–, Cold and Warm
Hansol adalah tipe orang yang tidak peduli dengan sekitarnya. Dia menikmati hidupnya apa adanya. Saat semua kawannya sibuk mencari soulmate masing-masing, Hansol hanya diam menikmati hari-harinya seperti biasa.
Di dunia ini, saat kamu berumur 17 tahun, kamu dapat merasakan kehadiran soulmate mu melalui indra perasamu. Seperti penciuman, penglihatan, pendengaran dan kepekaan.
Dari yang diceritakan sahabat-sahabatnya, Hansol sudah menjumpai beberapa contoh.
Mingyu misalnya. Dia dapat mencium aroma tubuh soulmatenya. Hanya Mingyu seorang. Kata Mingyu, aroma Minghao seperti coklat dan kue kering. Atau Seungcheol, yang dapat melihat warna aura dari soulmatenya. Kata Seungcheol, warna aura Jeonghan berwarna merah muda bercampur biru laut. Adapula Wonwoo, yang dapat mendengar suara pikiran Soonyoung. Semua orang memiliki cara mereka sendiri, untuk mengetahui soulmatenya.
Hampir semua sahabatnya sudah menemukan soulmate mereka. Tersisa Hansol dan juga Seokmin.
Hari ini Hansol berumur 17 tahun. Dia penasaran. Apa yang ia dapatkan untuk mengetahui keberadaan soulmatenya. Karena ulang tahun Hansol bersamaan dengan Seokmin, maka kesebelas kawan mereka, merayakan ulang tahun keduanya bersamaan. Memutuskan untuk makan di salah satu cafe favorite mereka.
Hansol duduk bersebelahan dengan Seokmin. Mereka berada di tengah-tengah kawan mereka. Dan anehnya, tubuh Hansol terasa panas. Panas yang tidak mengganggu. Panas yang membuatnya nyaman.
“Apa pendingin cafe nya gak nyala?”
Hansol mulai bertanya. Dia masih merasakan panas saat ini.
“Iya. Panas bener ini.” celetuk Seokmin.
Ternyata bukan hanya dirinya yang merasa kepanasan. Seokmin juga.
“Gak tuh. Dingin sekarang. Yakin lu berdua gak papa?”
Jeonghan menatap Hansol serta Seokmin khawatir.
Hansol diam. Mungkin dia agak demam.
Hansol tak ambil pusing. Dia melanjutkan makannya. Merasakan hawa panas dari sisi kanannya.
Hingga satu jam kemudian, mereka memutuskan untuk pulang. Hansol masih merasakan panas.
Satu per satu kawan-kawannya pamit. Begitupula dengan Hansol.
“Gua duluan ya. Makasih buat kalian. Udah mau ngerayain bareng.”
Hansol pamit pulang, setelah berpelukan dengan semua teman-temannya.
Sepanjang jalan, tubuhnya kedinginan. Iya. Hansol menggigil. Padahal cuaca cerah biasa. Tidak hujan. Biasa saja. Tapi kenapa tubuhnya menggigil?
Hansol tak bisa berjalan. Dia berhenti. Bersandar pada salah satu tembok toko.
Dia memeluk dirinya sendiri. Ingin cepat pulang, namun kakinya tak bisa melangkah.
Bibirnya gemetar. Wajahnya pucat. Tubuhnya tak bisa diam.
Hansol berusaha menghangatkan tangannya. Meniup-niupkan napasnya.
Getaran ponsel di saku celananya, membuat Hansol berdecak.
Dengan kesusahan, dia merogoh sakunya. Mengambil ponselnya.
Nama Seokmin terlihat di layar ponselnya.
“Halo.” jawab Hansol dengan suara seraknya.
'Kamu dimana?'
Hansol mengedarkan pandangannya.
“Deket Big Match.”
Terdengar dari arah sebrang yang sedang panik.
'Bisa balik ke cafe?'
Hansol masih menggigil. “Gak bisa.”
'Dingin?'
