–, Rival

Jeonghan dan Seungcheol itu rival sejati. Gak ada hari mereka baikan. Pasti ada aja yang bikin mereka ribut.

Jeonghan itu ketua eskul lari. Sedangkan Seungcheol kapten sepak bola. Mereka selalu rebutan lapangan buat latihan eskul mereka. Membuat kedua anggota eskul tersebut geleng-geleng kepala. Lebih memilih menonton perkelahian ketua mereka.

Seperti saat ini. Jeonghan serta Seungcheol sibuk bertengkar. Rebutan lapangan. Keduanya sama-sama ada lomba buat minggu depan. 'SMANSA CUP' namanya. Perlombaan yang di adain dalam rangka hut sekolah. Semua sekolah di kota mereka bakal dateng ke sekolah mereka, buat saling tanding.

Dan mereka cekcok buat rebutan lapangan.

“Gak bisa. Lu udah make ini lapangan kemarin. Sekarang giliran team gua yang make.” ucap Jeonghan jengkel.

“Gak bisa. Mingdep sepakbola tanding pertama.”

Begitu terus. Sampe malem. Sampe pada pulangan.

Pembina keduanya sudah pasrah. Gak bisa memisahkan keduanya.

Akhirnya setelah cekcok kurang lebih sejam, akhirnya Jeonghan berhasil make lapangannya.

Seungcheol mukanya merah. Nahan emosi. Akhirnya ia ngalah. Make sisa lapangan buat ngomongin strategi sama pemanasan.

Jeonghan langsung mulai latihan. Mereka udah pemanasan sebelumnya. Seperti biasa, mereka latihan lari zigzag, lari bola-balik, lari ke ujung lapangan.

Sedangkan Seungcheol menatap Jeonghan dalam diam. Bola di kakinya ia mainkan.

Sebuah ide terlintas di pikirannya. Dengan sengaja dia menendang bola kearah Jeonghan yang sedang lari cepat.

“JEONGHAN!” teriak semua team Jeonghan, kepadanya.

Jeonghan melihat bola melambung cepat ke wajahnya. Terlambat. Dia tak bisa menghindar.

Dengan keras bola mengenai wajahnya. Membuatnya terjatuh. Kepalanya terkantuk tanah lapangan. Terakhir yang ia dengar adalah teriakan semua orang, hingga kegelapan menyerang dirinya.

*****

Jeonghan membuka matanya. Terdengar bentakan pelatihnya kepada seseorang. Jeonghan ada di uks sekarang.

“PARAH KAMU. BISANYA KAMU BERCANDA GITU. UNTUNG JEONGHAN GAK KENAPA-KENAPA. GIMANA KALO DIA PATAH TULANG? GEGAR OTAK? JANGAN KEKANAKAN. SAYA GAK NYANGKA KAMU SEPENDEK INI PIKIRANNYA.”

Jeonghan tersentak. Ia tebak, pelatihnya sedang memarahi Seungcheol. Ada rasa puas dan rasa kasihan menyelimuti hati Jeonghan.

“SAYA GAK MAU LAGI NGELIAT TINDAKAN KEKANAKANMU LAGI. NGERTI?!”

“Iya, Pak.”

Suara Seungcheol terdengar pelan dan merasa bersalah. Jeonghan pikir mungkin Seungcheol gak mengira bakal begini.

Tiba-tiba pintu uks terbuka. Tampak Seungcheol yang wajahnya berantakan. Terlihat stress dan banyak masalah.

“Hei.” ucapnya pelan.

Jeonghan ngangguk. Dia cuman diem. Membiarkan Seungcheol yang berbicara.

“Sorry. Bercanda gua keterlaluan. Lu gak papa? Ada yang sakit?”

Jeonghan merasa aneh. Dia asing dengan sikap Seungcheol saat ini.

“Gak kok.”

Seungcheol terlihat menghembuskan napasnya. “Maaf banget. Gua gak bakal gitu lagi. Um, lu boleh make lapangan. Anak eskul gua bakal make di sekolah lain.”

Jeongham tersentak. Dia gak tahu mau jawab apa.

“Kalo gitu lu istirahat aja. Sekali lagi gua minta maaf.”

Jeonghan cuman ngangguk. Gak membalas ucapan Seungcheol.

Setelahnya Seungcheol pamit buat duluan. Ninggalin Jeonghan yang agak bingung. Melihat perubahan emosi Seungcheol yang sangat drastis.

******

Sudah 3 hari sejak keterdiaman Seungcheol terhadap Jeonghan. Sejak kejadian bola beberapa hari yang lalu, Seungcheol berubah.

