–, Five Ways To Win A Tsundere Boy
Siapa yang gak tau Minghao. Ketua OSIS sekaligus atlet pencak silat. Ganteng, manis dan sopan. Sekali ngomong, suaranya lembut banget. Bahkan tukang kebun sekolah, sampai terpikat sama pesonanya Minghao. Segitu berpengaruhnya.
Semua adek kelas sama kakak kelas suka sama Minghao. Siapa sih yang gak suka sama dia? Kalo ketawa buat dunia cerah, sekali senyum buat semua orang klepek-klepek.
Sayangnya, Minghao itu cuek. Cuek banget. Kadang juga galak. Walaupun dia punya banyak nilai plus, dia tipe orang yang cuek dan realistis. Kalo enggak, ya enggak. Dia gak mau ngasih harapan. Dia gak mau buat orang disekitarnya terlalu bermimpi yang belum tentu bisa terwujud. Makanya, banyak cewek maupun cowok mundur sebelum berperang. Gimana gak mundur, orang mau di deketin aja udah di tolak duluan.
Tapi, ada pengecualian. Disaat semua orang mundur pelan-pelan, ada cowok yang gak kenal putus asa. Bodo amat sama omongan Minghao. Yang penting dia kejar terus sampe mampus.
Namanya Seokmin. Seangkatan sama Minghao. Ramah, baik, dan ganteng tentunya. Sekali senyum, buat orang ikutan senyum. Suaranya bagus. Dan gak abal-abal, dia field commander marching band sekolahnya. Kurang apa lagi coba?
Dan yang bikin heboh seluruh warga sekolah, cuman Seokmin seorang yang tahan dan gak kenal putus asa buat ngejar cintanya Minghao.
Minghao gak peduli. Dia biarin Seokmin ngikutin dia kemana aja. Kayak anjing ngikutin tuannya. Dia bahkan gak nganggep Seokmin itu ada.
Namun, suatu hari Seokmin berubah. Tingkahnya berubah. Segala aktivitasnya berubah. Anak-anak pada bingung. Yang biasanya Seokmin girangnya minta ampun ngikutin Minghao, kini cuek bebek gak peduli sama keberadaan Minghao.
Loh, kok bisa?
Ini semua bermula beberapa hari yang lalu. Seokmin lagi galau. Minghao gak tertarik sama dia. Bahkan lirik dia aja enggak. Seokmin galau segalau-galau-nya. Dia gak tahu harus apa. Apakah dia harus nyerah? Setelah 2 tahun penantian dan pengejaran Seokmin, apakah ini saatnya untuk menyerah?
Seokmin bahkan di bilang alay sama sahabat-sahabatnya. Mereka dukung Seokmin buat nyerah. Nyari orang lain. Lupain Minghao yang bahkan gak hargain tindakan Seokmin. Semua temen-temennya dukung Seokmin. Hari itu, Seokmin down banget. Apalagi hujan melanda. Tambah galau suasana hatinya.
Waktu istirahat pun Seokmin memilih diam di kelas. Malas keluar buat beli makan. Berdesakan sama murid-murid lain. Dia lebih memilih natep hujan dari jendela kelasnya. Ngebuka jendela lebar-lebar. Ngerasain air hujan menerpa wajahnya sedikit.
Tiba-tiba Mingyu dateng sambil bawa susu ultramilk rasa coklat, beserta roti isi ke depan Seokmin.
“Nih makan.”
Seokmin cuman liat sekilas, lalu balik lagi natep hujan.
Mingyu menghela napasnya. “Lu galau karna Minghao? Ah elah. Jangan nyerah dong.”
Seokmin natap Mingyu. Cuman Mingyu yang nyuruh dia gk menyerah.
“Kenapa? Dia aja gak nganggep gua.”
Mingyu mendengus. “Lu berjuang udah 2 tahun, tapi baru galaunya sekarang? Lu goblok apa gimana?”
Seokmin mendelik. “Sialan.”
Mingyu tersenyum miring. “Gini. Lu sekarang sibuk nyiapin lomba MB lu kan? Daripada mikirin Minghao, lebih baik lu mikirin MB lu. Gimana kalo lu menang? Lu pasti dipanggil ke depan pas upacara. Minghao pasti liat lu.”
Seokmin diam. Ucapan Mingyu ada benarnya.
