–, Hard
Ini semua karena Chan. Minghao menggerutu sepanjang siaran Vlive mereka.
Oke, ini bukan salah Chan. Chan adalah salah satu dongsaeng kesayangan Minghao. Dia lucu, menggemaskan dan penurut. Ditambah lagi wajahnya yang polos bak bayi kecil.
Minghao merutuki otaknya yang kotor. Hanya karena tangan Chan mengenai selangkangannya, tidak seharusnya ia tegang saat ini.
Minghao berusaha menenangkan dirinya. Berusaha menghilangkan pikiran kotornya. Berusaha menyembunyikan celananya yang menggembung.
Saat siaran Vlive selesai, semua member membubarkan diri. Termasuk Minghao. Ia buru-buru ke kamar mandi terdekat, untuk menuntaskan pikirannya yang kotor.
Minghao berjalan cepat, tak sadar bahwa Chan melihat tingkahnya sedari tadi.
*****
Minghao mendorong pintu toilet pria. Bersyukur suasana di dalamnya sepi. Tak ada satupun orang. Minghao menghembuskan napasnya lega. Setidaknya tak ada yang melihat keadaan penisnya saat ini.
Minghao berjalan menuju bilik yang kosong, Minghao memasukinya lalu menutupnya rapat-rapat.
Wajahnya benar-benar memerah. Entah apa yang akan terjadi jika salah satu member melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Minghao baru akan duduk di atas closet, saat ketukan di depan biliknya terdengar. Membuat Minghao tersentak.
“Hyung.”
Mata Minghao melebar. Apakah itu suara Chan?
“Hyung.”
Minghao gemetar. “Y-ya?”
“Buka pintunya.”
Minghao panik sekarang. Kenapa Chan ingin bertemu dengannya?
“Kenapa?”
Minghao malu. Jujur, ia tidak ingin bertemu dengan Chan saat ini.
“Ada hal penting yang harus aku sampaikan.”
Minghao berpikir. Mungkin ada hubungannya dengan jadwal Seventeen?
Dengan pelan dia membuka kunci biliknya, membuka pintunya sedikit.
Chan mendorong keras. Membuat Minghao mundur beberapa langkah.
Chan masuk secara paksa, menutup pintu dan menguncinya cepat.
Minghao tersentak. Melihat Chan yang menatapnya lekat. Wajah Minghao memerah.
“C-chan? Apa yang mau kamu sampaikan?”
Suara Minghao bergetar. Antara salah tingkah dan malu yang bercampur aduk.
“Apakah kamu tegang, hyung?” Chan berbisik lirih. Ia majukan tubuhnya, mempertipis jarak keduanya. Mendorong Minghao pelan, membuat Minghao jatuh terduduk diatas closet.
Tangan Chan terangkat, jari-jarinya mengusap wajah Minghao lembut. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Minghao yang merona.
“Mau ku bantu?” bisiknya lagi.
Minghao meremang. Tatapannya tak terlepas dari kedua netra dongsaengnya.
“C-chan..”
Chan mendekatkan hidungnya ke telinga Minghao. “Hm?”
Minghao bergetar. Tangannya terangkat untuk menggenggam bahu Chan. “B-bantu aku.”
Wajah Minghao merah padam. Matanya sedikit berair. Chan menyeringai dalam diam.
“Tentu.”
Chan berjongkok, berhadapan dengan selangkangan Minghao yang menggembung.
Tangan Chan mengelus penis Minghao yang menggembung.
“Aaahhh... Hahh...”
Chan menatap wajah Minghao yang memerah dan memejam keenakan.
“Bisa buka celanamu? Atau mau ku bantu?”
Minghao ngangguk pelan. Tangannya gemetar untuk membuka celananya.
Dengan cepat dia membuka sabuknya, melepas kancingnya, dan menurunkannya hingga batas mata kaki.
Celana dalamnya ia turunkan, hingga lututnya. Menampilkan penisnya yang tegak berwarna merah menggoda.
Chan bersiul. “Lihatlah ini. Apakah ini akibat dari tanganku tadi, Hyung?”
Minghao memerah. Tak ingin menjawab.
“Aku anggap sebagai iya.”
Tangan Chan mengelus penis Minghao perlahan. Mengusapnya dari ujung ke pangkal.
Minghao mendongak. Tangannya menggenggam closet di bawahnya.
“Ahhhh... Channhh..”
Chan hanya diam. Fokusnya kini ada di penis Minghao.
Ibu jarinya ia arahkan untuk mengusap ujung penis Minghao. Menggerakkannya melingkar sesuai bentuknya.
Minghao terlonjak. “Akhhhh... Hahhh... Hahh..”
Chan menjilat bibirnya pelan. Ingin menggoda lebih, penis milik hyungnya.
Tangannya ia gerakkan untuk menggenggam penis Minghao. Agak menyengkramnya sedikit.
Minghao mendongak keenakan. Pahanya bergetar. Ia gigit bibirnya gemas.
“Enak, hyung?”
Minghao ngangguk. Chan menyeringai. Menatap Minghao lekat-lekat.
“Kamu cantik ya... Hao.”
Minghao tersentak. Bibirnya terbuka. Merasakan penisnya yang di cengkram erat.
“Kamu suka, Hao?”
“Ahhh... Ahhh... Hahhh..”
Ada sensasi tersendiri saat Chan memanggilnya 'Hao'. Membuat tubuh Minghao menggelinjang.