Dia gak lagi ngajak ribut. Gak lagi merecoki Jeonghan. Gak lagi ngusik Jeonghan. Bahkan dia ngalah buat make lapangannya. Membuat Jeonghan bingung sekaligus seneng.

Dia cerita ke temennya Joshua, dan Joshua ikutan senang dengan itu. Namun Jeonghan gak sesenang itu. Dia ngerasa sepi. Hampa.

Yang biasanya selalu ribut sama Seungcheol, sekarang enggak. Yang biasanya selalu adu bacot, sekarang enggak.

Seungcheol juga keliatan lebih kalem. Lebih dewasa. Bahkan anak kelas mereka heran sama sikap Seungcheol dan Jeonghan.

Bahkan anggota eskul mereka juga heran. Tapi mereka juga seneng. Karena gak ada yang ributin mereka lagi.

Jeonghan menyesap teh poci yang ada di tangannya dengan pelan. Menatap Seungcheol dari lantai 2. Seungcheol sama temen-temennya lagi asik main sepakbola. Sekarang lagi jam istirahat. Anak kelas 11 yang lagi free, memutuskan buat join bareng Seungcheol.

“Kangen dia?” tanya Joshua tiba-tiba.

Jeonghan tersentak. “Gak.”

“Bilang aja kangen. Keliatan dari muka lu.”

Jeonghan cuman diam. Mengabaikan Joshua. Tapi jujur, Jeonghan emang kangen ribut sama Seungcheol.

“Kenapa gak lu yang mancing dia buat ribut lagi?”

Jeonghan menghela napasnya. “Udah. Dan dia cuman diem terus ngalah.”

Joshua terkekeh. “Wah. Dia terpukul banget berarti, pas lu pingsan.”

Jeonghan memerah. “Gak mungkin. Dia biasa aja.”

“Mana tau lu sama perasaan orang. Coba entar sore liat SMANSA lawan SMANDA. Hari pertama lawannya udah berat. Coba semangatin dia. Gua yakin dia pasti semangat setelah liat muka lu.”

Jeonghan tersedak. “Sok tau banget lu.”

“Dibilangin. Gua mau ngeliat Seokmin juga. Jam 4 mereka mulai. Mau ikut?”

Jeonghan diam. Tampak berpikir. Beberapa menit kemudian dia ngangguk. “Okelah.”

*****

Disinilah Jeonghan. Melihat tim sekolahnya yang sudah ketinggalan jauh. Dia menggigit bibirnya khawatir. Seungcheol terlihat tertekan.

Masih ada kesempatan. Tapi kelihatan, bahwa Seungcheol memiliki banyak pikiran.

Semua tim sekolahnya terlihat menatap Seungcheol khawatir.

Jeonghan gemas. Dia tak kuat.

Dengan tarikan napas panjang, Jeonghan teriak dari lantai 2.

“SEUNGCHEOL GUA KANGEN LU. PLIS. KALO LU MENANG GUA AJAK MAKAN.”

Semua mata menatap Jeonghan kaget. Begitupula Seungcheol. Menatapnya horror. Lalu tertawa di akhir.

Dan benar saja. Seungcheol kembali semangat. Sekolahnya berhasil mengejar ketertinggalan.

Suara peluit berbunyi. Tim Seungcheol menang. Jeonghan melompat gembira. Dia senang. Senang sekali.

Dia buru-buru turun. Berdiri di pinggir lapangan. Nunggu Seungcheol buat hampirin dia.

Setelah ngerayain kemenangan bareng teamnya, dan salaman akhir bareng team lawan, Seungcheol jalan menghampiri Jeonghan.

“Hai.” ucapnya saat berdiri di hadapan Jeonghan.

Jeonghan mendengus. “Gak usah sok baik. Jangan ngerasa bersalah sama waktu itu. Udah lewat. Kayak biasa gak bisa? Gua kangen ribut sama lu.”

Seungcheol memerah. “Lu kangen?”

Jeonghan ngangguk. “Biasanya ada yang gua ejek. Sekarang gak ada.”

“Sialan.”

Keduanya tertawa. Saling pandang.

“Jadi, lu traktir gua kan habis ini?” tanya Seungcheol sambil tersenyum.

“Iya. Gua traktir.”

“Oke. Gua ke anak-anak dulu.”

Jeonghan ngangguk. Seungcheol lalu lari, ke arah teamnya.

Joshua berdiri dari kejauhan. Tersenyum menatap Seungcheol dan Jeonghan.

“Gobloknya keterlaluan. Jelas-jelas saling suka. Hadeh.”