–, Ouija

Soonyoung baru saja membeli papan permainan yang sedang hits saat ini. Namanya papan Ouija. Permainan horror yang ingin ia mainkan. Ia membelinya di salah satu website resmi, yang terkenal menjual barang-barang horror.

Kini papan yang ia inginkan sejak dulu, ada di tangannya. Rencana awal, ia ingin memainkannya sendiri. Namun, jika dipikir-pikir berbahaya juga. Akhirnya, Soonyoung memutuskan untuk bermain bersama sahabatnya, Wonwoo. Lagi-lagi Wonwoo jadi korban penasaran Soonyoung.

Soonyoung buru-buru mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan untuk Wonwoo. Agar lelaki itu ke rumahnya sekarang.

Setelah mengirimkan pesan, Soonyoung meletakkan papan Ouija di atas kasurnya. Berharap papan itu akan berkerja.

*****

Disinilah keduanya. Wonwoo serta Soonyoung duduk berhadapan. Di tengah mereka ada papan Ouija. Kedua tangan mereka menyentuh penunjuk yang memiliki kaca pembesar di tengahnya.

Dalam papan ouija terdapat huruf dari A hingga Z, kemudian penomeran mulai dari 0 sampai 9, terdapat kata “YES” dan “NO”, “HOME”, dan “GOOD BYE”.

Sebelum memulai permainan, Wonwoo serta Soonyoung harus menyiapkan lilin untuk penerangan, dan tempat yang remang-remang. Setelah berdiskusi dengan Soonyoung yang lebih banyak ngotot, akhirnya mereka bermain di loteng rumahnya.

Setelah sudah siap, kini Wonwoo dan Soonyoung saling pandang. Lilin sudah di nyalakan di samping papan Ouija. Penunjuk sudah siap di tengah papan. Jari telunjuk keduanya sudah menempel di penunjuk.

Dengan agak ragu-ragu, Soonyoung berucap, “Roh, roh yang ada di sini ... Roh, roh yang ada di sini ... Roh, roh yang ada disini ... Tolong keluarlah dan bermain bersama kami!”

Soonyoung mengucapkan mantra itu, sambil menggerakkan penunjuk memutar secara perlahan. Soonyoung mengucapkan mantra itu berulang kali sambil memutar penunjuk di telunjuknya.

Penunjuk yang mereka sentuh mulai memberat. Wonwoo serta Soonyoung saling pandang.

Soonyoung mengkode Wonwoo untuk menanyakan pertanyaan kepada roh yang sudah hadir.

Wonwoo berdeham. Dengan agak ragu dia berkata, “Um, apakah disini ada banyak hantu?”

Soonyoung mendelik. Masalahnya ini rumah Soonyoung.

Tiba-tiba penunjuk bergerak pelan ke pilihan “YES” membuat Soonyoung menatap horror papan Ouija di bawahnya.

Wonwoo menahan tawanya. Lalu mengode Soonyoung untuk bertanya.

“Apakah Wonwoo sedang menyukai seseorang?”

Wonwoo serta Soonyoung saling pandang. Tiba-tiba penunjuk bergerak liar, dan kembali ke jawaban “YES”.

Soonyoung mengangkat alisnya penasaran. Sebuah senyum lebar terpampang di bibirnya.

“Apakah aku kenal dengannya?”

Penunjuk kembali bergerak liar, dan kembali berhenti di pilihan “YES”.

Wonwoo tampak diam saja. Mempersilahkan Soonyoung, untuk menguasai papan Ouija di depan mereka.

“Siapa namanya?”

Penunjuk tampak diam, lalu bergerak pelan. Menuju ke huruf S, lalu O, bergerak liar, lalu kembali ke huruf O, bergerak lagi ke huruf N, lalu turun ke huruf Y, lalu menggeser drastis ke samping ke huruf O, lalu bergeser lagi dengan cepat ke huruf U, bergeser lagi ke kiri berhenti di huruf N, dan bergerak naik ke huruf G.

Penunjuk diam. Soonyoung tampak tak percaya. Dia perlahan mengangkat wajahnya menatap Wonwoo. Yang ternyata sudah menatap lekat Soonyoung.

“Won.”

Wonwoo hanya diam. Dengan pelan dia berucap, “Permainan telah berakhir.”

Tangannya menggerakkan penunjuk kearah pilihan “GOODBYE”, lalu memutar penunjuk secara perlahan. Saat dirasa ringan, dia menghentikan gerakannya. Lalu meniup lilin yang ada di samping papan Ouija.

Setelahnya, keheningan melanda keduanya. Soonyoung menatap Wonwoo dengan lekat. Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya.

“Won.”

“Nyong.”

Soonyoung diam. Dia mempersilahkan Wonwoo untuk menjelaskan ini semua.

Wonwoo terlihat mengusak rambutnya, lalu menghela napasnya.

“Terserah kamu mau nganggep apa masalah yang tadi. Tapi kalo kamu minta aku jawab jujur, iya. Aku udah suka kamu. Dari dulu.”

Soonyoung diam. Agak tak percaya dengan ucapan Wonwoo.

“Aku serius. Terserah kamu mau percaya atau gak.”

Kali ini Wonwoo menegaskan kembali. Tampak tak peduli juga.

“Ini udah selesaikan? Aku mau balik.”

“Tunggu!”

Soonyoung nyegah Wonwoo buat pergi. Wonwoo menatap Soonyoung lekat. Tampak menyembunyikan ekspresinya.

“A-aku juga suka kamu.” Ucap Soonyoung pelan.

Wonwoo menggeleng. “Kamu gak perlu gitu, aku tahu kamu kasihan sama aku.”

“Enggak! Aku gak bohong. Aku juga suka kamu. Dari smp.”

Wonwoo menatap lekat Soonyoung. Keduanya saling tatap. Entah berapa lama.

“Beneran?” tanya Wonwoo meminta kepastian.

Soonyoung ngangguk. “Iya. Iya, Wonwoo.”

Wonwoo tersenyum lembut, lalu menarik Soonyoung ke dalam dekapannya.

“Gak sia-sia aku main permainan gak jelas ini sama kamu.”

Soonyoung terkekeh. “Gak nyangka juga aku bakal berfungsi beneran papannya.”

Wonwoo hanya tersenyum. Tak membalas ucapan Soonyoung. Tiba-tiba seringai ganjal nampak di bibir Wonwoo.

“Ayo turun. Kita tinggal aja papannya disini.” ujar Wonwoo sambil melepas dekapannya, lalu menggenggam tangan Soonyoung. Menariknya bangkit.

Soonyoung ngangguk. Lalu memandang papan terakhir kalinya. Seperti mengucapkan terimakasih.

Setelahnya, Soonyoung berjalan bersama Wonwoo. Tak tahu, jika sejak awal Wonwoo lah yang menggerakkannya.