Nasi Padang
Minghao tertawa kecil, ketika wajah Mingyu terlihat terganggu.
“Alay lu. Gua baru tau lu tinggal sendirian.”
Mingyu tak ada niatan mengajak Minghao masuk ke dalam kos nya. Keduanya masih betah berhadapan di depan pintu.
“Lu mau apa?”
Minghao masih menahan tawa. Mengingat wajah Mingyu yang seperti wajah-wajah orang tersiksa.
“Ambil buku taneman lu.”
Mingyu berdecak jengkel.
“Ah, ngerepotin orang aja lu.”
Minghao tertawa keras. “Baperan lu. Mana cepet. Gua sibuk.”
Mingyu memutar matanya malas. “Bacot.”
Mingyu berbalik mengambil buku miliknya, menyerahkan secara tak ikhlas ke arah Minghao.
“Pergi lu. Gua gak bisa lama-lama deketan sama banci.”
Minghao tertawa remeh. “Tadi aja lu aneh. Sekarang balik lagi normalnya.”
Minghao menyerahkan nasi padang yang sudah ia beli ke dada Mingyu.
“Ambil. Gua gak tau lu udah makan apa belum. Kalo pun lu jijik buat makan ya buang aja.”
Mingyu dengan terpaksa menangkap bungkus kresek berisikan nasi padang.
“Eat well. Thanks bukunya.”
Minghao tersenyum simpul sambil membalikkan badannya, pergi meninggalkan kamar kos Mingyu.
DEG
Lagi-lagi dada Mingyu terasa geli.
“Gua kenapa sih?”
Mingyu berucap lirih. Entah kepada angin atau ke dirinya sendiri.