–, Beauty and The Puppy

Cantik. Itulah gambaran Jeonghan di mata Mingyu. Rambut hitamnya, senyumnya yang cerah, serta matanya yang menyipit seperti bulan sabit, membuat Mingyu berdebar jika melihatnya.

Jeonghan itu seperti malaikat. Terlihat sulit untuk di jangkau. Bersinar dan mempesona.

Mingyu hanya bisa memuja dari jauh. Apa yang ia harapkan dari Jeonghan. Menyukainya balik? Mingyu tersenyum miris.

Tak bisa. Ia tak ingin berharap lebih. Apa yang Mingyu harapkan dari keberadaannya yang tak terlihat? Tak memiliki teman dan tak diharapkan.

Apa yang kau harapkan dari Mingyu yang dekil dan berbadan bongsor. Apa yang kau harapkan?

Sudah cukup bagi Mingyu memuja Jeonghan dari jauh. Dari jendela kusam perpustakaan sekolahnya. Menatap Jeonghan yang tertawa riang di kelilingi oleh orang-orang cantik lainnya.

Satu-satunya media yang bisa ia jangkau agar merasa dekat dengan Jeonghan adalah radio sekolah.

Jeonghan adalah penyiar radio sekolahnya. Mingyu selalu mengirimkan pesan dan lagu-lagu yang ia suka agar Jeonghan tahu keberadaannya. Hanya itu sudah cukup bagi Mingyu.

Hingga suatu hari, Jeonghan berucap bahwa ia menyukai seseorang. Di siaran radionya ia berucap ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya.

Hati Mingyu remuk. Patah berserakan. Dia tak pernah sesakit ini.

Mingyu belum siap. Ia tahu Jeonghan itu cantik. Namun, ia belum siap melihat Jeonghan bersanding dengan orang lain.

Namun siapakah dia. Hanya pria aneh berbadan gemuk dan berwajah dekil. Bahkan Jeonghan pun enggan melihatnya.

Sejak itu, Mingyu menghindari segala hal tentang Jeonghan. Berhenti melihatnya dari jendela perpustakaan. Enggan mendengar suaranya lagi di radio. Mingyu tak ingin menyakiti hatinya lebih dalam lagi.

Entah apa yang menyadarkan dirinya, Mingyu mencari pelampiasan. Olahraga adalah pelampiasannya. Ia menyalurkan emosi serta kesedihannya dengan olahraga. Ia berusaha tidak mengingat Jeonghan dipikirannya.

Pola makannya berubah. Ia jarang makan. Entah kemana mood makannya pergi. Ia makan secukupnya. Asal perutnya terisi. Kegiatannya saat ini adalah olahraga, olahraga dan olahraga. Hingga tak sadar ia berhasil menghilangkan 10 kg dari tubuhnya.

Mingyu menatap dirinya yang saat ini, di depan cermin. Matanya hampa. Tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya. Bentuk wajahnya juga berubah. Tubuhnya terlihat lebih tegap. Namun semua itu tak mengubah apapun. Mingyu menghela napasnya.

Lagi-lagi ia harus menghindari semua tempat yang selalu di kunjungi oleh Jeonghan.

Mingyu lelah sebenarnya, cuman bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada pesona Jeonghan.

Mingyu berjalan menuju sekolahnya dengan tenang. Menyapa beberapa nenek-nenek dan anak kecil yang ia kenal.

Mingyu kadang bersyukur bahwa dia tidak satu kelas dengan Jeonghan.

Senyumnya pudar saat Mingyu melihat Jeonghan di depannya. Sedang berjongkok mengelus anak anjing yang ada di pinggir jalan.

Mingyu menelan ludahnya. Dengan buru-buru dia berbelok arah. Terpaksa mengambil jalan memutar.

Mingyu mengumpat. Kenapa dia harus bertemu Jeonghan seawal ini?

