Plan A

“Hoi.”

Seungcheol menepuk bahu Jihoon dari belakang, mendudukkan badannya tepat di samping Jihoon.

“Kaget njir.” Mulutnya merespon dengan helaan napas di akhir kata.

“Ngelamun lu?” Dengan cuek, Seungcheol membuka sedotan plastik yang menempel di kemasan susu kotaknya, kepalanya menoleh menatap Jihoon.

“Iya, ngelamunin Tante Ratna.”

Seungcheol mendengus. “Tante Ratna mulu lo. Gak doyan dia sama bocil kek lu.”

Jihoon diam saja. Mulutnya mengapit sebatang rokok yang masih ia hisap dalam-dalam.

“Jadi, lu mau ngomong apaan?”

Seungcheol membuka percakapan. Jarang-jarang keduanya berdiskusi bersama seperti ini.

“Lu inget gak kita pernah deket banget sama Minghao?”

Jihoon menatap Seungcheol lekat. “Kita deket banget kemana-mana bareng. Inget?”

Seungcheol menerawang ke depan. Memang, mereka bertiga pernah dekat dengan Minghao. Layaknya sahabat dan kakak adik.

“Lu inget gak kenapa kita bisa tengkar sama Minghao?”

Helaan napas keluar dari mulut Seungcheol. “Ya.. karna dia suka mingyu?”

“Dan kita ngerasa jijik kan? Sahabat kita sendiri, udah kita anggep kayak adek, ternyata mandang sobat kita sendiri beda.” Jihoon melanjutkan.

“Jujur waktu itu gua takut. Maksudnya gua normal. Gua gak ada pikiran kalo di sekitar gua ada yang begitu.”

Jihoon mematikan rokok yang ada di tangannya, menatap Seungcheol sekilas. “Gua sadar sesuatu setelah kejadian tadi siang. Baru pertama kalinya gua liat Minghao marah-marah apalagi ngelakuin tindakan ekstrim ke Mingyu.”

“Lu tau, Minghao yang dulu beda sama Minghao yang sekarang kita liat, Cheol. Dari cara dia liat Mingyu, liat kita, beda. Dulu, Minghao liat kita sedih, sekarang boro-boro sedih. Liat kita aja dia ogah.” Lanjutnya lagi.

Seungcheol setuju dengan perkataan Jihoon. Minghao berbeda.

“Gua ngerasa tindakan gua selama ini ke dia salah. Awalnya bercanda, tapi candaan gua udah bukan bercanda lagi. Apalagi Minghao agak lembut dari laki-laki pada umumnya. Gak heran dia pernah koma gara-gara kita.”

Seungcheol tersentak. “Gara-gara kita?”

Jihoon terdiam. Sedikit menyiapkan mental untuk bercerita ke kawannya ini.

“Waktu liburan, dia pernah koma Cheol.”

Suara Jihoon agak serak. Ada rasa bersalah terselimuti di dalam kata-katanya.

“Dia pernah koma, gara-gara overdosis.”

Seungcheol menoleh cepat. Menatap Jihoon melotot. “Lu gak usah bercanda njing.”

Jihoon menatapnya datar. “Apa gua keliatan bercanda?”

Seungcheol menggigit bibirnya kuat-kuat. “Lu tau darimana? Ibu lu?”

Dia tak heran jika Jihoon tahu hal ini dari ibunya. Pasalnya, keluarga Jihoon turun temurun mengambil bidang kedokteran sebagai profesi mereka. Ayah dan ibu Jihoon salah satunya.

“Iya nyokap gua. Sebenernya rahasia pasien gak boleh di bocorin apalagi ke luar tanpa izin pasien dan orang tua pasien. Tapi, ibu gua nanyain apa gua kenal Minghao karna kita di sekolah yang sama.”

Seungcheol berdecak khawatir. “Terus? Dia masuk RS?”

“Enggak. Dia dirawat di rumah. Ibu gua dipanggil ke rumahnya. Udah gua bilang di chat kan, Minghao bukan orang biasa. Kayaknya nyokap bokapnya berduit.”

Seungcheol menggeleng tak percaya dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.

“Tapi kok dia gak ada pergerakan apa-apa selama dia di bully??”

Jihoon menggeleng pelan. “Gua gak tau. Kalo sampe dia bertindak kayaknya kita bertiga udah gak lolos dari lama, Cheol.”

Keduanya terdiam.

“Apa dia stress, tertekan karna kita ya? Maksudnya, ditambah perlakuan mingyu yang agak kasar ke dia, ditambah kita ikutan nambahin. Dia jadi overdosis?”

