•Malu-malu kucing•
Minghao anaknya pemalu, pendiam, dan kalem. Dia sudah tinggal selama 6 bulan di Korea, dan masih belum memiliki satu pun teman. Dia punya teman. Namun satu tahun lebih tua darinya. Lebih tepatnya, kakak kelas Minghao. Sama-sama dari China. Karena itulah Minghao akrab dengannya.
Di kelas, Minghao lebih banyak diam. Dia berbicara jika ada yang mengajaknya berbicara. Mengeluarkan suara seperlunya. Hingga beberapa teman kelasnya mengira bahwa Minghao anak yang sombong.
Namun Minghao membiarkannya. Itu memang salahnya. Dia tidak ingin berbaur dengan mereka. Karena dia pemalu. Dia malu dengan aksen bahasa Korea-nya. Dia malu memiliki tubuh kurus dan mungil. Dia malu tidak bisa dengan lancar berbicara dengan orang lain. Sejujurnya dia benci pindah ke Korea. Sangat benci. Namun dia tidak bisa mengatakan hal itu, saat kedua orang tuanya bertampang bahagia.
Aktivitas Minghao jika di sekolah adalah kelas, atap, perpustakaan. Siklusnya itu saja. Namun anehnya, Minghao menikmati hal itu. Tidak pernah bosan. Dia tidak pernah ke kantin omong-omong. Dia selalu membawa bekal. Dan pergi ke atap untuk menyantap makanannya.
Seperti saat ini. Dia sedang menikmati semilir angin lembut, dan sinar mentari, tak lupa bekal makanan yang ada di tangannya. Minghao menikmati makanannya dengan pelan. Sambil sesekali bersenandung.
BRAKK
Minghao tersentak. Hampir saja bekal makanannya terjatuh.
Tampak seorang pemuda dengan rambut hitamnya yang agak berantakan, serta seragam sekolah yang tak rapih, menatap Minghao dengan datar.
Minghao hanya diam. Tak sadar bahwa ia berhenti mengunyah, hingga kedua pipinya menggembung.
Pemuda yang ada di depan pintu melangkahkan kakinya mendekati Minghao. Minghao tetap diam. Agak takut. Karena penampilan sang pemuda menakutkan.
Si pemuda berjongkok di depan Minghao. menatap Minghao dengan intens. Minghao yang ditatap seperti itu jadi gugup.
Tatapan mata sang pemuda sangat tajam. Tidak ada satupun ekspresi yang terlihat. Minghao merasa risih.
“Uhh.. Ada yang bisa ku bantu?” ucap Minghao pelan dengan aksen Korea-nya yang lucu.
Sang pemuda diam, lalu mengambil duduk bersila di hadapan Minghao.
Minghao menatap tak mengerti. Pemuda ini butuh apa?
Si pemuda menunjuk bekal makanan Minghao. Minghao menaikkan alisnya.
“Bekal?”
Si pemuda mengangguk. Minghao berpikir apakah orang ini ingin bekalnya?
“Kamu mau bekalku?”
Si pemuda diam. Menatap Minghao dengan lekat. Lagi-lagi Minghao risih. Wajahnya terasa terbakar. Mungkin karena efek matahari.
Si pemuda mengangguk pelan. Menatap bekal makanan Minghao dengan penasaran.
“Ini makanan China. Kamu ingin yang mana?”
Si pemuda tampak berpikir. Melihat isi bekal Minghao yang berisi beragam bentuk. Dia menunjuk sesuatu berukuran kecil dan berwarna putih kekuningan.
“Ah, dimsum? Kamu mau?”
Si pemuda menatap mata Minghao lagi. Lalu mengangguk.
Minghao mengambil makanan tersebut dengan sumpitnya, lalu mengarahkan ke arah si pemuda.
“Ini.”
Si pemuda diam. Tampak berpikir. Lalu membuka mulutnya. Minghao menyuapi pemuda asing di hadapannya sebuah dimsum.
Si pemuda mengunyah dengan perlahan. Tampak menerawang. Lalu mengangguk-angguk.
“Enak?”
Si pemuda ngangguk. “Enak.” ucapnya.
Minghao tersentak saat mendengar suara pemuda di hadapannya. Terdengar berat,dalam dan renyah. Entah kenapa Minghao bersemu merah.
“Maaf mengganggumu. Bukannya aku tidak sopan, tapi uangku baru saja di curi oleh temanku. Dan aku kemari. Aku tak bermaksud mengganggumu.”
Minghao mengangguk pelan. “Tak apa.”
Si pemuda diam. Menatap Minghao dengan intens. Sungguh Minghao sangat malu ditatap seperti itu.
“Namaku Jeon Wonwoo.”
Minghao mendongak. Menatap tangan Wonwoo yang mengajaknya bersalaman.
Minghao dengan ragu membalasnya. “Xu Minghao.”
Wonwoo-nama pemuda di depannya-mengangguk mengerti.
“Kamu anak baru?”