“Lu mau tau gak, apa yang gua lakuin biar bisa dapetin hatinya kak Jihoon yang terkenal galak itu?”
Seokmin terbelalak. Benar juga. Jihoon sama Minghao itu gak beda jauh. Sama-sama galak dan cuek.
“Apa emang?”
Mingyu menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Seokmin. Dengan bisik-bisik penuh rahasia dia berucap, “Five ways to win a tsundere boy.”
Seokmin menatap Mingyu penuh antusias. Berharap bahwa rencananya kali ini berhasil.
******
Hari rabu yang sedang cerah-cerahnya, Seokmin memulai rencananya. Dia beri nama “5 Ways To Win A Tsundere Boy.”
Seokmin berjalan menuju kelasnya dengan ingatan yang sangat jelas akan ucapan Mingyu.
- Cuek saat ada crush-mu.
Seokmin udah 2 tahun deketin Minghao. Ngasih perhatian dan ngekorin Minghao kemana pun. Jadi, kalo Seokmin ngejauh, Minghao pasti bakal bertanya-tanya di dalam hatinya.
Dan benar saja. Entah keberuntungan atau apa, Minghao ada di depan kelasnya bareng sama temen-temennya, lagi ngobrolin sesuatu.
Karena kelas Seokmin yang ada di ujung, mau gak mau harus lewatin gerombolan mereka. Yang biasanya Seokmin heboh nyapa Minghao, kini dengan ringannya dia jalan tanpa beban, lewatin Minghao gitu aja.
Gak ada sapaan selamat pagi, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang biasa dia lontarkan. Minghao serta beberapa teman yang ngelihat tingkah Seokmin ngerasa bingung. Aneh aja gitu. Minghao pura-pura gak peduli, padahal matanya liatin punggung Seokmin diem-diem.
- Kasih kebaikan kecil saat kamu sedang menjalani 'perang dingin'.
Sudah seminggu Seokmin jauhin Minghao. Udah seminggu dia gak interaksi sama Minghao. Dan udah seminggu pula dia berhasil buat semua orang terheran-heran.
Seokmin diem aja. Saat temen-temennya nanya, dia cuman bilang, “Gua sibuk. gak ada waktu buat dia.”
Gitulah kira-kira. Cuma Mingyu yang tahu rencananya.
Namun, rencana pertama Seokmin harus berakhir.
Seokmin tak sengaja bertatap muka dengan Minghao di kantin. Kedua mata mereka bertemu. Seokmin histeris dalam hati. Namun, dengan kalem dia ngalihin mukanya. Antri di depan soto bareng anak-anak lain.
Minghao yang pura-pura gak peduli, memilih diam di samping Seokmin, ikutan antri buat beli soto.
Saat giliran Seokmin, dia pesen satu mangkok buat dirinya sendiri, sama es kopyor kesukaannya. Beberapa menit kemudian, ibu penjual ngasih es kopyornya di hadapan Seokmin. Sambil nunggu sotonya, Seokmin sedikit ngelirik Minghao. Bertanya-tanya apakah rencananya ini berhasil atau tidak.
“Bu, soto ayam satu sama es kopyor juga satu ya.”
Seokmin menaikkan alisnya heran. Tumben Minghao beli es kopyor.
“Maaf dek. Es nya habis. Yang terakhir buat adek ini.” ujar ibu penjual sambil nunjuk ke Seokmin.
Minghao seperti kecewa. Cuman ngangguk sebagai balasan.
Seokmin nerima soto pesenannya. Buru-buru kasih uang pas ke penjual.
Seokmin nengok ke arah Minghao. Sambil ngasih es kopyornya ke depan Minghao.
“Nih. Buat lu aja. Gua beli yang lain.” ujarnya tenang.
Minghao mengambil es pemberian Seokmin. Baru akan berucap, Seokmin buru-buru membalikkan badan, ninggalin Minghao gitu aja.
Minghao cuman diem. Natep es kopyor yang ada di tangannya, dengan wajah memerah samar memenuhi rona mukanya.
- Tarik ulur, kasih sedikit perhatian, yang bisa membekas di ingatannya.
Setelah kejadian es kopyor, Minghao serta Seokmin gak ada interaksi apapun. Seokmin jauhin Minghao lagi. Cuek biasa pas gak sengaja ketemu Minghao. Pokoknya dia berusaha biasa aja.
