So, i'm Minghao rn?

Entah sudah berapa kali Myeongho menghela napas hari ini. Kepalanya berdenyut nyeri, memproses segalanya. Dalam sekejap dia berpindah ke tubuh orang lain, dan mungkin hidupnya yang monoton dan terkesan datar dulu, akan berubah 180 derajat.

Myeongho telah menyusun dan menulis beberapa list yang sudah ia tangkap selama setengah jam ini.

Pertama, tubuh cungkringnya saat ini bukanlah miliknya. Sesuai dengan ingatan yang ada di dalam tubuhnya sekarang, pemilik asli badan ini adalah Xu Minghao. Bocah SMA yang hampir naik ke bangku kelas 2, yang hidupnya terbilang mewah dan special.

Kedua, dia kembali ke masa lalu. Menurut Myeongho, terakhir kali ia hidup ia masih di tahun 2021. Namun, saat ini ia berdiri di tahun 2017. Agak tak masuk akal, Myeongho hampir mengira dirinya sudah hampir gila.

Ketiga, sesuai dengan ingatannya, bocah asli Xu Minghao ini buronan para perundung. Terlihat jelas dari sosoknya yang mungil, kecil dan kurus, Minghao asli memang santapan lezat para pengecut.

Keempat, kalau berdasarkan teorinya, jika Myeongho saat ini di tubuh Xu Minghao, otomatis tubuh aslinya memiliki jiwa Xu Minghao.

Kelima, hal yang paling membuatnya hampir sekarat. Dia berada di tubuh bocah SMA berumur 16 tahun, dengan jiwa tua berumur 25 tahun.

“Yang bener aja njing...”

Myeongho mengerang kesal. “Apasih ini gua yang gila apa gimana?”

Dilihatnya kertas kosong berisikan list-list yang ia simpulkan seorang diri.

“Gak mungkinkan ini kejadian? Kok kayak novel novel fiksi..”

Myeongho masih clueless.

Ponsel yang tergeletak di atas kasur ia ambil secepat mungkin. Segera menelpon nomor ponselnya saat ini. Ingin memastikan bahwa jiwa Xu Minghao ada di tubuhnya sekarang.

“Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi..”

Myeongho mengernyit heran. Sekali lagi ia coba.

“Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi..”

Myeongho mencoba berulang kali. Hasilnya tetap sama.

Aneh. Padahal nomornya tak pernah ia ganti sejak dulu. Harusnya masih ada jika tubuh aslinya masih hidup saat ini.

Myeongho segera mencari laman Facebook untuk mencari akunnya yang ia buat dulu

Seo Myeongho

Hasil pencarian tidak ada

Myeongho menatap heran. “Gua perasaan punya Facebook..”

Lagi, ia mencari akun Twitter dan Instagram nya. Hasilnya nihil. Tidak ada keberadaan Seo Myeongho.

“Apasih.. ini apa-apaan.”

Myeongho meremas rambutnya kuat-kuat.

Ia berusaha mencari di akun kampusnya. Tetap tak ada list nama Myeongho di website yang ia masuki dengan nomor mahasiswa nya dulu.

Aneh. Sangat aneh.

Jujur ia takut. Siapa yang tidak takut, jika hanya dirinyalah yang tahu apa yang terjadi.

“Bentar bentar. Gua harus tenang.”

Myeongho menenangkan dirinya. Berusaha tenang dan berkepala dingin.

“Oke, keknya teori keempat gak sesuai. Jadi, tubuh asli gua gak ada. Eksistensi gua gak ada?”

Myeongho mulai menuliskan apa yang ia tangkap.

“Berarti eksistensi jiwa asli Minghao juga udah gak ada?”

Pulpen yang ia genggam ia ketuk-ketukkan di kepalanya.

“Kalau tubuh gua gak ada, eksistensi gua gak ada, berarti ingatan orang-orang tentang gua juga gak ada?”

Myeongho menghela napasnya lagi.

“Ya kali gua harus ke Jakarta buat ngecek. Tapi akun-akun gua gak ada. Nama gua pun gak ada di website kampus, padahal gua masih kuliah seharusnya.”

Myeongho mulai menatap lekat kertas yang ia tulis.

“Jadi.. jiwa Xu Minghao asli gak ada, badan Seo Myeongho asli juga gak ada, apa sekarang gua jadi Xu Minghao?”

Kakinya menendang-nendang selimut sampai jatuh berantakan. Frustasi dengan keadaannya.

“AGHH BANGSAT.”

Myeongho membanting tubuhnya terlentang di atas kasur. Matanya menatap kosong plafon langit-langit kamarnya.

“Berarti sekarang bukan Myeongho lagi, tapi Minghao huh?”

Lengannya ia letakkan di atas keningnya, mulai memantapkan niat. Kalau sekarang dirinya Minghao, berarti sudah tak ada lagi Minghao yang dulu.

“Gua pastiin hidup lu yang sekarang tenang, Minghao. Gak ada lagi yang bully lu. Gak ada lagi yang lecehin lu. Gak ada lagi yang mandang lu rendah.”

Myeongho mengeratkan kepalan tangannya.

“Sekarang gua Xu Minghao. Akan gua bales bocah-bocah tengil yang berani lawan gua.”