–, Rahasia
Minghao menatap box 'ajaib'nya dalam diam. Dengan kemeja kebesaran milik Seungcheol, tanpa bawahan apapun, Minghao duduk diatas ranjang dengan mata yang fokus dengan barang-barang koleksinya yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Seungcheol.
Minghao menelan ludahnya. Ia tahu betul bagaimana perilaku dan sifat Seungcheol. Mungkin, jika Seungcheol tahu dia memiliki barang-barang laknat seperti ini, ia yakin Seungcheol akan meninggalkannya.
Minghao menghela napasnya. Bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya cara ia bisa memuaskan dirinya sendiri. Tanpa sentuhan tangan Seungcheol, kekasihnya.
Jika mengingat semua perlakuan dan sifat Seungcheol, entah mengapa Minghao selalu merasa sesak. Dia tak tahu apa yang menyebabkan Seungcheol tak menyentuhnya beberapa minggu ini. Sudah memakai berbagai cara, namun tetap saja Seungcheol tak berniat untuk menyentuhnya.
Pikiran negatif nilai muncul di otak kecilnya. Apakah Seungcheol selingkuh? Apakah dia tak mencintai Minghao lagi? Apakah tubuhnya sudah tak menarik lagi? Apakah dia sudah tak memuaskan lagi?
Semua saran dari teman-teman Minghao sudah ia lakukan. Namun tetap saja, Seungcheol tak meliriknya kearah sana.
Ciuman dan kecupan manis masih ia dapatkan. Kata cinta dan perlakuan kecil masih ia dapatkan. Namun tetap saja, Minghao bingung. Kenapa Seungcheol tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya?
Minghao menghela napas. Tangannya mengambil sebuah bando kucing yang berwarna hitam, dengan bulu-bulu halus menyerupai aslinya.
Tangannya memakaikan bando kucing di surai rambutnya. Membuat Minghao lebih manis dan imut dari biasanya. Tangannya bergerak untuk mengambil collar hitam dengan lonceng emas di tengahnya, ia pasang di lehernya yang jenjang. Suara gemerincing lonceng memenuhi ruangan yang sunyi senyap.
Minghao meneguk ludahnya. Ia sudah lama memiliki fantasi seperti ini. Namun karena Seungcheol yang menjauhinya tanpa alasan, membuat Minghao harus bermain solo demi memuaskan hasrat pribadinya.
Minghao melepas kancing kemeja yang membalut tubuhnya. Helaan napas yang sedikit tak sabar keluar dari mulutnya.
Dengan cekatan ia berhasil melepas kemeja Seungcheol dan melemparkannya di atas lantai.
Ia mengambil posisi menyerong, dengan tubuh yang menungging. Kedua tangannya sibuk membuka penutup lube yang bening, berisikan minyak pelumas berwarna kekuningan. Ia tuangkan di kedua jarinya. Meratakan di seluruh bagian jarinya. Setelah selesai, ia arahkan kedua jarinya ke lubang miliknya. Menggerakkan melingkar di sekeliling lubangnya, lalu memasukkan kedua jarinya perlahan.
“Emhh...”
Minghao merenggangkan lubangnya yang mencengkram erat kedua jarinya. Suara desahan tipis keluar dari bibirnya.
Jari-jemarinya mengeksplorasi dinding-dinding sensitifnya. Kedua jari yang lincah, bergerak seperti gunting. Minghao mendongak dengan bunyi gemerincing menemaninya. Kenikmatan ia rasakan.
Hingga tak sengaja jarinya menyentuh titik sensitifnya. Berulang kali Minghao menyentuh prostatnya dengan sengaja. Membuat seluruh inci tubuhnya gemetar akan kenikmatan. Telinga kucing yang ada di atas kepalanya bergerak mengikuti gerakan Minghao. Lonceng yang ada di lehernya ikut bergerak dan berbunyi ringan berkolaborasi dengan suara desahan dan erangannya.
Kedua jarinya ia keluarkan. Tangannya yang gemetar mengambil buttplug dengan ekor kucing sebagai hiasan. Berwarna hitam dengan bulu-bulu halus sebagai bahannya. Minghao melemurinya dengan pelumas di seluruh bagian buttplug. Tak melewatkan seincipun.
