Mingyu berdiri di dapur, fokus memasak untuk pacarnya. Menghiraukan tatapan Minghao yang intens dari meja makan.

Dia fokus menyiapkan bahan-bahan yang ia perlukan. Membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang sekiranya bisa ia pakai. Ia meletakkan bahan-bahan tadi diatas konter. Lalu menuju ke meja makan untuk mengambil bumbu, yang mungkin dipakai Minghao saat makan tadi.

Dia berdeham untuk menghilangkan suasana awkward saat ini. Dia buru-buru mengambil sebotol lada, namun langkahnya terhenti saat Minghao menahan pergelangan tangannya.

“Kenapa, Hao?”

Minghao tidak bisa menghentikan tubuhnya untuk mendekati Mingyu. Nafasnya semakin cepat dan menerpa wajah Mingyu.

Mingyu menjatuhkan matanya menatap bibir mungil Minghao yang memerah.

“H-hao?” bisiknya pelan. Minghao melangkah semakin dekat. Ia bisa merasakan napas Mingyu menerpa wajahnya.

“Mingyu-” matanya beralih menatap bibir Mingyu. “Shit.”

Minghao maju kedepan, menempelkan bibirnya dengan bibir Mingyu. Bisa ia rasakan Mingyu tersentak, namun dia tidak menarik dirinya.

“Shit.” gumam Mingyu di bibirnya. Minghao hendak menarik diri, namun tangan Mingyu menahan kepalanya,dan menariknya lebih dekat, bibir menekan semakin dalam kearah Minghao.

Minghao mengerang dan menyelipkan tangannya melingkari leher Mingyu. Menariknya makin dekat.

Minghao tidak bisa menahan erangannya saat tangan lebar Mingyu meremas keras pantatnya. Mingyu menggunakan momen itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Minghao yang hangat. Mengeksplorasi seluruh isi mulut kekasihnya. Menggoda langit-langit Minghao dengan sensual. Minghao mengerang sejadinya.

Dia merasa bahwa Mingyu mendorongnya ke ruang tengah. Menindihnya di atas sofa abunya. Tangan besar Mingyu berada di pinggangnya.

Minghao menggerakkan jarinya ke belakang kepala Mingyu. Meremasnya. Menyalurkan rasa nikmat yang ia rasakan. Lidahnya berusaha melawan Mingyu. Mendorongnya, yang makin membuat Mingyu semakin liar.

Minghao mengerang. Tubuhnya terasa panas. Mingyu menggesekkan ereksi keduanya bersamaan saat merasa posisi mereka di sudut yang tepat.

Mingyu memusatkan semua indranya hanya pada Minghao. Yang kini di bawah nya. Mengerang dan menggeliat tak nyaman. Mingyu masih menjelajahi mulut Minghao. Merasakan dan mengecap segala inci yang ada di mulut Minghao. Tangannya berkeliaran menyentuh tubuh lelaki yang ada dibawahnya. Mulut keduanya berpisah saat Mingyu mulai melepas pakaian kekasihnya.

Mingyu menarik kaos Minghao dengan mudah, melepasnya dari tubuh Minghao dan menjatuhkannya ke atas lantai. Begitupula celana Minghao, ia melepasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Menampilkan tubuh polos Minghao yang putih bersih. Membuat Mingyu tanpa sadar menjilat bibirnya yang kering.

Tangan Mingyu bergerak melepas sabuknya. Menariknya dan menjatuhkan ke atas lantai. Minghao menatap Mingyu dengan nafas terengah-engah dan wajah yang memerah.

Mingyu buru-buru melepas celana jins serta celana dalamnya. Membuka kaos hitamnya, menampilkan tubuhnya yang besar dan berotot.

“Shit.” gumam Minghao.

Mingyu menyeringai. “Senang dengan yang kamu lihat?”

Minghao memerah. Mingyu mendekati Minghao. Menyatukan bibir mereka kembali. Mingyu menggerakkan tangannya ke puting Minghao, mula-mula menggosok dengan lembut, kemudian dia mulai mencubit dan memuntirnya. Minghao mengerang sebagai respon.

