•Benci•

Jihoon itu cuek. Dia jarang mengungkapkan apa isi hati dan pikirannya lewat ekspresi dan tindakan. Teman-temannya bilang Jihoon itu menakutkan. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan jika bersama dengan Jihoon. Dia tak masalah. Jihoon tak masalah. Dia tidak bisa memaksa teman-temannya untuk mengerti dirinya. Dia tidak memaksa mereka untuk mengetahui apa yang Jihoon rasakan. Karena memang, tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti Jihoon. Kecuali satu orang. Sahabat serta temannya sejak kecil. Jeon Wonwoo.

Jeon Wonwoo seperti tahu apa yang ia rasakan hanya sekali lihat. Wonwoo cukup menatapnya lekat, dan ia bisa tahu apa yang Jihoon rasakan. Dan hal itu yang Jihoon benci. Dia benci dengan Wonwoo. Dia benci bahwa Wonwoo mengerti dirinya. Dia benci dengan senyum lembut Wonwoo. Dia benci dengan Wonwoo karena berhasil membuatnya tertawa. Membuatnya tersenyum. Dia benci. Dia benci dengan Wonwoo. Dia benci karena menyukai sahabatnya itu.

Yap. Jihoon menyukai Wonwoo. Sahabatnya. Dia benci menaruh rasa suka kepada Wonwoo. Dia benci karena sebentar lagi Wonwoo akan mengetahuinya.

Dia benci bahwa pertemanannya sedang di ambang batas. Dia benci bahwa ia harus menghindari Wonwoo. Namun, ia harus melakukannya. Ia harus melakukannya, agar Wonwoo tidak mengetaui apa yang ia rasakan.

Sudah seminggu ia menghindari Wonwoo. Beralasan sibuk dan sebagainya. Pulang lebih cepat. Berangkat lebih awal. Dia lelah menghindar. Namun dia takut. Takut Wonwoo akan membencinya.

Seperti saat ini. Dia sedang berjalan cepat menuju ruang musik. Ruang yang ia jadikan pelarian selama seminggu ini. Untungnya, dia memiliki akses bebas masuk ke dalam ruang musik. Jihoon bersyukur bahwa dia menjadi murid kesayangan guru musiknya.

Jihon mendorong pelan pintu ruang musik. Melihat sekeliling. Untungnya sedang kosong.

Jihoon berjalan mendekati piano hitam. Mendudukkan dirinya di atas kursi.

Akhir-akhir ini dia sering melampiaskan perasaannya dengan bermain piano. Membuatnya tenang dan rileks.

Dengan pelan dia mulai menggerakkan jemarinya. Memainkan lagu kesukaannya.

I'm jealous of the rain That falls upon your skin It's closer than my hands have been I'm jealous of the rain I'm jealous of the wind That ripples through your clothes It's closer than your shadow Oh, I'm jealous of the wind, cause

I wished you the best of All this world could give And I told you when you left me There's nothing to forgive But I always thought you'd come back, tell me all you found was Heartbreak and misery It's hard for me to say, I'm jealous of the way You're happy without me

Jemarinya memainkan piano dengan lembut. Jihoon menumpahkan segala perasaannya melalui lagu yang ia mainkan. Tak sadar bahwa seseorang sedang berdiri menatap Jihoon dalam diam.

Jihoon menghentikan permainannya. Menarik napasnya pelan. Lalu bangkit dari duduknya.

Betapa kagetnya Jihoon, saat melihat Wonwoo sedang menatapnya lekat dalam diam. Jihoon terdiam. Tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Jantungnya meronta tak karuan.

Jihoon takut. Ia takut mendengar suara Wonwoo. Ia takut. Tak pernah dalam hidupnya ia setakut ini.

Bisa ia lihat Wonwoo berjalan pelan mendekati Jihoon. Jihoon menghindari kontak mata dengan Wonwoo. Sebisa mungkin ia hindari.

Wonwoo berhenti di hadapan Jihoon. Lalu menarik Jihoon ke dalam dekapannya.

Jihoon tersentak. Tak tahu harus apa. Ia hanya bisa diam. Menikmati pelukan Wonwoo. Tangannya memeluk Wonwoo otomatis. Memeluknya erat. Wajahnya ia tenggelamkan kedalam dada bidang Wonwoo. Menghirup dalam-dalam aroma Wonwoo. Aroma yang ia rindukan.

Bisa ia rasakan Wonwoo melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Jihoon lekat.

“Kenapa menghindar?” tanya Wonwoo pelan.

Jihoon menatap lekat Wonwoo. “Kamu tahu.”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tahu!”

Keduanya diam. Jihoon menatap Wonwoo lekat. Keduanya saling tatap.

Wonwoo menarik napasnya pelan. “Kamu suka aku?”

Jihoon menahan napasnya. Dia tidak bisa menjawab.

“Jihoon.” panggil Wonwoo lembut.

Sungguh. Jihoon benci mendengarnya.

“Apa yang kamu takutin?”

Jihoon menatap Wonwoo.

“Kamu takut aku benci kamu?”

“Kamu takut aku jauhin kamu?”

Jihoon hanya diam. Dia tak tahu harus bagaimana.

“Jihoon.”

Jihoon menunduk. Menyembunyikan wajahnya. Matanya memanas. Bisa ia rasakan air mata mengalir di pipinya.

Sebuah tangan menangkup dagunya dan mengangkatnya. Agar bersitatap dengan Wonwoo.

“Jangan nangis.” bisiknya pelan.

Wonwoo menghapus air mata Jihoon. Di kecupnya lembut dahi Jihoon. Dan menatap sahabatnya penuh kasih.

“Kamu gak perlu takut.”

“Karena aku juga suka kamu.”

Jihoon tersentak. Napasnya ia tahan. Tak percaya dengan ucapan Wonwoo.

“Aku suka kamu. Udah lama.”

Jihoon masih tak percaya.

“Gak percaya?”

Jihoon ngangguk.

“Sama. Aku juga gak percaya suka sama anak macem kamu.”

Jihoon mendengus. Wonwoo tertawa. Ditariknya tubuh mungil Jihoon ke pelukannya.

“Jangan hindarin aku lagi. Aku kangen kamu.” ujar Wonwoo sambil mengusap punggung Jihoon.

“Gak usah alay.”

Wonwoo terkekeh. “Padahal kamu juga kangen aku.”

Jihoon tertawa pelan. “Kepedean.”

Wonwoo tersenyum. “Jadi kita pacaran kan?”

“Terserah.” jawab Jihoon sok tak peduli.

“Aku anggap itu iya.” ujar Wonwoo sambil tertawa.

Jihoon mendengus. Dia mengeratkan pelukannya. Tak ingin lepas dari Wonwoo.

Jihoon benci. Dia benci. Dia benci bahwa Wonwoo selalu membuatnya jatuh cinta berulang kali.