•Maling•
Wonwoo duduk di depan teras, sambil menikmati udara malam. Lelah habis membereskan dan merapihkan barang-barangnya.
Hari ini Wonwoo baru saja pindah ke rumah baru. Kedua orang tuanya saat ini sedang beristirahat. Mungkin sudah terlelap dalam tidur. Lagipula, ini sudah tengah malam. Kedua orangtuanya pasti lelah seharian.
Wonwoo menyesap kopi yang ia buat. Sambil menikmati langit malam.
Ia suka rumah barunya. Halaman depan rumah yang tidak begitu luas, serta pagar pembatas yang membatasi rumah di sebelahnya hanya sebatas pinggangnya. Dia mungkin bisa akrab dengan tetangganya.
Bosan melanda, Wonwoo mulai memainkan game di ponselnya. Sebuah suara aneh mengusik indra pendengarannya. Wonwoo mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Mencari dimana asal suara tersebut. Saat melihat sesosok yang mencurigakan, Wonwoo memasukkan ponselnya di saku celana, lalu mendekati sosok yang ia curigai.
******
Junhui mengumpat. Dia berlari secepat mungkin menuju rumahnya. Dia mengutuk Soonyoung yang enggan melepaskan dirinya, hanya untuk mendengarkan curhatan tak mutu dari bibir sahabatnya.
Junhui mengendap-endap mendekati pagar rumahnya. Berdoa bahwa orang rumahnya sudah tidur. Bisa tewas di tangan ibunya, jika dia tahu bahwa Junhui pulang terlambat.
Junhui mendorong pintu pagar rumahnya pelan. Tak bergerak. Dia mengumpat pelan. Ibunya benar-benar jahat kepadanya. Bagaimana bisa dia mengunci anaknya sendiri?
Junhui mengusak rambutnya kasar. Dia melihat kesekeliling. Sepi.
Dia memutuskan untuk memanjat pagar. Tak ada pilihan lain.
Dengan perlahan Junhui mulai memanjat. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara. Namun, naas. Sebuah suara membuatnya berhenti.
Junhui menengok. Terlihat seorang pemuda dengan rambut hitamnya yang berantakan. Serta tatapan yang mengunci tubuhnya. Sosok itu bersender santai di pagar rumahnya.
“Maling?”
Junhui melotot. Bagaimana bisa orang asing ini menuduhnya maling?
“Gua bukan maling!” geram Junhui. Aksi memanjat pagarnya terhenti, oleh cowok asing yang sok akrab dengannya.
“Kalo bukan maling terus apa? Kamu manjat pagar orang.”
Junhui merinding. Badannya merespon asing. Suara cowok di depannya sangat berat dan dalam. Tiba-tiba, perut Junhui terasa berputar.
“B-bukan urusan lu!”
Cowo di hadapan Junhui terkekeh. “Aku bisa laporin polisi sekarang juga.”
Junhui mengerang. “Udah gua bilang. Gua bukan maling!”
Junhui kesal bukan main. Cowo di depannya ini sok tahu.
“Terus kalo bukan maling apaan? Kamu manjat pager di jam segini.”
Emosi Junhui udah di ujung tanduk. Dia benar-benar emosi.
“Emang apa urusannya sama lu? Gak usah ikut campur lu!” bentaknya. Dia tak sadar sudah berteriak saat ini. Salahkan lelaki di hadapannya, yang membuatnya geram.
“Jun?”
Sebuah suara membuatnya Junhui terlonjak. Dengan patah-patah dia menengok. Terlihat ibunya yang memakai daster kembang-kembang, sambil memegang sapu ijuk di tangannya.
Junhui menelan ludahnya pelan.
“Hehe, ma.”
Ibunya mendelik. “Turun.”
Junhui menghela napasnya. Ini semua gara-gara cowo sialan itu.
Dengan pelan-pelan dia turun ke pekarangan rumah. Lalu melirik sinis lelaki samping rumahnya.
“Sialan lu.” ucap Junhui kesal.
