–, Pos ronda, sore dan gitar

Jun itu kalau sore hari, suka nongkrong di pos ronda. Karena di depan pos ronda itu lapangan luas, dia selalu suka ngelihat matahari terbenam disana. Sambil dengerin lagu atau nyemil kentang manis kesukaannya.

Pos ronda kalau sore sepi. Apalagi menjelang malam. Kadang kalau siang, sama anak kecil dibuat rumah-rumahan. Atau pas sorenya, kadang dibuat markas main kartu sama anak-anak cowok kompleksnya. Pernah Jun ikutan main sama mereka. Lucu aja gitu.

Seperti biasa, pos ronda lagi sepi. Jun sendirian. Dia make jaket denimnya, biar gak kedinginan. Karena lagi musim hujan, ibunya takut dia sakit gara-gara kedinginan.

Di tangan Jun ada kentang manis yang udah dikukus sama ibunya. Dia makan pelan-pelan sambil liatin matahari terbenam. Cahaya orange sedikit kemerahan, menerpa tubuhnya. Membuat Jun menawan jika dipandang dari dekat.

Jun gak sadar jika ada orang lain mendekatinya. Terlalu fokus ngeliatin sunset, sampai gak sadar sama sekelilingnya.

Suara petikan gitar, membuat Jun menoleh. Matanya mengerjap lucu, dengan mulut yang penuh dengan kentang manis.

Di depan Jun, ada seorang lelaki tampan. Rambutnya hitam. Wajahnya putih. Tatapannya tajam. Menatap Jun lekat-lekat.

Jun hanya diam. Menatap orang asing di depannya tak mengerti.

Orang yang ada di depan Jun tertawa pelan. Melihat tatapan polos bak anak kecil, yang menatapnya penasaran.

“Namaku Seungcheol. Orang baru pindah di kompleks sini.”

Jun cuman diam. Memilih mendengarkan ucapan lelaki di depannya itu.

“Boleh duduk sini kan? Mau main gitar juga. Boleh?”

Jun diam beberapa detik, lalu mengangguk. Mulutnya sibuk menggigit kentang manis yang ada di tangannya.

Seungcheol tertawa. Tangannya mulai bergerak memetik gitar.

Jun mengembalikan pandangannya. Menatap matahari terbenam dalam diam, diiringi petikan gitar yang menenangkan jiwa.

Suara Seungcheol sangat berat. Berat dan dalam. Membuat Jun terpukau.

Sesekali Jun ikut bersenandung. Tubuhnya ia goyangkan sedikit, mengikuti irama.

Seungcheol tersenyum saat melihat bahwa Jun menikmatinya. Ia jadi percaya diri dengan kemampuannya.

Beberapa menit setelahnya, matahari sepenuhnya terbenam. Menghilang di ganti kegelapan.

Nyanyian dan petikan gitar Seungcheol terhenti. Jun menoleh. Menatap Seungcheol tak mengerti. Seakan protes dalam diam.

Seungcheol terkekeh. “Udah malam. Gak pulang?”

Jun tampak sadar. Dia ngangguk tanda setuju. Kentang manis yang ada di tangannya, sudah kandas.

Jun bangkit dari duduknya, membersihkan pantatnya dari debu.

Jun berjalan pelan menuju rumahnya, diikuti oleh Seungcheol di sampingnya.

“Oh iya, siapa namamu?” tanya Seungcheol penasaran.

“Jun.”

Seungcheol ngangguk pelan. “Rumahmu yang mana.”

Jun menunjuk rumah bertingkat dua dengan cat putih serta pohon mangga besar di pekarangannya.

“Ah. Kita tetangga.”

Seungcheol terkekeh. Jun paham sekarang. Ternyata Seungcheol lah yang pindah di samping rumahnya.

Saat tiba di depan rumah masing-masing, Jun serta Seungcheol berpisah.

“Kita harus sering-sering keluar bareng, Jun.”

Jun ngangguk saja. Berharap dalam hati akan sering bertemu dengan Seungcheol.

“Oh iya. Kamarmu yang mana?”

Jun menaikkan alisnya. Agak heran, kenapa Seungcheol bertanya hal itu. Dengan pelan dia menunjuk salah satu kamar di lantai dua, dekat dengan jendela rumah Seungcheol.

“Itu? Wah, kamarku pas sampingmu.”

Jun menatap Seungcheol kaget. Tak percaya.

“Jangan risih ya entar kalo aku main gitar malam-malam. Anggep aja pengantar tidur. Kapan lagi kan di nyanyiin sama cowo ganteng kayak aku.”

Seungcheol menyeringai, sambil mengedipkan matanya sebelah. Membuat Jun agak memerah.

“Bye, Jun. Sampai ketemu nanti malam.”

Seungcheol tertawa pelan, meninggalkan Jun yang masih memerah.

Jun buru-buru menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan keinginannya, untuk menjadikan suara Seungcheol pengantar tidurnya.