–, Diary

Jeonghan berlari di sepanjang lorong. Suara hentakan kakinya, berbenturan dengan lantai keramik sekolahnya. Napasnya tersengal. Pikirannya kacau. Jeonghan buru-buru masuk menuju kelasnya. Berjalan cepat menghampiri bangku mejanya.

Kepala ia longokkan, mengintip isi lacinya. Kosong.

Jeonghan panik. Ia mengecek seluruh kelas. Takut jika ia salah taruh.

Namun nihil. Bukunya tak ada. Jeonghan meremas rambutnya frustasi.

Betapa cerobohnya Jeonghan. Bagaimana bisa ia melupakan buku diarynya yang berharga?

Anggap saja Jeonghan itu rajin. Sejak kecil hingga ia berusia 17 tahun, dia memiliki buku diary. Itu adalah barang wajib yang harus dimiliki Jeonghan. Sejak kecil ibunya telah mengajarkan Jeonghan, untuk meluapkan isi hatinya lewat tulisan. Hingga menjadi kebiasaan bagi Jeonghan. Semua rahasia yang ia miliki ada di buku diarynya. Dan dengan bodohnya, Jeonghan menghilangkannya saat ini.

Jeonghan menggigit bibirnya cemas. Mulai berpikir macam-macam. Bagaimana jika yang menemukan adalah salah satu temannya yang berniat jahat? Bagaimana jika rahasianya di bongkar oleh orang itu?

Jeonghan merasa matanya berkabut. Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya. Jeonghan buru-buru mengusap matanya. Berusaha berpikir positif. Berharap jika yang mengambil bukunya adalah orang baik. Jeonghan berharap dalam hati, bukunya ada di tangan orang yang tepat.

******

Jisoo melempar dirinya di atas kasur. Dengan buku bersampul biru muda yang ada di tangannya, Jisoo menatap penuh penasaran.

Ini bermula, saat Jisoo terlambat bangun karena membolos pelajaran. Rencana awal, dia hanya membolos hingga pelajaran Kimia. Namun yang terjadi adalah, dia terbangun hingga bel pelajaran berakhir berbunyi. Dia bangun setengah jam setelahnya. Menyadari lorong serta kelas-kelas yang lain sudah kosong, tanpa ada penghuni.

Jisoo dengan santai mengambil tas miliknya yang ada di deretan paling belakang.

Saat ia akan pergi, sebuah buku yang sedikit mencuat dari bawah laci seseorang, membuatnya penasaran.

Dengan pelan, dia ambil buku bersampul biru yang ada dilaci, membukanya perlahan.

Mata Jisoo melebar, saat melihat nama Jeonghan terpampang di halaman kedua.

Jisoo menimbang, ingin membawanya atau meninggalkannya di tempat semula.

Akhirnya, rasa penasaran Jisoo lah yang menang. Dia masukkan buku Jeonghan ke dalam tasnya, lalu pergi meninggalkan kelas secepatnya.

Dan disinilah Jisoo. Tengkurap, dengan buku di tangannya.

Dengan pelan dia buka. Membaca satu demi satu cerita-cerita Jeonghan.

Senyum tipis dan tawa lirih keluar dari bibirnya, saat tahu bahwa Jeonghan kesal dengan guru Kimia mereka. Atau Jeonghan yang senang sekali dengan koleksi speakernya.

Jisoo menemukan hal unik yang tidak diketahui orang lain.

Ada beberala fakta yang membuat Jisoo gemas dengan Jeonghan.

Pertama, Jeonghan harus tidur menggunakan selimut berwarna biru. Harus. Jika tidak, ia tidak akan bisa terlelap dalam mimpi.

Kedua, Jeonghan suka mengoleksi film-film Disney. Jisoo terkekeh saat membaca fakta itu.

Ketiga, Jeonghan tergila-gila dengan buku dongeng. Mulai sekarang Jisoo akan membeli buku dongeng untuk Jeonghan.

Keempat, Jeonghan memiliki kebiasaan unik. Menggunakan huruf besar saat menulis diary jika ia senang. Menulis dengan huruf kecil jika ia sedih. Dan tebak, semua isi diary Jeonghan kebanyakan berhuruf besar semua. Jisoo senang bahwa Jeonghan selalu bahagia.

Dan kelima. Fakta yang membuat Jisoo ternganga sekaligus senang. Jeonghan menyukai Jisoo.

Jisoo harus berulang kali membaca untuk mempercayainya.

Senyum lebar terpasang di wajahnya. Sebuah rencana terlintas di otaknya.

