•Post-it kuning•
JUNHUI POV
Derasnya hujan membuat percikan air tercetak indah diatas permukaan jendela perpustakaan, yang sedang kupandangi saat ini. Aku mengeratkan jas sekolah yang membalut tubuhku. Pemanas ruangan sudah di nyalakan oleh penjaga perpustakaan beberapa menit yang lalu, serasa tak berguna. Tetap saja, dinginnya temperatur udara dari luar jendela berhasil menyusup masuk ke dalam perpustakaan.
Ku lihat keadaan perpustakaan sunyi senyap. Meninggalkan beberapa siswa yang memustuskan menunggu hujan reda. Kulihat kembali keadaan di luar jendela. Banyak siswa berlarian menembus hujan dengan bermodalkan tas atau jas sekolah.
Beberapa dari mereka ada yang memang sengaja bermain air, ada yang berlarian kesana kemari, adapula yang berlari kencang seakan-akan tidak ingin tersentuh air hujan. Aku tersenyum lembut melihat momen jenaka yang berhasil mengusik netra mataku.
Aku kembali fokus kedalam buku bacaan yang telah terbuka lebar diatas meja yang kutempati saat ini. Susunan meja yang rapih,membuatku betah berlama-lama disini.
Meja perpustakaan saat ini terdiri dari 2 meja panjang yang disusun secara berhadapan. Satu meja memuat 5 orang. Sehingga membuat siapa saja nyaman berlama-lama disini.
Tiba-tiba post it berwarna kuning menempel indah di atas halaman buku bacaanku.
'Hai :)'
Aku mengangkat wajahku,untuk melihat siapa gerangan yang menempelkan post it kuning di atas buku bacaanku.
Terlihat dihadapanku seorang lelaki tampan berambut hitam, yang sedang 'membaca' buku. Entah mengapa aku bersemu merah. Membuat kilat-kilat berkilau seakan-akan bereaksi satu sama lain.
Aku meraih pulpen yang tergeletak diatas meja,dan mengambil post it kuning yang memang sudah lelaki ini siapkan.
'Hai juga :)'
Setelah kutulis jawabanku, aku menempelkannya di meja yang ia tempati. Kembali fokus ke dalam buku bacaanku adalah pilihan tepat saat ini, dalam bentuk usaha menyibukkan diri. Lebih tepatnya berpura-pura.
Beberapa menit kemudian,post it kuning kembali tertempel di atas halaman bacaanku.
'Siapa namamu?'
Aku tersenyum lembut,dan kemudian menuliskan jawabanku.
'Mengapa harus ku jawab? Namamu saja aku tak tahu'
Kemudian,aku tempelkan kembali post it kuning di meja yang ia tempati. Kali ini aku kembali fokus ke bacaanku. Sebuah karya romance klasik,yang bercerita pada abad ke 18. Menceritakan kisah cinta tragis dari seorang biarawati muda yang jatuh cinta dengan seorang pendeta muda.
Perhatianku teralihkan oleh bunyi ketukan pada mejaku. Ku alihkan pandanganku ke asal suara. Kulihat,lelaki di depanku menatap bosan diriku. Aku mengernyitkan dahiku tanda bingung.
Lelaki di hadapanku menunjukkan sesuatu dengan dagunya. Aku mengikuti arah yang dia tunjuk. Post it kuning yang dipenuhi kata-kata, menempel indah di ujung buku bacaanku.
'Jeon Wonwoo. Namamu?'
Aku menuliskan jawabanku secepat kilat. Agaknya aku sedikit bersemangat. Menandakan sedikit hiburan yang menyenangkan.
'Junhui.'
Lalu, aku tempelkan lagi post it kuning di tanganku, ke mejanya.
Aku kembali menundukkan kepala. Kembali fokus pada bacaanku.
Post it kuning tertempel lagi di atas halaman bukuku.
'Junhui. Nama yang cantik. Seperti orangnya.'
Aku terkekeh. Lalu menuliskan jawabannya. Lagi-lagi aku tempelkan post it kuning tadi, di meja depannya.
'Aku tidak cantik. Aku laki-laki. Jelas saja tampan.'
Lelaki di hadapanku tersenyum sambil menulis jawabannya. Dia menatapku, lalu menempelkannya di atas halaman bukuku.
'Bagiku kamu cantik. Apakah aku boleh mendapat nomormu?'
Aku mendongak. Bertatapan dengan kedua netra kelam pemuda di hadapanku.
'Apakah kamu sedang mendekatiku?'
Aku tempelkan lagi di atas mejanya. Dia membaca lalu terkekeh. Menulis cepat, lalu menempelkannya di atas bukuku.
'Terlihat jelaskan? Aku tertarik padamu. Jadi, mau memberi nomormu? Mungkin setelah ini aku bisa mengajakmu makan bersama.'
Aku terkekeh. Buru-buru menuliskan nomorku serta jawabanku.
'Gerak-gerikmu sangat terlihat. Boleh saja. Asal kamu yang mentraktirku.'
Aku menempelkan post it kuning di mejanya. Aku bahkan lupa dengan bacaanku sekarang.
Dia membaca jawabanku lalu tertawa pelan. Dengan cepat dia menulis balasan, dan menempelkannya lagi di atas bukuku.
'Tentu aku mentraktirmu. Jadi, ayo kita pergi?'
Aku membacanya. Wajahku memerah. Aku menatapnya.
“Ayo.” ucapku dengan suara pelan.
Wonwoo tersentak. Tak menyangka aku menjawab secara langsung.
“Aku kira kita akan selamanya memakai post it.” ujarnya sambil terkekeh.
Suaranya yang berat membuatku terpesona sebentar. Aku tak menyangka suaranya bisa sedalam dan selembut itu.
“Tidak mungkin. Jadi, ayo makan?” ujarku sambil tersenyum lembut. Membereskan buku yang ada di mejaku.
“Tentu saja. Makan dan berkenalan dengan orang secantik dirimu tidak akan aku lewatkan.”
Aku bersemu. “Aku tampan. Bukan cantik.”
“Tapi saat kamu tersenyum dan tertawa, di mataku kamu cantik.”
“Aku tebak kamu sudah menggoda banyak perempuan.”
Wonwoo tertawa. “Kamu orang pertama yang aku goda. Harusnya kamu bangga melihat seorang Jeon Wonwoo menggoda seseorang yang baru ia lihat di perpustakaan.”
Aku tertawa. “Aku sangat bangga.” ujarku kepada Wonwoo.
“Ayo.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Dengan ragu-ragu aku menyambutnya, dan menggenggam tangannya.
“Wonwoo.”
“Jun.”
Saling berpegangan tangan, melupakan beberapa kertas post it yang menempel di atas meja perpustakaan.