–, Morning
Pagi itu, hujan deras sekali. Langit benar-benar mendung. Seperti melampiaskan kemurungannya. Seokmin membuka mata. Bangun dari tidurnya. Ia menatap jam yang tergantung di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi lebih 10 menit.
Seokmin menguap. Merenggangkan otot-ototnya. Untung saja ia bekerja nanti siang. Bersyukur ia mendapatkan bagian kedua.
Kepalanya menengok ke samping kanan. Terlihat Jisoo masih terlelap di alam mimpi. Wajahnya tenang. Polos. Seperti seorang bayi. Seokmin tersenyum lembut. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut, yang menutupi mata kekasihnya.
Seokmin bangkit. Mengecup lembut kepala Jisoo, lalu beranjak pergi dari kasurnya.
Kakinya ia langkahkan menuju arah dapur. Memutuskan untuk membuat sarapan, serta secangkir kopi dan segelas susu untuk Jisoo.
Ia mengambil sebungkus roti dari lemari dapurnya. Mengambil mentega dan pisau roti dari nakas dapur.
Ia oleskan beberapa lembar roti dengan mentega. Ia taburkan dengan meses coklat.
Setelah puas membuat sarapannya, Seokmin merebus air. Mengambil cangkir favoritenya, dan mug sedang untuk susu coklat Jisoo.
Sembari menunggu, Seokmin berjalan ke arah ruang tengah. Memilih menyalakan televisi untuk mengenyahkan keheningan.
Seokmin kembali ke arah dapur. Mematikan kompor, lalu mengangkat panci ke atas kain bersih.
Tangannya bergerak mengambil toples yang berisi kopi. Ia sendokkan beberapa, memberi setengah sendok makan untuk gulanya.
Seokmin mengambil susu coklat Jisoo yang ada di atas nakas. Mengambil 2 sendok makan, lalu ia masukkan ke dalam gelas.
Setelah selesai, tangannya bergerak menuang air panas ke dalam cangkir dan mug Jisoo. Setengah gelas kira-kira.
Seokmin meletakkan kembali panci di atas kain bersih. Ia tambahkan air biasa, agar tidak terlalu panas.
Setelah mengaduk keduanya, Seokmin membawa ke ruang tengah. Meletakkan di atas meja, beserta sarapannya yang sudah ia buat.
Seokmin mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Memilih menyandarkan punggungnya. Menonton tayangan tv di pagi hari.
Tangannya mengambil cangkir yang berisi kopi. Menyeruputnya pelan. Menikmati pagi hari ditemani derasnya hujan, yang menenangkan jiwa.
Jisoo berjalan ke arah Seokmin. Wajah khas bangun tidur. Matanya masih setengah sadar. Seokmin melihatnya. Terkekeh dengan sikap kekasihnya.
Ia letakkan kopinya kembali di atas meja. Tangannya merentang lebar, menanti Jisoo ke dalam dekapannya.
Jisoo tersenyum. Memilih duduk di depan Seokmin, di antara kedua pahanya.
Ia sandarkan punggungnya, di dada bidang Seokmin. Memilih menyamankan tubuhnya, menikmati dekapan Seokmin yang hangat.
“Kok udah bangun?”
Jisoo bergumam. Memilih mengusap pelan tangan Seokmin yang ada di perutnya.
“Gak ada kamu tadi.”
Seokmin terkekeh. Ia mengecup lembut ceruk leher Jisoo.
“Baru kutinggal ke dapur udah kangen.”
Jisoo menggerutu. Memukul paha Seokmin keras.
“Cerewet.”
Seokmin tertawa. Mengeratkan pelukannya. Ia menyesap aroma rambut Jisoo yang harum. Ia daratkan kecupan-kecupan kecil di pipi Jisoo. Membuat Jisoo tertawa geli.
“Good morning, baby.” bisik Seokmin lembut. Membuat telinga Jisoo memerah.
“Morning.” balas Jisoo malu-malu.
Seokmin terkekeh. Lebih memilih mengeratkan pelukannya, menikmati tingkah Jisoo yang menggemaskan.