Minghao mulai kepikiran. Dia ngerasa hampa. Yang biasanya Seokmin ribut, sekarang gak ada sosok itu. Yang biasanya perhatian kini ngejauh. Minghao bingung. Dia kenapa?
Hari Jumat hujan melanda. Seokmin yang dari pagi sampe pulang sekolah gak ikutan kelas, keluar dari ruangan rapatnya kaget pas liat Minghao di ujung koridor meluk dirinya sendiri sambil liatin langit. Seokmin yang kasian sama doi-nya, pelan-pelan berjalan deketin Minghao.
“Kenapa, Hao?” tanya Seokmin pelan.
Minghao tersentak. Menatap Seokmin kaget. “Gak papa.”
Seokmin ngangguk paham. “Yakin? Kedinginan gitu.”
Minghao menatap Seokmin diam, lalu menggeleng.
“Enggak kok.”
Seokmin mendengus. Dengan pelan dia mengangkat hoodie yang membalut badannya. Lalu, menyerahkan ke depan Minghao.
“Nih, pake. Lu lebih butuh. Gua masih ada kegiatan ngurusin MB.”
Seokmin mendorong hoodie-nya ke dada Minghao. Mau tak mau, Minghao menerimanya.
“M-makasih.”
Seokmin ngangguk pelan, lalu berjalan pergi ninggalin Minghao.
Minghao hanya menatap punggung Seokmin serta hoodie yang ada ditangannya, bergantian. Memilih menyembunyikan wajahnya di dalam hoodie milik Seokmin. Mencium aroma khasnya dalam-dalam.
- Little skinship.
Seokmin yang sibuk sama lomba marching band nya, lupa sama hoodie yang dia pinjemin ke Minghao kemarin. Pas Seokmin lagi terburu-buru jalan di koridor, Minghao manggil dia sambil bawa hoodie kesayangan Seokmin, berlari kecil mendekati Seokmin.
“Kenapa, Hao?”
Minghao menetralkan napasnya. “Hoodie lu.”
Minghao menyerahkan hoodie milik Seokmin, dengan wajah yang sulit di definisikan.
“Santai aja kali. Lu ambil juga gak papa.”
Minghao menggeleng. “Gak bisa. Ini kan punya lu.”
Seokmin terkekeh. “Gua mah rela ngasih barang-barang gua ke lu.”
Wajah Minghao memerah. Membuat Seokmin ingin berteriak histeris.
“Lucu amat sih lu.” ujar Seokmin sambil mengusap gemas surai rambut Minghao. Dengan pelan dia mengambil hoodie miliknya yang ada di tangan Minghao.
“Thanks ya. Pake dicuciin segala.”
Minghao masih diam. Badannya kaku. Seokmin yang gak tau harus apa memilih tertawa pelan. “Kalo gitu gua duluan ya.”
Seokmin berbalik ninggalin Minghao, dengan senyum lebar di wajahnya, tangannya meremas hoodie yang ada di tangannya.
“Let's see. Will you fall in love with me or not, Hao.”
- Confess
Setelah kejadian hoodie, keduanya tak ada interaksi. Minghao yang selalu memikirkan Seokmin, serta Seokmin yang sibuk dengan lombanya. Tak ada interaksi hingga 2 minggu kemudian.
Di hari senin setelah upacara, Seokmin beserta anggota marching band-nya, menampilkan pertunjukan mereka dalam rangka kemenangan lomba yang mereka dapatkan.
Minghao menatap dari jauh. Cara Seokmin memandu dan memimpin seluruh anggotanya. Bagaimana dia mengatur tempo dan kecepatan. Membuat Minghao terpesona.
Hingga pertunjukan selesai, Seokmin serta anggota marching band lainnya membubarkan diri, membantu membawa alat-alat ke dalam ruangan penyimpanan.
Pukul setengah sembilan pagi, jam kosong mereka dapatkan. Guru-guru rapat mendadak. Seokmin yang sedang tertawa dan berbincang-bincang, tak sadar bahwa sedari tadi di pantau oleh Minghao.
Mingyu yang sadar bahwa Minghao menatap kearah mereka, menyikut Seokmin pelan.
“Apaan?”
Seokmin bingung dengan tingkah Mingyu.
“Doi lu lihat kesini mulu.”