Mingyu melepas pagutannya. Mulai mencium dan mengisap rahang Minghao. Menggigitnya lembut. Mingyu mulai menelusuri leher Minghao. Membuat sang empu mendongak. Memberi akses agar Mingyu semakin mudah. Menjilat, mengecup dan menggigitnya. Menghisap serta membuat beberapa tanda yang akan menghilang dalam beberapa hari. Minghao mendesah saat Mingyu menghisap area sensitifnya.

Mingyu mencium tulang kerahnya, menggigitnya dan menjilatnya sensual. Dia terus mencium, bergerak turun dan turun ke bawah tubuh Minghao, dari tulang dada ke pusar, ke seluruh tubuh pucat Minghao.

Dia mencengkeram pinggul Minghao erat-erat, menjepitnya ke sofa, saat dia bergerak ke bawah kearah penis Minghao yang sudah tegak memerah. Meminta untuk dilahap.

Mingyu menatap ekspresi Minghao yang keenakan. Dalam sekali waktu, dia melahap penis kekasihnya. Minghao mengerang dan berteriak secara spontan. Melengkungkan punggungnya.

“Hah..hahh..Mingyu..”

Mingyu menghisap lebih keras. Hingga pipinya menghilang. Hanya menghisap ujung penis Minghao. Yang membuat Minghao menggila.

Dia meremas sofa yang ada di bawahnya. Menyalurkan rasa nikmatnya.

Mingyu mulai menaik turunkan kepalanya. Membuat penis Minghao menyentuh tenggorokannya.

Minghao mengerang. Semakin meremat sofanya gemas.

“Mingyu... Aku-aku... Aku mau...” erang Minghao saat ia mengeluarkan orgasme pertamanya. Tubuhnya bergetar menggelinjang. Mingyu menelannya. Menghisap ujung penis Minghao tak bersisa.

Tubuh Minghao bergetar atas stimulasi yang masih ia rasakan. Napasnya terengah-engah.

Mingyu melepaskan kulumannya. Menatap wajah Minghao yang sayu.

“Jangan bilang kamu udah capek?” ujar Mingyu sambil menyeringai.

Minghao berdecak. “Berisik.”

Mingyu tertawa. Mengecup bibir Minghao lalu turun ke dadanya. Mingyu mengecup puting Minghao, memainkannya dengan lidahnya, dengan ringan dia menggigitnya gemas. Minghao merasa kewalahan dengan sentuhan Mingyu.

“Ngahh... Hahhh... Ahh...”

Mingyu melepaskan kulumannya dari puting Minghao dan bergerak menuju bawah Minghao. Menggenggam penis Minghao yang setengah keras.

“Kamu baru keluar dan udah tegak lagi?”

Minghao mendesah panjang. Mingyu menurunkan wajahnya untuk menjilat bola-bola Minghao. Menggodanya. Minghao bisa melihat dunianya memutih.

“Min-mingyu... Please...”

Mingyu menekuk lutut Minghao dan melebarkannya. Mendorongnya agar menempel di dada Minghao. Menampilkan lubang merah muda yang menggoda Mingyu.

Mingyu menurunkan lidahnya menuju lubang Minghao. Menelan lubang Minghao, hingga hidungnya menempel di kemaluannya. Menjilat perlahan pinggiran lubang Minghao. Menusuk-nusukkan lidahnya di lubang Minghao. Mingyu menggenggam kedua pantat Minghao keras. Melebarkannya, hingga lubang Minghao terbuka. Mingyu memasukkan lidahnya ke lubang Minghao. Ia meronta. Merasakan sensasi yang baru ia rasakan.

“Ahh... Hahhh... Gyu..”

Tangan kekar Mingyu menggenggam pinggul Minghao yang melompat dari sofa. Mingyu terus fokus bekerja pada lubang Minghao. Erangan Minghao yang memabukkan, membuat Mingyu semakin liar untuk memainkan lubang Minghao. Menjulurkan lidahnya keluar masuk lubang Minghao.

“Ngahh... Ahhh.. Hahh”

Mingyu mengaduk-aduk lubang Minghao. Hingga terasa basah dan lembab. Diam-diam Mingyu memasukkan satu jari kedalam lubang Minghao.

