–, Sasaeng
“Please, Seungkwan bantu aku.” ujar Minghao dengan tatapan bak anjing kecil yang tersakiti.
Seungkwan memutar matanya malas. Berusaha tak luluh oleh tatapan Minghao yang sok polos.
“Gak bisa. Itu perbuatan ilegal. Gimana kalo aku ketangkep? Masuk penjara? Ya tuhan, kenapa aku bisa punya temen macem kamu.” Ucap Seungkwan sambil mengacak rambutnya kasar. Kesal dengan kelakuan Minghao.
“Sekali ini aja. Please? Nanti aku traktir di sekolah setiap hari.”
Minghao tak berhenti disitu. Ia terus melayangkan jurus andalannya.
“Hao. Permintaanmu itu aneh-aneh. Fans macem apa kamu? Bahaya.”
Seungkwan benar-benar frustasi. Tak habis pikir dengan isi otak Minghao.
Minghao mengerucutkan bibirnya. “Aku kan minta temenin kamu doang. Buat nemenin aku ke hotel tempat nginepnya CHILLI. Pengen nyari tissu yang habis di pake Mingyu. Please?”
Seungkwan membuang napasnya kasar. “Kamu tahu gak? Itu udah masuk kategori Sasaeng. Mau idolamu benci kamu? Kalau ketahuan gimana?”
Seungkwan benar-benar ingin menangis. Kawannya satu ini membuat Seungkwan emosi tingkat dewa.
“Tapi kan aku gak berbahaya. Cuman ngambil tissu di kamarnya Mingyu, terus kita balik.”
Seungkwan ingin membenturkan kepalanya saat ini. Dia pasrah dengan kebodohan Minghao yang sangat murni.
Dengan pelan dia memijat pangkal hidungnya. Tampak berpikir.
“Sebentar doang kan? Kalau kita ketangkap terus masuk penjara, aku gak bakal maafin kamu, Hao.”
Minghao melompat senang. Tangannya memeluk Seungkwan erat. “Iya-iya. Janji. Aman kok.”
Seungkwan menghela napasnya kasar. “Jadi kapan?”
Minghao melepaskan pelukannya. Menatap Seungkwan berbinar. “Malam ini. Kamu bantuin aku. Gak sampe 5 menit, kita keluar.”
Seungkwan langsung sakit kepala. Mendadak kepalanya pening. “Terserahlah. Pokoknya pas udah dapet apa yang kamu mau, kita langsung balik.”
Minghao mengangguk antusias. “Iya-iya. Ayo aku traktir ramen. Hehe.”
Beginilah Seungkwan. Lemah dengan sikap sahabatnya. Walaupun agak absurd, dia tetap menyayangi Minghao.
“Hm. Ayo.”
******
CHILLI. Grup boyband yang berisikan 4 orang. Sedang mengadakan fanmeeting di kota Seungkwan. Dia tak begitu tahu tentang CHILLI. Namun, karena Minghao dia tahu beberapa hal tentang mereka.
Yang dia tahu hanya dua member. Vernon dan juga Mingyu. Bayangkan jika kalian menjadi Seungkwan, yang tiap harinya mendengarkan ocehan Minghao tentang Mingyu.
Mingyu yang ini, Mingyu yang itu. Seungkwan pusing rasanya. Lelah mendengar nama Mingyu dari mulut Minghao. Namun apa yang bisa ia lakukan. Jika mereka adalah alasan Minghao ceria, Seungkwan ikut senang.
Disinilah dia. Menemani Minghao yang mengendap-endap di lorong hotel. Mengecek nomor kamar.
“Mana kamar Mingyu?”
Seungkwan sudah mulai was-was.
“Hm. Dari orang yang aku kenal, antara kamar 380 sama 381. Salah satu kamarnya, itu kamar Mingyu.”
Sudah ia duga. Seungkwan tak pernah salah dengan feeling nya.
“Jadi, aku bantuin kamu nyari tissu yang gak berharga itu?”
Minghao nyengir. “Bantuin ya. Katanya personil CHILLI lagi makan malem. Kita bisa cek kamar mereka.”
Seungkwan bingung. Gimana cara ngeceknya?
“Gimana masuknya? Kan pake kartu.”
Minghao tersenyum cerdik. Menyerahkan kartu ke tangan Seungkwan.
“Nih. Kamu cek kamar 380. Aku 381.”
Minghao segera berjalan mendekati kamar 381. Sibuk dengan kegiatannya.
Seungkwan menghela napasnya. Dengan pasrah berjalan mendekati pintu kamar 380, yang ada di depan kamar 381.
“Hao. 5 menit. Kalo gak dapet, langsung keluar.”
Minghao ngangguk. Membuka pintu kamar 381. “Iya. Aman.”
Setelahnya Minghao masuk ke dalam kamar. Menutupnya sedikit.
Seungkwan benar-benar tak habis pikir.
Dengan pelan dia menggesek kartu yang ada di tangannya. Membuka pintu kamar perlahan. Memasukinya takut-takut.
Berdoa dalam hati, agar dirinya masih bisa keluar dengan aman.
“Semoga aku masih bisa ngeliat langit.”
*******
Vernon dan juga Mingyu berjalan menuju kamar mereka. Mengambil salah satu barang mereka yang tertinggal.
