–, Kakak kelas
Siapa yang gak tahu Jeonghan. Ketua osis dan idola semua angkatan. Ganteng, tinggi, ramah dan menawan. Semua orang jatuh cinta sama dia. Bertekuk lutut. Begitupula dengan Chan. Murid biasa yang suka sama kakak kelasnya.
Seperti remaja lainnya, Chan diam-diam suka kakak kelasnya. Lihatin dari jauh, memuja dari jauh, bahkan mengkhayal dari jauh. Seperti remaja pada umumnya.
Dia gak berani buat sekedar say hai ke kakak kelasnya. Dia juga gak mau di anggap sok kenal sok dekat. Chan pura-pura gak suka, padahal suka.
Disaat semua teman kelasnya heboh sama Jeonghan, Chan cuman diam. Di pojok kelas, sambil liatin langit yang sedang cerahnya. Padahal dalam hati dia juga heboh.
Chan suka kalau udah jam istirahat. Itu adalah kesempatan Chan buat ngelihatin Jeonghan bareng anak gengnya, yang jalan santai ke arah kantin.
Chan bakal makan di atap sekolahnya, yang ia akses secara ilegal, ngelihat Jeonghan dari atap, memuja si doi dari jauh.
Seperti saat ini. Chan makan sambil nungguin geng Jeonghan lewatin lapangan buat ke kantin. Anehnya mereka belum lewat. Chan nyeruput sodanya dalam diam. Matanya masih sliweran buat nyari Jeonghan. Dia udah lama gak liat si doi dari pagi.
Aneh. Chan bingung. Biasanya jam segini, Jeonghan dan kawan-kawan udah lewat diiringi teriakan adek kelas yang alay. Kemana Jeonghan? Apa dia gak masuk? Begitulah isi kepala Chan.
Chan menghela napasnya. Berbalik, untuk pergi dari atap.
Langkahnya terhenti saat lihat Jeonghan di depannya.
Chan melongo. Dia gak yakin. Apakah yang dia lihat itu beneran atau imajinasinya?
Chan menggelengkan kepalanya. Ia berbalik lagi. Melupakan bayangan Jeonghan yang ia lihat barusan. Memilih menatap lapangan lekat-lekat. Masih menanti keberadaan Jeonghan.
“Hei.”
Chan terlonjak. Menengok kearah samping. Wajah Jeonghan yang tampan sangat dekat dengan wajahnya.
“Uwaaa.”
Chan tersentak kaget. Otomatis menjauh.
Jeonghan terkekeh. Menikmati wajah Chan yang lucu.
“Hai.” ucap Jeonghan dengan senyum tipis di bibirnya.
Chan megap-megap. Tak tahu harus berucap apa.
“Lucu ya kamu.”
Wajah Chan memerah. Lebih memilih diam.
“Kenapa? Nyariin aku ya tadi?”
Chan menggeleng cepat. Wajahnya masih memerah.
“Gak usah bohong. Aku tahu kamu sering lihatin aku.”
Chan masih shock. Menatap Jeonghan dalam diam.
“Segitu gantengnya ya aku?”
Chan bingung harus menjawab apa. Ia anggukkan saja kepalanya.
Jeonghan terkekeh. Tangannya terjulur untuk mengusak rambut Chan pelan.
“Jangan lucu-lucu. Nanti aku suka, gimana?”
Chan memerah. Menyebar ke leher serta telinganya.
“Mau aku suka kamu?”
Chan masih tak bersuara. Ia bingung. Tentu saja ia ingin.
“Aku anggap sebagai iya.”
Jeonghan terkekeh. Menyangga wajahnya di tembok pembatas.
“Jadi, mau jadi pacarku?”