–, Coklat, Mungkin dan Seandainya

Jun itu sahabatnya Jisoo. Mereka udah kenal, sejak mereka di taman kanak-kanak. Jun yang pindahan dari China, rumahnya sebelahan sama rumah Jisoo.

Mereka lama-lama akrab. Makin deket. Makin lengket juga. Sampai mereka duduk di bangku menengah atas. Hubungan Jun dan Jisoo gak berubah.

Anehnya kedekatan mereka gak bisa cuman dibilang sahabat. Terlalu intim untuk label sahabat. Memang ada sahabat yang pelukan setiap saat? Pegangan tangan? Tidur berdua?

Berasa gak nyentuh satu sama lain itu, aneh bagi mereka. Bahkan orang disekitar mereka jadi salah paham. Mereka ini pacaran atau sahabatan?

Dan anehnya lagi, mereka gak pernah pacaran. Pernah lah deket-deket biasa, tapi gak sampai pacaran. Makin bingung kawan-kawan mereka.

Jun serta Jisoo biasa aja. Mereka berasa normal dengan kegiatan mereka.

Mereka gak sadar sama hati mereka yang udah berubah. Gak sadar sama jantung mereka yang udah berdetak aneh. Gak sadar sama sifat cemburu yang tiba-tiba muncul di saat yang gak tepat. Mereka gak sadar.

Perlakuan mereka satu sama lain udah merubah pertemanan mereka. Gak ada satupun dari mereka yang berani ngungkapin isi hati mereka yang sebenarnya. Mereka cuman ngikutin arus. Ngikutin apa kata takdir buat hubungan mereka.

Mereka gak pusing mikirin hubungan mereka. Selama mereka nyaman, mereka aman-aman aja. Tapi, di lubuk hati mereka, pasti ingin mendeklarasikan bahwa lelaki yang ia suka, itu miliknya.

Dibalik candaan Jun, dibalik senyum lembut Jisoo, tersimpan banyak emosi di dalamnya.

Hubungan mereka abu-abu. Hingga sebungkus coklat merubah segalanya. Merubah hubungan keduanya. Merubah isi hati Jisoo serta Jun.

Sebungkus coklat, yang membuat hubungan mereka berubah.

******

Jam pelajaran Kimia lagi kosong. Gurunya ada acara mendadak. Anak kelas pada heboh. Senang bukan main. Jisoo dan Jun tak kalah senang. Mereka pergi ke kantin. Beli cemilan sama minuman.

Mereka berdua pergi ke tempat favorite mereka. Atap sekolah. Tempat itu udah tempat wajib yang harus di datengin sama mereka.

Gak dateng ke atap, gak afdol. Serasa makan ketupat tanpa opor. Setiap hari pasti mereka kesana.

Mereka duduk lesehan. Gak peduli sama kotornya atap, toh nanti bisa di bersihin lagi.

Jun bersandar pada pagar pembatas. Di sampingnya Jisoo sedang sibuk membuka cemilannya. Bahu mereka bersentuhan. Tak ada pikiran untuk memberi jarak.

Jun menyesap soda yang ada di tangannya. Menikmati semilir angin yang menyapu lembut kulitnya.

Jisoo sibuk membuka bungkus coklatnya. Menyantapnya dengan nikmat. Layaknya anak kecil yang pertama kali makan coklat.

Jun melirik sedikit. Terkekeh dengan tingkah Jisoo.

“Itu belepotan. Makan pelan-pelan. Gak ada yang mau ambil coklatmu.”

Jisoo menoleh. Menatap Jun penuh tanya. “Mana yang belepotan?”

Tangannya sibuk menggosok kedua pipi serta bibirnya. Jun terkekeh.

“Disini.”

Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Jisoo. Menyisakan jarak beberapa senti. Ibu jari Jun menyentuh lembut bibir lelaki di hadapannya.

Jun menatap instens bibir Jisoo. Jarinya mengusap noda coklat yang mengotori ujung bibirnya.

Jisoo membeku. Napasnya ia tahan. Kedua netranya menatap intens apa yang Jun lakukan. Menikmati lembutnya jari Jun yang menyentuh bibirnya.