Minghao ngangguk. Dia lupa dengan makanannya.
“Baru 6 bulan.”
Wonwoo mengangguk paham. “Pantas, aksenmu berbeda.”
Minghao lagi-lagi tersentak. Malu akan aksennya.
Sepertinya Wonwoo sadar akan itu. “Ah. Maafkan aku. Tapi, jujur aku menyukai suaramu. Suaramu lembut dan juga...”
Minghao menatap Wonwoo penasaran.
“Imut.”
Blush
Minghao memerah. Baru pertama kali ini seseorang mengatakan dirinya imut.
“A-apa? A-aku tidak...”
Wonwoo terkekeh. “Sepertinya kamu malu dengan suaramu? Padahal aku menyukainya.”
Minghao hanya menunduk. Memainkan makanannya.
“Hei.”
Minghao mendongak.
“Mau jadi pacarku?”
Minghao bersemu merah. Apa-apaan pemuda ini. Baru kenal sudah mengajaknya berpacaran.
“Ki-kita kan baru kenal.”
Wonwoo mendekatkan wajahnya ke arah Minghao, membuat Minghao memundurkan kepalanya.
“Aku sudah kenal denganmu sejak lama.”
Minghao menatapnya tak mengerti. “Maksudmu?”
“Nanti kau juga tahu.”
Minghao menatapnya tak mengerti.
“Jadi, mau jadi pacarku? Aku bisa mengajarimu bahasa korea. Aku bisa membimbingmu.”
Minghao diam. “Kenapa aku harus mau menerimamu?”
“Karena aku lelaki baik. Padahal aku populer. Kenapa kamu tidak tahu aku?”
Minghao hanya diam. Bagaimana dia tahu jika kerjaannya di sekolah hanya belajar, diam di kelas, di atap dan di perpustakaan.
“Tak punya teman.”
Kedunya diam. Wonwoo menatap Minghao lekat. Lalu menghela napasnya pelan.
“Maka dari itu, jadilah pacarku dan juga temanku.”
“Tapi aku tidak suka kamu.”
Wonwoo diam. Dia makin mencondongkan tubuhnya. Membuat Minghao harus memundurkan kepalanya.
Tangan Wonwoo terangkat. Menyentuh pipi Minghao. Bisa ia rasakan ibu jari Wonwoo mengusap bibirnya lembut dan perlahan. Menatap Minghao dengan lekat. Tak berniat memutuskannya.
“Yakin tak suka padaku?” bisik Wonwoo yang membuat Minghao memejamkan matanya.
Wonwoo terkekeh. Lalu menjauhkan badannya, dan mengusap rambut Minghao lembut.
“Aku teman Junhui. Aku tahu darinya. Aku sering melihatmu bersamanya. Tapi aku malu untuk berkenalan denganmu. Hari ini temanku, Junhui dan juga Soonyoung merampas uangku, dan menyuruhku ke atap. Memaksaku kemari. Dan bilang bahwa ada makanan untukku. Aku tak tau bahwa makanan yang mereka maksud adalah kamu.”
Minghao bersemu merah. Mendengar ucapan Wonwoo yang agak ambigu.
“Bagaimana mereka tahu aku disini?”
Wonwoo tampa berpikir. “Mungkin dari Jun? Aku juga tak tahu.”
Keduanya diam. Wonwoo tampak diam. Menatap langit. Enggan menatap Minghao.
Suara bel sekolah membuat keduanya tersentak. Wonwoo menatap Minghao yang ternyata juga menatapnya balik.
“Aku tidak memaksamu menjawabku. Aku tahu kamu tidak menyukaiku.” ujar Wonwoo sambil bangkit dari duduknya. Membersihkan celananya.
“Aku pergi duluan, okey? Makasih atas makanannya.” ujar Wonwoo laku berbalik menuju pintu keluar.
“Tunggu!”
Wonwoo berhenti. Menatap Minghao dalam diam.
“B-bagaimana jika, uuhh.. kita berteman dulu? Maksudku... uhhh agar aku tahu lebih banyak tentangmu.” ucap Minghao sambil menunduk. Malu dengan situasi saat ini.
Wonwoo terkekeh. Membuat Minghao mendongak.
“Tentu saja. Aku juga mau kenal lebih dekat denganmu.”
Minghao bersemu merah. Tak sadar bahwa dia menggigit bibirnya.
“Aku balik, okey? Nanti aku akan mendatangi kelasmu.”
Minghao hanya ngangguk.
“Oh iya.” ujar Wonwoo tiba-tiba.
Wonwoo menatap Minghao lekat. Minghao menatapnya penuh tanya.
“Sudahkah aku bilang bahwa kamu manis dan juga imut?”
Minghao tersentak. Bisa ia rasakan wajahnya memanas. Wonwoo terkekeh.
“Jadi makin imut.”
Setelahnya Wonwoo berbalik, pergi meninggalkan Minghao, yang masih berdiri tak percaya mendengar ucapan Wonwoo.