–, Sunflower
Seokmin itu ibaratkan matahari. Cerah, hangat dan menenangkan. Senyumnya indah. Matanya akan tersembunyi di balik kelopaknya, membentuk bulan sabit. Indah. Sangat indah.
Rambut coklatnya yang bergerak liar, terhembus seirama oleh angin. Kakinya yang jenjang, bergerak cekatan menggiring bola. Sinar matahari yang terik, kalah saing oleh pesona Seokmin.
Sorak sorai dan pekikan penonton, menyemangatinya. Suasana mendebarkan. Menunggu Seokmin mencetak score, untuk membawa pulang tropi kemenangan.
Hingga beberapa detik tersisa, dengan gerakan super gesit, dan taktiknya yang cerdik, Seokmin berhasil menendang bola masuk ke gawang lawan. Suara heboh menyerukan nama Seokmin. Semua orang berlari kearahnya. Memeluknya. Mengangkatnya tinggi-tinggi, bagai menyembah pahlawan.
Yang di lakukan Seokmin? Tertawa dan tersenyum. Wajahnya sumringah. Cerah. Sangat cerah. Tak ada kilat lelah dari matanya. Rasa puas dan bangga menyelimuti relung hatinya.
Di sisi lain, sosok lelaki dengan surai hitamnya, serta wajahnya yang melembut. Senyum tipis terbingkai indah, di bibir mungilnya. Kedua tangannya tergenggam erat di atas pangkuannya. Rasa bahagia serta bangga merambati dadanya. Melihat sosok yang ia sayangi, terlihat bahagia di depannya. Dia tahu perjuangan Seokmin, persiapan Seokmin selama ini. Mengharuskan lelaki matahari itu, merenggut waktu bermain serta istirahatnya.
Seokmin menatap lelaki di sisi lapangan, dengan lembut. Senyum lebar ia arahkan padanya.
Seokmin menggerakkan bibirnya tanpa suara. Berharap bahwa lelaki di sisi lapangan, mengerti maksudnya.
'Tunggu aku.'
Seokmin menatap penuh harap. Hingga sebuah anggukan pelan, tertangkap di mata Seokmin. Tawa ringan keluar dari bibirnya.
Seokmin kembali fokus terhadap temannya. Menikmati euphoria kemenangan, yang menyelimuti mereka semua.
*****
Seokmin sudah berganti pakaian. Mencuci wajahnya, serta memakai wewangian. Seluruh anggota teamnya sudah pergi terlebih dahulu. Seokmin menikmati waktu kesendiriannya. Memastikan bahwa penampilannya sudah lebih baik.
Buru-buru Seokmin mengambil tas punggungnya, memakainya, lalu melangkahkan kakinya cepat menuju seseorang yang mungkin sudah menunggunya lama.
Tangannya bergerak untuk menggalih kantong celananya. Mencari ponsel kesayangannya. Kaki jenjangnya sibuk berlari menuju sosok yang ia nanti-nanti.
Seokmin menatap ponselnya. Tak ada notifikasi penting, dari sosok yang ia harapkan. Seokmin mulai khawatir. Takut jika lelaki itu pergi tanpa sepengetahuannya.
Kaki Seokmin mendekati taman sekolahnya. Terlihat punggung yang ia kenal.
Perlahan, Seokmin memelankan langkah kakinya. Napasnya ia atur perlahan.
Dengan lembut, ia tepuk pundak lelaki di depannya.
Wajah yang Seokmin rindukan, menengok cepat kearahnya. Senyum lembut menyambut Seokmin.
“Hai.”
Suaranya masih sama. Lembut dan menenangkan. Senyumnya masih sama. Indah dan menyegarkan. Matanya masih sama. Jernih dan memikat hati.
Seokmin mendudukkan dirinya di samping lelaki itu.
“Jisoo.” ucapnya lembut.
Sosok yang Seokmin rindukan, Jisoo. Tersenyum. Menatap Seokmin dengan lembut.
“Seokmin.”
Seokmin menatap lekat lelaki di hadapannya. Dengan cepat, tangannya menarik tubuh Jisoo, kedalam dekapannya.
Mendekapnya erat. Menghirup aroma Jisoo lekat-lekat. Sudah 3 bulan mereka tidak bertemu. Berkirim kabar hanya melalui ponsel.
