoung bereaksi liar. Seringai lebar muncul di bibirnya.

Dengan nakal, Wonwoo snegaja menggerakkan jarinya menyentuh titik kenikmatan Soonyoung. Menumbuknya cepat disana.

“Ahhhh.. No... Ahhh..”

Wonwoo menekan jarinya semakin dalam. Memutar dan menggerakkannya cepat.

“Ahhhh... Ahhhh.. Wonuu..”

Wonwoo melepas kedua jarinya. Membuat suara erangan kecewa lolos dari mulutnya.

Wonwoo meludahkan ludahnya di atas telapak tangannya. Mengoleskannya di seluruh bagian penisnya yang sudah merah dan tegak menantang udara.

Wonwoo mengecup dahi Soonyoung lembut. Memposisikan penisnya di depan lubang Soonyoung.

“Ready?”

Soonyoung menetralkan napasnya. Berlomba menghirup oksigen mengisi paru-parunya.

“Siap.”

Wonwoo menggangguk. Dalam sekali dorong, penisnya masuk perlahan ke dalam penis Soonyoung.

“Ahhhh.. Shit...”

Wonwoo mengeratkan giginya. Merasakan kenikmatan cengkraman dan pijatan lembut dari lubang Soonyoung.

Soonyoung mengerang. Merasakan lubangnya diisi penuh oleh penis Wonwoo.

Dorongan berikutnya, penis Wonwoo masuk menyeluruh. Napas terengah-engah menemani keduanya.

Detik berikutnya, Wonwoo mulai menggerakkan penisnya. Memaju dan memundurkan penisnya konstan. Menumbuk lubang Soonyoung brutal.

“Ahhhh.... Wonwoo.. Ahhh..”

Wonwoo menusuk penisnya cepat. Liar dan brutal. Berulangkali menyentuh prostat milik Soonyoung. Mendorong makin dalan penisnya. Mencari kenikmatan.

“Ngahhhhh... Mmmhhhh.. Hahhh..”

Tangan Wonwoo mencengkram penis Soonyoung.

“Nahhh.. Ahhhh..”

Tusukannya semakin cepat. Tempo berantakan. Tangan yang mengocok cepat penis milik kekasihnya. Memeras dan mencengkramnya keras. Berusaha memeras cairan keluar dari sana.

“Ahhhh... Ahhhh.. Wonuuu.. Ahhhh..”

Soonyoung menggeleng keras. Tak kuasa dengan kenikmatan yang berlimpah. Suara desahan keras serta lengkingan penuh nikmat, keluar dari bibirnya.

Penis Wonwoo bergerak kian cepat. Menusuk ganas. Meborbardir lubang milik Soonyoung dengan brutal. Suara kecipak basah nan erotis meremang di telinga keduanya.

“Ahhhh.. Wonuuhh..”

Jari Wonwoo bermain di skrotum Soonyoung. Menggoyangkannya gemas.

“Ahhhh... Ngahhhh..”

Panas, ganas, liar, erotis.

Keduanya berkolaborasi meraih kenikmatan. Pijatan dan remasan dinding Soonyoung membuat penis Wonwoo terjepit.

“Fuck. Hahh... Shit..”

Wonwoo menggeram keenakan.

Soonyoung menggigit bibirnya gemas. Melihat Wonwoo dengan keringat menghiasi dahinya, serta matanya yang tajam menatap Soonyoung ganas. Rambutnya yang hitam basah oleh keringat. Wonwoo menyisir rambutnya ke belakang.

“Shit.”

Wonwoo menggenggam kedua tangan Soonyoung di kedua sisi kepalanya. Mengeratkan genggamannya.

Tumbukan Wonwoo semakin cepat. Suara erangan Soonyoung semakin meras.

“Ahhhh...Mmhhhh.. Wonuuu..”

Bibir Wonwoo mengecup dahi Soonyoung lembut. Seperti paham jika Soonyoung sudah diujung tanduk.

“Together.”

Tusukan entah kesekian kalinya, remasan dinding Soonyoung semakin erat. Membuat Wonwoo mengerang nikmat.

Detik berikutnya, keduanya sama-sama mengeluarkan cairan dengan derasnya.

Cairan Soonyoung meluncur deras keatas mengenai perut Wonwoo dan juga perutnya. Beberapa menetes di paha Soonyoung.

Begitupula dengan Wonwoo. Cairannya menembak deras ke dalam lubang Soonyoung. Mengisi seluruh bagian lubangnya tanpa ampun.

Napas yang kejar-mengejar mengiringi keduanya. Tubuh yang penuh dengan keringat, serta orgame yang sedang melanda keduanya. Membuat tubuh Soonyoung serta tubuh Wonwoo bergetar penuh kenikmatan. Masih merasakan kenikmatan yang baru saja mereka rasakan beberapa detik yang lalu.

“Kalo kamu kalah main terus, kita bakal gini lagi.” ujar Wonwoo pelan.

Soonyoung memerah. “Tapi kamu suka kan?”

Wonwoo terkekeh. Dengan lembut dia mencabut penisnya. Membuat lelehan sperma miliknya keluar dari lubang Soonyoung yang berkedut.

“Suka lah.”

Soonyoung mendengus. “Kamu juga. Gak usah make bathrobe kalo mau ketemu sama Carat. Jangan lagi!”

Wonwoo terkekeh. Dengan lembut dia mengecup bibir Soonyoung yang memerah.

“Iya-iya.”

Wonwoo menjatuhkan dirinya di samping Soonyoung. Mendekap tubuh kekasihnya, di dalam pelukannya.

“Aku make bathrobe buat mancing kamu aja deh.”

Soonyoung memerah. Memilih menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Wonwoo yang hangat.