–, Teman Online

Minghao punya teman online. Ia kenal lewat aplikasi twitter. Minghao yang dasarnya suka film-film western, memutuskan untuk membuat akun twitter, guna melampiaskan kesukaannya. Dari situlah ia tak sengaja bertemu dengan salah satu akun yang bernama CatLover.

Namanya lucu. Orangnya asik diajak untuk mengobrol. Minghao menghabiskan hampir berjam-jam berselancar di twitter hanya untuk mengobrol dengannya.

Hingga tak terasa mereka sudah saling kenal selama 5 bulan. Minghao senang memiliki teman seperti CatLover. Dia juga perhatian. Selalu menanyakan segala sesuatu mengenai Minghao. Minghao nyaman dengannya. Apalah Minghao aneh? Tidak juga.

Karena Minghao orangnya frontal dan terbuka, dia berkata jujur kepada pemilik akun CatLover. Minghao berkata bahwa dia menyukai CatLover. Dia nyaman dengannya. Tak peduli apa kelaminnya, wajahnya, keadaannya. Minghao tak peduli. Minghao terobsesi? Anggap saja seperti itu.

Dan CatLover merespon dengan baik. Dia berkata bahwa ia laki-laki. Berusia 2 tahun lebih tua. Dan yang terpenting adalah CatLover juga merasakan hal yang sama.

Akhirnya, keduanya memutuskan untuk bertemu secara real life. Minghao senang bukan main. Dia gugup sekaligus penasaran. Bagaimana sosok orang yang ia sukai itu?

Mereka berdua bertukar nama. Dan memutuskan untuk bertemu di taman kota. Beruntungnya, mereka satu daerah.

Tanpa basa-basi, Minghao segera menyetujui. Mereka berdua berjanji untuk bertemu pukul 4 sore. Dan sekarang, Minghao duduk di salah satu bangku taman. Hatinya berdegup kencang. Matanya menunduk menatap ponsel. Menunggu pesan dari CatLover.

Minghao sudah mengatakan bahwa ia menunggu di salah satu bangku dekat pohon beringin.

Minghao menatap ponselnya cemas. Bagaimana jika orang yang Minghao tunggu tidak datang? Menipunya?

Minghao menghela napasnya panjang. Memutuskan untuk mengantongi ponselnya. Ia menatap langit cerah dalam diam.

Sebuah tepukan pelan, menyentuh bahu Minghao. Membuat Minghao menoleh. Tampak seorang pemuda tampan dengan surai hitam, serta kacamata bening bertengger di hidungnya.

“Minghao?”

Minghao ngangguk. “Iya. Siapa ya?”

“Wonwoo.” balasnya lembut.

Minghao terbelalak. Menatap Wonwoo tak percaya. Apakah benar orang yang ada didepannya ini CatLover?

Minghao speechless. Pemuda yang ada di depannya sangat tampan. Wajahnya tajam. Senyumnya menawan. Matanya berkilau indah. Dan jangan lupa, suaranya yang lembut dan dalam. Minghao benar-benar terpesona.

“Wonwoo?”

Wonwoo mengangguk. Ia mendudukkan dirinya di samping Minghao. Masih saling tatap dalam diam.

“Kenapa?”

Minghao menggeleng. “Enggak papa. Kamu ganteng.”

Wonwoo terkekeh. Menatap Minghao lekat-lekat.

“Oh ya? Kamu juga manis. Lucu lagi.”

Minghao memerah. Menatap Wonwoo malu-malu.

“M-makasih.” Cicitnya kecil.

Wonwoo terkekeh. Tangannya mengusak rambut Minghao pelan.

“Udah nunggu lama?”

“Gak kok. Baru datang.”

“Syukurlah. Aku kira kamu gak bakal datang, karena takut aku nipu.” kekehnya pelan.

Minghao menelan ludahnya. Padahal tadi dia sempat berpikir seperti itu.

“Aneh ya. Dulu kita chatan lancar, pas ketemu jadi canggung.” lanjut Wonwoo lagi, dengan tawa pelan diakhir kalimat. Minghao ngangguk setuju.

“Maaf kalo aku gak seasik di chat.” ujar Minghao pelan. Dia takut Wonwoo tak nyaman dengannya.

“Aku juga. Maaf aku orangnya biasa-biasa aja. Jujur, kamu di kehidupan nyata gini, bener-bener cantik. Aku jadi tersanjung kamu bisa nyaman sama aku.”

Minghao memerah. Senyum lembut yang menghiasi bibir Wonwoo, membuat jantungnya berdetak kencang.

“K-kamu juga. Aku minder disampingmu.”

“Kenapa minder?”

“Kamu ganteng. Aku juga tersanjung kamu nyaman sama aku.”

Wonwoo terkekeh. “Makasih. Tapi, kamu gak perlu minder. Kamu itu cantik, manis sama imut di waktu yang sama. Jadi, aku betah walau cuman liatin kamu.”

Wajah Minghao memerah. “Makasih.”

Wonwoo tertawa. “Kamu gampang malu ya? Telinga kamu merah. Jadi makin imut.”

Minghao tersedak. Kaget dan malu karena pujian Wonwoo.

Wonwoo terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung Minghao pelan.

“Gak usah kaget. Aku bilang sesuai fakta kok. Aku gak mengada-ngada.”

Minghao hanya diam. Dia tahu, dia manis dan imut. Banyak orang yang sudah memujinya. Tapi, jika pujian itu keluar dari bibir Wonwoo, entah kenapa sensasinya berbeda.

“Pinjem tanganmu, boleh?” ucap Wonwoo tiba-tiba.

Minghao menatap Wonwoo bingung. “Buat apa?”

“Megang tangan kamu.”

Wajah Minghao merona. Matanya bergerak kesana-kemari. Dengan ragu dia menyerahkan tangannya, yang langsung di genggam oleh Wonwoo.

“Jadi, kita kencan?”

Minghao mengangguk malu. Menatap tangannya yang terkunci di genggaman Wonwoo.

“Ayo.”

Wonwoo menariknya bangkit. Mengajak Minghao untuk berjalan disampingnya.

“Anggap aja kita udah pacaran. Gak perlu kata resmi, kan?”

Wonwoo menatap Minghao lekat-lekat. Meminta konfirmasi.

“Iya.” gumamnya.

Wonwoo terkekeh. Ia goyangkan pelan genggaman mereka.

“Lucunya.”

Minghao merona. Memilih menikmati keadaannya dalam diam.