•How to make my crush falling in love with me•
Siapa yang tidak kenal dengan Moon Junhui. Anak jurusan Bahasa, keturunan China asli, tampan, ramah, dan primadona sekolah. Berteman dekat dengan Jihoon, teman masa kecilnya.
Jihoon anak jurusan Mipa. Pinter, berprestasi, cuek, jarang ngomong, dan murid andalan guru. Tiap kemana-mana pasti bareng sama Jun. Mereka udah sahabatan dari bayi. Rumah dempetan. Buka jendela, udah keliatan kamar masing-masing. Tapi, tanpa orang-orang tahu Jihoon suka sama sahabatnya, Jun.
Jihoon pesimis. Dia yakin Jun gak suka sama dia. Dia lebih memilih memendam perasaannya daripada ngerusak pertemenan mereka yang udah jalan 17 tahun.
Sampai suatu ketika, Minghao tahu rahasia Jihoon.
******
Disinilah Minghao dan juga Jihoon. Keduanya saling diam. Suara pendingin ruangan perpustakaan menemani mereka.
“Jadi, yang gua tebak bener berarti. Gak ada niatan ngaku ke dia?” tanya Minghao yang memulai pembicaraan.
Jihoon menghela napasnya, lalu menggeleng. “Takut.”
Minghao mendesah. “Takut apalagi anjir. Jelas-jelas dia juga tertarik sama lu.”
Jihoon menggeleng. “Engga.”
Minghao menghela napasnya. “Oke. Gua ada cara. Ini yang gua pake pas deketin Mingyu.”
Jihoon menatap Minghao lekat. “Gimana?”
Minghao menyeringai. Dia menyerahkan buku kecil berwarna biru muda ke hadapan Jihoon.
“Ini baca. Besok mulai lu lakuin. Semoga berhasil. Gua yakin Jun suka sama lu.”
Minghao bangkit, lalu pergi meninggalkan Jihoon.
Jihoon dengan ragu mengambil buku Minghao, lalu mulai membaca isi di dalamnya.
*****
How To Make My Crush Falling In Love With Me
- Berucap lembut, tak lupa senyum manis di wajah
Pagi itu Jihoon seperti biasa. Belajar, ulangan, bantu guru, dan ngurus kerjaan sekolahnya. Sampai akhirnya Jun datang ke kelasnya. Bawa sekotak bekal, berjalan pelan ke meja Jihoon.
“Hey.”
Jihoon mendongak. Mengingat rencananya tadi malam.
Dengan lembut dan senyum yang cerah dia membalas Jun. “Hey.”
Jun diam. Dia duduk pelan. Menatap Jihoon lekat. “Lagi good mood?” tanya Jun.
Jihoon menggeleng pelan. “Engga. Biasa aja. Emang kenapa?”
Jun diam, lalu menggeleng. “Engga. Tumben banget senyum.”
Jihoon tersentak, lalu tertawa. “Masa sih? Kalo gitu aku bakal sering senyum.”
Jun menatap Jihoon lekat lalu membalas senyum Jihoon.
“Iya. Sering-sering senyum. Kamu imut kalo senyum.”
Jihoon memerah. Lalu menyibukkan dirinya dengan buku-buku di atas mejanya.
- Sering-sering tunjukin sisi imutmu
Malam itu Jun ngajak Jihoon pergi beli mochi. Katanya mau traktir Jihoon. Jihoon setuju. Kapan lagi di beliin mochi gratis. Dia inget rencananya. Dengan sengaja, Jihoon ngambil hoodie Jun yang warnanya hitam. Ukurannya kebesaran di badannya. Dia belum ikhlas ngembaliin hoodie ke pemiliknya. Bahkan Jihoon enggan untuk mencucinya.
Setelah siap, dia pergi keluar rumah. Ternyata Jun udah nunggu.
“Maaf lama nunggu ya, Jun.”
Jun nengok lalu ngangguk. “Gak masalah. Ayo.”
Jihoon jalan di samping Jun. Tangannya bergesekan dengan milik Jun. Wajahnya memerah. Dengan pelan dia memakai tudung hoodienya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Setelah sampai di kios mochi, mereka membeli satu porsi, memakannya bersama.
Jihoon mulai melancarkan aksinya. Dengan sok imut dia mengunyah mochi sekaligus. Membuat kedua pipinya menggembung.