“Aku ke kamarku juga, Sol. Mau ngambil charger.”
Vernon ngangguk. Dia berjalan ke arah pintu kamarnya. Kaget, melihat pintunya yang sedikit terbuka.
Dengan pelan dia mendorongnya. Agak curiga jika ada seseorang yang masuk kamarnya.
Dan benar saja. Vernon melihat punggung seseorang, sedang membelakanginya, sibuk dengan tempat sampah yang ada di dekat pintu.
“Siapa kamu?” ujarnya datar.
Sosok asing yang sedang berjongkok, tampak tersentak. Diam tak bergerak.
“Aku tanya, siapa kamu?”
Sosok asing itu berdiri perlahan, membalikkan badannya takut-takut.
“Uh....”
Vernon menaikkan alisnya. “Siapa kamu?”
Orang asing di depan Vernon tampak shock dengan kehadiran Vernon.
“S-seungkwan.”
Vernon menyandarkan tubuhnya di dinding. “Seungkwan. Fansku?”
Seungkwan menggeleng. “Bukan!”
“Sasaeng fans?”
Dia menggeleng lagi. “Bukan-bukan.” wajahnya tampak ingin menangis.
“Terus? Kenapa bisa masuk kamarku? Apalagi kalau bukan Sasaeng fans?”
Seungkwan menggeleng keras. “Aku bahkan bukan fans group kalian. Astaga. Aku nemenin temanku. Ini aku jujur. Aku nemenin temanku yang lagi nyari tissu Mingyu. Please, jangan laporin ke polisi.”
Seungkwan menangkupkan tangannya memohon. Matanya tampak berlinang air mata.
“Temenmu? Temenmu fans? Berarti sekarang lagi di kamar Mingyu?”
Seungkwan ngangguk. Terlihat tak berdaya. “Iya. Sudah kularang, tapi tetep pengen kesini. Astaga. Aku disini juga korban. Tolong, jangan lapor.”
Vernon menghela napasnya pelan. Agak kasian juga. “Tapi kamu tahu namaku?”
Seungkwan tampak diam. Berpikir sejenak. “Vernon? Aku gak hapal. Maaf.”
Vernon memijat pelipisnya pelan. Tangannya merogoh sakunya. Menghubungi Mingyu.
“Halo, hyung. Iya di sini ada. Oke-oke.”
Vernon mematikan ponselnya. Menatap Seungkwan dari atas hingga bawah.
“Namamu tadi Seungkwan?”
Seungkwan ngangguk pelan. Masih menangisi nasib sialnya.
“Beruntung aku baik. Ayo keluar.”
Vernon berbalik. Membuka pintunya. Bersamaan dengan Minggu yang membuka pintu kamarnya. Mempersilahkan seorang lelaki asing yang keluar, wajahnya memerah dan sembab.
Seungkwan keluar kamar. Menghampiri Minghao yang habis menangis.
“Kwannie.”
Seungkwan memeluk Minghao erat. “Kan udah kubilang. Bahaya. Untung kita gak dilaporin.”
Minghao ngangguk lemah. Hidungnya memerah. Pipinya basah. “Maaf. Aku gak bakal ngulang lagi.”
Seungkwan menghela napasnya. Mengusap rambut Minghao lembut. “Iya-iya. Ayo kita minta maaf ke mereka.”
Minghao serta Seungkwan membalikkan badannya. Membungkuk bersama ke arah Mingyu dan juga Vernon.
“Maafkan kami.”
Vernon menatap keduanya dalam diam. Begitupula Mingyu.
“Jangan diulang.” ujar Mingyu dengan suara datarnya.
Minghao ngangguk pelan. “Terimakasih. Kita gak ngulangin lagi.”
Mingyu ngangguk. Menatap Vernon balik. “Dan jangan mikir buat ngelakuin ini lagi.” tambah Vernon yang menatap Seungkwan.
Minghao serta Seungkwan menunduk dalam. Malu dengan perbuatan mereka.
“Ya udah. Sana pulang.” ujar Mingyu pelan. Minghao ngangguk. Mengajak Seungkwan balik.
Keduanya pamit. Lalu berbalik pergi. Mingyu serta Vernon sayup-sayup mendengar percakapan keduanya.
“Gak bakalan ku turutin maumu, Hao.”
“Maaf. Astaga. Aku tadi nangis-nangis.”
“Nemu gak tissunya? Gak guna.”
“Maaf. Tapi asli Mingyu ganteng banget kalo dari deket. Vernon gimana? Ganteng kan?”
“Gak mikir sampe sana. Aku masih waras. Gak kayak kamu.”
Mingyu serta Vernon saling tatap. Keduanya menutup pintu mereka.
“Yang namanya Minghao manis juga.”
Vernon mendengus. “Mulutmu.”
Mingyu terkekeh. “Yang namanya Seungkwan juga lumayan. Gak di pepet?”
Vernon memutar matanya malas. “Ayo, hyung. Gak usah banyak omong.”
Mingyu terkekeh. Berjalan berdampingan dengan Vernon. Menatap punggung dua orang yang mereka temui tadi.
“Tapi mereka emang lucu sih.” ujar Vernon menambahkan.
Mingyu terkekeh. “Yang Minghao punyaku. Ambil yang Seungkwan.”
Vernon mendengus. Tak habis pikir dengan pembicaraan mereka.