–, Petir

Malam itu hujan deras. Suara petir menggelegar di luar sana. Seakan menyalurkan kemarahannya. Cahaya kilat menyilaukan mata. Membuat belasan jiwa menciut ketakutan.

Chan salah satunya. Menyembunyikan tubuhnya di balik selimut hangatnya. Memejamkan matanya erat, berusaha menghalau suara petir dari gendang telinganya.

Giginya menggigit pelan bibir bawahnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya, bahwa ia ketakutan. Perasaannya gundah. Jantungnya berdebar keras. Ia meremas kuat selimutnya. Berusaha menenangkan dirinya.

Dalam hati mengucapkan belasan doa, agar orang yang ia harapkan ada di sampingnya.

Hatinya egois. Namun, ia tahu cuaca diluar sana tak bersahabat. Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak ia harapkan. Ketakutan dan kecemasan bercampur aduk menyelimuti hati dan pikirannya.

Takut karena keganasan malam itu, cemas dengan hal-hal negatif yang menyandra pikirannya.

Kamarnya senyap. Hanya ada suara deru napasnya. Derasnya hujan mengiringi senyapnya malam. Ruangannya gelap. Tak mampu hanya sekadar bangkit, menyalakan saklar lampunya.

Chan tak berani membuka mata. Ia hanya menunggu dan menunggu. Merasakan segala ketakutan dan kecemasannya.

Elusan lembut di dahinya, membuat Chan terlonjak. Matanya terbuka lebar.

“Hei.” ucap orang itu. Orang yang ia tunggu-tunggu.

Chan segera bangkit. Meraih tubuh lelaki di hadapannya, memeluknya erat.

Menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Menghirup aromanya dalam-dalam.

Usapan lembut di punggungnya, berhasil menenangkan Chan. Dekapan erat dari sang empu, berhasil membuat Chan kembali tenang. Seluruh perasaan gundah, cemas dan gelisahnya hilang entah kemana. Bersyukur bahwa seluruh opini negatifnya hanya kecemasan biasa.

“Kapan dateng?”

Suara Chan serak. Sedikit bergetar. Orang di hadapannya Chan terkekeh.

“Kamu sibuk ketakutan, gak sadar aku udah pulang.”

Chan mengeratkan dekapannya. Tangannya mencengkram punggung besar lelaki di pelukannya.

“Aku khawatir. Takut juga.”

“Takut aku kenapa-kenapa ya?”

“Hansol!”

Hansol, lelaki di dekapan Chan, terkekeh. Usapan tangannya di punggung Chan, tak berhenti.

“Maaf-maaf. Aku tahu kamu khawatir. Aku gak papa kok. Ini sekarang aku disini.”

Chan hanya diam. Memilih merasakan kehangatan Hansol dalam pelukannya. Berusaha menghilangkan ketakutannya, yang masih tersisa di relung hatinya.

“Aku kira kamu udah gak takut petir.”

Chan lebih memilih diam. Malas menjawab.

“Jangan marah, Chan.”

Suara Hansol sangat lembut. Lembut dan dalam. Terkandung banyak makna di dalamnya.

Chan tak bisa berlama-lama kesal dengannya. Hatinya seolah luluh dengan semua ucapan Hansol.

“Enggak kok.” gumam Chan di balik bahu Hansol.

Hansol tertawa. Tangannya bergerak, mengusap rambut Chan pelan. Menyisirnya lembut. Chan memejamkan matanya. Menikmati semua sentuhan menenangkan dari Hansol.

“Jangan takut. Aku udah disini.”

Chan hanya bergumam. Lebih memilih menyamankan dirinya di bahu Hansol. Usapan lembutnya tak berhenti. Sengaja membuat Chan terlelap dalam dekapannya.

“Think of lightning as a song. Song for the brave. Think of rain as a song. And you are the brave one.”

Hansol berbisik lembut. Bibirnya ia kecupkan di sepanjang wajah Chan yang terlelap. Pucuk kepalanya ia kecup. Usapannya melembut.

Hansol menjauhkan tubuhnya. Membawa Chan berbaring di atas kasur. Tubuhnya ia baringkan di samping Chan, mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya.

Selimut hangat ia tarik untuk menutupi keduanya. Membuat Chan beringsut semakin mendekatinya.

Hansol terkekeh. Tangannya bergerak untuk merapihkan surai rambut kekasihnya.

Wajah damai Chan yang tenang, membuat hati Hansol menghangat.

Ia kecup pelan dahi Chan. Tangannya melingkar indah di pinggang kekasihnya.

“Good night, sweety. Sweet dreams.”

Setelahnya kegelapan menyelimuti keduanya. Menghantar kedua insan ke dalam indahnya alam mimpi.