–, Riding You
Minghao duduk di atas motornya dengan tenang. Sorak sorai para penonton yang datang ke balapan kali ini, membuat Minghao bersemangat sekaligus tegang. Seperti biasa, Minghao akan memenangkan pertandingan kali ini. Siapapun lawannya, pasti Minghao lawan.
Dengan motor hitam miliknya, ia yakin malam ini ia akan kembali memenangkan balapan.
Seperti malam-malam sebelumnya. Minghao hanya akan menonton orang-orang dari kejauhan. Dia malas untuk sekedar ngobrol basa-basi. Minghao hanya akan bertanding, lalu pulang membawa sejumlah uang yang cukup banyak.
Namun, sebuah taruhan untuk balapan malam ini, berhasil membuat Minghao terpacu dalam ambisi.
Minghao adalah orang yang ambisius. Apapun yang terjadi, Minghao akan memenangkan taruhan ini. Dan membuat orang yang menantang Minghao malu hingga tak mau memunculkan dirinya lagi.
Apa yang membuat Minghao sekesal ini?
Semua bermula dari kemarin malam. Group teman-temannya heboh. Kata mereka 'Tan Kim' datang. Minghao heran. Siapa pula itu 'Tan Kim'. Dilihat dari reaksi group chatnya, pasti orang itu sangat terkenal.
Menurut penuturan teman-temannya, karena Minghao ini pembalap baru, dia tidak tahu keberadaan 'Tan Kim'.
Minghao baru 6 bulan mengikuti balapan liar. Didesak oleh kebutuhan di ibu kota, mau tak mau Minghao harus mencari uang tambahan dengan balapan. Lagipula, dia memang suka memacu kecepatan dan membuat adrenalinnya membuncah.
Kembali lagi, kata anak-anak groupnya, 'Tan Kim' hanya akan muncul sekali dalam setahun. Itupun jika pertandingan besar. Namun entah kenapa, 'Tan Kim' muncul di pertandingan biasa. Dan yang lebih mencengangkan lagi. 'Tan Kim' mangajaknya bertanding.
Iya. Menantang Minghao bertanding. Apa yang dilakukan Minghao? Tentu saja menerimanya. Masa bodo dengan yang namanya 'Tan Kim'. Apapun yang terjadi, Minghao lah yang akan menjadi pemenang.
Teman-teman Minghao bersorak sekaligus memuji Minghao. Kata mereka, jika 'Tan Kim' mengajakmu bertanding, maka kemampuanmu diakui olehnya. Minghao tentu bangga. Walaupun dia tak tahu, bagaimana kemampuan si 'Tan Kim' ini, dipuji oleh pembalap senior suatu kebanggaan oleh Minghao. Dan yang membuat Minghao lebih terkenal lagi adalah Minghao baru saja terjun ke balapan liar hanya dalam waktu 6 bulan, namun berhasil membuat 'Tan Kim' menantangnya.
Pagi tadi, saat Minghao akan berangkat menuju kampusnya, sebuah pesan dari groupnya berhasil membuat Minghao hampir membanting ponselnya.
Mereka mengatakan bahwa 'Tan Kim' memiliki taruhan unik. Uang senilai 10 juta won. Minghao hampir ternganga. Uang sebanyak itu cukup bagi Minghao untuk hidup di kota metropolitan macam Seoul.
Mereka mengatakan jika Minghao memenangkan pertandingan malam ini, 'Tan Kim' akan memberikannya uang senilai 10 juta won, langsung di hadapan Minghao. Dan jika Minghao kalah, dia harus membayar dengan tubuhnya.
Pagi itu, Minghao ingin menolak permintaan si 'Tan Kim'.
Minghao tak masalah jika harus di bayar dengan tubuhnya. Dia bi. Dia tak masalah dengan gender. Yang membuatnya kesal adalah, bagaimana bisa si 'Tan Kim' ini begitu percaya diri, jika Minghao akan kalah?
10 juta won dibandingkan dengan tubuhnya, itu terlalu sedikit. Oh, ayolah. Tubuh Minghao tidak semurah itu.
Akhirnya, salah satu tangan kanan 'Tan Kim' mengatakan, bahwa taruhannya ia naikkan. 100 juta won. Jika Minghao kalah, ia harus membayar dengan tubuhnya.
Uang sebesar itu akan Minghao tolak? Tidak. Dia tak akan menolaknya. 'Tan Kim' seperti mendeklarasikan perang. Minghao tak akan kalah darinya. Seperti apasih kemampuan 'Tan Kim' ini. Sebegitu yakinnya dia memasang taruhan tinggi.