Seokmin telah melaksanakan karantina khusus bagi pemain sepakbola pilihan di kota mereka. Pertandingan siang tadi adalah bukti nyata dari perjuangan Seokmin selama 3 bulan terakhir.
“Aku kangen.” ucap Seokmin pelan. Enggan melepaskan dekapannya.
Jisoo meletakkan sisi wajahnya, di pundak Seokmin. Merasakan kehangatan serta aroma Seokmin yang sangat ia rindukan.
“Aku juga.” bisiknya
Seokmin tertawa pelan. “Aku tahu.”
Keduanya diam. Menikmati waktu mereka. Menikmati setiap detiknya. Pelukan keduanya semakin erat.
“Kamu gak nangis kan, selama aku pergi kemaren?” tanya Seokmin menggoda.
Jisoo mencibir. Tawa ringan keluar dari mulutnya. “Kayaknya kamu deh yang nangisin aku.”
Seokmin tertawa keras. “Tau aja kamu.”
Jisoo tertawa. “Apasih yang gak aku tahu dari kamu.”
Seokmin melepaskan dekapan mereka. Tangannya bergerak menangkup kedua sisi wajah Jisoo. Keduanya saling tatap. Menyelami satu sama lain.
“Jadi, kamu sekarang tahu kan jawaban apa yang bakal kamu kasih dari pertanyaanku 3 bulan lalu?”
Mata Jisoo melebar. Tak menyangka bahwa Seokmin akan membawa topik itu sedini ini.
“Ya.” ucapnya ngambang. Tak yakin.
Seokmin menatapnya terluka. “Kurang ya 3 bulan? Kamu masih gak yakin. Aku gak maksa kok.”
Jisol menggeleng. Tangannya tergerak untuk menggenggam kedua pergelangan tangan Seokmin yang ada di kedua sisinya.
“Enggak. Cukup kok. Aku udah tahu jawabannya.”
Seokmin menatapnya lekat. Tak ingin menaruh harapan bahwa Jisoo akan menerima pernyataan cintanya.
“Oke.” ujar Seokmin pelan. Kelewat pelan.
Jisoo menatapnya dengan lembut. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya.
Tangannya tergerak untuk menangkup kedua sisi Seokmin.
Keduanya terdiam selama beberapa detik.
“Aku suka kamu.”
Seokmin menatapnya tak percaya.
“Aku suka kamu.” ujar Jisoo lagi.
Seokmin tersenyum lebar. “Iya?”
Jisoo mengangguk. “Iya.”
Seokmin tertawa. Suaranya renyah di telinga Jisoo.
“Terimakasih.” bisik Seokmin.
“Aku yang makasih. Udah setia sama aku.”
Seokmin nyengir. Di tariknya wajah Jisoo mendekat. Mempertipis jarak keduanya. Di kecupnya pelan, bibir ranum Jisoo. Saling menempel selama beberapa detik.
Keduanya menjauhkan wajah mereka. Menatap satu sama lain dengan lekat.
Tawa ringan lolos dari bibir mereka. “Aku tadi keren gak?” tanya Seokmin yang kini menggenggam tangan Jisoo erat. Menatap jari-jari mereka terkunci satu sama lain.
“Keren. Kamu keren kok.”
Seokmin terkekeh. “Kamu juga manis kok.”
Jisoo memerah. “Aku bukan gula.”
“Gula kalah manis dari kamu.”
Jisoo tersedak. “Sejak kapan kamu jago godain orang?”
“Sejak aku suka kamu?”
Jisoo makin memerah. Merambat hingga lehernya. “A-apasih.”
Seokmin tertawa. “Kamu kalo malu makin manis ya. Baru sadar aku.”
Jisoo membuang muka. Menghindari tatapan Seokmin yang membuat dadanya berdebar.
“A-ayo pulang.”
Jisoo bangkit dari duduknya. Menarik tangan Seokmin.
Seokmin ikut bangkit. Tawa tak henti dari mulutnya.
“Aku bakal sering-sering bikin kamu malu. Biar kamu makin manis. Biar orang-orang tahu kalo kamu punya Seokmin.”
Jisoo berjalan cepat. Mengabaikan Seokmin yang mengikuti langkahnya sedikit kesulitan.
“B-bodo amat.”
Seokmin sibuk menggoda Jisoo, di bawah sinar matahari yang lembut. Seperti memberikan kebahagiaan bagi kedua insan yang baru saja terikat.