Pulpen
TAK
Minghao meletakkan pulpen yang ia genggam, di bangku meja yang ada di belangkangnya. Menatap Mingyu yang alisnya sudah saling bertemu.
“Ribut mulu lu nyari pulpen. Kalo mau pinjem ngomong nya yang baik-baik, gosah nyolot. Gak heran gua yang lain kaga berani liat lu.”
Mingyu heran melihat tingkah Minghao. Tanpa basa-basi, Minghao segera membalikkan badannya ke posisi semula.
“H-heh gua gak butuh pulpen lu njing. Jijik gua megang barang lu.”
“Ya ya ya. Buang aja gak masalah. Gua kasih lu satu, punya gua banyak.”
Mingyu berdecak kesal. Menatap belakang kepala Minghao jengkel.
“Gua gak pinjem ya njing. Lu yang ngasih sendiri.”
Minghao menyangga kepalanya malas. “Hm ya ya.”
Mingyu agak ragu-ragu menerima pulpen yang Minghao beri. Karena keadaan sedang tak baik, dan dia dalam keadaan terjepit. Mau tak mau Mingyu memakai pulpen yang ada.
“Cih. Gua pake karna gua lagi kepepet ya njir. Kalo kaga kepepet udah gua buang.”
Minghao menahan tawanya. Dilihat-lihat Mingyu memang seperti bocah.
“Serah, bocil.”
Mingyu melotot marah. “Gua bukan bocil anying.”
Minghao menoleh ke belakang, seakan waktu melambat, ia tertawa pelan. “Bocil.”
Agaknya pemandangan yang baru saja Mingyu lihat, membuatnya tersentak.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Minghao tersenyum kembali.