Dan satu informasi penting dari kawan-kawannya. Tidak ada yang tahu bagaimana rupa dari 'Tan Kim' ini. Dia selalu datang memakai helm full face hitam, dan jaket kulit andalan. Itu kata mereka.
Masa bodo. Minghao tak peduli. Yang jelas tujuannya kali ini adalah membuat 'Tan Kim' malu dan membawa uang 100 juta won ke dalam kantongnya.
*****
Suara motor besar yang mencolok, membuat semua mata menengok ke asal suara. Motor besar berwarna hitam, pengendara yang memakai kaos putih dilapisi jaket kulit hitam, serta ripped jeans hitam yang melapisi kaki jenjangnya, membuat seluruh mata menatapnya. Jangan lupakan helm full face yang menutupi seluruh wajahnya.
'Tan Kim'.
Minghao menatap orang itu dengan tajam. Melihatnya dengan santai mengendarai motor mendekati Minghao.
'Tan Kim' menghentikan motornya tepat di sampingnya. Menatapnya dari balik helm hitam miliknya.
Minghao memakai helm dengan tenang. Menyalakan motornya. Terlihat seorang wanita berdiri di hadapan keduanya, berada di tengah-tengah.
Minghao serta 'Tan Kim' memainkan gas motor mereka. Berusaha memanaskan mesin motor keduanya.
“Are you ready?” tanya wanita dengan membawa sapu tangan putih ke arah 'Tan Kim'.
Dia mengangguk. Tangannya tak henti memainkan gas.
“Are you ready?” tanya wanita di hadapan mereka kearah Minghao.
Minghao mengangguk. Posisinya sudah siap. Berharap dewi fortuna memberikan keberuntungan padanya malam ini.
“Bersiap!”
Minghao mengambil ancang-ancang. Pandangannya fokus kedepan.
“Go!”
Minghao menancapkan gasnya semaksimal mungkin. Matanya menatap jalan di depannya dengan tajam.
Beruntung, Minghao berhasil menyolong start dan meninggalkan 'Tan Kim' di belakangnya. Namun, 'Tan Kim' tak tinggal diam. 'Tan Kim' menyusul Minghao. Motornya melaju kencang. Tepat di samping Minghao. Minghao bisa merasakan tawa mengejek dibalik helm full face orang itu.
Tak terima, Minghao menyalip lawannya. Saling kejar-mengejar satu sama lain tanpa celah. Para penonton bersorak ramai. Meneriakkan jagoan mereka masing-masing. Selama 5 putaran, mereka saling kejar mengejar. Saling salip menyalip. Kurang 1 putaran lagi. Minghao dan 'Tan Kim' tak ingin mengalah satu sama lain.
Sayangnya dewi fortuna tidak memihak Minghao. 'Tan Kim' berhasil mencapai garis finish terlebih dulu. Beda 5 detik dengan Minghao.
Minghao mengumpat dalam hati. Sorakan para penonton membuatnya tuli.
Minghao tak terima. Namun bagaimana lagi. Ini sudah ketentuan mereka. Minghao menghela napasnya.
“Terima nasibmu, Hao.” ujar salah satu temannya sambil menepuk bahu Minghao pelan.
Minghao memutar matanya malas.
“Banyak omong.”
Mereka terkekeh. “Lagipula ini pertama kalinya kamu kalah, Hao. Santai saja.”
Ingin rasanya Minghao menonjok temannya. Santai katanya. Dia akan kehilangan keperjakaannya sebentar lagi.
'Tan Kim' menatapnya. Ingin rasanya Minghao menendang helm orang itu.
Dengan malas Minghao mengangkat wajahnya. Membuat si 'Tan Kim' menggerakkan kepalanya. Berusaha memberitahu Minghao untuk pergi bersamanya.
Minghao mengumpat dalam hati. Menyesal menyetujui taruhan malam ini.
“Aku pergi dulu.” ucap Minghao lelah.
“Beri tahu kami jika sudah selesai, oke.”
Minghao menendang kaki temannya. Membuat sang empu mengaduh kesakitan.
“Sialan.”
Minghao segera mengendarai motornya mendekati 'Tan Kim'.
“Cepat.” ujarnya.
'Tan Kim' mengangguk, lalu melambai kepada para penonton, lalu pergi melajukan motornya, diikuti oleh Minghao di belakangnya.
******
Minghao serta 'Tan Kim' menyewa kamar di salah satu hotel kecil. Tidak terlalu mewah, biasa-biasa saja. Minghao hanya diam. Mengikuti dari belakang.
Jantung Minghao berdetak kencang. Masih tak siap merelakan keperjakaannya kepada orang asing yang belum tentu jelas bentukannya.
