–, First kiss
“Won, ayo ciuman.”
Wonwoo tersedak colanya, saat Soonyoung mengatakan hal itu tiba-tiba. Matanya melotot ke arah Soonyoung. Shock dengan perkataan lelaki di depannya.
Saat ini keduanya ada di dalam kamar Wonwoo. Rencana mereka mengerjakan soal kimia bersama. Namun, keduanya tak kunjung memulai.
“Apa sih, Nyong. Gak usah aneh-aneh.”
Wonwok tak habis pikir dengan pikiran Soonyoung.
“Kan kita berdua jomblo tuh. Gua penasaran sama rasanya ciuman gimana. Makanya, ayo kita ciuman.”
Wonwoo melotot. “Yang penasaran elu, yang kepo elu, kenapa gua yang ikutan repot.”
Soonyoung mengerucut imut. “Ayolah, Won. Bantuin gua.”
“Ogah! Lagian lu udh sering ciuman kan sama emak bapak lu.”
“Beda lah! Gua mau nya sama orang lain.”
Wonwoo mendengus. “Kenapa harus gua? Temen lu yang lain kan ada. Jihoon, Minghao.”
“Lu mau gua di gebukin sama pawangnya?”
Wonwok memutar matanya malas. “Gak usah lebay. Jun sama Mingyu gak selebay itu. Tinggal izin ke mereka lu bisa dah cipokan.”
Soonyoung berdecak. “Gak segampang itu, Won. Udahlah sama lu aja. Ya ya?”
Wonwoo menaikkan alisnya. Agak heran. Kenapa Soonyoung bersikeras seperti ini?
“Kenapa harus gua? Gua gak butuh alasan konyol lu.”
Soonyoung diam. Tangannya memainkan jarinya sendiri.
“Y-ya kan tadi gua udh bilang. Gua pengen sama lu.”
“Cuman pengen sama gua?”
Soonyoung ngangguk. “Iya. Gua gak mau sama siapa-siapa.”
“Yakin sama gua? Yang nantinya bakal ngerebut first kiss lu?”
Soonyoung menelan ludahnya. “Yakin. Gua cuman pengen sama lu. Gua rela first kiss gua di rebut sama lu.”
Wonwoo mendekati Soonyoung. Wajah keduanya sangat dekat. Hanya menyisakan beberapa senti.
“Kenapa lu rela? Gua kan cuman temen lu.”
Soonyoung memerah. Menjalar hingga leher serta telinganya.
“Y-ya karena lu temen gua, gua mau.”
Wonwoo menyeringai. Ia dekatkan wajahnya dengan wajah Soonyoung kembali. Hidung mereka bersentuhan.
“Tapi sama temen-temen lu, lu gak mau. Padahal sama-sama temen. Kenapa pengen sama gua?”
Soonyoung diam. Lidahnya kelu. Matanya terkunci memandang mata Wonwoo yang bundar kecoklatan.
Wonwoo mendekati telinga Soonyoung yang memerah. Ia hembuskan sedikit napasnya, membuat Soonyoung sedikit gemetar.
“Kenapa, Soonyoung? Hm? Kenapa lu cuman pengen sama gua?” Bisik Wonwoo pelan.
Tangan Wonwoo bergerak melingkari pinggang Soonyoung. Jemarinya naik menelusuri tulang punggung Soonyoung. Membuat punggung Soonyoung bereaksi.
“Nghhh..”
Wonwoo menjulurkan lidahnya. Menjilat telinga Soonyoung yang memerah. Menggodanya sedikit.
“Wonwoo...”
“Hm?”
Tangan Wonwoo menelusup ke dalam kaos Soonyoung. Jemarinya merambati perut dan dada Soonyoung yang polos.
Kedua ibu jarinya mengusap nipple Soonyoung. Menekan dan memainkannya.
“Ahhh...”
Wonwoo mendekati ceruk leher Soonyoung. Hidungnya menelusuri leher pucat lelaki di depannya.
Ia kecup penuh kelembutan disana. Menjilat, menggigit dan menghisapnya hingga meninggalkan jejak kemerahan.
“Ahhhh.. Hahh... Wonn..”
Wonwoo menyeringai. Ia kembali berbisik di telinga Soonyoung.
“Kenapa? Kenapa pengen sama gua?”
Jari Wonwoo tak berhenti bermain di kedua nipple Soonyoung. Membuat Soonyoung mengerang.
“Lu suka gua kan?”
Soonyoung tersentak. Pikirannya tak fokus.
“Iya kan? Lu suka gua kan?”
Soonyoung menggeleng. Bibirnya ia katupkan. Menahan suara-suara aneh yang keluar dari mulutnya.
