Day 2
Semenjak kejadian semalam, Mingyu banyak diamnya. Minghao memerintah Mingyu untuk duduk sejenak dan membiarkan Minghao bekerja.
Hampir 15 menit Minghao berusaha mendirikan tenda kemahnya seorang diri. Mingyu menatap kosong Minghao, dan lukanya yang berbalut kasa perban bergantian.
Semalaman Minghao tak bisa tidur. Membuat Mingyu bangun dan memutuskan untuk berjaga di luar.
Esoknya, wajah Mingyu masih terlihat sama. Bedanya, hanya terlihat lelah dan letih. Minghao tebak Mingyu tak tidur karna Minghao temui dirinya bangun seorang diri, tadi pagi.
Hari kedua kegiatannya berbeda. Setiap kelompok ditugaskan untuk mencari buah-buahan serta tanaman herbal yang bisa mereka kumpulkan.
Berbekal buku kecil informasi-informasi tanaman, Mingyu melesat pergi membawa buku yang telah di berikan.
Minghao hanya menghela napas lelah. Ia rasa Mingyu sedang menghindari nya.
Ia paham mungkin Mingyu sedikit shock dengan kejadian semalam. Apalagi Mingyu sampai mau memberikan seluruh isi tenda untuk Minghao seorang.
Kepala Minghao hanya berputar Mingyu, Mingyu dan Mingyu. Heran dengan sikap Mingyu yang diam. Dia tak biasa.
Tak terasa sudah 2 jam waktu berlalu. Waktu yang diberikan untuk semua siswa mengumpulkan segala jenis tanaman sudah berakhir. Kepala Minghao celingukan mencari sosok Mingyu di segala arah.
PUK PUK
“Udah selesai dari tadi?”
Minghao menengok kebelakang, melihat Mingyu dengan napas nya yang tersengal.
“Lu habis lari?”
Mingyu sedikit tertawa pelan. Membuat Minghao sedikit kaget.
“Ngejar waktu, gua gak mau ngerepotin orang lain kayak kemarin.” Ucapnya sambil mengangkat tas yang berisikan tanaman-tanaman yang dibutuhkan.
“Wah.. lu cari semuanya sendirian?”
Mingyu mengangguk. “Buat lu.”
Minghao bingung. “Maksudnya?”
Mingyu menyodorkan tas yang ia bawa ke arah dada Minghao.
“Buat lu. Makasih yang semalem.”
Minghao mengambil tas yang di sodorkan oleh Mingyu, agak ragu-ragu. Tanpa sepatah dua kata, Mingyu berbalik meninggalkan Minghao.
“What the...” Sungguh, Minghao bingung.
Apalagi saat dirinya melihat sepasang telinga Mingyu sedikit memerah.
Beberapa materi dan tujuan pembelajaran hari ini di sampaikan oleh pak Wasik. Minghao sama sekali tak fokus.
Mengingat pemberian Mingyu sebagai tanda terimakasih karna kejadian semalam.
Matanya melirik Mingyu yang ada di sampingnya. Entah kenapa Mingyu benar-benar berbeda. Terlihat tenang dan jinak.
Minghao mengerang frustasi.
Ah, masa bodo.
Mingyu tetaplah lawannya. Tak ada kata ampun untuk lawan Minghao.
“Eh, Hao jangan gerak.”
Suara Mingyu terpecah. Minghao spontan menengok sang empu secara cepat.
“Hah? Apaan?”
Tangan Mingyu meraih atas kepala Minghao, membuatnya terpaku.
“Apaan anjir?” Jelas saja Minghao kaget.
Mingyu mengangkat alisnya bingung. “Apanya?”
“Ck. Ada apa di kepala gua?”
Mingyu menyentuh surai kepala Minghao, membuat beberapa helai rambutnya tersapu jari-jemari Mingyu.
“Ada kumbang.”
Mingyu menyerahkan kumbang kecil ke depan wajah Minghao.
“Whoa!” Tangan Minghao spontan menepis telapak tangan Mingyu yang sangat dekat dengan wajahnya.
Matanya menatap lekat Mingyu yang ada di depannya.
“T-thanks.”
Mingyu hanya mengangguk awkward. Setelahnya, situasi canggung menyelimuti keduanya.
Semua murid mulai membereskan barang-barang yang mereka bawa. Minghao melipat tenda yang ia dirikan, sedangkan Mingyu mulai membersihkan lingkungan sekitar tenda keduanya.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari keduanya. Membuat Minghao semakin frustrasi.
“Oh ya, Hao lu bisa langsung ke mobil kok. Kerjaan lu tinggalin aja, biar gua yang urus.”
Minghao menatap Mingyu cengo.
“Hah? Gak lah, masa lu kerja sendirian.”
Mingyu menatap Minghao dalam diam. “Naik sekarang atau lu gua gendong masuk mobil?”
Minghao melotot. “Apaan sih lu freak. Yodah gua duluan.”
Dengan rasa emosi yang memuncak Minghao membanting tenda kemahnya diatas tanah.
Helaan napas lelah Mingyu keluarkan setelah Minghao agak menjauh darinya.
Kedua netranya menatap lurus punggung Minghao yang berjalan naik ke atas mini bus. Sepertinya Mingyu harus menghentikan semuanya. Entah kenapa, pundak dan hatinya terasa memberat.