–, Hujan

Bulan Desember identik dengan musim hujan. Sama dengan kota Malang, yang dilanda hujan dipenghujung tahun ini. Seperti biasa, semua orang tidak akan mengira, jika siangnya akan hujan selebat ini. Padahal pagi tadi terang benderang, tanpa ada tanda-tanda akan hujan.

Sama seperti Jun, yang tidak mengira jika kotanya akan di landa hujan selebat ini. Jika tahu begini, dia akan membawa payung kecil pemberian ibunya.

Dengan pasrah Jun menunggu hujan reda di halte bus yang sudah sepi setengah jam yang lalu. Bisa saja Jun menerobos hujan dan berlari menuju rumahnya yang dekat dengan sekolah. Namun dia masih sayang tubuhnya. Masalahnya dia ada pertandingan pencak silat minggu depan. Jika ia sakit, tamatlah riwayatnya.

Dengan helaan napas yang panjang, Jun menatap jalanan di depannya yang ramai oleh kendaraan-kendaraan. Menikmati derasnya hujan yang membentur atap halte. Setidaknya Jun tidak merasa kesepian.

Tiba-tiba angin kencang menerpa tubuhnya. Spontan, Jun memeluk dirinya sendiri. Bulu kuduknya meremang. Dia menggigil. Jun menyesal tidak membawa hoodie kesayangannya.

Sial sekali Jun hari ini. Jun memeluk tubuhnya, menyenderkan dirinya di senderan halte, dan memejamkan matanya. Berusaha menerima semua ini dengan tabah.

Tiba-tiba, suatu yang hangat dan lembut menutupi dadanya.

Jun membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rambut hitam yang basah, dan wajah kecoklatan yang mengkilat akibat air hujan mengenai wajahnya.

Jun kenal wajah ini. Wajah tampan ini. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat.

“Belum pulang, Jun?” tanya orang itu dengan suaranya yang berat dan agak serak.

Jun ngangguk pelan. “Belum. Nunggu reda.”

Sosok itu ngangguk. “Pake hoodieku aja dulu. Dari jauh keliatan kamunya kedinginan.”

Jun memerah. Menggenggam hoodie pemberian sosok yang ada di hadapannya.

“Terus kamu gimana, Gyu? Gak dingin?” tanya Jun kepada Mingyu, temannya.

“Gak. Aku udah biasa. Kamu kan gak suka dingin. Apalagi mingdep ada lomba kan?”

Jun menggigit bagian dalan pipinya. “Iya.” gumamnya.

“Buruan pake. Atau mau ku bantuin?”

Jun menggeleng keras. “Gak perlu. Makasih, Gyu.”

“Gak masalah. Yaudah aku duluan ya. Jangan di terobos hujannya. Tunggu reda. Awas aja sampeku denger dari ibumu kalo kamu sakit.”

Jun memerah. Bagaimana bisa Mingyu seperhatian ini?

“Iya.” ucapnya pelan.

“Yaudah aku pergi. Bye, Jun.”

“Bye, Gyu.”

Setelahnya, Mingyu berlari. Melindungi kepalanya dengan tas hitam miliknya.

Jun meremat hoodie Mingyu yang ada di tangannya. Buru-buru dia segera memakai hoodie pemberian Mingyu.

Rasa hangat dan aroma khas Mingyu menyapa hidungnya. Jun memerah. Jantungnya tidak kian tenang.

Jun memasukkan tangannya di kantong hoodie Mingyu. Menghirup dalam-dalam aroma Mingyu, yang tertinggal di hoodienya.

Jika Jun mengingat beberapa tahun lalu, bagaimana ia bisa kenal dengan Mingyu, membuat perasaannya berantakan seperti ini.

Tepatnya saat Jun pindah sekolah dan pindah rumah. Saat Jun pindahan dari Balikpapan, dan harus pindah ke Malang mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Jun tinggal di samping rumah Mingyu. Awalnya mereka tidak saling kenal dan tidak peduli. Namun, saat ibu Mingyu mengenalkan satu sama lain bahwa Jun seumuran dengan Mingyu, dan akan sekolah di sekolah yang sama seperti Mingyu, membuat Jun terkejut.

