–, Es batu
Jun rebahan di atas lantai. Tanpa atasan, hanya menyisakan celana pendek kolornya selutut. Peluh keringat menghiasi dahinya.
“Sialan. Kan udah kubilang. Benerin AC-nya. Liat. Sekarang kita kesiksa.” gerutu Jihoon dengan baju tanpa lengan, serta celana pendek di atas lutut, tengah berbaring di atas sofa.
“Ya maaf. Kan ku kira besok masih bisa, ternyata pada tutup.” jawab Jun dengan mulut mengerucut.
Jun akui memang salahnya yang menunda-nunda untuk memperbaiki AC rumahnya. Alhasil, Jun serta Jihoon harus merasakan panasnya hawa musim panas yang sedang memuncak.
Jihoon terlihat tersiksa di atas sofa. Wajahnya berkeringat dan agak memerah.
“Mandi aja gimana?” tawar Jun ke Jihoon. Ia kasihan melihat kekasihnya yang mungil, tersiksa karena cuaca hari ini.
“Kamu lupa? Air kita dibatasin gara-gara musim panas banyak orang yang boros? Kalo kita pake sekarang sama aja.”
Jun menghela napasnya. Frustasi dengan keadaan keduanya. Memang benar. Pemerintah sedang membatasi pemakaian air dikarenakan banyak warga yang boros air di musim panas saat ini.
Sinar matahari yang menyengat dan hawa panas yang melengkapinya, membuat Jun mengerang frustasi. Ingin rasanya ia berendam, di dalam air bercampur es batu.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya. Senyum lebar terlukis di bibirnya. Buru-buru ia bangkit, dan berjalan cepat ke arah dapur. Membuat Jihoon menatap Jun aneh.
Disisi lain, Jun bergerak menuju dapur, membuka kulkas, melihat persediaan es batunya. Beruntung, dia memiliki banyak.
Jun mengambil gelas kaca, mengambil es batu yang ada di dalam kulkas, mengisinya penuh ke dalam gelas.
Setelah dirasa puas, Jun menutup kulkas nya, dan membawa gelas yang berisi es batu, kembali ke ruang tengah. Menghampiri Jihoon yang sedang pasrah di atas sofa.
“Kamu ngapain?” tanya Jihoon heran. Melihat Jun membawa gelas bening berisikan es batu.
Jun tersenyum miring. “Aku ada cara biar kamu gak kepanasan. Mau?”
Jihoon menaikkan alisnya. “Apa?”
Jun meletakkan gelas di atas meja. Meletakkan kedua lututnya di antara tubuh Jihoon, menindihnya sedikit.
“Panas, Jun.” desis Jihoon protes.
“Habis ini gak panas. Buka bajumu.” perintah Jun lugas.
Jihoon menatap Jun menyelidik. “Aneh-aneh nih.”
Jun memutar matanya malas. “Mau bantu pacar sendiri dibilang aneh-aneh.”
Jihoon masih menatap Jun tajam, lalu menghela napasnya pelan. “Yaudah iya.”
Jihoon buru-buru mengangkat kaosnya, melepaskan dari tubuhnya, dan meletakkan di atas lantai. Kini keduanya sama-sama telanjang dada.
Jun mengambil dua es batu dari dalam gelas. Kedua tangannya masing-masing memegang es batu. Jihoon menatap dalam diam.
“Coba tutup matamu.”
Jihoon mau tak mau menurutinya. Memilih memejamkan matanya, menanti apa yang Jun lakukan padanya.
Jun mengarahkan kedua tangannya yang memegang es batu, ke dahi Jihoon. Membuat lelaki di bawahnya tersentak. Kaget dengan sensasi dingin yang ada di dahinya.
“Rileks.”
Jihoon berusaha menuruti perkataan Jun. Merasakan es batu bergerak lembut di dahinya. Pelan-pelan dia lebih rileks dari sebelumnya.
Jun yang melihat kekasihnya sudah tenang, mulai menggerakkan es batu ke kedua pelipis Jihoon. Menggerakkan memutar. Lalu turun mengikuti garis wajah Jihoon. Menggerakannya lembut, membawanya ke kelopak mata Jihoon. Membuat Jihoon menghela napas enak. Merasakan matanya mendingin.
Jun menggerakkan es batunya lagi. Kini menuju ke bibir Jihoon. Menggerakkannya memutar, dan menekannya sedikit. Membuat Jihoon bergerak agak gelisah.