Minghao berusaha kalem dan tenang. Jika tahu begini, dia tak akan menerima tawaran 'Tan Kim'. Kenapa pula Minghao ambisi sekali, untuk melawan orang ini.
Minghao menghela napasnya. 'Tan Kim' berhenti di depan pintu kamar. Tak sadar mereka telah sampai di kamar yang mereka sewa.
Dengan perlahan, 'Tan Kim' membuka pintu dan mempersilahkan Minghao untuk masuk terlebih dahulu.
Minghao berjalan masuk. Melihat keadaan kamar dengan teliti.
“Mau mandi dulu atau langsung?” tanya 'Tan Kim' yang suaranya teredam oleh helm.
Minghao menengok kebelakang. Terlihat 'Tan Kim' melepas jaket kulitnya, dan menyampirkannya di salah satu sofa. Tangannya bergerak melepas helm full facenya.
Kepalanya menunduk. Dia menggoyang-goyangkan kepalanya. Membuat rambutnya bergerak liar. Tangannya meletakkan helm kesayangannya di atas meja, lalu mengacak-acak rambutnya.
Minghao menatap penasaran. Bagaimana rupa 'Tan Kim' ini.
Saat 'Tan Kim' mengangkat wajahnya. Minghao menahan napasnya. Seluruh waktu terhenti. Tubuhnya membeku.
Keduanya saling tatap. Saling menelusuri wajah satu sama lain.
Minghao memuji betapa tampannya 'Tan Kim' yang ada di hadapannya saat ini. Rambut hitam yang berantakan, kulit tan yang menggoda, tatapan matanya yang tajam, serta seringai tipis yang ada di bibirnya. Minghao gila. Sungguh gila.
“Panggil Mingyu. Namaku Mingyu. Kamu Minghao kan?”
Suaranya berat dan dalam. Agak sedikit serak. Terdengar sangat renyah di telinga Minghao.
Minghao hanya mengangguk. Tak berani mengeluarkan suara. Dirinya masih sibuk mengagumi paras 'Tan Kim' atau bisa Minghao panggil Mingyu.
“Mau mandi dulu atau langsung?” tanyanya lagi.
Minghao berdeham. Berusaha menenangkan dirinya. “Langsung aja. Lagian kotor lagi kan.”
Mingyu terkekeh. Oh, betapa Minghao ingin menerjang Mingyu saat ini. Gigi taringnya yang sedikit terlihat, membuat Minghao histeris secara internal.
Bagaimana bisa ada lelaki yang seatraktif ini?
Minghao jadi tidak menyesal kalah dalam balapan tadi.
“Mesum juga kamu.”
Minghao memerah. Apa yang salah dengan jawabannya. Kan memang benar.
“Mau ku lepaskan atau lepas sendiri?” tanya Mingyu mendekati Minghao.
Minghao hanya diam. “Apanya?”
Mingyu tersenyum tipis. Dirinya sudah sangat dekat di hadapan Minghao. Hanya berjarak beberapa senti. Minghao harus mendongak.
“Bajumu.” bisiknya sambil menatap lekat bibir Minghao.
Minghao gelagapan. “Ah, um l-lepas sendiri.”
Mingyu terkekeh. “Oke.”
Setelahnya Mingyu membuka kaosnya. Menampilkan otot dada yang kekar, serta absnya yang menggoda. Minghao menelan ludahnya.
Mingyu melempar kaosnya ke sofa yang ada di sebrang kasur, lalu menatap Minghao. Bibirnya menukik menggoda.
“You like it?”
Minghao memerah. Tak mau menjawab.
Minghao buru-buru melepas jaket kulitnya. Meletakkannya di atas lantai. Agak gugup karena di tatap oleh Mingyu.
Tangannya bergerak melepas kaosnya. Lalu meletakkan di atas jaketnya.
Kini keduanya sama-sama telanjang dada. Mingyu menatap lekat Minghao. Memandang dari atas hingga bawah.
“Baru pertama kali?” tanya Mingyu sambil menggerakkan jarinya menyentuh dada Minghao, menelusurinya menggunakan telunjuknya. Membuat Minghao meremang.
“Iya.” bisiknya.
Mingyu tersentak. Tampak terkejut, lalu kembali tenang. “So, I was the first for you?”
Minghao memerah. Dia mengangguk pelan.
Mingyu meraih pinggangnya. Tangan kekarnya ia lingkarkan di pinggang Minghao yang ramping.
Bibirnya ia arahkan ke telinga Minghao. “It's an honor to be the first for a beautiful man like you.”
Mingyu berbisik tepat di telinga Minghao. Menjilat sedikit telinganya. Membuat Minghao gemetar.
Mingyu menjauhkan tubuhnya. Bergerak melepas celananya.
