Hari Pertama

Dalam sekejap mata, semalaman berlalu begitu cepat. Antara senang dan malas. Senang karna akhirnya niatnya terlaksana, malas karna harus bertemu dengan orang yang tak ingin Jihoon temui.

Jihoon menyiapkan barang-barang yang ia perlukan untuk mengajar pelajaran kimia. Tak lupa memasukkan semuanya ke dalam tas ransel kesayangannya.

Lagi-lagi helaan napas ia keluarkan. Namun demi crush nya yang sudah ia pendam sejak kecil, Jihoon harus mendapatkan kesan yang baik.

Jika ia ingat-ingat lagi, Jihoon pertama kali bertemu dengan Tante Ratna saat ia dibangku kelas 6 sekolah dasar.

Waktu itu Jihoon asik kabur dari sergapan ibunya di rumah. Tak melihat jalan, kaki Jihoon tersandung kerikil, membuat lututnya terluka. Tanpa Jihoon duga datang perempuan cantik menolongnya berdiri dan mengobati lukanya. Sejak itu Jihoon seolah terpesona dan jatuh cinta kepada tetangganya sendiri. Jihoon pikir saat itulah cinta pertamanya tumbuh hingga detik ini.

Kepalanya ia gelengkan cepat untuk mengusir lamunannya. Jihoon segera membawa tasnya dan bergegas untuk memulai perjanjiannya dengan Tante Ratna. Demi berjalan mulusnya cinta Jihoon, akan ia lakukan apapun demi Tante Ratna. Begitu pikirnya.


Senyum Jihoon pudar saat menatap anak Tante Ratna yang berdiri menjulang di depan Jihoon. Tingginya lebih tinggi dari tubuh Jihoon. Membuat Jihoon harus mendongak untuk menatap wajahnya.

'Ck.' Jihoon berdecak dalam hati.

“Oh. Lu guru les gua?” Ujar bocah remaja yang Jihoon sangat kenal.

“Mana Tante Ratna?” Jihoon berusaha mengabaikan pertanyaan bocah yang ada di depannya sekarang.

“Mama gua lagi arisan. Gak ada kesempatan lu buat cari muka di depan mama gua.” Balasnya congkak di sertai senyum miring yang membuat Jihoon ingin menonjoknya.

“Simpen ucapan kosong lu. Kimia aja lu gak bisa. Gak heran kalo lu bego.”

Jihoon berjalan masuk seenak jidat mengabaikan keberadaan pemilik rumah.

“Yeah yeah, ucap orang yang mau jadi guru les gua, demi mepetin mama gua.”

Jihoon menggertakkan giginya kuat. Dia benar-benar kesal.

“Diem lu bocah.”

Orang yang ada di belakang Jihoon memutar matanya malas.

“Kita cuman beda setaun doang asal lu tau.”

Jihoon tak bersuara, hanya berfokus menyiapkan buku-buku yang akan ia pelajari.

“Dan gua gak akan setuju punya bapak bocil kayak lu.” Lanjut si pemilik rumah yang sudah duduk tepat di hadapan Jihoon.

Jihoon menatap tajam. “Dan gua gak butuh persetujuan dari anak goblok kayak lu...” Ucapan Jihoon menggantung, di akhiri dengan nada rendah yang terkesan geram.

”.. Hoshi.”