Jun menggerakkannya lagi. Kini ke dagu Jihoon, turun ke leher, membuat Jihoon mendongak. Desahan tipis terdengar dari bibirnya.
Jun menjilat bibirnya, pikirannya mulai terisi oleh hal-hal erotis.
Jari-jari Jun membawa kedua es batu di tangannya, mengekplorasi leher Jihoon. Membuat Jihoon makin mendongakkan kepalanya. Desahan mulai keluar. Rasa dingin dan sejuk membuatnya keenakan.
Jun menggerakkan es batunya naik ke telinga Jihoon. Membawanya menyentuh semua bagian telinga Jihoon.
“Ahh.. Hahh..”
Jun membawa es batu yang ada di jarinya ke belakang telinga Jihoon. Turun menyusuri kedua sisi tengkuk Jihoon. Membuat tubuh Jihoon menggelinjang.
Kedua es batu berhenti di pundak Jihoon. Jari-jemari Jun mulai menggerakkan es batu yang ada di tangannya naik-turun secara konstan dari bahu naik ke bawah telinga. Begitu seterusnya hingga es batu habis luruh tak bersisa. Membuat Jihoon menghela napasnya nikmat.
“Enak?” tanya Jun menelisik ekspresi wajah Jihoon yang masih memejamkan matanya.
“Emm. Enak.”
Jun menyeringai. Tangannya mengambil es batu lagi. Kedua tangannya menggenggam es batu. Kini gantian dada Jihoon yang akan ia eksplorasi.
“Mau lagi?”
Jihoon mengangguk pelan. Wajahnya memerah.
Jun menurunkan es batunya di atas dada Jihoon, mulai menggerakkannya pelan. Menggerakkannya memutar. Membuat Jihoon kembali mengeluarkan suara-suara kenikmatan.
Dengan sengaja, Jun menggerakkan es batunya di atas nipple Jihoon. Membuat sang empu memekik keenakan.
“Hyahh... Ahhh..”
Jun menekan dan memutarnya di atas puting Jihoon, membuatnya membanting kepala, dengan dada yang membusung ke atas.
“Ahhh... Hahhh...”
Jun makin menjadi. Es batunya ia gerakkan melingkar di sekeliling nipple Jihoon, membuat sang pemilik mengerang frustasi.
Jun menurunkan es batunya. Menyusuri perut Jihoon yang datar. Tak ketinggalan, ia eksplorasi seluruh kulit Jihoon tak tersisa. Gerakan memutar dan random ia lakukan. Demi mendengar suara Jihoon yang membuatnya ketagihan.
Kedua buah es batu ia biarkan tergeletak di atas perut Jihoon. Tepat di atas pusarnya. Membuat Jihoon mendesis nikmat.
Tangan Jun bergerak menurunkan boxer milik Jihoon. Menampilkan penis kekasihnya yang sudah tegang kemerahan.
Jari-jari Jun membawa kedua es batu tadi, turun menuju selangkangan Jihoon. Membuat Jihoon mengerang.
Kedua es batu yang ada di tangannya, Jun genggam dalam satu tangan. Menyusuri penis Jihoon yang menegang keras.
“Ahhhh.... Junhh..”
Jun menggenggam penis Jihoon dengan es batu di tangannya. Dua buah es batu menekan penis Jihoon dari kedua sisi.
“Ahhhh... Hahhh.. Dinginhh..”
Jun menarik turunkan tangannya bersamaan dengan es batu dan air yang mencair.
Jihoon mendongak keenakan. Punggungnya melingkar indah membentuk busur. Tangannya mencengkram erat sofa yang ada di bawahnya.
Jun menatap ekspresi Jihoon dalam diam. Puas melihat kekasihnya keenakan di bawah kendalinya.
Kedua es batu yang ada di tangan Jun mulai mengecil. Tanda bahwa akan meluruh seluruhnya. Tak mau menyia-nyiakan, Jun melahap kedua es batu yang ada di penis Jihoon, bersamaan dengan penis kekasihnya yang ia lahap.
“Hyahhh.. Ahhh.. Fuck...”
Jun mengekplorasi penis Jihoon yang tegak menggunakan mulutnya. Dengan es batu yang ada di mulutnya, Jun mengulum penis Jihoon naik turun tak bersisa.