Mingyu itu tampan. Tinggi. Kulit sawo matangnya membuat Jun memerah. Jangan lupakan gigi taring Mingyu yang nampak, saat cowok itu tertawa. Entah kenapa saat itu jantungnya berdetak aneh.

Mereka semakin dekat. Mingyu membantunya mempelajari bahasa daerah. Mengajarinya berbagai hal. Hingga Jun menyadari perasaan aneh terhadap Mingyu. Membuat Jun menjaga jarak dengan Mingyu.

Hingga mereka menginjak kelas 12, mereka hanya berbicara secukupnya. Membuat Jun merasa jelas, bahwa Mingyu tidak mungkin menyukainya balik.

Jun menarik napasnya pelan. Dan menghembuskannya cepat. Saat rintik hujan semakin pelan, membuatnya yakin bahwa hujan sudah mereda. Dengan perlahan Jun bangkit, dan berjalan menuju rumahnya. Menikmati kehangatan hoodie Mingyu, yang menyelimuti tubuhnya.

******

Hari kedua sama seperti perkiraan Jun. Siang hari di kota Malang, di landa hujan kembali. Kali ini tidak berangin, namun deras. Untungnya, Jun membawa payung dan juga hoodie milik Mingyu. Rencana awalnya, dia ingin mengembalikan kepada pemiliknya langsung. Namun, saat dia ke kelas Mingyu, orangnya tidak ada. Kata temannya, Mingyu ada rapat tim basketnya.

Dengan agak berat, Jun membawa hoodie Mingyu kembali, masuk ke dalam tasnya.

Siang ini Jun pulang terlambat. Dia baru saja selesai briefing, masalah lomba pencak silat untuk minggu depan.

Kini Jun berdiri di lorong sekolahnya. Sibuk menggali tasnya, untuk mengeluarkan hoodie Mingyu. Buru-buru Jun memakai hoodie Mingyu. Takut dirinya masuk angin.

Setelah dia sudah selesai memakai hoodienya, Jun membuka payung merahnya. Siap untuk melangkah menuju rumahnya.

Namun seruan namanya, membuatnya menengok kebelakang.

Terlihat Mingyu berlari kearahnya. Dengan rambut hitamnya yang bergerak kesana kemari, mengikuti gerakan sang pemilik.

Mingyu tersenyum lebar. Lega bercampur senang terlihat di wajahnya.

“Aku bareng kamu ya? Aku gak bawa payung, hehe.”

Jun tersentak. Artinya dia akan sepayung berdua dengan Mingyu? Serius?

Dengan kaku dia mengangguk. “Gak masalah.”

Jun menyerahkan payungnya ke Mingyu. Karena cowok di depannya lebih tinggi darinya.

Dengan cengiran yang tidak tertinggal dari bibirnya, Mingyu mengambil payung dari tangan Jun, lalu merangkul pundak Jun. Menariknya mendekat.

“Dekat-dekat sini. Entar kena hujan.”

Jun cuman bisa pasrah. Berusaha terlihat normal. Padahal dalam dadanya ribut dangdutan.

Keduanya berjalan di bawah payung yang sama. Keheningan menyelimuti keduanya.

Jun tidak sadar jika air hujan yang menetes dari payungnya, mengenai bahunya. Bagaimana dia bisa sadar, jika pikirannya saat ini kemana-mana.

Mingyu menggerakkan tubuh Jun, untuk berdiri di depannya.

Posisinya saat ini Jun di depan tubuh Mingyu, tangan Mingyu berada di pundak Jun. Meremasnya posesif. Payung yang Mingyu pegang agak ia majukan. Agar Jun tidak terkena air hujan

“K-kenapa?” tanya Jun gugup.

“Pundakmu basah. Jadi kamu berdiri di depanku. Biar gak kehujanan.” ucapnya tepat di telinga Jun, membuatnya memerah.

Jun hanya diam. Genggaman tangan Mingyu tidak terlepas. Masih menyentuh pundak Jun.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Suara rintik hujan mengalun di telinga keduanya.

“Jun.” bisik Mingyu.

Jun tersentak. “Ya?”