Jihoon menggeleng pelan. “Kita cuman bisa asumsi doang Cheol. Tapi siapa yang kuat sih, udah di bully, di hina-hina orientasi seks nya, gak ada temen yang nemenin, siapa yang kuat Cheol.”

Keduanya sadar sesuatu. “Yang lu bilang bener juga..”

“Ada kemungkinan setelah dia bangun koma, dia mau berubah dan gak mau di injak-injak orang lain lagi. Yang Minghao bilang tuh bener Cheol. Apa susahnya hargain kehidupan orang. Dia juga gak pernah aneh-aneh ke kita. Semua manusia emang beda, kalau gak bisa menghargai ya terus menerus siklus kehidupan gini terus. Dan kita yang bangsat ini, berlindung dibalik kata candaan. Mau orientasi dia bener atau salah, yang bisa nilai dia kan cuman Tuhan. Kita gak ada hak buat cap dia buruk.”

Rasa sesal memang selalu datang terlambat. Seorang pengecut bersembunyi di balik kata candaan. Tak ada yang lucu sama sekali dari candaan ketiganya.

“Dibilang nyesel gua nyesel, Cheol. Bukan nyesel lagi. Gua gak tau harus nebus apa perlakuan gua ke Minghao sampe Minghao hampir gak ada gara-gara gua. Kalau ibu gua tau, mungkin dia bakal liat gua kecewa. Apalagi gua diharapin jadi dokter kayak nyokap bokap. Dokter macem apa yang pernah bully orang, dan hampir bikin anak orang tewas karna kelakuannya.”

Jihoon bangkit dari duduknya, menatap Seungcheol dari atas.

“Sebelum gua lebih nyesel lagi, gua pengen berhenti Cheol. Gak langsung berhenti, gua takutnya Minghao kena sasaran Mingyu karna kelakuan gua yang berubah tiba-tiba.”

Jihoon menatap ke depan. “Gua mau nyoba gak ikut campur, dan ngebantuin Minghao dari jauh.”

Keduanya bertatapan. “Kalo lu gua gak tau ya Cheol. Keputusan tentang tindakan lu silahkan lu pikir sendiri, gua cukup mikirin masa depan gua.”

“Gua gak mau masa depan gua gak berjalan mulus karna rasa nyesel dan tindakan gua yang lebih liar dari binatang.” Lanjutnya lagi.

“Lagi pula gua harus siapin masa depan yang cerah, buat nikahin Tante Ratna.”

Seungcheol tertawa pelan. Kepalanya ia gelengkan tak percaya. “Hadeuh, Tante Ratna mulu lu anjir. Kek anaknya ngerestuin lu aja. Mana mau anaknya punya bapak seumuran dia.”

Jihoon melirik sinis. “Bacot. Ntar gua ambil hati anaknya dulu. Baru Tante Ratna.”

Seungcheol ikut bangkit dari duduknya. “Ya terserah lu deh. Dipikir-pikir gak dewasa banget nakalnya gua bully orang. Apalagi gua hampir bikin anak orang hilang nyawa.” Diakhir kalimatnya, ada rasa menyesal yang sangat kentara.

“Seenggaknya kita ada sedikit sadar, Cheol. Mau berubah dikit, dan stop buat begitu ke anak-anak lain. Kalo Mingyu gak usah ditanya. Gua harap dia bisa secepet nya sadar. Kelakuan dia bisa ngerusak mental orang.”

Seungcheol menatap sepatu yang ia kenakan. “Cara kita minta maaf ke Minghao tanpa ketahuan Mingyu dan gak berubah sikap tiba-tiba gimana ya, ji?”

Jihoon juga mempertanyakan hal yang sama. “Kita jalanin plan A aja dulu.”

Seungcheol menatap tertarik. “Apa tuh?”

“Kita gak usah berubah baik dulu. Ntar curiga juga Minghaonya. Kayak biasanya aja, tapi kalau ada yg macem-macem ke dia kita bantuin. Keknya buku-buku dia kaga ada kan? Basah karna Mingyu, kita kasih aja ke dia, alesan apa gitu. Dia norak kek, goblok kek, tapi kita bantuin. Gimana?”

Seungcheol mengangguk paham. “Iya gitu aja. Gak usah tiba-tiba baik. Gua jadi Minghao juga ogah maafin orang yg ngebully gua.”

Keduanya tersenyum miris. “Udah akibatnya Cheol. Kelakuan kita emang gak termaafkan.”

“Udah, jangan terlalu dipikir, ji. Pelan-pelan aja. Kita berubah dikit, pasti dikasih kelancaran.”

“Gua harap juga gitu.”