–, Ribut

“GIMANA BISA LU MAKAN BUBUR DIADUK?”

“ENAKAN DIADUK, HYUNG. LU NYA AJA ANEH GAK DIADUK.”

“LU LEBIH ANEH, HAO. BENTUK ABSTRAK GITU DIKATA ENAK.”

“MAKANYA COBA, HYUNG. COBA!”

Soonyoung menguap malas melihat pertengkaran yang tak bermanfaat dari pasangan paling konyol yang pernah Soonyoung kenal. Tak ada hari tanpa adu mulut. Malah terlihat aneh jika keduanya terlihat manis layaknya pasangan lainnya.

Namun, Soonyoung senang melihat pertengkaran keduanya. Entah kenapa, Soonyoung bisa melihat aura asmara dari keduanya jika beradu mulut. Anggap saja Soonyoung gila.

“MAKAN BUBUR YA ENAKNYA MINUM TEH ANGET, HYUNG!”

“HEH DIMANA-MANA YA ES TEH!”

Yap. Topik mereka berubah. Menjalar kemana-mana. Dan Soonyoung sudah terbiasa dengan itu.

“KALO MAKAN BUBUR ENAKAN GAK ADA KUAHNYA, HAO!”

“GIMANA BISA GAK ADA KUAHNYA, HYUNG?! LU MAU MAKAN KERINGAN?”

Ya. Soonyoung benar-benar lelah sekarang.

“GAK USAH SOK BILANG BUBUR ENAKAN PAKE KUAH. LU AJA MAKAN BUBUR YANG DIKASIH MINGYU KEMARIN. GAK ADA KUAHNYA. LU DOYAN AJA TUH!”

“ITU BEDA LAGI!”

“OH TAHU. APA KARNA MINGYU MANTAN LU? IYA?”

“GAK ADA HUBUNGANNYA, HYUNG!”

Oke. Topik mulai menjalar ke mantan. Soonyoung mulai menyiapkan sekaleng soda dan semangkuk popcorn.

“Ada apa, Nyong?”

Wonwoo datang. Berbisik pelan, sambil menatap perkelahian Jihoon dan juga Minghao.

“Biasa tengkar gak guna lagi.”

Soonyoung menyuapkan popcorn ke arah Wonwoo, yang disambut senang hati oleh Wonwoo.

“Ribut apa lagi sih?”

Kini giliran Seokmin datang. Mengambil tempat di samping Wonwoo.

“Hoonhao tengkar lagi.” Wonwoo berucap.

Ketiganya menatap datar perkelahian pasangan aneh itu.

“GUA TAU LU KEMARIN MAKAN BUBUR PAK SOMAT SAMA MANTAN LU, HYUNG. SIAPA NAMANYA. AH GUA LUPA.”

“CHAN.”

“AH SI CHAN. DASAR PELAKOR.”

“DIA BUKAN PELAKOR, HAO!”

“KAN LU BELAIN LAGI!”

Ketiganya geleng-geleng. Kini topiknya sudah makin melebar.

“Taruhan, Hao bakal bahas Seungkwan.” Soonyoung bertaruh.

“Taruhan, Jihoon bakal bahas Seungcheol.” Kini Wonwoo ikut bertaruh.

“Taruhan, mereka bakal hina satu sama lain.” Seokmin bertaruh terakhir.

“LU TUH GAK GANTENG.”

“LU JUGA GAK GEMESIN.”

Seokmin tersenyum menang. “Kalian hutang ramen ke gua.”

“KALO GITU LU NGAPAIN MASIH SAMA GUA, HYUNG?!”

“LU JUGA! NGAPAIN MASIH SAMA GUA HAH?!”

Seokmin serta Wonwoo menelan ludahnya gugup. Kecuali Soonyoung. Dengan enteng dia berucap.

“Kalo Jihoon sama Minghao saling bilang ' I Love You' traktir gua burger.”

Seokmin serta Wonwoo saling pandang. “Gak mungkin. Mereka udah mau diambang putus gitu.” Seokmin menjawab ragu.

“Kalo perkataan gua bener traktir gua.”

Seokmin serta Wonwoo mengangguk setuju. “Deal.”

“YAUDAH SANA CARI YANG LAIN KALO UDAH GAK SUKA GUA, HYUNG!”

“LU JUGA! TINGGALIN GUA!”

“GAK BISA, HYUNG!”

“KENAPA? KATANYA GUA GAK GANTENG KAN?”

“LU JUGA NGATAIN GUA GAK GEMESIN!”

“KARNA GUA BALES PERKATAAN LU!”

“LU SELALU BALES PERKATAAN GUA?!”

“IYA, HAO!”

“YAUDAH!”

“YAUDAH!”

“I LOVE YOU, HYUNG!”

“I LOVE YOU!”

Seokmin serta Wonwoo menatap cengo pasangan di depannya. Soonyoung menyeringai puas.

“Traktir burger~”

Seokmin dan Wonwoo masih shock dengan keadaan pasangan yang ada di hadapan mereka.

Sedangkan Soonyoung? Sudah biasa. Dia sudah biasa. Hapal sudah. Adu mulut Jihoon serta Minghao tak bakal bertahan lama kurang dari 30 menit. Dan selalu di akhiri 'I Love You'. Segampang itu mereka berbaikan.

Soonyoung terkekeh. Bangga memiliki teman seperti Jihoon dan juga Minghao. Bagaimana bisa mereka bertahan bersama selama 5 tahun, dengan adu mulut setiap saat?

Antara aneh dan ajaib.

“Udah jangan nangis. Bubur enakan diaduk kok.” Jihoon berucap lembut sambil mengecup pipi Minghao.

“Bubur enak juga kalo gak diaduk, hyung.” Tangannya memilin kemeja bawahnya. Malu dengan sikap Jihoon.

“Mau makan bubur bareng?” Jihoon menawarkan.

“Suapin?”

Jihoon menyeringai. “Pake bibirku kalo perlu.”

“HYUNG!”

Soonyoung geleng-geleng. Antara aneh, ajaib dan absurd.