–, Han dan Cheol

Jeonghan terengah-engah, peluh keringat melapisi tubuh dan wajahnya. Kakinya ia selonjorkan di atas tanah.

“Capek?” tanya Seungcheol yang duduk di samping Jeonghan.

Jeonghan kecil mengangguk. “Capek. Gak bakal aku main sepakbola lagi.” ujarnya dengan bibir yang mengerucut.

Seungcheol terkekeh. Ia menyerahkan sebotol aqua dingin di depan Jeonghan.

“Ini minum.”

Jeonghan tersenyum riang. Tangannya meraih botol dari tangan Seungcheol cepat. Meneguknya seperti tak ada hari esok.

“Ah, segarnya.”

Jeonghan meletakkan botol minumnya diatas tanah. Menikmati matahari yang sudah mau tenggelam, dalam diam.

“Wajahmu basah semua, Han.”

Jeonghan mendengus. “Iyalah. Pengen buru-buru mandi.”

Seungcheol tertawa. Ia mengeluarkan tissu dari kantong celananya.

“Habis ini pulang. Nunggu mataharinya tenggelam.”

Jeonghan ngangguk. “Iya deh.”

“Mau aku bersihin muka mu?”

Jeonghan menoleh. “Mau.”

Seungcheol tersenyum kecil. Tangannya dengan telaten mengusap wajah Jeonghan yang penuh oleh keringat. Jeonghan diam saja. Matanya ia pejamkan. Menikmati perlakuan Seungcheol yang lembut padanya.

“Jeonghan.”

Sang empu hanya bergumam.

“Besok main lagi?”

Jeonghan menggeleng. “Gak mau ah. Capek.”

Seungcheol cemberut. “Kenapa gak mau? Gak mau main sama aku lagi?”

Jeonghan membuka matanya. “Aku gak mau main sepakbola. Main yang lain.”

“Main kartu mau?”

Jeonghan berpikir. “Asal gak keringetan aku mau.”

Seungcheol tersenyum lebar. “Besok aku beliin es potong di pak Sabar.”

Jeonghan tertawa girang. “Asik! Janji loh, Cheol.”

“Iya janji.”

Jeonghan menyerahkan jari kelingkingnya ke arah Seungcheol.

“Janji?”

Seungcheol tertawa kecil. Ia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Jeonghan.

“Janji.”

Jeonghan tersenyum lebar. Ia bangkit dari duduknya.

“Ayo pulang!”

Seungcheol ngangguk. Ia berdiri di samping Jeonghan. Kedua tangan mereka otomatis terkait.

“Kadang aku gak mau pulang.” ujar Seungcheol tiba-tiba.

“Kalo gak pulang gimana, Cheol?”

Seungcheol berjalan sambil mengayunkan tangan mereka. “Maunya sama kamu terus.”

Jeonghan kecil mendengus. “Gak usah alay. Kita masih kecil.”

Seungcheol mengerucutkan bibirnya. “Suatu saat nanti aku bakal nikahin kamu.”

Jeonghan memerah. “Iya kita masih kecil, boleh ngimpi kok.”

“Nanti kamu tinggal di rumah. Masak, terus ngasih aku ciuman setiap hari.”

Jeonghan mendengus. Pura-pura geli. Wajahnya kontras dengan cibirannya.

“Kayak aku mau aja sama kamu.”

“Harus mau!”

“Aku mau kalo kamu ngasih sesuatu.”

Keduanya berhenti di persimpangan.

“Apa?! Aku bakal kasih kamu apapun!”

“Apapun?”

“Iya!”

Jeonghan menatap Seungcheol lekat-lekat. Tubuh mereka setara.

“Kasih aku ciuman, baru aku mau nikah sama kamu.”

Seungcheol memerah. “Tapi, kata mama ciuman bisa bikin anak hamil. Aku gak mau kamu hamil, Han.”

Jeonghan terbelalak. Dia ingat perkataan ibunya.

“Tapi kata mama ciuman di bibir yang bikin hamil. Kalo di dahi gak papa kan?”

Seungcheol menerawang dengan pikirannya. Jeonghan juga ikut berpikir.

“Boleh kayaknya. Gak papa. Kalo aku hamil, kamu harus tanggung jawab!”

Seungcheol ngangguk yakin. “Iya. Sini aku cium di dahi.”

Jeonghan mendekatkan tubuhnya ke arah Seungcheol. Tangan Seungcheol menangkup kedua sisi wajah Jeonghan. Bibirnya ia daratnya di dahi Jeonghan dengan lembut.

Seungcheol menjauhkan wajahnya. Menatap Jeonghan dalam diam.

“Jadi, kita nikah kan nanti kalo kita besar?”

Jeonghan memerah. Ia ngangguk malu-malu. “Iya. Aku mau.”

Seungcheol tersenyum lebar. “Okey. Ayo kita pulang. Udah malem.”

Jeonghan ngangguk. “Bye, Cheol. Besok lagi ya.”

“Okey, Han.”

Keduanya berpisah. Berbeda arah. Saling melambai satu sama lain.

Senja dan persimpangan menjadi saksi dari kedua insan yang mengucapkan janji penuh harapan, tepat di jam 6 sore.