Diary
Minghao tersenyum menang, setelah puas memberi pelajaran ketiga bocah preman bau kencur. Tawa pelannya ikut mengiringi sepanjang perjalanannya menuju atap sekolah.
Untuk kali ini di hari pertama ia masuk sekolah, ia akan membolos seharian. Lagipula ia percaya diri dengan keadaan kapasitas otaknya yang luar biasa pintar.
Kepalanya ia gelengkan pelan jika mengingat tingkah-tingkah bocah kelasnya tadi. Memang ya tidak semua orang memiliki pemikiran seperti Minghao.
Dulu, saat dia masih menjadi Myeongho dia tak pernah mengusik ataupun mengganggu orang-orang yang memiliki orientasi seks yang berbeda darinya.
Minghao pernah nakal. Tapi nakalnya berbeda dengan bocah-bocah di sekolahnya saat ini. Ia tak pernah menindas ataupun memandang sebelah mata orang-orang yang berbeda darinya.
Minghao rasa semua orang memiliki pemikiran, pandangan dan kebahagiaan masing-masing. Begitupun juga dengan orientasi seksual seseorang. Memang di negaranya saat ini tabu dengan semua itu. Namun apa susahnya menghargai kehidupan satu sama lain?
Minghao lurus sejak dulu. Bahkan dia punya beberapa mantan yang memiliki pesonanya masing-masing. Minghao juga punya teman-teman yang memiliki orientasi seksual yang berbeda darinya, namun dia tak pernah menghina ataupun memandang aneh mereka seolah-olah kotoran yang harus di basmi.
Semua punya jalan cerita masing-masing. Mau itu benar atau salah, hanya Tuhan yang bisa mengadili. Hidup diri sendiri saja belum benar, apalagi mengurusi hidup orang lain.
Helaan napas keluar dari mulutnya. Kedua netranya menatap langit cerah yang terbentang di atas kepalanya.
“Harusnya lu ketemu gua, Hao. Biar gua bisa lindungin lu.”
Minghao menundukkan pantatnya, sambil merogoh ponsel yang ada di sakunya.
“Ini tempat enak juga buat kabur bolos.”
Pandangannya menyapu keadaan bersih atap sekolahnya. Sayang sekali, Minghao tak membawa cemilan apapun.
“Kok gak ada memori-memori baru ya? Gua clueless kok bisa Minghao suka orang macem setan.”
Memorinya datang tidak sekaligus. Sedikit demi sedikit kembali di waktu tak tentu. Seperti waktu dia pertama kali sadar, Minghao hanya mengingat nama, umur, apa kegiatannya saat ini, dan ketakutan terbesar nya.
Belum muncul ingatan tentang keluarganya, maupun alasan mengapa dan kenapa Minghao bisa menjadi bahan pembullyan di sekolahnya.
“Kenapa dia gak laporan ke orang tuanya? Ortunya kaya raya padahal.”
Minghao mengusap dagunya. “Apa gak ada petunjuk sama sekali?”
Tangannya masih mengotak-atik ponsel yang ada di genggamannya. Gerakan jarinya terhenti kala menangkap suatu aplikasi menarik.
“Diary?”
Minghao berdecak kagum. “Jaman sekarang ada diary digital ya.”
Tanpa basa-basi, Minghao segera membuka diary yang ada di ponselnya.
Berbagai jenis halaman mulai tertampil.
“Shit man...”
Tak bisa di hindari, kedua netranya terbelalak tak percaya.
“Gua suka cara lu, Minghao.”
Berbagai jenis halaman diary berjejer rapih dari atas hingga bawah. Cukup banyak untuk dibaca seharian.
Minghao tersenyum lebar. “Gimana kalau kita mulai?”
26 Juni, 2016
Em.. pertama kalinya pakai aplikasi ginian. Gak ribet lagi pakai buku.