Jun menaikkan pandangannya. Menatap mata Jisoo lekat-lekat. Tangannya beralih menangkup dagu Jisoo lembut.

Keduanya saling tatap. Menyelami perasaan masing-masing. Menikmati waktu yang ada. Menikmati tingkah lelaki di hadapannya.

“Hei.” bisik Jun lembut.

Tatapannya tak terlepas sedetikpun dari Jisoo.

“Hm?”

“Kalau seandainya aku bilang aku suka kamu gimana?”

Jisoo terdiam. Matanya melebar. Kaget dengan ucapan Jun barusan.

“Maksudnya?”

“Kalau aku bilang aku suka kamu gimana?”

Jisoo menelisik mata Jun dalam-dalam. Berusaha mencari jawaban dari ucapan Jun.

“Ya gak papa.”

Jun tersenyum tipis. “Gak nolak?”

“Enggak.”

Jun menaikkan alisnya heran. “Kenapa? Harusnya kamu tolak lah. Kan kamu gak suka aku.”

“Kata siapa aku gak suka kamu.”

Jun diam. Wajahnya tak berekspresi. “Kamu suka aku sebagai teman kan?”

Jisoo ngangguk. Tentu saja dia suka Jun sebagai temannya.

“Kalau aku suka kamu lebih dari teman gimana? Sebagai sepasang kekasih?”

Jun berucap pelan. Agak ragu. Matanya sedikit goyah.

“Gak gimana-gimana.”

Jun diam. Tampak mencerna jawaban Jisoo. Tangannya menangkup sebelah pipi Jisoo. Mengusap lembut tulang pipinya.

“Kamu gak nolak?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Jisoo menatap Jun lekat-lekat. Ia menjilat bibirnya yang kering. Agak bimbang dengan jawabannya.

“Karena aku juga suka kamu mungkin. Lebih dari teman.”

Jun menatap Jisoo penuh tanda tanya.

“Mungkin?”

Jisoo mengalihkan pandangannya. Enggan menatap Jun.

“Kan yang kamu bilang seandainya. Gak beneran kan?” kata Jisoo.

Jun terkekeh. Ia dekatkan jarak keduanya. Hidung mereka bersentuhan.

“Kalo aku hilangkan kata 'seandainya' gimana? Aku suka kamu.”

Jun berbisik lirih. Napasnya menyapa kulit wajah Jisoo.

“Kalau gitu, aku juga suka kamu.”

Jun terkekeh. Tangannya menepuk pelan pipi Jisoo.

“Jadi kita saling suka?”

Jisoo ngangguk pelan. “Mungkin.”

Jun tertawa. “Jadi, kita pacar?”

“Maybe.”

“Kenapa kok mungkin?”

Jisoo menerawang. “Karena kita gak pacaran pun udah kayak orang pacaran.”

Jun terkekeh pelan. “Ada yang beda. Kita gak saling cium sama bertukar kata cinta.”

Jisoo memerah. “Kalau gitu, sekarang kita saling cium sama bertukar kata cinta?”

“Itu kalau kamu mau.”

Keduanya diam. Senyum riang terlukis di kedua bibir mereka.

“Kalau gitu kita pacar.”

Jun menyatukan dahi mereka. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Jisoo.

“Hai, pacar.”

Jisoo terkekeh. Matanya membentuk bulan sabit. “Hai juga, pacar.”

Jun menyatukan bibir keduanya. Menikmati rasa manis di bibir merah Jisoo. Rasa coklat yang manis serta lembutnya bibir Jisoo yang memerah, membuatnya terbang ke langit.

Jun menjauhkan wajah keduanya. Memberikan kecupan sebagai akhir.

Keduanya saling bertukar senyum. Menatap intens, lawan bicaranya.

“Gak perlu pakai kata 'seandainya' kalau mau jujur.” ujar Jisoo mengejek.

“Gak perlu pake kata 'mungkin' kalau mau nerima.”

Jisoo memukul dada Jun. Yang dibalas kekehan keras dari sang empu.

“Sialan.”

Jun tertawa. Memilih mendekap Jisoo di pelukannya. “Gak perlu kata 'seandainya' dan 'mungkin', kalau kita saling suka.”