OUTDOOR

Langkah kaki Mingyu ia seret menuju bangku mejanya. Wajahnya terlihat malas dan ogah-ogahan. Kedua netra milik Mingyu ia lirikkan ke arah Jihoon yang sedang memasang senyum puas melihat kehadiran sobatnya itu.

Hidungnya mendengus. Mulutnya menguap malas seakan tak ada gairah hidup.

“Ck. Males banget dah.”

Mingyu bergumam sendiri sambil melihat ke arah luar jendela.

“Apasih yang lu gak males.” Tukas suara lain ikut menimpali.

Mingyu melirik sinis belakang kepala Minghao yang ada di depannya.

“Gak usah banyak bacot.”

Tak ada balasan apapun hingga lelaki paruh baya dengan kumis timis di atas bibirnya, memasuki ruangan kelas.

Mingyu mendesah pelan. Telihat benci menatap kehadiran gurunya. Sudah betul-betul wali kelasnya itu tak datang lama karna urusan pekerjaan di luar kota.

“Selamat pagi semua, hilangkan wajah malas kalian, telihat jelas kalian tak senang gurumu datang.”

Suara erangan protes mulai terdengar dari mulut semua siswa.

“Baik, baik. Untuk kali ini kita tidak belajar materi. Bapak akan memberikan informasi penting untuk kalian semua.”

Seluruh siswa menatap guru yang ada di depannya penasaran.

“Berhubung ajaran semester 2 ini baru dimulai, kita akan mengadakan pembelajaran outdoor.”

Si bapak, yang biasa dipanggil oleh anak-anak lain pak Wasik, mulai menjelaskan dengan detail.

“Sesuai dengan peraturan sekolah, setiap kelas dipersilahkan mengadakan evaluasi tahunan. Bapak mengambil awal semester karna kalian pasti akan tersiksa di tengah sampai akhir semester.”

Pak Wasik memberi jeda sembari menyapu pandangannya ke seluruh siswa. “Maka dari itu, kita akan mengadakan pembelajaran di luar ruangan selama 2 hari.”

Reaksi para siswa bergemuruh. Ada yang senang, tak sabar, ada pula yang tak suka.

Mingyu mengerang protes. Ia tahu kalau pembelajaran ini tidak lah enteng.

“2 hari ngapain aja pak?” Mingyu mulai bersuara.

“Tentu saja belajar. Kalian penasaran bukan? Siapkan hati dan fisik kalian, karna pembelajaran kali ini sangat berharga.”

Mingyu memutar bola matanya malas.

“Baik, itu saja dari bapak. Untuk kali ini bapak beri kalian waktu kosong untuk bersantai. Hitung-hitung kalian menyiapkan mental untuk acara lusa nanti. Info selanjutnya akan bapak kirim via grup chat kelas ya.”

Tanpa banyak kata pak Wasik meninggalkan kelas dengan situasi yang beragam.

Mingyu paham kalau ini akan menjadi hal yang merepotkan.