Mingyu mengusak rambutnya kasar. Lelah dengan perasaannya.

Hingga 10 menit kemudian dia tiba di sekolahnya. Setelah mengambil jalan memutar demi menghindari orang yang ia suka. Bodoh memang.

Mingyu menjalani hidupnya seperti biasa. Menghindari Jeonghan seperti biasa.

Mingyu kembali menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Kali ini tidak untuk memandangi Jeonghan. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk membaca buku yang sudah ia catat.

Sibuk dengan buku-buku yang ia pilih, tangannya berhenti saat sebuah suara yang ia hafal memanggilnya.

Mingyu menoleh patah-patah. Menatap Jeonghan yang cantik seperti biasa, tersenyum lebar sambil menunjuk buku yang ada di rak tertinggi.

Mingyu seperti paham. Berusaha agar tenang, Mingyu berjalan mendekati Jeonghan.

Berjarak beberapa senti, Mingyu menggapai buku yang Jeonghan inginkan.

Dengan sedikit menunduk, dia menyerahkan buku yang pegang di harapan Jeonghan.

Jeonghan tersenyum lembut. Mengucapkan terimakasih.

Mingyu mengangguk. Baru akan berbalik, tubuhnya di dorong ke rak buku. Membuat Mingyu tersentak kaget. Menatap Jeonghan tak mengerti.

“Hei..”

”...Mingyu.”

Mata Mingyu melebar. Menatap Jeonghan yang sedang menatapnya intens.

“Aku tahu siapa kamu...”

”..puppy.”

Mingyu tersentak. Masih shock. Jeonghan tahu dia? Tahu bahwa dia adalah 'puppy'?

“Aku tahu kamu sejak lama.”

“Aku tahu kamu sejak lama. Asal kamu mau tahu, puppy.”

Mingyu menatap Jeonghan tak percaya. Masih kaget dengan semua ini. Bagaimana bisa Jeonghan tahu, orang di balik akun 'puppy' yang ia gunakan untuk mendekatkan diri dengan Jeonghan di siaran radio nya?

“Gak nyangka pernyataanku waktu itu bakal buat kamu jadi gini. Hm.”

Mingyu menelan ludahnya.

“Kenapa diem aja, puppy? Gak mau nanya siapa yang aku maksud di radio waktu itu?”

Mingyu cuman diam. Mengigit bibirnya pelan.

“Itu kamu. Percaya gak yang berhasil menarik perhatiannya itu kamu?”

Mingyu menggeleng. Jeonghan tertawa. “Aku juga gak percaya.”

“Aku lihat kamu di bawah hujan deras. Masih sempat-sempatnya ngasih payung buat anjing di pinggir jalan. Sejak itu aku selalu liatin kamu di sekolah. Tapi kamu gak sadar kayaknya.” lanjutnya.

“Jadi.. Jangan ngehindari aku, okay? Kayak dulu aja. Gimana, puppy?”

Mingyu benar-benar masih tak percaya. Apa dia dipermainkan? Apa dia mimpi?

“Aku gak bohong. Aku gak mainin kamu. Dan kamu gak mimpi, kalo kamu mau tau.”

Mingyu memerah. Seakan Jeonghan bisa membaca pikirannya.

“Jadi, gimana puppy? Mau sama aku?”

Jeonghan menyerahkan tangannya di depan wajah Mingyu.

Mingyu mengangguk pelan. Mengambil tangan Jeonghan pelan. Membuat senyum cerah menghiasi wajah Jeonghan.

“Ayo, puppy.”

Jeonghan menarik tangan Mingyu, membuat Mingyu mengikutinya. Senyum lebar membuat wajah Mingyu semakin tampan.

“Iya, cantik.”

Jeonghan menoleh kebelakang. Tawa renyah keluar dari bibirnya.

“Aku tahu itu.”

Mingyu terkekeh. Lebih memilih mengikuti Jeonghan, yang menggenggam tangannya erat.