–, Penjaga Warnet
Katakan bahwa Minghao gila. Mungkin dia sudah tidak waras lagi. Ini semua bermula sejak seminggu yang lalu. Saat pc dan printernya rusak, mengharuskan Minghao untuk pergi ke warnet dekat rumahnya. Demi mengerjakan tugas laporan kimianya, Minghao harus mau pergi ke warnet yang selalu ramai 24 jam.
Sebenarnya Minghao malas. Namun apa daya, tugas yang ia butuhkan harus di kumpul keesokan harinya.
Dengan agak canggung dan ragu-ragu, Minghao memasuki warnet dengan perlahan. Melihat semua komputer sepertinya sudah terisi.
Minghao menengok kearah kiri. Terlihat penjaga warnet yang menatapnya dalam diam. Sepersekian detik, Minghao terpesona. Bagaimana bisa lelaki setampan itu, menjaga warnet? Itu adalah hal yang dia bingungkan.
Minghao mengangguk pelan ke penjaga tersebut, lalu berjalan menyusuri semua komputer. Mencari komputer yang kosong.
Minghao berjalan hingga ujung. Namun, semua tempat sudah terisi penuh. Kecuali satu komputer, yang terletak tepat di depan meja penjaga komputer.
Akhirnya dengan terpaksa, Minghao mengambil tempat itu. Mengabaikan pandangan intens penjaga warnet yang menatapnya.
Minghao mulai fokus mengerjakan tugasnya. Padahal dalam dadanya ribut berdebar. Penjaga warnet di depannya seperti memiliki sesuatu yang membuat jiwa Minghao meronta-ronta.
Hingga 2 jam tak terasa, Minghao segera menyimpan tugasnya di flashdisk. Mematikan komputer, lalu mengecek apakah ada barang yang tertinggal atau tidak.
Setelah memastikan bahwa semua aman terkendali, Minghao pergi menuju meja penjaga warnet.
“Em, permisi. Komputer nomor 8.”
Sang penjaga menatap Minghao lekat, lalu mengangguk.
“5000.”
Minghao hampir mengerang. Suara orang di depannya sangat berat. Berat dan dalam. Minghao menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk mengusir pikiran kotornya.
“Ah iya.”
Minghao segera merogoh kantongnya. Menyerahkan uang pas.
“Terimakasih.” ucap sang penjaga warnet.
Minghao ngangguk, lalu berbalik pergi. Berusaha mengusir pikirannya yang ambigu.
*****
Sudah seminggu sejak kejadian warnet yang lalu, Minghao tidak bisa berhenti memikirkan lelaki penjaga warnet yang ada di dekat rumahnya. Bahkan Minghao tidak bisa tidur dengan nyenyak. Silahkan pikirkan sendiri, apa yang Minghao lakukan.
Seperti saat ini, Minghao mengerang di atas kasurnya. Membayangkan wajah tampan, serta rambut hitam lelaki asing yang ia sukai sejak seminggu yang lalu.
Oke, katakan saja bahwa Minghao tidak waras. Bahkan dia tidak tahu namanya. Bagaimana bisa Minghao menjadikan cowok tersebut bahan kotornya?
Minghao menghela napasnya, saat merasakan cairan hangat mengalir di telapak tangannya.
Minghao membanting kepalanya di atas kasur. Mungkin jika lelaki asing itu tahu apa yang Minghao lakukan, dia akan mengutuk Minghao ribuan kali.
Minghao bangkit dari kasurnya. Mengambil tissu dan membersihkan kekacauan yang telah ia perbuat. Sepertinya dia harus mandi, lalu mulai pergi ke warnet itu lagi. Laporan fisikanya sudah menanti. Minghao segera bangkit, lalu pergi menuju kamar mandi. Berharap bahwa pikiran kotornya dapat pergi dari otaknya.
****
Minghao memakai sweater yang agak kebesaran di tubuhnya, yang berwarna kelabu, serta sweetpants. Rambut hitamnya dibiarkan berantakan. Minghao menarik napasnya lalu menghembuskannya.
Dengan perlahan dia mendorong pintu, lalu melongokkan kepalanya ke dalam. Melihat apakah ada komputer kosong. Lagi-lagi yang tersisa hanyalah komputer nomor 8.
Minghao mengerang. Dengan pasrah dia masuk ke dalam warnet. Menengok ke arah penjaga warnet.
Lelaki asing itu menatap Minghao sama seperti sebelumnya. Lekat dan dalam. Minghao merasa tubuhnya meremang.
Minghao berusaha mengabaikan pandangan lelaki itu. Buru-buru menduduki kursi yang ada, dan menghidupkan komputer. Benar-benar mengabaikan penjaga warnet, yang sudah mengusik tidur indah Minghao, selama seminggu ini.
Minghao berusaha positif thinking. Mungkin memang pandangan orang itu yang membuat orang lain merasa di makan hidup-hidup.
Minghao mulai mengerjakan laporan fisikanya. Tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari komputer. Dia benar-benar fokus.
Hingga satu jam lebih, Minghao hampir menyelesaikan laporannya. Namun, satu masalah muncul. Minghao tidak tahu cara meletakkan gambar bergerak di laporannya.
Minghao menggigit bibirnya cemas. Menaikkan pandangannya kearah penjaga warnet. Yang mengejutkan Minghao adalah, lelaki itu menatap Minghao. Minghao tersentak. Buru-buru menurunkan pandangannya. Kembali menatap komputernya.
