–, Tetangga baru

Jisoo cuman pria biasa yang berumur 24 tahun. Jarang keluar rumah, dan punya teman yang bisa ia hitung dengan jari.

Karena Jisoo bekerja sebagai editor, maka dia lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah. Ia jarang keluar rumah jika tidak diperlukan. Kedua orang tua Jisoo hanya geleng-geleng. Pasrah dengan kelakukan Jisoo yang seperti itu.

Jisoo single. Dia jarang menyukai seseorang. Terlalu malas untuk memikirkan hal-hal romantis di luar kemampuannya. Lagipula, pekerjaannya sudah cukup membuatnya pusing. Dia enggan untuk menambah beban hidup dengan masalah percintaan.

Namun, semua itu berubah saat Jisoo memiliki tetangga baru, yang menempati rumah kosong di samping rumahnya.

Dunia Jisoo yang datar, sedatar papan, berputar 180 derajat.

*****

Pagi itu Jisoo melakukan rutinitasnya seperti biasa. Bangun dari tempat tidur, ke kamar mandi, mencuci muka dan sarapan. Setelah semua rutinitas ia lakukan, ia akan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum terselesaikan.

Jisoo dengan tampang gembelnya, memakai celana pendek di atas lutut berwarna kelabu, serta kaos polos berwarna putih. Jisoo memakai kacamata bacanya, lalu berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia membuka gorden, dan membuka jendelanya lebar-lebar. Membiarkan udara pagi memasuki kamarnya.

Jisoo menghirup dalam-dalam udara pagi yang menyegarkan. Lalu pandangannya tertuju pada halaman rumah di samping rumahnya.

Selama hidup Jisoo ia tidak pernah bersyukur dia memilih kamar lantai dua, dengan jendela berhadapan langsung dengan rumah tetangganya.

Bagaimana tidak, Jisoo melihat lelaki tampan dengan surai hitamnya yang berantakan. Bibir merah. Serta peluh membasahi tubuhnya.

Lelaki asing yang Jisoo lihat, sedang sibuk dengan kegiatannya. Dengan barbel di tangannya, lelaki asing itu menggerakkan tangannya secara konstan.

Jisoo menganga. Menatap lelaki asing yang berhasil membuat Jisoo terpikat. Oke, mungkin Jisoo agak lebay. Tapi, ini benar terjadi. Lelaki yang Jisoo tidak tahu siapa namanya itu, berhasil membuat Jisoo yang aseksual menjadi menyukai seseorang.

Penampilan pria asing di pandangan Jisoo juga menggugah selera. Celana boxer hitam serta kaos hitam yang menyetak tubuhnya jelas. Serta otot-otot yang menggoda iman.

Jisoo mengumpat dalam hati. Buru-buru Jisoo menjauhi jendelanya, dan duduk di atas kasurnya.

Jisoo memegang dadanya. Jantungnya berdetak kencang. Wajahnya memerah. Masih tak percaya dengan yang ia lihat.

“Efek kopi. Kamu gak aneh kok, Jisoo.”

Jisoo berusaha merapalnya berulang kali. Dengan agak takut-takut Jisoo mengintip jendelanya. Ternyata lelaki asing tadi sudah hilang entah kemana.

Jisoo menghembuskan napasnya pelan. Lega bahwa orang itu tidak ada. Jisoo menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir pria tadi dari pikirannya. Dengan cepat, dia duduk di atas kursi kerjanya, memilih fokus melanjutkan pekerjaannya.

*****

Hari kedua. Lagi-lagi Jisoo melakukan rutinitasnya seperti biasa. Dengan celana pendek warna putihnya, serta hoodie favoritenya, Jisoo membuka jendelanya lebar-lebar.

Lagi-lagi dia melihat lelaki asing yang asik berolahraga. Jisoo menelan ludahnya kasar. Tak sadar bahwa Jisoo menatap orang itu dengan lekat.

Lelaki asing yang tampak tak sadar akan keberadaan Jisoo, asik melompat-lompat dengan lompat tali di kedua tangannya.

Kali ini lelaki asing itu menggunakan kaos tanpa lengan. Menampakkan otok lengannya yang besar. Wajah Jisoo memerah.

Tiba-tiba lelaki asing itu menengok kearah Jisoo. Jisoo tersentak. Napasnya tertahan. Jisoo dan lelaki itu saling tatap.

Bukannya pergi, lelaki itu tersenyum kepada Jisoo dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Jisoo.