Jihoon mendongak keenakan. Suara desahan, erangan serta pekikan keluar dari bibirnya. Matanya sayu, wajahnya memerah, bibirnya merekah basah mengeluarkan saliva.
Jun menggunakan lidahnya, guna memainkan kedua es batu yang ada di mulutnya, agar Jihoon makin keenakan. Dan benar saja. Jihoon mengerang keras. Kepalanya mendongak tinggi. Pinggulnya ia naikkan. Seperti meminta Jun untuk melahap habis penisnya.
“Ahhhhh... Emhhh.. Hahh..”
Jun merasakan es batu sudah luruh mencair tak bersisa. Membuat Jun mulai memainkan lidahnya liar. Mengekplorasi seluruh penis Jihoon dari atas hingga bawah.
Kedua paha Jihoon bergetar. Tanda bahwa ia akan keluar. Sengaja, Jun bergumam di kulumannya, membuat sensasi penuh kenikmatan tiada tara yang Jihoon rasakan.
“Aanghhh... Junhhh..”
Jun menatap kekasihnya dalam diam. Ekspresi Jihoon frustasi bercampur keenakan. Membuat Jun merasakan libidonya semakin naik.
Dengan nakal, Jun menggerakkan kulumannya cepat. Gigi-giginya ia mainkan, membuat sensasi menggelitik di penis Jihoon.
“Junhh... Ahhh... Keluarhh..”
Jun menghisap keras ujung penis Jihoon. Memancing agar Jihoon keluar lebih banyak. Detik berikutnya, Jihoon mengeluarkan cairannya, menyemprot penuh ke seluruh sisi mulut Jun, yang di telan dengan senang hati oleh sang pemilik.
Nafas Jihoon terengah-engah. Badannya masih bergetar pelan, merasakan orgasme yang ia rasakan. Keduanya lupa akan suasana panas yang ada di sekelilingnya.
“Dinginkan?”
Jun menyeringai. Menatap sang kekasih tak berdaya di bawah tubuhnya.
“Berbalik.”
Jihoon hanya diam. Dengan tubuh yang masih bergetar akibat orgasme beberapa detik yang lalu, Jihoon memutar badannya menelungkup. Kaki dan tangannya gemetar.
“Nungging.”
Jihoon mengambil posisi menungging. Kedua lututnya menjadi penompangnya. Wajah ia sembunyikan di atas lengannya.
Jun berdiri di atas kedua lututnya. Penisnya sudah menggembung minta di manjakan.
Tangan Jun mengambil gelas yang berisi es batu yang sudah agak mencair. Ia letakkan di atas punggung Jihoon yang basah oleh keringat.
“Ahhnn...”
Jihoon mendesah keenakan. Merasakan sensasi dingin di punggungnya.
Tangan Jun menggerakkan gelas yang ada di atas punggung Jihoon pelan. Menyusuri semua inci kulit Jihoon tak bersisa.
Sang empu mengerang. Mendesis keenakan karena rasa dingin yang ia rasakan.
Gelas berhenti bergerak. Jun mengambil satu buah es batu yang masih tak mencair, lalu mengangkat gelasnya kembali, meletakkan di atas meja.
Kedua jari Jun menggerakkan es batu di atas pantat Jihoon. Membuat lelaki yang ada di bawahnya mengerang.
Es batu berhenti di lubang Jihoon. Membuat sang empu tersentak. Kulitnya meremang. Merasakan hawa dingin di daerah sensitifnya.
Jun menggerakkan es batu memutar. Melingkari lubang Jihoon yang memerah.
“Ahhhh... Emhhh... Jun...”
“Hm?”
Jari Jun berhenti bergerak. Berhenti tepat di atas lubang Jihoon yang berkedut. Tinggal dorong, es batu bisa masuk kedalamnya.
“Mau ku masukin?”
Jihoon mengerang. Merasakan tekanan dingin di lubangnya.
“Mau?”
Jihoon hanya diam. Mulutnya sibuk mengerang.
“Oke. Aku masukin.”
Dalam sekali dorong, Jun memasukkan es batu ke dalam lubang Jihoon. Membuat si pemilik memekik keras. Kepalanya bangkit dari telungkupnya. Badannya bertumpu di kedua lutut dan sikunya.