Setelah di rasa puas, Minghao mengarahkan ke lubang kenikmatannya. Dalam sekali masuk, buttplug memenuhi lubang merahnya.
Minghao mengerang nikmat. Suaranya melengking. Buttplug yang ia masukkan berhasil mengenai prostatnya dalam sekali hentak. Dinding-dinding lubangnya, mencengkram erat buttplug yang ada di dalamnya. Membuat prostatnya menyentuh berulangkali ujung mainannya.
Minghao mengerang nikmat. Helaan napas tak teratur, serta jari jemari yang mencengkram erat sprei di bawahnya, Minghao membutuhkan kenikmatan lebih.
Tangannya yang gemeteran, mengambil vibrator berukuran kecil dengan warna putih di sekelilingnya.
Masa bodoh dengan pelumas, dalam sekali masuk, Minghao memaksakan vibrator miliknya, masuk dengan buttplug silver yang masih ada di dalam lubangnya.
Erangan dan lengkingan keluar dari bibirnya yang mungil. Napas tak teratur keluar dari mulutnya.
Tangannya bergerak mengambil remote control di dalam box, dengan tak sabaran ia menekan tombol 'sedang'.
“Ahhhhh.... Nghhh.. Cheol....”
Vibrator bergetar di dalam lubangnya, berbenturan dengan buttplug yang mengenai prostatnya.
Kenikmatan tiada tara berhasil ia rasakan. Tangannya yang nakal menekan pilihan 'Cepat' dalam hitung detik pandangannya memutih.
“Ahhhh.... Nghhhh.. Hahh.. Cheolhh..”
Tangannya meremas sprei dibawahnya. Matanya ia pejamkan erat. Desahan dan erangan keluar dari mulutnya. Ujung buttplug yang terus menerus bergetar tepat di prostatnya. Dinding-dinding lubangnya mencengkram erat vibrator dan buttplug-nya. Membuat Minghao makin menggila.
“Ahhhh.. Yahhh... Nghhhh.. Cheol...”
Getaran vibrator serta tumbukan buttplug yang lembut di prostatnya, membuat Minghao berada di kenikmatan duniawi.
Perutnya bergejolak, penisnya tegak kemerahan seperti ingin memuntahkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, Minghao mengerang. Cairan putih keluar dari penisnya. Mengenai perut, paha serta kasur di bawahnya. Napasnya yang berantakan membuat Minghao fokus untuk menetralkan jantungnya. Tangannya mengeluarkan vibrator dari lubangnya. Desisan pelan keluar dari bibirnya. Tubuhnya lemas.
Dengan perlahan, Minghao bangkit dari posisi menunggingnya. Memilih duduk di atas ranjang. Dengan mata yang masih terpejam. Dadanya naik turun mengikuti napasnya.
Matanya terbuka. Detik itu juga jantungnya seakan berhenti. Napasnya tercekat. Di depannya, berdiri diam sang kekasih. Nama yang ia sebut berulang kali di dalam permainan solonya.
“S-seungcheol.”
Sang empu hanya diam. Dengan perlahan berjalan mendekati Minghao. Tangannya bergerak merenggangkan dasi hitam yang melilit lehernya. Dengan kasar dia menarik dasinya, melemparnya ke sembarang arah.
Sabuknya ia lepas dengan terburu-buru, membantingnya di atas lantai. Kemejanya ia buka dengan cepat. Melepaskannya, dan membantingnya sembarang arah.
Kakinya ia naikkan salah satu diatas ranjang. Tangannya mencengkram rahang Minghao. Tatapan mata Seungcheol berhasil mengunci kedua netra Minghao.
“Siapa yang membolehkanmu main sendiri, hm?” bisiknya lirih di depan wajah Minghao. Hembusan napasnya menerpa Minghao.
“Answer me, baby.”
Minghao tersentak. Ia menatap Seungcheol takut-takut.
“Kamu jauhin aku. Kamu hindarin aku. Saat aku ngajak kamu main, kamu selalu ngehindar.”
Seungcheol menghela napasnya. Dengan lembut bibirnya mengecup bibir ranum Minghao yang menggoda.
“Sorry. I hid something from you, like you hid this from me.”
Minghao tersentak lagi. “Cheol...”
“Sejak kapan? Kamu main solo?”