“Buka celanamu.”
Mingyu menurunkan celananya. Menyisakan celana dalamnya yang berwarna hitam.
Buru-buru Minghao melepas celananya. Menurunkannya, dan menyisakan celana dalamnya yang berwarna merah.
“I can't wait to tease yours.” ucap Mingyu sambil mendorong Minghao ke atas kasur.
Minghao sedikit kaget dengan perlakukan Mingyu.
Terlihat Mingyu menaiki atas kasur, memerangkap tubuh Minghao di antara tubuhnya dan kasur.
Napas Minghao tersengal. Sedikit tidak sabar.
Mingyu menyentuh sisi wajahnya. Mengusap pipinya pelan.
“Can I kiss you?” bisik Minggu tepat di depan bibir Minghao.
Minghao ngangguk sedikit. Agak pelan. Senyum tipis timbul di bibir Mingyu.
“Thanks.”
Setelahnya Mingyu mendaratkan ciumannya di bibir Minghao. Melumatnya pelan. Lembut. Sangat lembut. Lidah mereka saling menggoda. Membelit satu sama lain. Suara kecipak basah memenuhi pendengaran mereka.
Mingyu menggigit bibir Minghao pelan. Membuat Minghao mengerang.
Dengan sensual Mingyu mengeksplorasi mulut Minghao. Mengabsen gigi-giginya. Menggoda langit-langitnya. Menusuk-nusukkan lidahnya di sana.
Minghao mengerang. Mendesah dalam ciuman mereka.
Tangan Mingyu turun mengusap leher Minghao. Ibu jarinya menekan jakun Minghao. Mengusapnya pelan secara melingkar.
Minghao mendongak. Membuat ciuman mereka terlepas. Mingyu menggeser ciumannya. Mengecup inci demi inci kulit Minghao. Di kecupnya pelan rahang Minghao. Menjilat serta menggigitnya pelan. Membuat Minghao melenguh keenakan.
Ciumannya naik. Menuju telinga Minghao yang memerah.
Di jilatnya pelan telinga Minghao. Mengulum penuh, telinganya. Menghisap serta menggigitnya.
“Ahh... Mingyu..”
Mingyu melesakkan lidahnya di lubang telinga Minghao. Bermain disana. Melingkari lubang telinganya, sesekali ia menusuk-nusukkan lidahnya disana.
Piercing Minghao ia mainkan. Ia kulum dan ia gigit pelan. Menariknya sedikit. Membuat Minghao mengerang.
Ciuman Mingyu turun ke leher Minghao. Ia kecup pelan seluruh leher Minghao. Menghisap dan menjilatnya. Ia sesap lebih nikmat leher putih milik Minghao. Membuat Minghao mendesah keenakan.
Dengan sensual Mingyu menjilat dari batas lehernya, hingga dagu Minghao. Membuat Minghao mendongak. Desahan tertahan keluar dari bibirnya.
Nafas Minghao tersendat. Mingyu menggigit seluruh permukaan leher Minghao. Memberikan kissmark sebanyak yang ia inginkan.
Ciumannya turun ke dada Minghao. Ia kecup dengan lembut seluruh permukaan dada Minghao. Menjilatnya menggoda. Membuat Minghao membusungkan dadanya.
Dengan gemas, Mingyu mengecup kedua nipple Minghao. Membuat nipple sang empu tegak berdiri.
Penuh kelembutan, Mingyu menjilat pelan nipplenya. Sangat pelan. Membuat Minghao mengerang. Ia kulum nipple Minghao masuk kedalam mulutnya.
Ia hisap, dan gigit dengan gemas. Menariknya berulang kali. Membuat nipple Minghao basah oleh air liur milik Mingyu.
Badan Minghao menggelinjang. Nipple Minghao yang satunya, Mingyu mainkan dengan jari miliknya. Telunjuk serta ibu jarinya bermain disana. Memelintir, menekan serta menariknya gemas.
Minghao membusungkan dadanya. Punggungnya melengkung indah. Membentuk seperti busur.
Erangan serta desahan keluar dari bibir Minghao. Napasnya berantakan.
Mingyu melepaskan kulumannya. Kecupannya turun ke perut Minghao. Mengecupnya penuh kelembutan. Lidahnya ia julurkan untuk menjilat abdomen Minghao. Menjilatnya dari bawah hingga dada Minghao. Minghao mendongak keenakan. Desahan keluar dari bibirnya.
“Ahnghhh.... Ahhh.. Mingyu...”
Mingyu menjilat berulangkali. Sesekali memberi tanda di perut Minghao.