Hansol terdiam. Bagaimana Seokmin bisa tahu.
“Iya.”
Dari arah sebrang hanya keheningan. Tak ada suara.
'Aku juga kedinginan.'
Hansol diam. Tampak berpikir. Jangan-jangan Seokmin soulmatenya?
“Kita soulmate?”
Seokmin tampak diam. 'Mungkin.'
Hansol memeluk tubuhnya erat. Dia ingin berlari ke Seokmin. Dia ingin bertemu dengannya. Namun, tak bisa. Tubuhnya terlalu dingin. Kakinya tak bisa ia gerakkan.
“Aku gak bisa kesana.”
'Kenapa?'
“Gak bisa jalan.”
Ada suara berisik dari sebrang telepon. Hansol pusing. Kepalanya pusing.
'Jangan kemana-mana. Aku kesana.'
Telepon di putus oleh Seokmin. Hansol hanya bisa menyandar. Orang-orang menatapnya penasaran, tak ada niat membantunya sedikitpun.
Hansol hanya bisa meratapi nasibnya. Kemampuan yang ia dapatkan unik namun juga menyusahkan. Bagaimana bisa ia berjauhan dengan Seokmin nanti? Apakah dia akan selalu berdua dengannya? Walaupun itu ke toilet?
Wajah Hansol sedikit memerah. Berusaha menyingkirkan pikirannya yang aneh.
“Hansol.”
Hansol menoleh. Terlihat Seokmin yang terengah-engah.
Tubuh Hansol mendadak menghangat. Dingin yang ia rasakan lenyap.
Hansol berbalik. Berjalan mendekati Seokmin.
Tangan Seokmin terlentang lebar. Seperti menyambut Hansol.
Perlahan, Hansol memeluknya. Mendekapnya erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Seokmin.
Tangan Seokmin melingkari tubuh Hansol. Mendekapnya erat. Menghirup aroma Hansol dalam-dalam.
Tubuh mereka menghangat. Berbagi kehangatan. Dingin yang mereka rasakan, hilang entah kemana. Lenyap tak berbalik.
Senyum Hansol melebar. Ia jauhkan tubuhnya sedikit. Menatap Seokmin dengan lekat.
“Jadi, kamu Soulmateku?” tanya Hansol.
Seokmin tertawa. Tangannya bergerak merapihkan rambut Hansol.
“Kejadian sekarang bukti kita soulmate.”
Hansol mendengus. “Kenapa harus gini? Jadi kita gak bisa jauhan?”
“Bagus dong. Kita harus deketan. Biar gak kedinginan.”
“Kalo kita kerja gimana? Kuliah? Di masa depan gimana?”
“Gampang. Kita serumah, sekamar, sekasur, mandi berdua, kuliah di tempat yang sama, kerja di tempat yang sama. Simple.”
Hansok memutar matanya malas. “Gampang kalo ngomong.”
Seokmin terkekeh. “Ayo ke rumahku.”
“Ngapain?”
“Ngenalin ke ortu lah. Kita harus minta restu. Karena kita gak bisa jauhan, otomatis kita harus serumah.”
Hansol melotot. “Gila. Gak pernah mikir kalau soulmateku itu kamu.”
“Aku juga.”
“Kita beda kepribadian kok bisa jadi soulmate.”
Seokmin tersenyum. “Justru karena beda inilah kita harus saling melengkapi. Apa gunanya soulmate kalau gitu. Iya kan?”
Hansol memerah. “Iya juga sih.” gumamnya.
“Ayo pergi. Habis dari rumahku, ke rumahmu. Kamu harus ngenalin orang tuamu ke aku.”
Hansol hanya diam. Pasrah dengan perlakuan Seokmin. Tangannya di genggam erat. Keduanya jalan berdampingan.
“Terserah lah.”
Seokmin terkekeh. “Hai, soulmate. Awet-awet ya.”
Hansol mendengus. Mengabaikan Seokmin yang tertawa menggodanya.