Minghao menatap Seungcheol dalam diam. Bibirnya kelu. Ia tahu, Seungcheol benci jika ia bermain solo.
“Baby.”
Minghao kembali sadar. “3 minggu.”
Seungcheol tampak terkejut. “Oh my, poor my baby. Sorry.”
Minghao menggeleng pelan. “Gak papa. Aku paham. Aku paham sekarang, aku gak menarik lagi.”
Kedua matanya berkaca-kaca. Menatap Seungcheol terluka.
“Astaga. Hao, denger. Ini gak kayak yang kamu pikir.”
Minghao menggeleng lagi. “Gak. Aku tahu sekarang kamu jijik sama aku kan? Punya barang-barang gini.”
Seungcheol menggeleng keras. Kedua tangannya menangkup wajah Minghao. Menatapnya intens.
“Denger, aku gak ada rasa jijik atau apapun itu. Jujur, kamu yang tadi itu bikin aku turn on.”
Minghao memerah. Masih tak percaya dengan jawaban Seungcheol.
“Dan aku gak bosen atau apapun itu. Kamu menarik di mataku, Hao. Apapun yang kamu lakuin itu menarik bagiku.”
Minghao hanya diam. Mendengarkan ucapan Seungcheol.
“Dan ada alasan kenapa aku jauhin kamu.”
Minghao menyimak. Menikmati elusan lembut di rambutnya.
“Aku punya rahasia. Rahasia besar yang udah aku sembunyiin dari kamu lama. Walaupun kita udah lama berhubungan.”
Minghao menelan ludahnya. Masih menatap kedua netra Seungcheol yang segelap malam.
“Dan semakin kesini, rahasiaku itu makin parah. Makin besar keinginannya buat ke kamu juga. Dan aku takut kamu bakal jauhin aku karena ini.”
Seungcheol menyatukan dahi keduanya. Menatap dalam diam mata kekasihnya.
“Karena semua orang yang ku sayangin sebelumnya ninggalin aku karena ini. Dan aku takut. Takut kehilangan kamu. Maka dari itu, aku jauhin segala hal yang berbau seksual sebisa mungkin.”
Minghao menggeleng tak mengerti. “Emang apa itu? Aku gak ngerti. Kalo orang-orang yang ninggalin kamu gak bisa ngertiin kamu, mereka gak pantes disebut orang kesayangan kamu.”
Minghao menangkup kedua sisi wajah Seungcheol. “Kasih tahu aku, Cheol. Please. Can you?”
Seungcheol menghela napasnya. “Promise me you won't leave me.”
Minghao tersenyum lembut. “Aku janji. Aku janji gak bakal ninggalin kamu.”
Seungcheol memejamkan matanya. Ia jauhkan wajah keduanya. Menatap Minghao dalam diam.
“You know BDSM, right?”
Minghao ngangguk pelan. “Aku tahu.”
“Aku suka itu.”
Minghao terbelalak. Menatap Seungcheol kaget.
“Serius?”
Seungcheol ngangguk pelan. “Bahkan aku punya koleksi mainanku.”
Minghao menatap Seungcheol takjub. “Wow. Gak nyangka pacarku sendiri punya fantasi yang hampir sama kayak aku.”
Seungcheol menatap Minghao tak mengerti. “Maksudnya?”
Wajah Minghao memerah. Matanya bergerak kesana kemari, asal tak menatap Seungcheol.
“A-aku dari dulu pengen di dominasi, di hukum, di kasarin sama kamu.” cicitnya.
Seungcheol menatap Minghao tak percaya. Seringai tipis muncul dibibirnya.
“Oh ya? Maka dari itu kamu punya mainan-mainan ini?” ujarnya sambil menyentuh telinga kucing dan collar yang ada di lehernya.
Membuat Minghao mengangguk malu. “Maaf.”
Seungcheol terkekeh. Ia kecup bibir Minghao lembut. “Ngapain minta maaf?”
“Lagipula kita sama-sama punya fantasi. Aku yang pengen dominasi seseorang, dan kamu mau di dominasi seseorang. Impas kan?”
Minghao menelan ludahnya.
Seungcheol mencengkram surai rambut Minghao. Menjambaknya keras.
“Ah.”
Seungcheol bergerak mendekati telinga Minghao. Berbisik pelan.