Lidahnya berhenti di pusar Minghao. Mingyu bermain disana. Menjilat serta menghisap pusar Minghao. Sesekali melumatnya. Tubuh Minghao menggeliat.
Tangan Minggu mendekap pinggang Minghao, agar tak banyak bergerak.
Lidahnya ia julurkan, turun hingga ke celana dalam Minghao.
Mingyu mengecup pelan penis Minghao, yang menggembung di balik celana dalamnya.
Minghao tersentak. “Ah.. sshh..”
Mingyu mendaratkan kecupan di sana. Sengaja ia tekan. Menggoda sedikit penis lelaki di bawahnya.
“Ahhh.... Hahhh..”
Mingyu menarik celana dalam Minghao turun hingga lepas dari kakinya. Melempar asal kesembarang arah.
Penis Minghao mencuat. Sedikit bergoyang.
Mingyu menjilat bibirnya. Sedikit tidak sabar.
Dengan lembut ia genggam penis Minghao ke dalam genggamannya. Membuat tubuh Minghao tersentak. Punggungnya naik, kepalanya mendongak.
Mingyu menatap Minghao yang sungguh ekspresif. Membuat libidonya semakin naik.
Dengan sensual, Mingyu menjulurkan lidahnya, menjilat ujung penis milik Minghao.
“Mingyuh.. mnhh... Ahh..”
Mingyu menjilat berulang kali. Menjilat dari ujung kebawah. Hingga mengenai skrotum milik Minghao.
Membuat Minghao mendesah keras. Tangannya mencengkram sprei di bawahnya. Mulutnya terbuka mengeluarkan suara-suara kenikmatan.
Mingyu memasukkan penis Minghao ke mulutnya penuh. Mengulumnya nikmat, dalam sekali masuk.
Minghao berteriak. Merasakan kehangatan mulut Mingyu yang memanjakan penisnya.
Dengan cepat, Mingyu memaju mundurkan kepalanya. Mengulum penis Minghao. Menghisap serta memainkan lidahnya disana. Melingkari dan mengeksplorasi penis Minghao yang tegak berwarna kemerahan.
Mingyu semakin memperdalam kulumannya, hingga mengenai tenggorokannya.
Minghao berteriak. Desahan kenikmatan keluar berantakan dari mulutnya. Tangannya sudah menarik kencang sprei yang ada di bawahnya. Tubuhnya bergetar keenakan.
“Aaahhh... Mingyuhh... Enakhh..”
Mingyu bergumam. Membuat Minghao menggelinjang.
Minghao bisa merasakan dirinya akan keluar.
Mingyu seperti sadar, dengan gencar dia mengulum penis Minghao. Menghisap ujung penis lelaki di bawahnya keras. Sangat keras.
Membuat Minghao menyemprotkan cairannya ke dalam mulut Mingyu. Tubuhnya bergetar. Pinggulnya bergerak tak teratur.
Mulut Minghao terbuka. Tak bersuara. Matanya melebar. Air liur mengalir di pipinya.
Tubuhnya bergetar penuh kenikmatan. Over sensitif melanda tubuhnya.
Mingyu melepaskan kulumannya. Ia telan cairan Minghao layaknya air biasa.
Lidahnya ia julurkan, untuk menjilat bibirnya.
“Bahkan cairanmu manis.”
Minghao mengatur napasnya. Tersengal-sengal.
Mingyu mendorong lutut Minghao naik hingga perutnya. Membuat kaki Minghao terlipat. Minghao hanya pasrah. Tubuhnya lemas.
“Because this is the first time for you, then I will make it full of pleasure.”
Minghao memerah. Menatap Mingyu dalam diam.
Mingyu menunduk. Menghadap lubang Minghao yang merekah. Tak pernah terjamah.
Mingyu meniupkan napasnya di lubang Minghao. Membuat Minghao menggeliat tak nyaman.
Mingyu menyeringai. Dengan pelan ia julurkan lidahnya. Menjilat lubang milik Minghao.
“Hyahhh.. Ahhh...”
Mingyu menjilat sepanjang lubang Minghao. Menjilat dari lubang hingga skrotum milik Minghao. Membuat Minghao mengejang. Punggungnya melengkung.
Mingyu tak menghentikan permainannya. Lidahnya menjilat melingkar. Sangat pelan. Membuat Minghao frustasi sekaligus keenakan.
Tangan Mingyu bergerak membuka lebar lubang Minghao. Lidahnya ia julurkan kedalam. Memasuki lubang Minghao yang mungil.
Mingyu menggeram saat lidahnya di cengkram erat oleh dinding Minghao.
Makin semangat, Mingyu memasukkan lidahnya makin dalam. Membuat mulutnya mengulum penuh lubang milik Minghao.