Minghao menjerit. Rasa panas dan tak nyaman ia rasakan di dalam lubangnya.

Mingyu mulai memasukkan jari kedua, tangannya yang bebas ia gunakan untuk mengelus paha Minghao agar ia rileks.

Minghao menatap Mingyu dengan kakinya yang gemetar.

“Rileks, baby.” ucap Mingyu dengan suaranya yang dalam.

Minghao bergetar. Menahan orgasmenya hanya karena mendengar suara Mingyu.

Mingyu membiarkan matanya menatap wajah Minghao, sementara dirinya sibuk menggerakkan jarinya ke dalam dan keluar.

“Yes... Ahhh... Mingyu...” desah Minghao saat Mingyu menyentuh prostatnya.

Mingyu mulai menambahkan jari ketiga. Mempersiapkan lubang Minghao untuk penisnya yang sudah keras sedari tadi.

Jari-jarinya meluncur keluar masuk. Mingyu sengaja menyentuh prostat Minghao berulang kali.

“Shit... Mingyu.... More... Ahhh..”

Mingyu mengeluarkan jarinya. Yang membuat Minghao mengerang tak rela.

Dengan lembut dia melebarkan kedua kaki Minghao. Memposisikan penisnya di lubang Minghao. Menggodanya sedikit.

“Mingyu..”

Mingyu menaikkan pandangannya. Menatap Minghao yang sudah memerah. Napasnya terengah-engah.

“Yes, baby?”

Minghao mengerang. Mingyu terkekeh. “You like it when i call you baby. Isn't it?”

“Yes..”

Minghao melihat penis Mingyu yang besar dan memerah. Membuat Minghao sedikit takut. Apakah bisa masuk ke dalam lubangnya.

Mingyu menarik penisnya sedikit lalu mendorongnya masuk. Menguburnya ke dalam lubang Minghao. Mengambil napas dalam-dalam untuk mengendalikan diri. Dinding lubang Minghao mencengkram penisnya erat. Membuat Mingyu menggeram.

Mingyu mulai mengeluarkan dan memasukkan penisnya cepat. Minghao berteriak. Rasa sakit bercampur dengan kenikmatan membuatnya menggila. Dia mencengkeram rambut Mingyu, menarik kepala Mingyu lebih dekat, menuntut untuk dicium.

Mingyu melahap mulut Minghao ketika dia mendorong langsung ke prostat Minghao berulang-ulang. Satu tangan meraih ke bawah untuk membelai penis Minghao. Tangan Minghao menjelajahi dada dan punggung Mingyu.

Mingyu menggeram di dalam mulutnya, dorongannya menjadi kasar. Tubuh Minghao bergetar. Dia bisa merasakan orgasme keduanya akan datang. Dia mencoba menahannya

Dorongan Mingyu semakin tak menentu. Dinding-dinding Minghao mencengkram penisnya tak terkendali. Mingyu bisa Merasakan dirinya dekat.

“Gyu... Hahh... Aku...”

Mingyu menggeram. “Yes, baby. Together.”

Dia berhasil melakukan beberapa dorongan lagi, sebelum dia meledak ke dalam tubuh Minghao, mendorong sedalam mungkin di lubang Minghao.

Keduanya menggelinjang. Menikmati orgasme mereka.

Napas tak beraturan memenuhi ruangan. Mingyu mencabut perlahan penisnya. Membuat sperma Mingyu mengalir keluar.

Mingyu jatuh diatas tubuh Minghao. Wajahnya bersembunyi di leher Minghao. Mengecup leher serta bahu Minghao lembut.

Napas Mingyu menggelitik leher Minghao. Namun dia menikmatinya. Tangannya melingkari tubuh Mingyu yang berkeringat.

“Wow. Tadi itu sangat. Panas.” ujar Mingyu sambil mengecup pipi Minghao.

Minghao terkekeh. “Sangat panas.”

Mingyu bangkit, lalu menatap Minghao dalam.

“I love you.”

Minghao tersentak. Lalu dia tersenyum lembut. “Love you too.”

Mingyu mengecup bibir Minghao.

“Do you want to take a bath together, baby?”

Minghao memerah. Dengan malu dia mengangguk.

“Sure.”