Minghao bersandar ke sandaran kursi. Berusaha menenangkan kecemasannya.
Minghao memejamkan matanya. Menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Tiba-tiba suara ketukan di meja komputernya, membuat Minghao membuka matanya.
Terlihat penjaga warnet yang membuat jantung Minghao tak karuan, berdiri di depan Minghao dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
“Y-ya?”
Suara Minghao mendadak hilang.
“Ada masalah?” tanya lelaki asing itu kepada Minghao.
Minghao diam. Menatap lekat lelaki di hadapannya itu.
“S-sedikit.”
“Mungkin aku bisa bantu.”
Minghao tersentak. Menatapnya tak percaya. “B-benarkah?”
“Iya.”
Setelahnya, lelaki itu bertanya apa masalah Minghao, lalu Minghao mengarahkan mouse komputer ke masalah yang sejak tadi membuatnya frustasi.
Lelaki di hadapan Minghao tampak mengerti.
“Aku coba ya.”
Setelahnya, tangannya menyentuh punggung tangan Minghao. Menggerakkan mouse sambil menjelaskan kepada Minghao.
Sedangkan Minghao tak fokus. Pandangannya tertuju pada tangan mereka yang bersentuhan. Pipinya menghangat. Warna merah mewarnai wajah manisnya.
Minghao menggigit bibirnya gemas. Menahan dirinya untuk tidak berteriak.
“Sudah ngerti?”
Minghao segera sadar dari pikirannya. Lalu menatap lelaki di hadapannya. Mengangguk cepat. Padahal Minghao tidak mendengarkan satu katapun barusan.
Lelaki di hadapan Minghao menatap Minghao lekat. Sangat intens. Tangannya yang bersentuhan dengan tangan Minghao, ia gerakkan ke bibir Minghao.
“Jangan digigit.” bisiknya sambil mengusap bibir Minghao.
Minghao menatap lekat lelaki di hadapannya dengan wajah yang memerah. Otomatis dia melepaskan gigitannya. Membuat bibirnya merekah terbuka.
“Bibirmu...”
Minghao menunggu ucapan lelaki di hadapannya. Menatap lelaki asing di depannya tanpa melepaskan kontak mata.
“Gak. Gak ada apa-apa. Udah kan? Aku balik dulu.”
Lelaki asing tadi kembali ke mejanya. Meninggalkan Minghao yang semakin gila.
Minghao otomatis menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Jantungnya berdetak tak karuan.
Dengan kasar dia menghela napasnya. Segera menyelesaikan tugasnya.
Setengah jam kemudian, Minghao berhasil menyelesaikan dengan berbagai cobaan yang melanda otak serta dadanya.
Buru-buru dia menyimpan tugasnya. Memindahkannya ke flasdisk miliknya. Tak lupa untuk mematikan komputernya. Setelah sudah selesai, Minghao buru-buru berdiri dan pergi menuju meja penjaga komputernya.
“B-berapa?”
Lelaki asing tadi menatap lekat Minghao lagi. “5000.”
Minghao buru-buru memberikan uang lima ribu kepadanya.
“M-makasih.”
Cepat-cepat Minghao berbalik, ingin segera menjauh dari tatapan lelaki asing tadi.
Saat Minghao hampir sampai di rumahnya, Minghao merogoh kantongnya, untuk mengambil ponselnya. Dan baru sadar, jika ponselnya tertinggal.
Minghao mengerang, lalu buru-buru berbalik. Berjalan cepat ke warnet itu kembali.
Minghao mendorong pintu dengan tergesa. Segera mengecek meja komputernya. Namun ponselnya tidak ada. Minghao panik.
“Nyari apa?”
Sebuah suara yang berat dan dalam tepat di telinganya, membuat Minghao berbalik cepat. Hidung mereka hampir bersentuhan.
Minghao otomatis mundur selangkah.
“Ah, anu. Em, ponsel. Warna item.”
Lelaki asing di depan Minghao menyerahkan sebuah ponsel yang Minghao cari dari tadi.
“Ini?”
Minghao senyum lega. “Iya.”
Minghao mengambil ponselnya. Lalu memeluknya di dada. “Terimakasih.”
“Gak masalah.”
Setelahnya, Minghao pamit pergi dan buru-buru meninggalkan laki asing itu lagi.
Minghao membuka ponselnya, melihat aplikasi note terbuka. Tampak sebuah pesan tertinggal di note ponselnya.
'Hai, namaku Hansol. Penjaga warnet deket rumahmu. Udah suka kamu dari lama. Mungkin kamu gak sadar. Kapan-kapan aku cerita. Jadi, mau kencan?'
Minghao memerah. Setelah membaca pesan tadi, Minghao berteriak seperti orang kesetanan.
Minghao melanjutkan bacaannya.
'Btw, terimakasih ponselmu tidak dikunci. Aku udah masukin nomorku di hapemu. Cukup cari 'Calon pacar' itu adalah nama kontakku di ponselmu. Segera hubungi aku.'
Minghao menangkup pipinya yang memerah. Merasa menjadi manusia paling beruntung.
Entah seumur hidup dia bersyukur, tidak memberikan pengaturan kunci di ponselnya.
Buru-buru Minghao mencari kontak lelaki warnet yang dia tahu bernama Hansol.
'Hai Hansol. Namaku Minghao. Tentu saja aku mau kencan denganmu. Jadi, kapan?'