“Kenapa kok jauhin aku?”

Jun diam. Tak tahu harus menjawab apa. “Enggak. Perasaanmu aja kali.”

“Engga. Kamu emang jauhin aku. Kenapa?”

Suara Mingyu datar. Tidak ada ekspresi di nada bicaranya. Jun jadi bingung. Apakah Mingyu marah?

“Apa aku buat salah?”

Jun menggeleng. “Enggak. Ini salahku. Kamu gak salah apa-apa.”

“Kalo gitu bilang. Kamu kenapa?”

Gak bisa. Jun gak bisa bilang ke Mingyu. Dia takut. Dia takut Minggu jauhin dia.

“Gak bisa.” bisik Jun.

“Kenapa?”

Mingyu masih ngotot. Dia penasaran. Kenapa Jun yang dulu sedekat nadi, tiba-tiba menjauh. Sejauh matahari.

“Jun.”

Keduanya terdiam. Berhenti melangkah.

“Jun.”

Jun menggeleng. Dia lemah dengan itu. Dia lemah, saat Mingyu memanggilnya dengan lembut. Penuh perasaan. Terasa cocok di bibirnya.

“Jun. Tolong.”

Jun menghela napasnya. Lalu berbalik. Menghadap Mingyu, yang menatapnya lekat. Entah ada sesuatu yang aneh di kedua netra Mingyu. Ada sesuatu yang tidak bisa Jun deskripsikan.

“Aku suka kamu.” ucap Jun cepat.

Hening. Jun menahan jantungnya yang terasa sakit. Seperti ada yang meremasnya.

“Aku suka kamu. Makanya aku jauhin kamu. Puas?”

Jun menahan air matanya yang ingin tumpah. Menatap Mingyu, yang juga menatapnya.

“Sejak kapan?” Mingyu hanya mengucapkan itu.

“Kelas 10.”

Mingyu terlihat terkejut. “Sumpah?”

Jun ngangguk. “Udah puaskan. Bisa gak kita pulang?”

Mingyu menggeleng. “Gak bisa.”

Jun ingin sekali menonjok Mingyu.

“Kamu gak mau denger balesanku?”

Jun menggeleng. “Aku udah tahu. Kamu gak suka aku.”

Mingyu menaikkan alisnya. “Tahu dari? Kok yakin banget.”

“Tahu aja. Kamu diem aja pas aku jauhin.”

Mingyu menahan tawanya. “Kukira kamu pengen nyari temen lain. Ternyata pas kelas 12, temenmu itu-itu aja.

Jun hanya diam. Merasa agak bingung. “Jadi?”

Mingyu tersenyum lembut. “Aku juga suka kamu. Sejak pas makan malem itu.”

Jun tersentak. Menatap tak percaya. “Bohong.”

Mingyu terkekeh. “Ngapain aku boong. Kalo boong aku bakal ninggalin kamu sekarang.”

Jun memerah. “Kamu suka aku?”

Mingyu ngangguk. Tangannya terangkat untuk mengusap rambut Jun. “Iya. Puas? Jadi jangan jauhin aku lagi. Aku kangen tidur di pangkuanmu.”

Jun memerah. “U-um. Gak tahu.”

“Gak tahu kenapa?” Mingyu bingung.

“Kita apa?”

Mingyu menatap Jun lekat. “Kita pacar lah. Kan kita sama-sama suka.”

Jun hampir tersedak. “K-kita?”

“Iya. Kenapa? Gak mau?”

“M-mau!”

Mingyu terkekeh. Dengan gemas dia menarik Jun dalan dekapannya.

“Jadi, besok mau gak nonton film? Gimana, pacar?”

Jun memerah. Menyembunyikan wajahnya di bahu Mingyu. “T-terserah.”

“Haha. Okey. Besok kencan pertama. Besok aku bawa motor.”

“T-terserah. Asal sama kamu, aku mau.” jawab Jun pelan.

“Pft, jago gombal ya?”

Jun memukul punggung Mingyu, membuat sang empu tertawa.

Jun memeluk Mingyu balik. Menikmati pelukan Mingyu yang hangat, di bawa payung merah, ditemani rintikan hujan, di bulan Desember.