Seokmin menatap arah yang ditunjuk Mingyu. Hanya melihat Minghao yang sedang membaca buku.
“Apaan? Dia baca buku gitu.”
Mingyu berdecak. “Pura-pura dia. Coba liat. Bukunya aja kebalik.”
Seokmin melihat buku yang di pegang Minghao. Tertawa pelan melihat tingkah Minghao yang menggemaskan.
Seokmin berjalan mendekati Minghao yang sedang duduk sendiri di bangku depan kelasnya.
Beberapa anak melihat Seokmin serta Minghao penasaran.
“Hei.” sapa Seokmin sambil mendudukkan dirinya di samping Minghao.
Minghao terlonjak. “H-hai.”
Seokmin terkekeh. “Ngapain?”
Minghao gelagapan. “Baca.”
Seokmin menatap jahil. “Baca? Emang bisa baca? Kebalik tuh.”
Minghao tampak sadar. Buru-buru memutar bukunya.
Seokmin tertawa keras. Mengusap rambut Minghao pelan.
“Lucu bener sih lu. Kan gua makin susah buat move on dari lu.”
Minghao menatap Seokmin. “Move on?”
Seokmin ngangguk. Menatap sekelilingnya yang sedang menatap mereka berdua penasaran.
“Lu kan gak suka gua. Daripada buang-buang waktu, mending gua nyari yang lain. Tapi lu nya bikin gemes. Kan gua makin sayang.”
Minghao memerah. Memilih mengalihkan muka.
“A-apasih.”
Seokmin terkekeh. “Itu beneran. Kalo lu sadar gua jauhin lu ya karna itu. Tapi susah sih. Lu nya bikin gemes. Palingan lu gak sadar gua jauhin.”
Minghao diam sejenak. “Kata siapa gua gak sadar? Gua sadar kok.”
Seokmin kaget. “Masa? Kok bisa? Kan gua gak lu anggep.”
Minghao terlonjak. Sedikit merasa tak enak.
“Kan lu selalu heboh di samping gua. Lu ngejauh jadi berasa sepi.”
Seokmin terkekeh. “Dijauhin dulu ya biar sadar.”
Minghao cuman diam. Merasa sadar dengan perbuatannya.
“Santai aja, Hao. Gua udah gak peduli kok. Jadi gak usah ngerasa gak enak. Lu sadar akan keberadaan gua aja, gua seneng.”
Minghao menatap Seokmin lamat-lamat.
“Kenapa, Hao?”
Minghao menggeleng. “Jadi, lu nyerah suka gua?”
Seokmin berpikir. “Gak juga sih. Gua suka lu. Cuman ya gua gak kek dulu. Lagian lu kan gak suka gua. Jadi, yaudah. Palingan bentar lagi gua move on.”
Minghao diam menerawang. “Jangan move on. Suka gua aja.”
Seokmin terkekeh. “Jahat lu. Lu kan gak suka gua.”
“Kata siapa? Gua suka lu kok.”
“Suka sebagai teman, kan?”
Minghao menggeleng. “Suka lebih dari temen.”
Seokmin diam. Suara cie-cie berkumandang di sekelilingnya.
“Gak usah bercanda lu.”
Minghao menggeleng lagi. “Gua gak bercanda. Gua beneran suka lu. Suka waktu lu ngasih gua es kopyor. Suka waktu lu ngasih hoodie lu. Suka semuanya.”
Seokmin diam. Masih gak percaya. “Bohong.”
Minghao menangkup kedua sisi wajah Seokmin. Mengecup pipinya lembut. Membuat semua orang menahan napas.
“Masih gak percaya?”
Seokmin mengerjapkan matanya berulang kali, lalu tertawa keras.
“Percaya kok.”
Seokmin menangkup kedua sisi wajah Minghao. Mengecup dahinya pelan.
“Jadi, kita pacaran?”
Minghao mengangguk pelan, dengan wajah merah merona.
Seokmin terkekeh pelan. Mengambil kedua tangan Minghao dari wajahnya, menggenggam erat keduanya.
“Hai, pacar.”
Minghao mendelik galak. Wajahnya memerah.
“Apasih, Seok.”
Seokmin terkekeh. Memilih mendekap Minghao.
“Lucunya.”
Suara cie-cie serta siulan nakal, menggoda keduanya. Seokmin berterimakasih kepada Mingyu atas saran dan rencananya.