Jun yang melihat wajah Jihoon, terkekeh. “Lucu banget kamu.”
Jihoon memerah. Bibirnya sengaja mengerucut. “A-apasih.”
Jihoon makin terkekeh. “Akhir-akhir ini kamu tambah imut. Suka deh.”
Jihoon pura-pura tak dengar. Dia acuh. Asik makan mochi yang ada di tangannya.
Tiba-tiba tangan Jun memegang pipinya. Jihoon menatap Jun lekat. Begitupula dengan Jun. Mereka saling tatap. Dengan lembut, ibu jari Jun mengusap pelan bibir Jihoon yang belepotan.
“Bibir kamu.” bisik Jun.
Jihoon memerah. Dengan gugup dia berucap, “T-thanks.”
Jihoon merasa yakin, bahwa buku Minghao sedikit demi sedikit ampuh untuk hubungannya.
- Sering-sering kasih skinship
Siang itu, lagi istirahat siang. Jun serta Jihoon seperti biasa jalan bareng. Mereka menuju kantin. Mau beli nasi pecel langganan mereka. Sambil nunggu pesenan. Jihoon ngambil tangan Jun. Dia genggam tangan Jun, membandingkan tangannya yang kecil dengan tangan Jun yang lebar. Jihoon mainin tangan Jun, gak sadar kalo yang punya tangan udah memerah.
“Kenapa?” tanya Jun pelan.
Jihoon hanya bergumam. “Tangan kamu sama tanganku ukurannya beda jauh. Telapak tanganmu gede banget.”
Jun terkekeh. Dia menggenggam tangannya erat ke tangan Jihoon. Menguncinya. Kelima jari mereka saling terikat.
“Bagus dong. Biar tanganku bisa genggam semua tanganmu. Nih lihat. Pas kan. Anget gak?”
Jihoon memerah. Dengan malu dia ngangguk pelan. “Iya.”
Jun terkekeh. Tanpa ia lepas genggamannya, dia mengayunkannya kesana kemari. “Tanganku gede, tanganmu kecil. Kebetulan ya.”
Jihoon memerah. Dia merasa jantungnya bisa lompat kapan saja. Dengan pelan dia menjawab. “Udah takdir.”
Setelahnya keduanya diam. Menikmati nasi pecel mereka tanpa melepas genggamannya.
- Cemburu
Jihoon baca tadi malem, jangan ragu-ragu tunjukin rasa cemburumu. Sangat kebetulan. Pagi itu, Jihoon lewat kelasnya Jun. Dia ngelihat Jun di kerumunin cewek-cewek. Kelihatan banget kalo Jun kewalahan. Dengan rasa cemburu yang membuncah, dia melangkahkan kakinya cepat ke arah Jun.
Dengan sigap dia menerobos kerumunan, dan menariknya. Dengan lantang dia teriak, “Jun punyaku!”
Setelahnya, Jihoon menarik Jun ke arah taman belakang sekolah. Mendudukkan dirinya serta menarik Jun untuk duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa?” tanya Jun bingung.
“Aku lihat kamu kesusahan. Makanya ku bantuin.”
Jun diam. Lalu berucap, “Yang kamu bilang tadi bener gak? Aku punyamu?”
Jihoon diam, wajahnya memerah. “Ugh, maksudku kan kamu sahabatku.”
Jun terkekeh. “Iya aku punyamu.”
Jihoon makin memerah. Dia melihat kemana saja, asal tidak melihat Jun.
“Kalo aku punyamu, kamu punyaku juga dong?” tanya Jun sambil nyengir.
Jihoon gelagapan. “Ah, um uhh terserah kamu lah.”
Jun terkekeh. “Terserahku kan? Yaudah kamu punyaku.”
Jihoon hanya diam. Berdoa, agar Jun tidak mendengar suara jantungnya.
- Kasih kode
Hari ini adalah hari terakhir Jihoon menjalankan rencananya. Dia lagi berdua sama Jun di kamar milik Jun. Mereka berdua setuju untuk belajar bareng.
Jihoon pura-pura fokus belajar. Padahal pikirannya gak ada di tempat. Di samping Jihoon ada Jun. Dia fokus sama laptopnya.
“Jihoon.” ucap Jun pelan.
Jihoon bergumam tak jelas. Dia masih asik menulis hitungannya. Pura-pura.
“Kamu lagi suka orang?” tanya Jun menebak.
