Damn!

Mingyu menguap malas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Langkah kakinya terkesan malas-malasan dan tak bersemangat. Hari ini ia banyak mengalami kejadian menyebalkan sampai mengerikan. Hari terburuk yang pernah ia rasakan.

Jalur transportasi terlihat lengang dan sepi. Hanya ada beberapa mobil dan motor yang berkendara. Mungkin efek sore hari. Padahal biasanya, saat ini adalah jam pulang kerja para karyawan.

Jarak kos Mingyu dengan sekolahnya lumayan dekat. Menempuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Matanya menerawang ke depan sambil melakukan apa saja bahan-bahan makanan yang akan ia beli untuk beberapa hari ke depan.

Perutnya juga keroncongan minta diisi. Mingyu biasa berbelanja di supermarket dekat persimpangan karna banyak diskon yang diberikan.

Asik melamun sambil bersenandung, tiba-tiba tangannya di tarik masuk ke dalam jalan sempit.

“H-hei..”

BRUK

Mingyu terpelanting. Mulutnya mengaduh pelan saat punggungnya menubruk dinding beton.

“Apaan si anjing?”

Mingyu melotot tak terima. Menatap beberapa rombonga orang yang Mingyu hitung lebih dari 5 orang.

“Lu Mingyu ya?” Ucap salah satu orang dari kumpulan rombongan yang mengepung Mingyu.

“Ya menurut lu? Gak bisa liat nametag gua?”

Tawa reme keluar dari orang yang Mingyu lawan.

“Ngelunjak juga ya lu. Elu ya yang ngehajar anak buah gua?”

Mingyu menatap heran. “Anak buah yang mana?”

Tiba-tiba dari arah ujung gang, berjalan pelan sosok babak belur yang berbalut perban penutup luka.

Mingyu seakan sadar sesuatu. “Oh, lu si pengecut kemarin yang mau lawan gua tapi gak bisa ya? Sekarang lu ngadu ke abang lu karna kalah gelut? Kocak.”

Orang yang Mingyu sebut 'abang', berdecak kesal.

“Brengsek, beneran minta dihajar lu ya?!”

Mingyu tertawa keras. “Ya maju aja sini, kalo bisa ngalahin gua sih.”

Tanpa basa-basi, kumpulan lelaki asing yang mengepung Mingyu mulai menerjang nya serentak.

Mingyu yang ahli dalam berkelahi, dan sudah memiliki banyak pengalaman di jalanan, mulai melawan mereka satu per satu.

Walaupun saat ini Mingyu sudah lelah karna banyaknya kejadian yang ia alami di sekolah, ditambah pula ia belum makan apapun sejak pagi, kondisi Mingyu yang tidak prima tak menyurutkan kekuatannya dalam bertarung.

Dengan lihai dan tangguh Mingyu menepis dan membalas serangan-serangan yang ada.

Pertarungan yang berat sebelah itu, berlangsung cukup lama. Dan anehnya tidak ada yang melerai.

Mungkin karna efek jalanan yang sepi, tidak ada manusia lain yang lewat menegur mereka.

Atau tidak?

CEKRIK

“Perkelahian yang menganggu masyarakat dan membuat warga sekitar resah, ditambah mulai menghancurkan fasilitas kota. Gua udah punya bukti foto dan video, ditambah gua juga udah telpon polisi. 5 menit lagi mereka sampe, apa masih mau gelut?”

Perkelahian sengit yang tak mungkin bisa dilerai, tiba-tiba terhenti mendengar ucapan tamu asing tak diundang.

Mingyu menoleh. Terbelalak menatap siapa yang ada di depannya kini.

“Cepet pergi atau kalian di tangkep polisi?”

Orang-orang yang mengepung Mingyu mulai menatap orang asing yang menyela perkelahian mereka.

“Lu siapa? Temennya? Lu mau di hajar juga?”

Lelaki asing yang baru saja tiba itu mulai menanggalkan tas dan barang ia bawa di samping kakinya.

“Emang lu semua bisa hajar gua? Pede banget.”

Baru satu bait kalimat dia ucapkan, orang-orang yang mengepung Mingyu mulai lepas kendali. Emosi mereka tak terkendali mendengar nada remeh dari lawannya.

“Brengsek! Tangkap dia!”

Tanpa basa-basi, serentak mereka menerjang remaja laki-laki yang masih berbalut seragam.

Dengan lihai dan terlihat tenang, ia menepis dan melawan semuanya bagaikan aktor laga yang sedang beraksi.

Mingyu menatap cengo orang yang ada di depannya.

Gimana mungkin?

Tangan kurus yang tak terlihat kuat itu, mulai menerjang titik lemah lawannya. Kedua mata yang tajam, bergerak liar melihat pergerakan lawan. Tak ada satupun celah. Mingyu bisa melihat bahwa pengalaman orang yang ada di depannya jauh di atas Mingyu.

Gimana bisa?

10 menit pertarungan, semuanya berhasil dilumpuhkan seorang diri.

Mingyu menatap takjub. Baru kali ini dia melihat pertarungan seintens ini.

“Pergi sekarang, dan jangan nunjukin muka lu semua ke dia lagi.”

Semuanya kabur tanpa perkataan apapun. Mingyu berdiri mendekati orang yang sedari tadi ia lihat.

“Kenapa?” Mingyu bertanya.

“Kenapa apanya?”

“Kenapa lu nolongin gua?”

Orang yang ditanya Mingyu terdiam. “Emang gua nolongin lu?”

Mingyu berdecak. “Terus lu ngapain buang-buang waktu gelut?”

“Gua kasian aja. Muka lu kayak orang kelaperan tapi dipaksa gelut.”

Brengsek

“Gak usah mikir macem-macem. Gua gak ada niat apapun. Gua kebetulan lewat.”

Mingyu hanya diam.

“Kenapa lu gak lawan gua kayak lu lawan orang-orang tadi?”

“Maksudnya?”

“Kenapa lu gak lawan gua kalo gua lagi bully lu, Minghao?”

Minghao. Orang yang dipanggil Minghao menatap lekat Mingyu.

“Gak asik kalo langsung adu jotos sama lu. Gua punya cara balas dendam tersendiri biar bagus. Itu yang namanya seni.”

Mingyu tertawa. “Kek bisa aja lu balas dendam ke gua.”

Minghao tersenyum tipis, menatap Mingyu rendah. “Jangan ngerasa gua masih Minghao yang dulu. Gua belum maafin lu atas semua yang udah lu lakuin ke gua.”

“Emang gua lakuin apa?” Tanpa rasa bersalah, Mingyu bertanya sok polos.

Minghao hanya bisa menyeringai. “Tanya ke diri lu sendiri. Saat lu sadar gua bakal maafin lu.”

“Gua gak minat minta maaf ke lu asal lu tau.”

Minghao mengambil barang-barang nya kembali, dan bergegas membalikkan badannya.

“Dan gua juga gak minat maafin lu.”

Minghao berhenti sebentar. “Obatin luka lu, jangan lupa isi perut lu.”

Tanpa menunggu jawaban Mingyu, Minghao pergi meninggalkan Mingyu seorang diri.