•Hujan dan rahasia•
Soonyoung itu anaknya ramah. Supel. Humoris. Punya banyak teman. Dan punya banyak koneksi dimana-mana. Semua orang suka sama Soonyoung. Termasuk Jihoon.
Jihoon cuman salah satu siswa yang cuek, jarang ngomong dan pinter minta ampun. Dia suka sama sifat Soonyoung. Seakan anak itu gak punya beban hidup. Jihoon pengen kayak Soonyoung. Tapi gak mungkin. Jihoon sama Soonyoung itu beda. Jihoon gak akrab sama Soonyoung. Walaupun mereka sekelas, dia jarang interaksi sama Soonyoung.
Jihoon murid teladan. Dia pinter. Kesayangan guru. Sedangkan Soonyoung, dia gak pinter-pinter amat. Jago di olahraga. Lumayan sering bolos. Tapi guru-guru suka Soonyoung. Karena kepribadiannya yang cerah.
Sampai suatu hari Jihoon menemukan rahasia Soonyoung. Rahasia yang hanya Jihoon yang tahu.
*****
Waktu itu bulan November. Hujan sering melanda kotanya. Jihoon berjalan pelan, di bawah payung birunya. Sambil menikmati suara rintikan hujan, Jihoon bergumam melodi asal.
Sampai di sebuah gang, Jihoon menghentikan langkahnya. Dia melihat Soonyoung, asik menghajar seseorang. Orangnya lebih besar dari Soonyoung. Soonyoung gak takut. Dia terus ngehajar orang di bawahnya. Hingga dia ngerasa selesai, Soonyoung menoleh kearah Jihoon. Jihoon diam. Tubuhnya kaku. Gak tahu harus ngapain.
Soonyoung tersenyum, dengan entengnya dia jalan mendekati Jihoon.
Soonyoung gak peduli hujan yang membasahi tubuhnya. Dia jalan dengan santai kearah Jihoon. “Jangan lambat-lambat kalo jalan. Bahaya disini. Lu bisa di rampok.”
Setelah berucap seperti itu, Soonyoung meninggalkan Jihoon.
Jihoon saat itu ngira. Mungkin Soonyoung habis gebukin preman kurang ajar, yang ngerampok dia.
Jihoon jalan lagi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Minggu selanjutnya, di hari yang sama. Hujan yang sama. Di gang yang sama. Jihoon melihat Soonyoung gebukin preman lagi. Kali ini ada 3 orang. Jihoon ngerasa ngelihat film action. Dia cuman diam. Sembunyi. Memantau dari jauh.
Waktu udah selesai, Soonyoung pergi gitu aja meninggalkan 3 orang yang tepar di bawah hujan.
Jihoon masih bingung. Kenapa Soonyoung suka gebukin orang?
Minggu selanjutnya Jihoon tahu segalanya. Hari itu hujan. Hujan deras sekali. Anginnya lebat. Jihoon takut. Dia jalan cepet-cepet. Takut kalo ada angin topan. Emang lebay.
Waktu lewat gang yang sama, kali ini dia ngelihat Soonyoung yang tepar, di gebukin sama 4 orang. Jihoon kaget. Dia sembunyi. Dia khawatir sama keadaan Soonyoung. Jihoon nunggu. Nunggu semua orang pergi dari situ.
Beberapa menit kemudian, preman-preman tadi pergi. Ninggalin Soonyoung di atas tanah.
Jihoon berlari mendekati Soonyoung. Wajah Soonyoung berdarah. Seragamnya kotor. Jihoon ngangkat Soonyoung pelan. Lengannya nahan tubuh Soonyoung.
Jihoon ribet sama tangannya. Dia buang payungnya, lalu bawa Soonyoung ke tempat teduh terdekat.
*****
Jihoon berhenti di salah satu supermarket. Dia dudukin Soonyoung pelan di bangku. Jihoon beli beberapa obat sama handuk. Gak lupa beli air mineral.