“Want to play with me?”
Minghao memerah. Jantungnya berdetak kencang.
Dengan malu-malu ia menjawab, “Sure.”
Seungcheol tersenyum miring. “Good boy.” ujarnya sembari mengecup dahi Minghao pelan.
Seungcheol menjauhkan tubuhnya, berjalan mendekati lemarinya.
“Sebelum kita mulai kita harus punya kesepakatan.”
Seungcheol sibuk membuka lemarinya. Mencari sesuatu.
Minghao menatap tubuh topless Seungcheol dalam diam.
“Ada sesuatu yang gak kamu suka? Gak masalah kalo bondage?”
Minghao ngangguk. “Aku gak masalah, Cheol. Aku gak suka kalo udah nyekik, netesin lilin, dan sayat-sayat. Selain itu gak masalah.”
Seungcheol terlihat mengangguk ngerti. “Termasuk verbal?”
Minghao berpikir lama. “Mungkin gak masalah.”
“Karena kamu udah make collar, sama buttplug, ada beberapa mainan yang mau aku kasih tau. Gak masalah kalo pake borgol?”
Wajah Minghao memerah. “Gak papa.”
“Ball gag?”
Minghao menggeleng. “Nope. Aku gak suka.”
Seungcheol mengangguk. “Flogger?”
Minghao berpikir. “Cambuk yang kayak gimana dulu?”
Seungcheol berbalik. Mengangkat cambuk dengan gagang bermotif kotak-kotak merah hitam, dengan cambuk berukuran pendek berbahan kulit, dan seperti rambut.
Minghao nampak berpikir. “Gak masalah.”
“Oke.”
Seungcheol berbalik lagi. Sibuk dengan urusannya.
“How about dildo?”
Minghao bersemu. “Terserah.”
Seungcheol menyeringai. “Aku anggap sebagai iya.”
Seungcheol berjalan mendekati Minghao dengan borgol, cambuk dan dildo di tangannya.
“Okay, kita bahas 'safe word' dan batasan-batasan.”
Seungcheol meletakkan semua barangnya diatas kasur. Berhadapan dengan Minghao.
“Gak masalah kan sama spanking?”
Minghao ngangguk pelan.
“Jambak?”
“Gak masalah.”
Seungcheol ngangguk lagi. “Okey. Sekarang tinggal 'safe word'.”
“Kalo aku udah keterlaluan dan kamu udah gak kuat, just say 'rose'. How about that?”
Minghao setuju. “Aku setuju, Cheol.”
Seungcheol ngangguk paham. “Sekarang berbaring.”
Minghao menelan ludahnya. Ia baringkan tubuhnya. Menatap Seungcheol antusias.
“Angkat kedua tanganmu keatas.”
Minghao melakukannya dengan tenang. Dengan perlahan Seungcheol menaiki kasur. Menindih Minghao yang berbaring tak berdaya. Dengan cekatan tangannya memborgol kedua tangan Minghao.
“Sakit?”
Minghao menggeleng. “Enggak, Cheol.”
Seungcheol mengangkat alisnya heran. “Siapa yang bilang kamu boleh manggil aku Cheol, slave?”
Minghao tersentak. Seluruh tubuhnya meremang.
“Now, you can only call me Sir. Got it?”
Minghao ngangguk cepat.
“Answer me, bitch.”
Seungcheol menjambak surai rambut Minghao. Membuat sang empu mengerang.
“Y-yes, Sir.”
Seungcheol tersenyum puas. “Good boy.”
Tangan Seungcheol diam-diam mengeluarkan cock ring dari sakunya. Membuat Minghao terbelalak. “T-tadi gak ada cock ring.”
Seungcheol menatap menantang. “Oh, sekarang ada.”
Seungcheol memasangkan cock ring diujung penis Minghao. Membuat sang empu mengerang.
“Enghh...”
Seungcheol menyeringai. Tangannya melebarkan kedua kaki Minghao agar mengangkang.
“Lihat kamu sekarang. Mirip pelacur dengan ornamen kucing yang menghiasi tubuhmu.”
Kedua tangan Seungcheol naik ke arah dada Minghao. Meremas kedua nipple miliknya. Membuat Minghao mendesah.
“Ahhhh.... Anghhh...”