Jari Jun mendorong es batu semakin dalam. Bisa ia rasakan dinding lubang Jihoon mencengkram erat. Membuat Jihoon mendesah, merasakan dingin yang ada di dalam lubang nya.
Es batu mulai mencair sedikit demi sedikit. Membuat lelehannya mengalir keluar dari lubang Jihoon. Jun mengeluarkan jarinya, membiarkan es batu diam di dalam sana.
Wajahnya ia dekatkan ke lubang Jihoon. Menyembunyikan wajahnya yang tampan di antara kedua bongkahan kenyal milik kekasihnya.
Lidahnya ia julurkan untuk menjilat air yang mengalir dari lubang Jihoon. Membuat Jihoon terjingkat.
“Anghhh.. Ahhhh..”
Jun menyeruput dan menghisap air yang mengalir dari lubang Jihoon. Mulutnya ia arahkan untuk mengulum lubang Jihoon. Detik berikutnya, Jun menghisap kuat lubang kekasihnya. Menegak air dingin yang keluar dari lubang Jihoon.
“Hyahhh... Anghhh.. Hahh..”
Jun menghisap dan menjilati lubang kekasihnya. Memasukkan lidahnya ke dalam sana. Mengeksplorasi dinding-dinding Jihoon yang terasa dingin.
Lidahnya menyentuh sesuatu yang kecil namun terasa dingin. Menebak bahwa itu adalah es batu yang sudah berukuran kecil, Jun mendorongnya dengan lidah miliknya.
Kedua tangan Jun mencengkram erat bongkahan kenyal milik Jihoon. Melebarkannya sebisa mungkin. Mulut Jun memakan penuh lubang milik kekasihnya.
“Emhhh.. Jun.. Ahhh... Janganhh..”
Jun seakan tuli. Ia dorong terus es batu yang ada di lubang Jihoon hingga meleleh. Saat merasakan air dingin mengalir ke mulutnya, Jun menghisapnya keras, layaknya air minum biasa.
“Anghhh... Hahhh..”
Jun melepas kulumannya. Napasnya terengah-engah. Tak sabar menikmati lubang kekasihnya. Tak beda jauh dengan Jihoon. Tubuhnya berkilat karena keringat. Napas tak teratur terdengar dari mulutnya.
Jun mengambil es batu lagi. Kedua jarinya meletakkan di atas lubang Jihoon lagi. Membuat sang empu mendesis pelan.
Dalam sekali dorong, jari Jun berhasil memasukkan kembali es batu ke dalam lubang Jihoon.
Lubang Jihoon meregang otomatis. Mata Jun menatap lekat-lekat. Tubuh Jihoon bergetar lagi. Merasakan sensasi dingin di wilayah sensitifnya.
Jun bisa merasakan penisnya semakin tegang. Jun mendekatkan tubuhnya ke atas punggung Jihoon. Mengecup tengkuk milik kekasihnya dengan lembut. Meletakkan wajahnya di ceruk leher lelaki di bawahnya.
“Jihoon. I'm going to fuck you now.” erangnya tak sabar.
Jihoon mendesah. Merasakan hawa panas di lehernya. Anggukan pelan ia berikan.
Jun menjauhkan tubuhnya. Ia turunkan celana miliknya. Menampilkan penisnya yang tegak berurat. Tangannya mencengkram pinggang Jihoon erat-erat.
Jun meletakkan ujung penisnya di depan lubang Jihoon. Jun berusaha menenangkan dirinya.
Dalam sekali dorong, penisnya masuk kedalam lubang Jihoon. Dilahap tanpa ampun oleh dinding-dinding milik kekasihnya.
Jihoon mengerang. Merasakan penis Jun yang masuk ke dalan lubangnya. Mendorong es batu yang sudah ada di lubangnya, semakin dalam.
Jun mendongak keenakan. Mulutnya terbuka, merasakan sensasi dingin di ujung penisnya.
Saat dirasa Jihoon sudah mulai terbiasa dengan keberadaan penisnya, Jun mulai menggerakkan penisnya maju-mundur.
Menghantam penisnya ke es batu yang ada di depannya semakin maju. Jun mengerang keenakan. Sensasi dingin dan cengkraman dari dinding-dinding lubang Jihoon, membuatnya merasakan kenikmatan.
Jihoon mendesah. Mulutnya mengeluarkan berbagai suara erotis yang memanja telinga Jun. Suara-suara yang selalu membangkitkan libidonya naik.