Minghao mendesah, mengerang dan memekik keenakan.
Tangannya ia cengkram ke atas bantal yang ia gunakan.
Mingyu mengeksplorasi lubang Minghao menggunakan lidahnya. Melingkari dinding Minghao dengan lembut. Ia hisap sesekali lubang Minghao dengan gemas.
“Ahh... Mingyuh...Nghh..”
Lidahnya sengaja ia tusuk-tusukkan kedalam. Membuat Minghao mengejang keenakan.
Dengan santai Mingyu melepas kulumannya. Jari telunjuknya segera ia masukkan kedalam.
“Akhhh... Hahhh... Ahhh..”
Minghao merasa aneh di bawah sana. Rasanya asing.
Mingyu semakin memasukkan jarinya ke dalam lubang milik lelaki dibawahnya. Menekan serta mengusap dinding lubang milik Minghao.
Ia arahkan jarinya semakin dalam. Menggerakannya melingkar, berusaha melonggarkan lubang Minghao.
“Ahh... Unghh.. Mingyuhh..”
Minghao mendesah saat Mingyu menyentuh sesuatu yang membuatnya melayang.
Mingyu berulangkali menyentuh prostat milik Minghao. Menyentuh dan menekannya. Membuat Minghao berteriak keenakan.
Dengan gemas Mingyu menggoda prostat Minghao. Menyentuhnya berulangkali. Membuat Minghao menggelinjang.
“Aahhhh... Mingyuhh... Janganhhh..”
Mingyu terus bermain disana. Tak mendengarkan keluhan Minghao.
Tubuh Minghao mengejang. Perutnya berkontraksi. Dinding Minghao mencengkram erat jari milik Mingyu. Mingyu sepertinya peka.
Dengan sengaja ia sentuh berulangkali. Menekannya keras.
“Aaahhhh... Ahhh.. No.. Ahhh...”
Minghao keluar kedua kalinya. Pinggulnya naik. Cairannya menyemprot keras mengenai perut serta kakinya.
Minghao tersengal. Napasnya tak beraturan. Tubuhnya bergetar keenakan.
Mingyu mengeluarkan jarinya. Tangannya ia gosokkan pelan di paha Minghao. Berusaha menenangkan Minghao.
“Baru satu jari. Gimana kalo kumasukin punyaku?”
Minghao memerah. Napasnya masih tak teratur.
Mingyu mendorong pinggul Minghao naik. Kaki Minghao menyentuh sisi kepalanya. Mingyu memuji betapa lenturnya Minghao saat ini.
Lubang Minghao ada di depan wajahnya. Ia menatap Minghao lekat. “Gak sakitkan kalo gini?”
Minghao menggeleng. Untungnya Minghao memiliki tubuh yang lentur.
Mingyu meniup lubang Minghao pelan. Membuat lubangnya bereaksi.
Mingyu mendekatkan wajahnya ke lubang Minghao, kedua ibu jarinya membuka lebar lubang Minghao.
Dengan pelan dia mengeluarkan ludahnya, meneteskannya ke dalam lubang Minghao.
Minghao merasakan sesuatu yang dingin di dalam lubangnya.
Dengan pelan Minggu menyiapkan 2 jarinya. Dalam sekali masuk, ia lesakkan kedua jarinya ke dalam. Membuat Minghao berteriak.
“Akhh... Hahh... Ahh..”
Mingyu memasuk dan mengeluarkan jarinya berulang kali. Memaju mundurkan dengan cepat. Ia menggerakkan jarinya seperti gunting di dalam.
Ia memasukkan jarinya yang ketiga. Menusukkannya cepat di dalam lubang Minghao. Sesekali menggerakkan ketiga jarinya melingkar. Membuat lubang Minghao semakin melebar.
Setelah di rasa cukup, Mingyu mengeluarkan jarinya.
Ia menurunkan celana dalamnya. Menampilkan penisnya yang tegang kemerahan.
Minghao sudah berada di posisi awalnya. Terbaring lemah. Kakinya masih ia lipat hingga mengenai perutnya.
Mingyu meludahkan air liurnya ke telapak tangannya. Mengoleskan di penisnya yang sudah tegak berwarna merah. Otot-otot terlihat di sepanjang penisnya.
Minghao menatap takut-takut, dan Mingyu tahu akan hal itu.
Di kecupnya pelan dahi Minghao. Turun ke pelupuk matanya, hidungnya lalu berhenti di bibirnya. Mingyu mengecup berulangkali di sana. Berusaha membuat Minghao rileks.
Minghao sedikit demi sedikit percaya. Tangan Mingyu yang satunya, ia gunakan untuk menggenggam tangan Minghao. Mengunci kelima jari mereka.
