–, Rokok

Mingyu itu perokok aktif. Dan Minghao sudah lelah untuk mengingatkan Mingyu agar berhenti merokok. Sudah ia jelaskan panjang lebar bahaya merokok hingga kerugian yang dialami tubuh, jika mengkonsumsi rokok setiap harinya. Namun, memang dasarnya Mingyu itu bebal, dia masih saja merokok. Katanya susah lepas. Katanya rokok itu nikmat. Pelampiasan Mingyu jika ia banyak pikiran. Minghao menggelengkan kepala jika mendengarnya.

Seperti saat ini. Minghao menatap Mingyu bosan, yang sedang menghisap rokoknya nikmat, sambil bermain ponsel.

“Gyu.”

Mingyu hanya bergumam. Matanya tak terlepas dari layar ponsel.

Minghao menghela napas. Tangannya dengan kasar merebut batang rokok dari tangan Mingyu.

Mingyu mendongak. Matanya tampak keberatan.

“Apa sih, Hao?”

Minghao memutar matanya malas. “Kenapa belum berhenti ngerokok?”

“Gak bisa susah.”

“Bisa! Kamunya aja yang belum mau nyoba.”

Mingyu mengusap wajahnya kasar. “Jangan buat pertengkaran lagi, Hao. Masalah ini, itu masalahku. Urusanku mau ngerokok atau gak. Itu hak ku. Kamu bukan siapa-siapa ku.”

Minghao hanya diam. Memang benar perkataan Mingyu. Dia bukan siapa-siapanya. Bukan keluarganya. Bukan kekasihnya. Hanya teman biasa. Hanya sahabatnya.

Mata Minghao berair. Dadanya terasa sesak. Semua yang dikatakan Mingyu benar adanya. Memang siapa dia? Berani melarang Mingyu ini dan itu.

Air mata turun mengalir di pipinya. Tenggorokannya tercekat. Minghao menatap Mingyu dalam diam.

Mingyu menghela napasnya. Dia bangkit dari duduknya, lalu berpindah untuk duduk di samping Minghao. Tangannya melingkari pinggang Minghao. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah sahabatnya.

“Shhhh, jangan nangis. Maaf. Ini salahku.”

Minghao masih tak bisa diam. Tangisnya makin deras. Ia bingung dengan perasaannya. Perkataan Mingyu terngiang-ngiang di kepalanya. Kenapa Minghao sepeduli ini? Kenapa hatinya sakit saat Mingyu mengatakan hal yang sebenarnya?

Mingyu menarik Minghao ke dalam pelukannya. Mengusap punggungnya pelan. Kata-kata menenangkan keluar dari mulutnya.

Minghao menyembunyikan wajahnya di leher Mingyu. Tangannya membalas pelukan Mingyu. Mencengkram erat kaosnya.

“Udah, Hao. Jangan nangis. Maaf, ucapanku kasar.”

Mingyu menjauhkan tubuh mereka. Tangannya bergerak untuk menghapus air mata yang ada di pipi Minghao. Mengusapnya lembut, penuh perasaan.

Minghao menggeleng. “Ucapanmu bener. Bukan hak ku buat ngelarang kamu. Maaf, Gyu.”

Mingyu tersenyum lembut. Tangannya menangkup kedua pipi Minghao. Ibu jarinya menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Minghao.

“Aku mau berhenti ngerokok.”

Minghao menatap Mingyu lekat-lekat.

“Tapi ada syaratnya.”

Minghao menatap Mingyu penasaran.

“Kalau kamu jadi pacarku.”

Senyum Mingyu melebar. Menatap Minghaonya intens.

Wajah Minghao memerah dan agak sembab. “Gak usah bercanda.”

Mingyu tertawa pelan. “Serius. Aku bakal berhenti ngerokok demi kamu. Tapi, kamu jadi pacarku dulu.”

Minghao merona. Bingung ingin menjawab apa.

“Mau gak?”

Minghao hanya mengangguk pelan. Tak sanggup mengeluarkan suaranya.

Mingyu terkekeh. Tangannya menggerakkan kepala Minghao gemas.

“Lucunya.”

Minghao mengerucutkan bibirnya lucu. Membuat Mingyu gemas. Ia kecup bibir Minghao cepat. Membuat Minghao tersentak.

Kekehan Mingyu berkumandang di telinga Minghao.

“Mau bikin aku berhenti ngerokok kan?”

Minghao hanya menatap Mingyu dalam diam. Masih shock dengan kejadian barusan.

“Ganti rokoknya pake ciumanmu. Deal?”

Seringai Mingyu melebar. Menatap Minghao jenaka.

Minghao merona. Menjalar hingga lehernya.

“Diam mu kuanggap iya.”

Selanjutnya, Mingyu melumat bibir Minghao lembut. Rasa manis dan tembakau bercampur di lidah mereka. Mengecap rasa asing namun memabukkan di mulut keduanya.