Semoga aku sering nulis disini :D
05 Juli, 2016
Hai, ketemu lagi hehe. Aku baru masuk sekolah baru. Mereka seru-seru. Baik jugaa. Aku seneng disini. Semoga papa gak pindah-pindah kerja lagi :(
Minghao mengernyitkan dahinya. “Apa bapaknya suka pindah kerja ya?”
Matanya menatap arah atas, seperti sedang berpikir.
“Iya juga sih, udah berbulan-bulan gua hidup tapi gak pernah ketemu orang tuanya.”
Minghao menghela napasnya pelan. “Oke lanjut lagi.”
07 Juli, 2016
Seneng banget punya temen banyak. Akhirnya aku gak kesepian lagi :D
Seru ya ternyata belajar bareng, makan bareng, jalan bareng. Aku bakal lindungin hal-hal ini biar gak ilang!
10 Juli, 2016
Aku punya sahabat sendiri :')
Seneng banget punya sahabat.. oh my God. Aku punya 3 sahabat. Mereka bilang karna aku lucu dan kayak adek mereka sendiri :((
Udah lama aku gak disayang kayak gini sama orang lain
Aku bersyukur kenal jiji, kenal cheol, kenal mingyu. Mereka baik bangett
Tuhan, jangan ambil kebahagiaan aku yaa.
12 Juli, 2016
Kesel banget. Banyak yang kasih tau aku kalo tiga sahabatku cuman manfaatin aku
Gak. Mereka gak gitu. Mereka baik
Walaupun mereka manfaatin aku buat tugas, atau ujian-ujian aku gak masalah. Itu balesan ku buat kebaikan mereka
Mereka bertiga baikk
15 Juli, 2016
Seneng banget berenang bareng sama jiji, gyu, cheol AAAAAA
Walaupun aku di olokin badan kerempeng bocil :((
Untung mingyu marahin jiji sama Cheol buat gak ganggu aku ehehehe
10 Agustus, 2016
Aku mulai liat kejelekan mereka bertiga. Walaupun gitu mereka tetep sahabatku
Mereka kadang suka jahilin orang-orang, atau kadang malakin orang-orang. Suka bolos atau ngehina orang lain
Aku gak mau mereka gini terus. Apalagi mingyu. Yang paling parah diantara semuanya memang mingyu. Mentang-mentang anak kepala sekolah bisa gitu
Aku tau mingyu dasarnya orang baik. Kelihatan jelas dari kedua matanya. Mata gelap yang buat aku meleleh terus kalau liat langsung
Gak gak. Aku gak mau ngerusak pertemanan ku sama mereka. Apalagi mingyu. Aku harus hilangin ini
25 Agustus, 2016
Kelakuan mereka makin parah
Aku gak tega ngeliat temen-temen kelasku dijahatin mereka. Tapi aku bisa apa?
Beberapa anak kelas ngeliatin aku marah. Kenapa aku diem aja. Aku harus apa?
Aku temen mereka tapi aku bisa apa?
26 Agustus, 2016
Aku mulai ngerasa aneh
Anak kelas mulai ngebully aku kalau aku gak bareng jiji, Cheol, Gyu
Salahku apa? Kenapa aku yang diginiin?
Aku gak ngapa-ngapain..
10 September, 2016
Aku tengkar hebat sama mereka bertiga
Aku mulai negur mereka dan ngasih tau kalau mereka salah
Di depan semua anak kelas, aku mau mereka tau kalau aku udah ngelakuin usaha yang terbaik yg aku bisa
Aku pengen nolong mereka. Asal semuanya hidup tenang, dan bahagia, aku gak papa
Iya gak papa. Aku kuat
Walaupun ujungnya perasaan aku kebongkar
Iya.. gak masalah...
Aku kuat. Walaupun aku yang jadi korban. Gak masalah
Aku bakal baik-baik aja kan?