“Rileks.”
Minghao mengangguk. Napasnya sudah normal. Kini ia siap.
Minghao mengangguk. Mengkode Mingyu bahwa ia sudah siap.
Mingyu menggenggam penisnya, menyiapkan di depan lubang Minghao.
Dengan perlahan dia memasukkan penisnya ke dalam. Melesakkannya perlahan.
Minghao berteriak. Kepalanya mendongak. Tangannya meremas tangan Mingyu.
Dalam sekali hentak, Mingyu berhasil memasukkan seluruh penisnya ke dalam lubang Minghao.
Napas Mingyu tersengal. Merasakan pijatan-pijatan lembut di penisnya.
“Ah, fuck.”
Minghao berusaha mengatur napasnya. Berusaha membuat tubuhnya rileks.
Beberapa menit berdiam diri, Minghao mengangguk.
Tangannya meremas tangan Mingyu.
Mingyu mulai memaju mundur kan tubuhnya. Penisnya ia keluar-masukkan pelan. Minghao bergerak secara konstan. Seirama dengan Mingyu.
Tangan Mingyu yang lain, bergerak untuk menggenggam tangan Minghao. Mengunci kelima jarinya, dan membawa kedua genggaman tangannya di atas kepala Minghao.
Minghao mendesah, mengerang dan berteriak.
Mingyu berulang kali menumbukkan penisnya di prostat milik Minghao. Membuat Minghao menggelinjang keenakan.
“Ahh... Hahh.. Ahnn..”
Mingyu mempercepat tusukkannya. Mulutnya ia arahkan untuk melumat bibir Minghao. Melumatnya rakus. Kecupannya turun ke lehernya, dadanya dan nipplenya.
Ia kulum nipple Minghao. Menghisapnya keras.
Dada Minghao membusung. Merasakan kenikmatan yang berlipat ganda.
Tusukan Mingyu berulangkali mengenai prostatnya.
Mulut Mingyu tak berhenti. Semakin menghisap dan menyesap nipple milik Minghao.
“Unghh.. mingyuh.. nghh...”
Minghao mendongak keenakan. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan suara kenikmatan.
Mingyu semakin gila. Mabuk dengan suara Minghao yang serak dan basah. Meneriakkan namanya.
Mingyu semakin mempercepat tumbukkannya. Sengaja berulang kali mengenai prostat Minghao.
“Ahhh.. Gyuuhh.. Ahhh.. Akuhh..”
Mingyu menumbuk cepat. Bunyi kecipak tusukkannya sangat jelas. Derit kasur mengalun bersamanya.
“Come to me, Hao.”
Minghao menyemburkan cairannya. Menyemprot keatas, mengenai dada Mingyu serta perutnya. Beberapa mengenai perut serta kaki Minghao.
Beberapa detik setelahnya Mingyu menyusul. Memperdalam tusukkannya. Menyemburkan cairannya di dalam.
Penampilan Mingyu berantakan. Rambutnya basah oleh keringat. Berantakan. Tubuhnya mengkilap karena aktivitas mereka. Membuat kulitnya semakin coklat.
Minghao mengatur napasnya, sambil menikmati pemandangan di atasnya.
Wajah Mingyu basah oleh keringat. Membuat wajahnya semakin tampan.
Mingyu menatap keadaan Minghao yang ada di bawahnya. Tubuh putihnya yang basah oleh keringat dan cairan milik keduanya. Dadanya naik turun karena napas yang tidak teratur. Matanya basah oleh air mata. Lelehan saliva mengalir di leher serta dagunya. Rambut hitamnya berantakan. Bibirnya merah merekah.
Mingyu benar-benar terpesona akan Minghao.
“Kamu gak papa?”
Minghao ngangguk. “Gak papa. Capek.”
Suaranya serak. Bahkan nyaris hilang. Mingyu terkekeh. Di kecupnya dahi Minghao lembut. Genggaman keduanya ia eratkan.
“Let's sleep then.”
Mingyu mencabut penisnya dari lubang Minghao. Membuat Minghao mendesis.
Tubuh Mingyu ia rebahkan di samping Minghao. Mendekap Minghao kedalam pelukannya.
“Tidur.” bisik Mingyu, sambil mengusap punggung Minghao pelan.
Minghao mengangguk. Melesakkan wajahnya di dada Mingyu. Memejamkan matanya, berusaha masuk ke alam mimpi.
Mingyu mengecup pucuk kepala Minghao. Meletakkan pipinya di atas pucuk kepala Minghao.
“Sweet dreams.” bisiknya.
Lalu kegelapan, menelan keduanya.
