Pertemuan Pertama
Agak aneh bagi Minghao bersekolah lagi untuk kedua kalinya. Sepanjang lorong, sejak ia menginjakkan kaki di sekolahnya, berbagai pasang mata menatapnya lekat dari atas hingga bawah.
Minghao yang dasarnya sudah terbiasa menjadi tontonan orang, tak terlihat risih dengan pandangan aneh para penghuni sekolah.
Mendadak Minghao merasa dirinya selebritis. Ingatan tubuh asli Minghao masih ada namun samar-samar. Ia belum bisa mengingat dengan jelas. Yang ia tahu bahwa Minghao yang dulu memang menjadi sasaran utama para berandalan sekolah.
Mengabaikan segalanya, Minghao dengan acuh masuk ke dalam kelas yang anehnya ia merasa familiar.
Bangku meja yang ia duduki berbeda dengan yang lain. Disaat yang lain putih bersih tak ada noda, hanya milik Minghao lah yang bernoda.
Ya, bernoda. Penuh kata-kata tak senonoh yang hebatnya diucapkan bocah SMA bau kencur.
HOMO Banci Homo Sampah Masyarakat Jauh-jauh lu homo PENYUKA K-NTOL
Minghao terkekeh geli menatap tulisan-tulisan berjejer penuh, memenuhi mejanya.
“Baru juga gua masuk, ada yang ngajak ribut.”
Meja miliknya yang penuh dengan coretan celaan, ia tukar dengan bangku yang ada di belakangnya.
Minghao tak tahu meja siapa pula itu. Yang jelas, mereka semua salah berhadapan dengannya sekarang.
“Heh banci, punya adab lu nuker-nuker meja gua?”
Minghao menoleh. Menatap tiga orang bocah SMA yang bisa dibilang menurut Minghao memang tampan.
“Meja lu?” Minghao bertanya balik.
“Lu tolol apa pura-pura gak tau? Sejak kelar liburan lu makin aneh ya, banci.”
Ketiganya tertawa keras. Minghao menatap mereka aneh.
“Lucu?”
Ketiganya mendadak diam.
“Balikin meja gua.” Lawan bicara Minghao berusaha membalikkan topik kembali.
Minghao meletakkan tas ranselnya di atas meja, sambil menyisir rambut hitam legamnya ke arah belakang.
“Emang lu siapa? Bisa buat lu nyuruh-nyuruh gua?”
Tawa remeh mulai keluar bercampur kesal.
“Lu di diemin ngelunjak ya, banci.”
Minghao menendang kaki meja yang ada di sampingnya.
“Bangsat. Banci banci mulu. Nama gua Minghao goblok, bukan banci.”
Seluruh penghuni kelas tersentak. Suasana sunyi membuat keadaan semakin mencekam.
“Heh..”
Ketiganya terlihat heran dan terdiam.
“Kesambet apaan lu?”
Salah satu dari ketiganya yang sejak tadi adu mulut dengan Minghao, maju selangkah mendekati dirinya.
“Oh, lu main jual mahal sekarang? Gak lembek kek dulu? Sorry, gua gak bakalan kasih k*ntol gua ke lu.”
Mendidih. Minghao kehilangan akal.
Sialan, pikirnya.
TAK
Tangannya merampas silet kecil yang ada di dalam kotak pensil terbuka di meja sebelah kiri Minghao.
SEET
WUSH
Tangannya menggenggam silet dan bergerak menghempaskan ke arah leher sebelah kiri orang yang ada di hadapan Minghao, menyisakan jarak kurang lebih 5 cm dari kulit lehernya.
“Jaga mulut lu ya njing. Lu punya orang tua? Ucapan lu kayak gak di didik orang tua lu. Oh, atau lu emang gak di didik?”
Silet yang Minghao genggam, ia lemparkan ke atas lantai.
“Dan tentang ucapan lu, tenang aja, walaupun gua homo gua nyesel pernah suka lu. Kok bisa gua suka orang kelakuan lebih dari binatang macem lu.”
Minghao menatap semua wajah yang ada di kelasnya saat ini.
“Lu semua kan masih bocah ya. Masih minta duit dari bapak lu semua. Gak usah ngatain gua homo lah, banci lah, penyuka kont*l lah. Emang orientasi seks gua ganggu lu semua? Emang gua pernah grepek-grepek lu? Emang gua pernah ngangkang minta di ewe? Kaga kan? Gua juga kaga bakal ngajak-ngajak lu semua belok.”
Minghao mengacak rambutnya frustasi.
“Bisa kaga hargain kehidupan masing-masing? Keknya kaga bisa sih, lu semua kan tolol.”
Kekehan ringan keluar dari mulut Minghao.
“Gua bakal malu sih kalo orang-orang yang ngatain gua homo, suatu saat jadi homo beneran.”
Minghao menatap orang yang berdiri di depannya.
“Sorry ya, gua udah gak suka sama lu. Anyway, gua masih suka cewe. Naksir sama lu petaka bagi gua sih.”
Tangan Minghao menepuk-nepuk bahu lebar lawan bicaranya, sambil melirik nama panjang yang tertera di dada nametag.
“Ya? Kim Mingyu.”