Wonwoo menyeringai. Memutuskan untuk menggoda Soonyoung.
“Oh? Gak suka?”
Tangan Wonwoo turun ke celana Soonyoung. Tangannya menelusup ke dalam boxer yang dikenakan oleh Soonyoung.
“Tapi, kenapa lu gua giniin diem aja?”
Bersamaan dengan itu, tangan Wonwoo yang lebar mencengkram penis milik Soonyoung.
Soonyoung berteriak. Punggungnya melingkar. Tubuhnya gemetar dan lemas.
“Lu suka gua kan?”
Tangan Wonwoo bermain di penis Soonyoung. Mengocoknya cepat. Mengurut dari bawah hingga pangkal penisnya. Ibu jarinya bermain di ujung penis Soonyoung. Menggosok dan menekannya gemas.
“Ahhhh... Hahh.. Wonuuu... Stopp...”
Wonwoo tak mengindahkan permintaan Soonyoung.
“Gua berhenti kalo lu jujur sama gua. Lu suka gua kan?”
Soonyoung tak menjawab. Mulutnya sibuk mengeluarkan erangan dan desahan kenikmatan.
Wonwoo mencengkram lebih keras. Membuat Soonyoung terlonjak. Kocokan tangan Wonwoo di penis Soonyoung tak berhenti.
“Ahhhh.... Wonnn.... Mau keluarrr...”
Wonwoo menutup ujung penis Soonyoung menggunakan ibu jarinya. Membuat Soonyoung mengerang frustasi.
“Gua bakal biarin lu keluar, kalo lu jujur sama gua. Lu suka gua?”
Soonyoung menggigit bibirnya. Matanya sayu. Tubuhnya gemetar.
Jemari Wonwoo mencengkram keras. Soonyoung mengerang.
“Ayo.”
Napas Soonyoung terengah-engah. Kepalanya mengangguk lemah.
“Iya. Gua suka lu.”
Wonwoo tersenyum puas. “Good boy.”
Tangannya kembali bermain. Kali ini lebih cepat. Sedikit dicengkram.
Soonyoung mendongak keenakan. Bibirnya mengeluarkan desahan erotis. Kedua tangannya mencengkram bahu Wonwoo.
“Ahhhh... Wonuuu... Ahhhh”
Cairan Soonyoung keluar deras. Melumuri telapak tangan Wonwoo.
Napas Soonyoung tersengal. Wajahnya memerah. Matanya berair.
Wonwoo tersenyum lembut. “Coba jujur dari awal, gua gak bakalan gini ke lu.”
Soonyoung diam. Masih enggan menatap Wonwoo.
“Jadi, lu suka gua?”
Soonyoung diam. Malas menjawab.
“Gak mau denger perasaan gua ke lu?”
Soonyoung menggeleng. Tubuh serta pikirannya sedang lelah.
“Gua tau lu gak suka gua.”
Wonwoo terkekeh. “Kata siapa?”
Kali ini Soonyoung menatap Wonwoo tepat di mata.
“Gua suka lu kok.” lanjutnya lagi.
Soonyoung terbelalak. Menatap Wonwoo tak percaya.
“B-bohong.”
“Kalo gua bohong, ngapain gua ngelakuin hal barusan? Main-main?”
Soonyoung memerah. “J-jadi kita saling suka?”
Wonwoo menyeringai. “Yes, baby.”
Soonyoung merona. Memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Wonwoo.
Wonwoo terkekeh. “Jadi gak, gua cium? Katanya penasaran.”
Soonyoung menatap Wonwoo malu-malu. “J-jadi.”
Wonwoo terkekeh. “Lucu bener sih lu.”
Wonwoo mendekati wajah Soonyoung. Mempertipis jarak keduanya. Tatapan mereka tak terputus. Hingga bibir keduanya bertemu, keduanya enggan menutup mata.
Saling mengecap satu sama lain, bersamaan dengan menyelami netra keduanya. Lumatan-lumatan lembut, membuat Soonyoung melumer.
Akhirnya, Soonyoung menutup matanya. Menikmati ciuman pertama mereka penuh kelembutan.
Keduanya melepas bibir masing-masing, saat membutuhkan pasokan oksigen. Keduanya saling tatap, menyelami perasaan keduanya.
“Gua suka lu.” ujar Soonyoung tiba-tiba.
Wonwoo terkekeh. “Gua tahu.”
Soonyoung memerah. Menatap lekat-lekat wajah Wonwoo yang juga menatapnya.
“Gua suka lu.” ujar Wonwoo membalas.
Soonyoung tersenyum. “Gua tahu.”
Keduanya menyatukan bibir masing-masing kembali. Saling mengecap satu sama lain, seperti tiada ada hari esok untuk keduanya.