Orang yang di semprot oleh Junhui, hanya terkekeh.
“Eh, nak Wonwoo. Belum tidur?” tanya ibu Junhui ramah sekali.
Junhui memutar bola matanya malas.
“Ah, malam tante. Baru aja kelar beres-beres.” ucap Wonwoo sambil tersenyum lembut.
“Betah-betah ya disini. Sering ajak keluar Jun, ya. Dia seumuran kok sama kamu.”
Junhui menggumam 'ogah' lalu di balas jitakan oleh ibunya.
“Yaudah kita masuk dulu ya, Wonwoo. Kamu buruan masuk. Biar gak masuk angin.” ujar ibu Junhui sambil terkekeh.
Wonwoo mengangguk. “Siap tante. Malem ya, tante.”
“Iya nak, malam.”
Wonwoo tersenyum. Lalu, berganti menatap Junhui.
“Malam, Jun.”
Junhui mendelik. Dengan santai di melengos. Tak membalas ucapan Wonwoo.
Wonwoo terkekeh. “Lucu juga.”
******
Wonwoo sudah siap memakai seragam sekolahnya. Dia duduk di teras rumah. Menunggu batang hidung tetangga sebelahnya.
Saat melihat Jun dan ibunya di pekarangan rumah, Wonwoo buru-buru berjalan mendekati pagar pembatas.
“Pagi, tante.” ucap Wonwoo ramah.
“Ah. Pagi, nak Wonwoo. Kamu satu sekolah sama Jun ya? Bareng Jun aja.”
Jun mengerang protes. Ibunya memukul pantat Jun keras.
“Temenin sana. Jahat banget kamu.”
Jun mengaduh. Lalu keluar dari rumahnya, dan berjalan menuju depan rumah Wonwoo.
“Ayo.” gumam Jun kesal.
Wonwoo terkekeh. Dia berpamitan dengan ibu Jun, lalu keluar rumah mendekati Jun.
“Pagi, Jun.”
Jun hanya menggumam. Wonwoo terkekeh. “Namaku Wonwoo.”
“Gak nanya.”
Wonwoo tertawa. “Galak banget.”
Jun mendengus. “Ayo buruan.”
Wonwoo mencekal tangan Jun. Menahan Jun untuk tidak bergerak.
“Kenapa?” tanya Jun heran.
Wonwoo mendekatkan wajahnya ke wajah Jun. Membuat Jun menjauhkan wajahnya spontan.
Tangan Wonwoo menahan kepalanya. Mereka saling tatap.
“A-apa?”
Wonwoo masih menatap lekat sosok di hadapannya.
“Coba merem.”
Jun memerah. “B-buat apa?”
“Shhh, merem aja.” bisik Wonwoo
Jun mau tidak mau menuruti perintah Wonwoo. Dengan pelan dia memejamkan matanya. Menunggu apa yang di lakukan Wonwoo. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat. Aneh sekali.
Sedangkan Wonwoo, dia menatap lekat wajah Jun. Menikmati wajah manis dan tampan Jun. Bulu matanya panjang. Hidungnya bangir. Bibir yang bergetar gugup.
Wonwoo terkekeh. Dengan pelan dia mengambil bulu mata yang menempel di bawah kelopak mata Jun.
“Udah.”
Jun membuka matanya. Melihat Wonwoo yang tersenyum tipis.
“Ada bulu mata jatuh.”
Jun diam. Wajahnya memerah. Dengan kaku dia menganggukkan kepalanya.
“Thanks.” gumamnya.
Wonwok tertawa. “Urwell. Ayo berangkat.”
Tangannya bergerak menarik tangan Jun. Menyeretnya untuk jelan bersamanya.
“Emang lu tahu sekolah lu?” tanya Jun masih agak gugup.
“Engga. Kan ada kamu.”
Jun memerah. Dengan pelan dia mengarahkan pandangannya ke tangan Wonwoo yang menggenggam tangannya.
Jun memerah. Kali ini dia diam saja. Membiarkan Wonwoo, menggenggam tangannya.