Jari-jari Chan menggoda penis Minghao yang tegang. Menggerakannya seperti ia bermain slime kesukaannya.
“Ahhhhh... Hahhh... Channhhh..”
Chan terkekeh. “Kamu ingin orang lain tahu bahwa kamu seperti ini, Hao?”
Minghao menggeleng. Bibirnya ia katupkan erat.
“Kurangi suaramu.”
Tatapan Chan tajam. Menatap lekat Minghao dari tempatnya. Membuat Minghao mau tak mau harus patuh.
Chan tersenyum puas saat lihat hyungnya diam tak berkutik. Ia dekatkan bibirnya ke penis Minghao, menjulurkan lidahnya untuk menjilat ujung penis Minghao.
Minghao tersentak. Tangannya ia arahkan untuk menutupi mulutnya.
“Anghhhhh... Hahhhh...”
Chan tertawa. Lucu dengan reaksi Minghao.
Bibirnya ia arahkan untuk mengulum ujung penis Minghao. Menggunakan lidahnya untuk bermain di dalam.
Tubuh Minghao gemetar. Punggungnya melingkar indah. Dadanya membusung ke depan. Matanya ia pejamkan erat, dengan suara yang ia tahan sebisa mungkin.
“Anghhhh... Ngahhhh... Hahhh..”
Chan memajukan wajahnya. Memasukkan lebih dalam penis Minghao, ke dalam mulutnya yang hangat.
Minghao tersentak. Merasakan kontak fisik dengan mulut Chan yang hangat dan basah.
Chan memaju mundurkan wajahnya. Lidahnya ia mainkan di dalam. Menjalar dan mengekplorasi sepanjang penis Minghao.
“Anghhhhh... Chanhhh.. Hahhh...”
Minghao berusaha menutupi suaranya. Matanya berair karena rasa nikmat.
Chan menghisap dan menyesap penis Minghao. Giginya ia sengaja mainkan di sana. Membuat rasa nikmat dan geli secara bersamaan.
Minghao mati-matian menahan teriakannya. Merasakan penisnya di manja oleh dongsaeng kesayangannya.
Chan menatap Minghao lekat. Mempelajari ekspresi wajah Minghao dalam diam.
Dengan nakal ia bergumam. Membuat penis Minghao bergetar. Menimbulkan kenikmatan tiada tara.
“Ngahhhhh.... Ahhhh... Hahhh..”
Minghao kelepasan. Ia tak kuat menahan suaranya. Bibirnya terbuka lebar. Matanya menatap Chan pasrah.
Chan tersenyum puas. Dengan sengaja ia hisap kuat-kuat ujung penis Minghao.
“Hyahhhhh.... Ahhhhh...”
Chan kembali memasukkan seluruh penis Minghao di dalam mulutnya.
Tangannya yang lain menggenggam paha Minghao, dan tangan satunya bermain di skrotum Minghao. Menggenggam dan mengelitiki skrotumnya nakal.
Minghao membanting kepalanya di dinding. Tangannya mencengkram erat closet di bawahnya. Bibirnya megap-megap, tak ada suara yang keluar.
Chan memaju mundurkan wajahnya cepat. Tangannya tak henti memainkan skrotum milik Minghao.
Tubuh Minghao gemetar. Pahanya bergetar kencang. Menggelinjang, siap untuk menyemprotkan cairannya.
“Aahhhh... hahhhh... Chanhh... Akuu mau...”
Chan bergumam. Membuat Minghao makin menggila.
“Ahhhhh... Chanhhh...”
Minghao bergetar. Tubuhnya meremang. Menyemprotkan cairan nikmatnya ke dalam mulut Chan. Tubuhnya menggelinjang, menikmati orgasme yang ia rasakan.
Chan menelan semua cairan Minghao tanpa ampun. Menikmati layaknya ia sudah biasa. Chan menghisap kuat-kuat penis Minghao. Tak menyisakan sedikitpun cairan di sana.
Tubuh Minghao masih gemetar. Napasnya tersengal. Keringat menyelimuti tubuhnya. Wajahnya berantakan.
Chan menjauhkan wajahnya. Mengeluarkan penis Minghao dari mulutnya. Lidahnya ia jilatkan di bibirnya. Memastikan tidak ada setetes pun cairan yang tertinggal disana.
“Enak?”
Minghao hanya ngangguk. Tubuhnya lemas. Chan terkekeh.
Tangannya ia gunakan untuk memakaikan kembali celana Minghao.
Minghao hanya pasrah. Mengangkat tubuhnya sedikit agar Chan mudah untuk menaikkan celananya.
“Lemes?”
Minghao ngangguk. Masih menikmati orgasmenya.
“Mau di gendong?”
Minghao memerah. Memilih untuk menggelengkan kepala.
Chan terkekeh. “Ayo. Kita udah di tungguin.”
Tangan Chan menarik tangan Minghao. Minghao hanya bisa pasrah. Mengikuti Chan dalam diam.
“Makasih, Chan.” gumamnya pelan.
Chan tertawa. Tangannya tergerak untuk mengusak rambut Minghao pelan.
“Sama-sama, Hao.”
Minghao memerah. Hanya bisa diam dan mengikuti Chan dari belakang. Tangan mereka bertautan, seperti tak ada hal yang luar biasa terjadi beberapa menit yang lalu.