Seungcheol menyambar bibir merah milik Minghao. Mengecapnya lembut. Melumat bibir bawah dan bibir atas milik Minghao bergantian. Suara kecipak basah memenuhi ruangan keduanya. Kedua tangan Seungcheol tak tinggal diam. Memilih bermain di kedua nipple Minghao yang teranggurkan.
“Emhh...Ngh....”
Kedua ibu jari Seungcheol bermain disana. Menekan, memelintir dan menariknya keras.
“Ahhh..”
Mulut Minghao terlepas. Membuat Seungcheol kembali meraup bibirnya, dan menelusupkan lidah panjangnya, mengekplorasi seluruh bagian mulut Minghao, mengabsen gigi-gigi miliknya.
Seungcheol sengaja bermain di langit-langit mulutnya. Menggoda berulang kali disana.
“Nghhhh... Mmhhhh..”
Kecupan Seungcheol turun ke dagu dan rahang Minghao. Mengecup setiap inci tak tersisa. Sesekali menggigit dan menjilatnya.
“Ahhh... Nghhh..”
Mulutnya turun ke leher jenjang Minghao. Suara gemerincing lonceng membuat Seungcheol terkekeh.
“Mirip kucing.”
Lidahnya menjilat seluruh inci leher kekasihnya. Menggigit dan menghisapnya. Meninggalkan jejak kemerahan di sepanjang lehernya.
Lidahnya bermain di atas jakunnya. Sengaja membunyikan lonceng leher Minghao berulang kali. Dengan gemas mulutnya menghisap jakun milik Minghao. Sesekali menggigitnya.
“Anghhh... Cheolhh...”
Seungcheol menjauhkan wajahnya. “Lupa? Kamu cuman bisa manggil aku apa tadi?”
Tangan Seungcheol meremas penis Minghao yang memerah tegak.
“Akhhh... Sir... I'm sorry, Sir.”
Seungcheol tersenyum congkak. “Maaf? Harus kah anak baik sepertimu diberi hukuman agar gak ngulangin lagi?”
Seungcheol meremas lebih keras penis Minghao kali ini.
“Akkhhh... Ahhhh.. Maaf.. Gak akan kuulangi, Sir!”
Tangan Seungcheol yang lain menarik buttplug yang ada di lubang Minghao.
“Yakin gak bakal ngulangin?”
“Yes! Yes! Please, forgive me, Sir!”
Seungcheol mengangguk pelan. “Aku maafkan.”
Minghao tersenyum lega.
“Setelah ku beri hukuman.”
Senyum Minghao lenyap.
“Berbalik, Nungging.”
Minghao membalikkan badannya. Dengan kedua tangan yang di borgol, kepala Minghao bersembunyi di balik kedua tangannya yang terborgol. Pantatnya menungging.
Dengan ayunan singkat, tangan Seungcheol menampar bongkahan kenyal milik Minghao.
“Akhhh...”
Seungcheol menampar pantatnya lagi.
“Ahhh.... Sir....”
Kedua pantat milik Minghao memerah menimbulkan jejak telapak tangan dan warna merah yang sangat kentara.
“Kamu suka kan, kuhukum? Hm? Iyakan?”
Seungcheol kembali menampar kedua pantat Minghao. Membuat sang empu tersentak.
“Ahhhh... Sir..Please...”
Seungcheol meremas kedua pantat Minghao. Menjepit buttplug yang masih ada di dalam lubangnya.
“Please what?”
Tangan Seungcheol menarik ekor buttplug dari lubang Minghao. Membuat lubangnya merekah lebar. Sedikit mengeluarkan pelumas berwarna kekuningan.
“T-touch me, Sir.”
Seungcheol meletakkan buttplug di atas kasur, berganti mengambil dildo berwarna merah jambu yang sudah ia siapkan.
“Aku udah sentuh kamu, kan?”
Minghao mengerang saat Seungcheol menampar pantatnya lagi.
“Aahhh.. Sir...”
Dildo yang ada ditangannya sudah siapa di depan lubang Minghao.
“Yes, baby? Want me to put something in to your hole?”
Minghao mengerang mendengar kata-kata kotor dari mulut dominannya.
“Yes! Please, Sir!”
Seungcheol menjilat lidahnya. Seringai lebar muncul di bibirnya.