Dia jalan pelan mendekati Soonyoung. Soonyoung diem aja. Jihoon ngeringin tangan, wajah serta rambut Soonyoung pelan. Takut kalo Soonyoung kesakitan.
Setelah kelar, Jihoon mulai ngobatin luka-luka Soonyoung. Dengan telaten dia ngobatin luka Soonyoung. Pelan-pelan. Pas udah selesai Jihoon ngerapihin sampah-sampah, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Jihoon sama Soonyoung diam. Gak ada satupun yang bersuara. Mereka nunggu hujan reda.
“Lu gak mau tahu sesuatu?” tanya Soonyoung pelan.
Jihoon diam. “Kalo lu gak mau cerita gak masalah.” jawabnya.
Soonyoung diam. Lalu menghembuskan napasnya.
“Gua kesepian. Gua ceria di sekolah. Tapi di rumah, gua kesepian. Gua ngelampiaskan rasa kesel gua dengan mukulin orang. Gua mukulin preman. Preman-preman yang ngambil duit orang lain. Pokoknya gak ada hari gua gak gebukin orang. Tadi gua lagi apes. Mereka semua nyerang gua.”
Jihoon cuman diam. Dengerin cerita Soonyoung. Ternyata sosok yang dia sukai, gak seceria yang dia kira.
“Lu kenapa gak ikut taekwondo?” tanya Jihoon
Soonyoung tertawa. “Gua ikut. Tapi karena gua suka gebukin anak lain, gua di keluarin.”
“Kenapa gak nyoba boxing?”
Soonyoung diam, lalu tertawa. “Iyaya. Kok goblok ya gua.”
Jihoon tersenyum tipis. “Kalo mau, entar gua bilangin ke kakak sepupu gua. Dia jaga tempat boxing.”
Soonyoung nengok ke arah Jihoon. “Iya? Wah makasih. Lu baik banget.”
Jihoon ngangguk. Gak sadar kalo wajahnya memerah.
“Dan gua juga mau makasih sama lu. Udah bantuin gua tadi.”
Soonyoung tersenyum lebar. Di balas anggukan oleh Jihoon.
“Gua gak butuh makasih lu kok.”
“Terus gua harus gimana? Gua kan ngerasa utang budi.”
Jihoon mikir. Enaknya gimana.
“Kalo nemenin gua beli buku gimana?” tanya Jihoon ragu.
Soonyoung mikir bentar, lalu ngangguk. “Oke.”
“Oke?”
Soonyoung ngangguk lagi. “Iya.”
Jihoon tersenyum. “Makasih.”
Soonyoung terkekeh. “Sama-sama.”
Hujan sudah agak reda. Langit udah mulai menggelap. Jihoon harus pulang.
“Gua harus pulang. Lu gak papa sendirian?” tanya Jihoon sambil berdiri.
“Santai aja. Gua bisa sendiri.”
Jihoon ngangguk. “Yaudah gua duluan ya.”
“Oh iya, kapan kencannya?”
Jihoon berhenti. “Kencan?”
“Lu ngajak kencan kan?”
Jihoon tersedak. “B-bukan kencan. Gua minta nemenin buku.”
“Iya-iya. Gua anggep itu kencan. Jadi kapan?”
Jihoon memerah. “Uh, um besok? Jam 10.”
“Oke. Gua jemput ke rumah lu ya.”
Jihoon menatap Soonyoung heran. “Emang tau rumah gua?”
“Tau lah. Kan gua sering ngikutin lu.”
Jihoon diam. Soonyoung diam. Keduanya memerah.
“Um m-maksudnya, gua tau dari anak-anak.” ucap Soonyoung cepat-cepat.
Jihoon hanya diam. Wajahnya memerah. Dengan kaku dia mengangguk. “Em yaudah, gua duluan.”
“Ah, iya. Makasih, Jihoon.”
Jihoon berhenti, lalu menengok ke belakang. Senyum lembut, gak lepas dari bibirnya. “Sama-sama, Soonyoung.”