–, I can hear you
Soulmate. Satu kata yang berhasil membuat Wonwoo berpikir dengan keras. Konsep takdir yang menyatukan sepasang insan, setelah keduanya menginjak umur 17 tahun.
Wonwoo adalah orang yang biasa-biasa saja. Membenarkan adanya gerakan tangan takdir. Wonwoo penasaran. Siapa takdirnya? Siapa belahan jiwanya? Siapa soulmate?
Seumur hidup Wonwoo, dia memikirkan konsep soulmate dan ikatan takdir. Berharap hubungannya sama seperti kedua orang tuanya.
Hingga suatu pagi. Setelah ia menginjak umur 17 tahun, seperti biasa ia melakukan kegiatannya. Pergi ke sekolah, dan bertemu teman-temannya. Namun hari itu berbeda.
Ia bisa mendengar suara seseorang di dalam pikirannya. Suara yang sangat familiar. Wonwoo bertanya-tanya. Siapa dia? Apakah itu soulmatenya?
Orang itu berbicara banyak hal. Mulai dari panasnya matahari, susahnya soal fisika, dan betapa menjengkelkannya guru mereka.
Wonwoo terkekeh dalam diam. Begitu lucunya orang itu.
Lalu saat makan siang di mulai, ia melihat Soonyoung. Soonyoung yang ceria. Soonyoung yang tersenyum lebar.
Soonyoung tak sengaja menatap Wonwoo. Keduanya saling tatap. Tak mengucapkan apapun.
'Astaga Wonwoo. Ganteng kayak biasa. Matanya astaga. Dia lihat aku? Hah? Asli tuh? Apa lihat ke belakangku? Mampus. Jangan kepedean, Nyong.'
Wonwoo tersentak. Melihat Soonyoung yang mengalihkan pandangannya, sibuk dengan yang lain.
Jantung Wonwoo berdetak kencang. Apakah barusan ia mendengar suara pikiran Soonyoung?
Apakah Soonyoung bisa mendengarkan pikirannya juga?
Wonwoo mencobanya.
'Soonyoung?'
Soonyoung tersentak. Dia diam. Matanya melirik Wonwoo. Patah-patah.
Wonwoo tertawa. Merasa benar dengan dugaannya.
Dengan pelan dia menghampiri Soonyoung. Duduk di depannya.
“Kita soulmate?”
Soonyoung menatap Wonwoo terkejut. Wajahnya memerah.
“M-mungkin.”
Wonwoo terkekeh. “Beneran soulmate kayaknya. Kamu bisa denger suaraku tadi kan?”
Soonyoung ngangguk pelan. Wajahnya masih memerah.
“Berarti dari lama kamu bisa denger suaraku?”
Soonyoung tampak berpikir. “Iya. Tapi aku gak tau kalau itu kamu. Kamu selalu penasaran sama soulmatemu. Mikir tentang konsep soulmate. Terus hari ini kamu mikir lucunya soulmatemu. Gitulah.”
Wajah Soonyoung memerah padam. Menjalar hingga lehernya.
Wonwoo terkekeh. “Aku juga barusan denger. Kamu bilang aku ganteng.”
Soonyoung terbatuk. “Jangan dibahas.”
Wonwoo tertawa. “Jadi, soulmate. Kapan kita kencan?”
Soonyoung menunduk malu. Matanya bergerak kesana kemari.
“Kapan aja.” Gumamnya pelan.
Wonwoo terkekeh. Menikmati tingkah Soonyoung yang malu-malu.
“Sekarang gimana? Kencan pertama nih. Mau pesen apa, soulmate?”
Soonyoung memerah. Memilih menyembunyikan wajahnya di balik tangannya.
“Uh, terserah. Terus, jangan manggil aku soulmate.”
Wonwoo mengangkat alisnya heran. “Emang kenapa? Kan bener kamu soulmateku. Emang mau dipanggil apa? Sayang?”
Soonyoung memukul Wonwoo. Salah tingkah dengan ucapannya.
“Soonyoung aja.” cicitnya pelan.
Wonwoo tertawa. Senang bahwa ia berhasil menggoda lelaki di depannya.
“Iya, Soonyoung sayang.”
Soonyoung merah padam. Memilih pasrah dengan godaan Wonwoo, yang menggetarkan hatinya.