15 September 2016
Aku gak kuat
Kenapa? Kenapa semuanya gak nolongin aku? Kenapa semuanya pura-pura gak liat aku?
Aku nolong kalian. Aku bahkan rela tengkar sama mereka bertiga. Tapi kenapa sekelas gak ada yg bantuin aku?
Kenapa kalian ikutan bully aku juga?
Kenapa?? Kenapa?!
Tuhan, kenapa jadi gini?
Aku salah apa? Aku bantuin mereka. Tapi kenapa jadi gini?
Aku kira mereka bertiga sahabatku..
Ternyata mereka bisa perlakuin aku lebih buruk dari sampah..
Apa aku salah suka sama mingyu? Aku bahkan gak ada niatan apapun yang lebih jauh..
Aku capek
20 November, 2016
Kehidupan sekolahku hancur
Kebahagiaan yang aku suka, udah hilang
Sekolah lebih buruk dari neraka
Apa hal kayak gini bakal terjadi sampai aku gede nanti?
Aku takut. Apa bisa aku berdiri sendiri tanpa satupun orang yg nolongin aku?
Aku nyesel. Nyesel nolongin semua orang. Aku nyesel berteman sama mereka bertiga.
Aku nyesel.
Aku nyesel kenapa aku harus suka sama mingyu
25 Desember, 2016
Aku hebat. Udah akhir tahun, dan bentar lagi libur panjang
Dikit lagi aku kuat
Aku bisa bertahan 2 tahun lagi
Tinggal sedikit lagi setelah itu aku bisa lepas dari semuanya.
Ayo Minghao, semangat!!
30 Desember, 2016
Hari terburuk
Untuk hari ini mereka bertiga keterlaluan
Rasanya sakit. Sakit kalo diinget
Mereka mulai nyentuh aku. Mereka bisa ketawa sambil ngelakuin hal keji kayak gitu
Kenapa bisa manusia kayak mereka masih hidup?
Aku takut. Aku takut sama mereka. Harusnya aku gak suka sama laki-laki
Harusnya aku gak gini
Harusnya aku normal. Kalau aku normal aku gak diginiin
Tuhan, tolong buat aku normal kayak orang lain...
1 Januari, 2016
Aku pengen tidur. Tidur panjang
Aku gak mau bangun lagi
Gak ada yang peduli sama aku
Aku udah siapin obat tidur. Mungkin kalau aku habisin aku bisa bahagia
Makasih Tuhan, udah kasih aku kesempatan hidup
Aku sayang Tuhan. Aku pengen ketemu Tuhan.
Minghao menatap layar ponselnya hampa. Air mata jatuh diatas layar berkali-kali. Tangannya mengepal, meremas seragam celananya.
“BANGSAT.”
Sesak. Dadanya sesak. Air matanya tak ingin berhenti.
NGIING
Minghao mencengkeram rambutnya kuat-kuat. Memori baru mulai berdatangan. Membuat kepalanya pening dengan informasi yang datang.
“AGHH.”
Sakit. Kepalanya berdenyut nyeri. Mengingat ingatan aslinya yang berputar terus menerus.
Perasaannya campur aduk. Sesak, sedih, marah, kecewa. Ia mengingat semuanya. Minghao ingat bagaimana perlakuan mereka.
Berulang kali lengannya menggosok matanya yang berair.
“Bajingan lu semua.”
Bibirnya ia gigit kuat-kuat. Rasa marah dan kesalnya membuncah naik.
Minghao meletakkan ponselnya. Matanya menatap lurus ke depan. Niat dan ambisinya mulai terkumpul.
“Gua abisin lu semua. Bakal gua buat lu semua mohon-mohon sujud di bawah kaki gua.”
Niatnya tak akan goyah. Tak ada yang bisa mengubah dan melunturkan ambisinya.
“Bakal gua buat lu bertiga tersiksa.”
Tangannya ia remas kuat-kuat. “Terutama lu, Kim Mingyu.”