“As you wish.”
Dalam sekali hentak, Seungcheol mendorong masuk dildo yang ada ditangannya, kedalam lubang Minghao.
“Aahhhhhh.. Nghhhh... Hahhh..”
Suara Minghao melengking. Pantatnya menungging tajam. Kepalanya naik mendongak. Tangannya yang terborgol meremas erat sprei yang ada di bawahnya.
“Suka, baby?”
Minghao mengangguk. Suara lonceng kembali terdengar. Telinga kucing yang ada di atas kepalanya bergerak pelan.
“Yes, Sir!”
Tangan Seungcheol bergerak cepat mengeluarkan dan memasukkan dildo ke dalam lubang Minghao.
“Ahhh.. Ahhh.. Fasterhh.. Ahhh.. Sirrr..”
Seungcheol makin menggerakkan tangannya cepat. Libidonya naik drastis hanya melihat sang kekasih menungging menggairahkan di bawahnya.
“Bagaimana dengan cambukan kecil? You want that, slave?”
Tangan Seungcheol bergerak cepat. Liar dan ganas.
“Yesshh... Ahhh... Yess... Sirr..”
Tangan kanan Seungcheol tak berhenti. Tangannya yang lain bergerak mengambil cambuk yang sudah ia pilih.
“Lima atau tiga?”
Minghao sibuk mengerang dan mendesah.
“Baru sebatang dildo sudah seribut ini.”
Seungcheol tak berhenti. Tangannya ikut memutar dan menekan dildo makin dalam ke lubang Minghao.
“Ahhhh.. Sirr..”
Seungcheol mengangkat cambuknya. “Hitung.”
Splash.
“Ahhh...”
Minghao menggila. Tusukan di lubangnya yang menggairahkan, ditambah cambukan panas di punggungnya.
Splash.
“Ngahhh... Ahhh..”
Tangannya bergetar sebagai tumpuan. Kepalanya mendongak nikmat. Mulutnya terbuka lebar.
“Hitung, bitch.”
Splash.
“Ahhhh... One.. Hahh..”
Tangan Seungcheol menggerakkan dildo makin cepat menumbuk prostat Minghao.
Splash.
“Ngahhhh... Two.. Ahh.. Sir..”
Tangan Seungcheol mencabut dildo yang ada di dalam lubang Minghao.
Splash.
“Ahhhh.. Three.. Sir...”
Seungcheol melempar dildo ke sembarang arah. Ia melepas kancing celananya. Buru-buru melepas celana serta dalamannya. Menampilkan penisnya yang sudah tegak kecoklatan.
Splash.
“Mmhhh... Fourhh..”
Seungcheol meletakkan penisnya di depan lubang Minghao. Dalam sekali hentak, bersamaan dengan pecutnya, dia memberikan kenikmatan tiada tara kepada submissif-nya.
“Ngahhh... Hahhh.. Five... Ahhh..”
Seungcheol membanting cambuknya ke atas kasur. Tangannya mencengkram pinggang Minghao erat-erat.
Tusukkannya ia percepat. Menumbuk keras prostat Minghao yang sensitif.
“Ahhh.... Sir... Fasterhh..”
Gemerincing lonceng, dan derit kasur yang nyaring, menyatu bersama erangan serta desahan keras dari keduanya.
Dinding-dinding lubang Minghao mencengkram erat penis milik Seungcheol. Membuat sang empu menggeram nikmat.
Tubuh Minghao meremang. Merasakan kecepatan tusukan Seungcheol berbeda dari biasanya.
“AAhhh.. Mhhhh.. Hahh..”
Seungcheol membalikkan tubuh Minghao cepat. Membuat sang empu tersentak.
“Ahhh..”
Tangan Minghao naik diatas kepalanya. Bunyi lonceng yang ada di lehernya semakin nyaring. Matanya sayu. Wajahnya memerah padam. Mulutnya terbuka basah.
Penis Seungcheol menghujam tanpa henti di lubang kekasihnya.
“Ahhhh... Ahhhh... Sir...”
Penis Minghao sudah menggembung. Otot-otot terlihat di sekelilingnya. Precum keluar di ujungnya. Terlihat tersiksa.
Seungcheol mendekati Minghao. Mulutnya bergerak mengecup dada kekasihnya.
