–, Cuddle

Jun selonjoran santai di atas sofa. Kakinya yang panjang, ia biarkan menjuntai. Pandangannya terarah menatap televisi. Tangannya terkulai memegang remote tv. Sungguh menikmati hari Minggunya kali ini. Memutuskan untuk bermalasan sekali-kali.

Jun malas mandi. Malas berdiri. Bahkan untuk sekedar mengambil ponselnya di atas meja, dia malas. Benar-benar menikmati harinya sekarang.

Tayangan tv di hari minggu memang selalu menghibur. Tawa renyah keluar dari bibirnya. Matanya melengkung membentuk bulan sabit. Kaki panjangnya bergerak liar, saking lucunya.

Jihoon datang dari arah dapur. Berdecak melihat kelakuan Jun yang bar-bar.

Dengan kasar ia memukul paha Jun. Menyuruh kakinya untuk menyingkir.

“Apasih, sayang?”

Jihoon mendengus. “Minggir. Ini sofa punya bersama. Jangan di kuasain.”

Jun terkekeh. “Gak mau.”

Wajah Jun benar-benar menjengkelkan. Membuat Jihoon ingin menginjaknya.

“Gak usah nyari ribut, Jun. Minggir.”

Jun terkekeh. “Emang mau ngapain?”

“Berak. Ya duduk, bego.”

Jun tertawa keras. “Yaudah tinggal duduk.”

Jihoon memutar matanya malas. “Emang mau ku dudukin kamunya?”

Jun menatap Jihoon menantang. “Duduk sini.”

Tangan Jun menarik Jihoon agar duduk di atas pahanya. Tangannya yang lain merangkul bahu Jihoon, menariknya agar berbaring di atas tubuhnya.

Kepala Jihoon tepat di atas dada bidang Jun. Mendengar sayup-sayup debaran jantung Jun yang menenangkan.

Tangan Jun yang lain, memeluk perut Jihoon yang datar.

“Enak kan?”

Jihoon cuman diam. Pasrah dengan kelakuan Jun. Lebih memilih menyamankan dirinya di atas Jun.

Kaki Jun menindih kaki Jihoon. Mendekap si mungil layaknya guling.

“Aku bukan guling, Jun.”

“Siapa yang bilang kamu guling? Kan kamu pacarku.”

Wajah Jihoon memerah. Menjalar hingga telinganya.

“Liat deh. Kakiku panjang daripada punyamu.”

“Ya terus? Mau pamer?”

Jun terkekeh. Hidungnya menghirup aroma rambut Jihoon yang harum.

“Enggak. Jadinya cocok kan kalo aku meluk kamu gini. Kakimu bisa ketutup semua sama kakiku. Coba lihat.”

Jihoon menundukkan pandangannya. Menatap kakinya yang bersembunyi di balik kedua kaki Jun yang panjang.

Jihoon bergumam. Kepalanya ia letakkan lagi di dada Jun.

“Beruntung kamu punya pacar kayak aku. Udah tinggi, kaki panjang, ganteng, jago masak, humoris lagi. Kurang apa coba.”

Jihoon mendengus. Memilih menahan tawa. Jiwa narsis Jun sedang muncul.

“Iya-iya bangga.”

Jun terkekeh. Kakinya melingkari kaki Jihoon erat. Mendekapnya bagai tak ada hari esok.

“Jadi, kegiatan kita apa hari ini?” tanya Jun yang sedang memainkan jarinya di dada Jihoon.

“Malas-malasan.”

Memang benar. Mereka sedang bermalas-malasan.

“Bahasa kerennya cuddle, Ji.”

Jihoon terkekeh. “Cuddle.”

Jun ikut tertawa. “Benerkan. Nih sekarang kita lagi cuddle.”

Jihoon tersenyum. Ia mengangkat wajahnya menatap Jun, yang ternyata menunduk untuk memandangnya.

“Iya-iya, Jun.”

Jun tersenyum lembut. Bibirnya ia daratkan untuk mengecup pucuk kepala Jihoon.

“Mari kita nonton sambil cuddle.”

Jihoon terkekeh. Membiarkan Jun dengan segala keunikannya.