Jun menumbuk penisnya cepat dan keras. Membuat Jihoon mengerang nikmat.
“Ahhhh... Jun... Emhhh.. Yahhh..”
Jun mencengkram pinggang Jihoon erat. Mempercepat tumbukannya. Membuat penis Jun keenakan, merasakan sensasi dingin yang berkali-kali ia rasakan.
Jihoon bergetar, saat es batu menyentuh berkali-kali prostatnya. Membuat bibirnya memekik panjang. Membuat Jun menggeram rendah.
Tangan Jun naik menelusuri punggung Jihoon yang melengkung indah. Tangannya bergerak mencengkram rambut Jihoon yang lembut.
“Ahhhh.. Jun...”
Jun menarik rambut Jihoon. Membuat sang empu mendongak tinggi.
Tumbukannya semakin cepat. Es batu yang ada di dalam lubang Jihoon sudah mencair. Suara kecipak basah memenuhi ruangan, di temani dengan desahan dan erangan penuh kenikmatan.
Jun mempercepat tusukannya. Menyentuh berkali-kali prostat Jihoon yang sensitif.
“Hahhh.. Ahhh.. Jun..”
Tubuh Jun mendekati punggung Jihoon yang basah oleh keringat. Kedua tangannya bergerak menyusuri dada Jihoon. Meremas nipple milik Jihoon keras.
“Ahhhh.. Yahhh.. Ahnnn..”
Jun memainkan nipple Jihoon lembut. Memutar dan menekan sensual. Bibirnya ia arahkan untuk mengecap bahu dan tengkuk Jihoon yang polos.
Lidahnya ia julurkan untuk menjilati seluruh telinga Jihoon. Menghisap dan menggigitnya gemas. Tumbukannya semakin cepat.
Bisa Jun rasakan tubuh Jihoon bergetar di bawahnya. Tanda bahwa ia sudah dekat.
Dengan cepat, ia menumbuk prostat Jihoon keras. Menyentuh berulang kali titik sensitif kekasihnya. Membuat Jihoon mengerang berantakan.
“J-jun. Aku deket.”
Mendengar rintihan Jihoon, Jun memberikan tumbukan cepat pada lubang Jihoon. Dinding Jihoon mencengkram erat penis milik Jun.
“S-shit.”
Jihoon mengerang. Memekik keenakan. Cairan menyembur mengenai perutnya dan jatuh di atas sofa.
Jun menggeram. Bersamaan dengan Jihoon, ia mengeluarkan cairannya. Menyemprot penuh lubang Jihoon dengan sarinya.
Jihoon terengah-engah di bawahnya. Tubuhnya masih menggelinjang. Menikmati orgasme yang ia rasakan.
Begitupula dengan Jun. Ia mengambil napasnya dalam-dalam. Berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar keras.
Dengan hati-hati, Jun menarik miliknya dari lubang Jihoon. Membuat sang empu mendesis.
Lelehan cairannya mengalir di sepanjang paha Jihoon. Membuat Jun menelan ludahnya.
“Kamu harus nyuci sofanya.” ujar Jihoon di balik napasnya yang terengah.
Jun mengerucutkan mulutnya. “Iya-iya. Entar ku cuci.”
Jihoon memutar tubuhnya. Berhadapan dengan Jun.
“Kayaknya kita harus mandi. Mau mandi?”
Jihoon mendengus. Melihat senyum tak bersalah dari kekasihnya.
“Gendong.”
Jihoon menaikkan kedua tangannya. Meminta Jun untuk membawanya.
Jun terkekeh. Ia mendekat, merangkul Jihoon ke dalam dekapannya. Mengangkat kekasihnya ke dalam gendongannya. Tangannya mencengkram erat paha bagian dalam Jihoon.
“Bukannya membaik, malah makin lengket. Gak mau tau besok benerin AC-nya.”
Jun terkekeh. Ia kecup pelipis Jihoon, lembut. Membuat sang empu protes.
“Iya aku benerin. Lagian, kamu tadi suka kan? Pake es?”
Jihoon memerah. Merambat hingga lehernya.
“B-berisik.” jawabnya, selagi menyembunyikan wajahnya di bahu Jun.
Jun tertawa pelan. Membawa sang kekasih ke dalam bilik kamar mandi. Menghilang di balik pintu putih bercat biru.