Jisoo memerah. Buru-buru dia menutup jendela, serta gordennya.

Jisoo berjungkok. Menyembunyikan wajahnya di atas lututnya.

“Astaga. Astaga. Astaga.”

Jisoo tak tahu, jika kejadian barusan akan merubah hidupnya dalam semalam.

******

Hari ketiga. Kedua orang Jisoo pergi ke acara amal gereja. Meninggalkan Jisoo sarapan dan sebuah pesan yang berisi, 'Jika tetangga sebelah meminta pesanan bunga, serahkan saja. Omong-omong namanya Seungcheol. Atas nama Seungcheol, lalu berikan bunganya.'

Jisoo mengangguk dalam diam. Dia tidak tahu siapa itu Seungcheol, mungkin saja anak tetangga yang lain. Karena ibu Jisoo memiliki toko bunga, tetangga di sekitar rumah Jisoo sering membeli bunga di ibu Jisoo. Beruntung usahanya semakin pesat saat ini.

Jisoo segera menyantap sarapannya, dan kembali naik ke dalam kamarnya.

Kali ini dia tidak membuka jendela kamarnya selama seharian. Hingga saat sore menjelang, suara bel pintu membuatnya tersentak.

Dengan cepat dia menyimpan pekerjaannya, lalu turun ke bawah.

Saat Jisoo membuka pintu, dirinya hampir terjengkang. Melihat lelaki asing yang sudah ia lihat dua hari ini, berdiri di hadapannya sekarang.

Jisoo diam. Tak tahu harus bicara apa.

“Sore. Mau ngambil bunga atas nama Seungcheol.”

Suaranya berat dan dalam. Jisoo hampir pingsan dibuatnya.

Dengan gugup dia menjawab, “Ah, em tunggu.”

Jisoo meninggalkan sang tamu di depan pintu. Berlari menuju meja ruang tengah, mengambil sebuah bingkisan bunga.

Jisoo kembali ke pintu, dan menyerahkannya ke lelaki asing di hadapannya Jisoo.

“I-ini.”

Lelaki asing itu tersenyum, lalu mengambil bingkisan yang ada di tangan Jisoo perlahan. Jisoo tersentak, saat kulit mereka tak sengaja bersentuhan.

“Terimakasih.”

Jisoo gugup dan linglung. Hanya menjawab dengan anggukan cepat.

“B-baiklah. Uh, sampai jumpa.” ujar Jisoo buru-buru, lalu menutup pintunya cepat.

Namun, pintu rumahnya ditahan oleh lelaki asing tadi, menggunakan kakinya.

“Tunggu.”

Jisoo tersentak. Buru-buru membuka lebar pintunya. Agak khawatir dengan kaki lelaki di depannya.

“Namaku Seungcheol.” ujarnya sambil menyerahkan tangannya yang berotot di hadapan Jisoo.

Jisoo menatap tangan dan wajah lelaki asing di hadapannya, bergantian.

Dengan ragu, dia mengambil tangan lelaki di depannya. “Ji-jisoo.”

“Jisoo?”

Jisoo ngangguk. Wajahnya memerah. Merasakan tangan lebar dan kuat, menggenggam tangannya yang biasa-biasa saja.

“Mau makan bareng?”

Jisoo tersentak. Menatap Seungcheol kaget. “Makan bareng?”

“Iya. Kamu sendirian kan? Aku mau ngajak kamu makan. Anggep aka perkenalan kita jadi temen. Atau mungkin lebih?”

Jisoo memerah. Agak bingung. “Um..”

“Jangan bilang aku gak tau kalo kamu udah liatin aku dari kemarin.”

Jisoo makin memerah. Berusaha menghindari tatapan lekat, lelaki di hadapannya.

“Jadi, mau ikut?”

Jisoo bingung. Tapi ia ingin mengenal lebih jauh lelaki di hadapannya ini.

“Um, oke.”

“Oke?”

Jisoo mengangguk. “Iya.”

Seungcheol terkekeh. “Gitu dong, manis.”

Jisoo memerah. Tubuhnya bergetar saat Seungcheol memanggilnya manis.

Jisoo menarik tangannya dari genggaman Seungcheol. “A-aku ambil hp sama dompet dulu.”

Tanpa mendengar jawaban Seungcheol, Jisoo buru-buru membalikkan badan, dan lari menuju kamarnya.

Seungcheol hanya terkekeh, melihat tingkah Jisoo yang menggemaskan.

“Lucu juga dia.”