Jihoon tersedak ludahnya sendiri. “Hah? Kesimpulan dari mana tuh.”
“Tingkahmu aneh. Berubah aja gitu.”
Jihoon diam. Dia bingung. “Kamu gak suka aku berubah?”
“Bukan gitu. Aku suka. Kamu jadi lebih ceria. Cuman pasti ada penyebabnya. Jadi kamu lagi suka orang?”
Jihoon tampak berpikir. Dia harus bisa kasih kode ke Jun.
“Bisa jadi.”
Jun menengok ke arah Jihoon. Nampak sesuatu yang aneh di mata Jun. Jihoon gak tau apa itu.
“Siapa?”
Jihoon diam. Dia kodenya gimana?
“Aku kenal orangnya?”
Jihoon nengok ke arah Jun. Dengan ragu dia ngangguk. Lagi-lagi, ada kilat aneh di mata Jun.
“Siapa? Anak mana?”
Dengan pelan dia menjawab “Anak bahasa.”
Jun kaget. “Anak kelasku? Siapa? Wonwoo? Seungcheol? Chanyeol? Siapa?”
Jun bertanya dengan cepat. Jihoon makin takut. Dia menggigit bibirnya pelan. Bingung harus menjawab apa.
“Uh, bukan mereka.”
“Terus siapa? Mereka kan anak bahasa.”
Jihoon diam. Enggan menatap mata Jun. Keheningan melanda mereka.
“Jangan bilang aku?”
Jihoon tersentak. Dia tak menjawab. “Aku?” tanya Jun lagi.
Jihoon masih diam. Tangan Jun menggenggam bahunya. Mengarahkannya untuk menatap Jun langsung.
“Jihoon.”
Dengan takut-takut dia menatap Jun. Jun manatapnya lembut.
“Aku?”
Dengan pelan dia mengangguk. “Maaf.”
Jun tersentak. Ditariknya tubuh Jihoon, kepelukannya. “Hei. Ngapain minta maaf. It's okay.”
Jihoon memeluk Jun balik. Mendekapnya erat. Menenggelamkan wajahnya di bahu Jun. Menghirup aroma Jun kuat-kuat.
“Sejak kapan?” tanya Jun lembut. Tangannya mengusap pelan punggung Jihoon.
“Udah lama.” gumam Jihoon.
Jun terkekeh. “Aku juga suka kamu dari lama.”
Jihoon kaget. Dia melepaskan pelukannya, dan menatap Jun lekat-lekat.
“Aku juga suka kamu. Dari lama.” ulang Jun lagi.
Mereka saling pandang. Jun yang menatap Jihoon lembut, serta Jihoon yang tak percaya.
“Beneran?”
“Ngapain aku boong sih.”
Jihoon memerah. “Kali aja.”
Jun terkekeh. Dengan gemas dia mengusap rambut Jihoon pelan.
“Gemes banget. Jadi kamu berubah buat aku?”
Jihoon malu. Dengan pelan dia berucap, “Sebenernya itu rencana yang dikasih tau Minghao. Dia ngasih buku ke aku.”
Jun tertawa. “Mau aja kamu di suruh Minghao.”
“Kan aku pengen sama kamu.”
Jun tersenyum. Di peluknya erat Jihoon. “Kan sekarang aku udah sama kamu.”
“Jadi kita pacaran?”
Jun bergumam. “Kalo kamu mau.”
“Aku mau!”
Jun terkekeh. “Oke, kamu pacarku.”
Jihoon memerah. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jun.
“Pacar, kamu gak mau nyium aku nih?” tanya Jun menggoda.
Jihoon memerah. Dengan pelan dia menjauhkan badannya, lalu menatap lekat Jun.
Tangannya bergerak menangkup pipi Jun. Dengan lembut dia mengecup bibir Jun. Lalu hidungnya, serta dahinya.
Jun tersenyum. Tangannya bergerak menangkup rahang Jihoon. Giliran Jun yang mengecup Jihoon.
Bibirnya mengecap rasa manis Jihoon. Lalu turun mengecup sepanjang rahang Jihoon. Mendaratkan ciumannya di sepanjang leher Jihoon. Membuat Jihoon mengerang.
Jun menjauhkan wajahnya. Lalu tersenyum lembut. “Makasih, Jihoon.”
Jihoon memerah. Dengan malu-malu dia menjawab, “Makasih juga, buat kamu.”