–, Hujan, Petir, Blonde boy

Chan berdiri di depan kios toko yang sedang tutup. Sendirian. Menunggu hujan mereda.

Dalam diam, Chan menatap langit yang sedang menangis. Mengumpat dalam hati, mengapa dia tidak membawa payung atau jaket untuk menghangatkan tubuhnya.

Dari kejauhan, Chan melihat seorang lelaki berambut blonde berlari kearahnya, sambil menutupi atas kepalanya dengan tas punggungnya.

Setelah tiba di samping Chan, lelaki bersurai blonde tadi buru-buru menurunkan tasnya dari atas kepalanya. Membersihkan air hujan dari jaketnya.

Chan menatap dalam diam. Melihat pria berambut blonde sibuk dengan urusannya.

Chan menghela napasnya. Lebih memilih mengeluarkan ponselnya. Ingin mengalihkan pikirannya.

Bersamaan dengan suara petir, yang membuat Chan terlonjak, lelaki bersurai blonde tadi, menatap Chan lekat-lekat.

“Jangan main ponsel. Bahaya.”

Chan kaget. Ia hanya mengangguk. Buru-buru mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam kantong.

Chan masih agak kaget. Suara lelaki asing tadi berhasil mencuri perhatiannya.

Suara petir kembali terdengar. Kali ini Chan berusaha tidak terlihat ketakutan. Gengsi dengan orang di sampingnya.

Hujan semakin deras, diiringi dengan angin lebat. Membuat Chan menggigil. Spontan, Chan memeluk tubuhnya sendiri.

“Dingin?”

Chan menoleh. Bibirnya gemetar. Anggukan pelan ia berikan.

Lelaki asing di samping Chan merogoh tas punggungnya, lalu menyerahkan jaket tebal ke arah Chan.

“Ini pake.”

Chan menatap jaket dan wajah orang itu bergantian.

“Gimana kamu?”

Orang di depan Chan menunjuk jaketnya sendiri.

“Masih ada. Gak basah. Masih parah kamu.”

Chan dengan ragu meraih jaket milik lelaki di sampingnya itu. Memakainya cepat, menyelimuti tubuhnya. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, saat merasakan kehangatan di tubuhnya.

“Makasih.” ujar Chan pelan, yang dibalas anggukan oleh si lelaki.

“No problem.”

Keduanya dilanda keheningan kembali. Sama-sama menikmati derai hujan yang lebat. Suara rintikan hujan yang ada di atap toko, mengiringi suasana keduanya.

Suara keroncongan keras membuat Chan menoleh. Menatap lelaki di sampingnya jenaka.

Chan terkekeh. Ia merogoh tas punggungnya, menyerahkan roti isi ke arah lelaki bersurai blonde yang ada di sampingnya.

“Ini. Semoga bisa ganjel perut mu.”

Lelaki di samping Chan memerah. Ragu-ragu ia mengambil roti yang Chan berikan. Menyantapnya pelan. Chan tersenyum kecil melihatnya.

Keduanya diam lagi. Menatap jalan di depan mereka dalam diam. Air hujan mengalir deras di atas jalanan aspal.

“Namaku Hansol.” ujar lelaki di samping Chan tiba-tiba, yang diketahui namanya adalah Hansol.

Chan menoleh, lalu mengangguk. “Aku Chan.”

“Chan.” gumam Hansol pelan. Menimbulkan tanda tanya dari Chan.

“Kenapa?”

“Gak papa.”

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga suara petir kembali menggelegar. Membuat Chan terlonjak, mendekati Hansol.

Hansol menangkap Chan. Merangkulnya hangat. Melihat wajah Chan yang cemas membuatnya tak tega.

“Takut petir?”

Chan mengangguk cepat. Masih menatap langit was-was.

“Gak papa. Ada aku.”

Chan hanya mengangguk. Setidaknya saat ini dia tak sendirian.

Tangan Hansol tak terlepas. Masih merangkul Chan. Menenangkan lelaki di sampingnya yang masih cemas.

“Gak papa.” ujar Hansol lembut. Mengusap bahu Chan menenangkan.

Entah mengapa Chan merasa tenang. Entah mengapa keberadaan orang asing di sampingnya membuatnya bersyukur. Bersyukur dia tak sendirian. Bersyukur lelaki di sampingnya ini memilih berteduh di tempat yang sama dengannya.

“Udah baikan?”

Chan ngangguk. Memilih menjauhkan tubuhnya. “Makasih.”

“Gak masalah.”

Keduanya berbincang ringan. Membicarakan segala hal. Entah mengapa Chan tak menyesal dengan hujan. Tak menyesal lupa membawa payung. Tak menyesal tak membawa jaketnya.

Hingga tak sadar hujan mereda. Membuat Chan mau tak mau harus pergi. Mau tak mau dia harus berpisah dengan lelaki blonde yang baru ia temui setengah jam yang lalu.

“Udah reda ” ujar Hansol sambil melihat langit yang sudah sedikit terang.

Chan ngangguk setuju. Hujan sudah reda.

“Oh iya, jaketmu.”

Hansol menggeleng. “Bawa aja. Kasih aku kapan saja.”

“Tapi aku gak tau gimana hubungin kamu.”

Hansol terkekeh. “Apa gunanya nomor ponsel.”

Hansol merogoh kantong celananya. Meraih ponsel hitamnya, siap mengetikkan sesuatu.

“Berapa nomormu?”

Chan agak memerah. Lalu ia mengucapkan nomornya pelan.

“Nanti aku hubungin ya. Aku harus pergi.”

Chan ngangguk. Ia melambai kearah Hansol. Menatap kepergian Hansol dalam diam.

Buru-buru Chan meraih ponselnya. Menghidupkannya cepat-cepat.

Sebuah notif pesan dari nomor tak diketahui, membuat jantungnya berdebar.

'Hai, ini Hansol. Mau ketemu besok? Di cafe TEEN.'

Chan tersenyum lebar. Buru-buru membalas pesan dari Hansol.

'Hai, ini Chan. Tentu aku mau. Aku juga mau ngembaliin jaketmu. Jam 4 sore besok?'

Tak berselang semenit, balasan dari Hansol membuat Chan kegirangan.

'Okey, Chan. See you.'

Chan tersenyum lebar. Sama sekali tak menyesal hujan turun hari ini.