*******

Selama seharian ini, Jeonghan tidak fokus belajar. Menatap papan tulis dengan raut kosong. Lagi-lagi bangku Jisoo tidak ada penghuni.

Jeonghan menyukai Jisoo sejak masa orientasi. Saat Jisoo menolongnya karena terjatuh dari tangga. Namun sayangnya, Jeonghan serta Jisoo tidak pernah saling berbicara. Jeonghan menjaga jaraknya dengan Jisoo. Takut lelaki itu tahu perasaannya yang sebenarnya.

Jeonghan masih memikirkan buku diarynya. Semalaman dia cemas. Susah terlelap. Walaupun sudah memakai selimut birunya, dia tetap tidak bisa terlelap.

Jeonghan menghela napasnya. Bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran berakhir. Semua siswa buru-buru keluar kelas, meninggalkan sekolah.

Namun tidak dengan Jeonghan. Dia lebih memilih mencari bukunya kembali. Kali saja, orang yang mengambil bukunya menyembunyikan di suatu tempat.

Saat ruangan kelas sudah sepi, menyisakan Jeonghan seorang diri, dia melakukan pencarian. Melihat seluruh laci. Mengecek belakang papan tulis. Melihat loker-loker yang ada di belakang kelas.

Nihil. Bukunya tak ada. Dengan lemas, Jeonghan mengambil tasnya, dan keluar kelas.

Sebuah benturan keras, membuat tubuhnya mundur selangkah. Jeonghan mengaduh kesakitan. Tangannya mengusap dahinya pelan.

Jeonghan menaikkan pandangannya ke depan. Terkejut saat melihat Jisoo ada di depannya.

“Jisoo?”

Jisoo tersenyum. “Hai. Kamu gak papa? Maaf muncul tiba-tiba.”

Jeonghan membeku. Tak tahu harus menjawab apa. “Um, gak papa.”

Jisoo mengangguk. “Kenapa masih disini? Kenapa belum pulang?”

Jeonghan menggigit bibirnya. Haruskah ia bilang bahwa ia kehilangan bukunya?

“Nyari bukuku.”

Jisoo menaikkan alisnya. “Buku? Buku apa?”

Jeonghan makin cemas. Harus banget Jeonghan bilang, kalo yang hilang itu buku diarynya?

“Um, buku tulis.”

Jisoo ngangguk. “Buku biru?”

Jeonghan tersentak. Menatap Jisoo kaget. “Iya!”

Jisoo terkekeh. “Maksudmu ini?”

Jisoo menunjukkan buku biru di hadapan Jeonghan. Buku diary yang dicari-cari Jeonghan dari kemarin.

Mata Jeonghan melebar. Kaget saat tahu bahwa, Jisoo yang mengambil bukunya.

“Gimana bisa ada di kamu?”

Jisoo menyeringai. Dia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu.

“Aku ambil. Ku bawa pulang. Ku baca.”

Jeonghan tersentak. Menatap Jisoo takut-takut. “B-baca?”

Jisoo ngangguk. “Iya, ku baca.”

Jeonghan memerah. Itu artinya, apakah Jisoo tahu jika dia menyukai Jisoo?

“Dan aku tahu semua rahasiamu.”

Jisoo menatap Jeonghan lekat. Seringai tipis menghiasi bibirnya.

“Apa maumu?”

Jisoo tertawa. “Aku gak mau apa-apa. Tenang aja.”

Jisoo menyerahkan buku Jeonghan kembali ke pemiliknya. “Ini. Lain kali simpen baik-baik. Untung aku yang ambil. Bukan orang lain.”

Justru karena Jisoo yang ambil, makin berbahaya bagi Jeonghan.

Jeonghan mengambil bukunya. Memegangnya erat-erat.

Jisoo melewati tubuh Jeonghan, untuk masuk ke dalam kelas. Mengambil tasnya, lalu memakainya.

Jisoo kembali kehadapan Jeonghan. Memajukan wajahnya, mendekati wajah Jeonghan.

“Ah, dan aku juga suka kamu. Makasih udah suka orang macam aku.” ucap Jisoo pelan, dengan senyum mautnya yang memikat.

Jeonghan tersentak. Wajahnya memerah.

Jisoo menyeringai. Tangannya ia lingkarkan ke pinggang Jeonghan. Menariknya mendekat.

Jeonghan tersentak. Tangannya otomatis berada di dada Jisoo.

Jisoo mendekatkan bibirnya ditelinga Jeonghan yang memerah. Dia berbisik pelan.

“So, you want to date me?”