Menjilat, menghisap dan menggigit sepanjang kulit milik Minghao.
“Ngahhh... Hahhh..”
Seungcheol melahap puting milik Minghao. Menghisapnya keras layaknya seorang bayi. Lidahnya bermain disana. Menjilat layaknya permen. Gigi-giginya menggigit gemas. Sesekali memelintirnya.
“Aahhhh... Nahhhh.. Ahhh.. Hahh..”
Seungcheol menghisap tanpa ampun. Seperti menanti air asi keluar dari sana.
“Sir... Please... Ahhhh..”
Tusukannya makin liar. Ganas dan tak bertempo. Kepala Minghao pening. Merasakan kenikmatan yang berlipat.
“Please what, huh?”
Seungcheol melepaskan kulumannya. Menatap Minghao yang benar-benar erotis.
Tangan Seungcheol bergerak kebawah. Mengelus penis Minghao yang sudah memerah.
“Please.. Ahhh.. Let me cum...”
Tangan Seungcheol bermain disana. Mencengkram sedikit.
“Ngahh..”
Jari-jarinya mengurut penis Minghao lembut. Memijatnya dari bawah hingga atas. Mendekati cock ring yang ada di ujung penisnya.
“Ahhhh.. No... Ahhhh.. Hahhh..”
Tak diam disitu, tangannya bermain di skrotum Minghao yang mungil. Mencengkram dan meremasnya.
“Anghhhh... Hahhh... Ahhhh..”
Tumbukan Seungcheol makin cepat. Seperti paham bahwa Minghao sudah diujung tanduk.
“Sir... Ahhh... Let me... Uhhhh..”
Seungcheol merasa tak tega melihat Minghao yang berlinang air mata dengan pipi yang memerah, serta mulut terbuka yang menggoda.
Jari Seungcheol menarik cock ring terlepas dari penis Minghao. Membuat Minghao mengerang lega.
Tangan Seungcheol memijat dan meremas penis Minghao lembut. Mengocoknya agak cepat.
“Ahhhh... Ahhhh.. Sirhhh..”
Seungcheol mempercepat tusukannya. Merasakan penisnya di cengkram erat oleh dinding lubang Minghao.
“I wanna cum.... Ahhhhh.. Hahhh..”
Seungcheol bergerak mendekati Minghao. Tangannya mencengkram tangan Minghao yang terborgol.
“Cum to me, baby.”
Seungcheol mengeluarkan cairannya ke dalam lubang Minghao. Mendorongnya masuk makin dalam. Merasakan remasan-remasan nikmat yang diberikan oleh lubang milik Minghao.
Sedangkan Minghao mencengkram tangan Seungcheol erat. Mulutnya terbuka. Matanya terpejam nikmat. Cairannya keluar deras mengenai perut Seungcheol dan miliknya. Beberapa mengenai pahanya.
Napasnya tak teratur. Saling kejar mengejar oksigen. Tubuhnya bergetar nikmat karena orgasme yang ia rasakan.
Seungcheol mengambil napasnya dalam-dalam. Merasa terpuaskan malam ini.
Dengan lembut dia mencabut penisnya. Membuat cairannya keluar turun mengenai paha bagian dalam Minghao, dan menetes ke atas kasur.
Minghao mengerang. Merasakan lubangnya yang kosong mendadak.
“Are you okay?”
Seungcheol bertanya sambil mengusap lembut surai rambut Minghao. Tangannya bergerak membuka borgol tangan kekasihnya.
“Aku gak papa.” gumamnya lelah.
Seungcheol melempar borgol ke sembarang tempat. Tangannya melepas bando kucing serta collar yang ada di tubuh Minghao.
“Suka?”
Seungcheol meletakkan bando dan collar milik Minghao di samping kepalanya.
Dengan malu-malu Minghao menjawab. “Em, sedikit.”
Seungcheol terkekeh. “Okey okey.”
Minghao cemberut. Tangannya menarik Seungcheol kepelukannya.
“That was amazing.” bisik Minghao di telinga Seungcheol.
Membuat Seungcheol tertawa. “Glad to heart that.”
Minghao memerah. Menyembunyikan wajahmu di leher Seungcheol.
“Thank you, Sir.”
Seungcheol tertawa pelan. “Sama-sama, baby.”