******
Mingyu membuka matanya pelan. Cahaya matahari mengenai tubuh Mingyu dan juga Minghao. Ia lihat Minghao yang masih terlelap di atas dadanya.
Senyum lembut muncul di bibirnya. Dengan pelan ia mendaratkan kecupan di kepala Minghao. Mengusap rambut Minghao lembut.
Minghao menyamankan posisinya.
Mingyu terkekeh. Betapa menggemaskannya Minghao saat ini.
Tiba-tiba ia teringat alasan mengapa ia menantang Minghao bertanding.
Saat itu, ia tak sengaja mendengar temannya mengenai pembalap baru. Namanya Minghao. Tak pernah kalah sekalipun.
Mingyu penasaran, iseng dia menonton dengan tampilan aslinya. Ia menonton balapan Minghao. Kemampuan Minghao memang patut diakui.
Hingga saat Minghao melepaskan helmnya, Mingyu terpanah. Wajah Minghao yang putih, serta bibirnya yang merah merekah membuat Mingyu ingin mengulumnya.
Wajah manis serta imut Minghao, membuat tidurnya tak nyenyak. Wajah cantik serta tampan Minghao, membuat Mingyu tak fokus bekerja.
Akhirnya ia menyuruh temannya untuk mengatakan bahwa 'Tan Kim' menantang Minghao bertanding.
Dan untungnya, dia menang. Dia hampir kalah. Hampir saja. Beruntung dia berhasil terlebih dahulu, memasuki garis finish.
Usapan Mingyu tak berhenti. Hingga Minghao terbangun. Mendongakkan kepalanya, menatap Mingyu lekat.
“Hei. Pagi.” ucap Mingyu sambil tersenyum.
Minghao ngangguk. Menyamankan posisinya.
“Sakit?”
Minghao ngangguk lagi. Lubang nya memang sakit.
“Bisa naik motor sendiri? Atau mau kuantar?”
Minghao diam. Wajahnya memerah. “Bawa sendiri.”
Suaranya serak. Habis. Mungkin marena dia sibuk berteriak semalam.
Mingyu tak menghentikan usapannya. Masih betah bermain di rambut Minghao.
Namun, suara dering telepon membuatnya mengerang.
Dengan enggan Minghao mengangkat wajahnya. Berpindah ke atas bantal. Mingyu bergerak ke bawah. Mengambil ponselnya yang ada di atas lantai.
Buru-buru ia mengangkat teleponnya.
“Halo.”
”....”
“Iya, baiklah.”
”.....”
“Hm. Bye.”
Mingyu mematikan ponselnya lalu kembali merebahkan dirinya di samping Minghao.
Dia tatapnya Minghao lekat-lekat. “Aku harus pergi.”
Minghao ngangguk pelan. Agak tak rela. “Iya.”
Mingyu menatap Minghao dalam diam. Di kecupmya lembut dahi Minghao. Membuat sang empu memejamkan matanya.
“Gak papa?”
“Gak papa. Sana pergi.”
Mingyu mengusak rambut Minghao pelan. Lalu bangkit dari kasur. Mencari pakaiannya.
“Kamu mandi aja dulu. Aku langsung ada kerjaan di studio.”
Minghao hanya diam. Menatap Mingyu yang sibuk di depannya.
“Berapa nomormu. Aku bakal menghubungimu nanti.”
Minghao mengucapkan nomornya. Mingyu mengangguk lalu menatap Minghao lekat.
Mingyu sudah rapih dengan pakaiannya. Walaupun belum mandi, tidak menyurutkan ketampanannya.
“Kalo gitu aku pergi dulu.”
Minghao ngangguk.
“See you.”
“See you.”
Mingyu berjalan cepat menghampiri Minghao, lalu mengecup bibirnya lembut.
Ia melempar senyum kearah Minghao, yang di balas anggukan dan senyum lelah. Mingyu buru-buru berbalik dan berjalan cepat. “Bye!” teriaknya.
Minghao terkekeh. Setelahnya pintu tertutup. Menyisakan Minghao seorang diri.
Sebuah suara notifikasi membuat Minghao bangkit. Meraih jaket yang ada di atas lantai. Mengambil ponselnya.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
'Hey, sweetheart. Bagaimana jika nanti malam kita pergi makan? Aku traktir. Simpan nomorku. Mingyu.'
Minghao terkekeh. Lalu membanting tubuhnya kembali di atas kasur.
Dengan cepat dia membalas. 'Okey. 8 pm.'
'Deal, babe.'
Minghao terkekeh. Dia memejamkan matanya. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya.
Tak ada rasa sesal sama sekali kalah taruhan, dalam diri Minghao. Anggap saja ini kemenangan dalam hal lain.